Loading...
Logo TinLit
Read Story - 134340
MENU
About Us  

Senja kemarin menyeret mentari, pupus di balik kaki langit bagian barat, kemudian hari berikutnya melahirkan mentari lain pada titik awal sebelah timur. Semua orang yang terjaga mulai menggores halaman kosong dalam catatan hidupnya dengan nafas baru. Juna baru saja mengubah sudut yang terbentuk antara tubuhnya dengan garis permukaan dari nol menjadi sembilan puluh derajat. Cukup lama dalam posisi itu, ia memutuskan bangun untuk mengulang kembali rutinitas yang ia lakukan. Dia mendudukan tubuhnya dan menatap lurus ke arah cermin.

Juna ingin tersenyum pada sosok bayangan dalam cermin, namun tak ada senyum tergores pada belahan bibir itu. Kehampaan yang menyelinap lebih berat melampaui kesenyapan ruang yang ia tinggali. Juna ingin memutus kesenyapan itu, namun tak bisa, sebab ternyata bibirnya sendiri tidak mampu bergerak. Lalu ia melirik sebuah kertas putih berhiaskan ukiran manis yang terletak pada sudut nakas.

‘Kau bisa datang jika ada waktu luang.’

Pria bersurai perak itu membeku, mengingat bagaimana suara lembut yang menyapa telinganya beberapa tahun terakhir ini mengucapkan kalimat tersebut. Ia melangkahkan kaki, menjauhkan diri dari cermin yang memberi kenangan pada memorinya, melangkah menuju balkon apartemen yang ia tempati. Waktu menunjukkan pukul 7.00 pagi. Udara masih terasa begitu dingin, nafas yang keluar dari hidungnya pun menguap seperti asap di udara, suhu saat ini memaksa orang-orang menggenakan pakaian lebih tebal dari biasanya. Salju pertama di kota Stockholm turun tadi malam. Jalanan menjadi putih karena penuh oleh butiran-butiran salju, bau roti panggang dari arah toko kue sebelah barat menyapa hidung, orang-orang dengan mantel bulu berjalan dengan langkah hati-hati agar tidak tergelincir.

Semua menjalankan rutinitasnya. Hanya Juna yang stagnan di tempat. Ketika semua tetap berputar sebagaimana biasanya, ia stagnan pada titik yang enggan dia relakan hilang begitu saja. Puzzle ingatan tercerai berai namun masih dapat ia ingat dengan jelas. Puzzle kecil yang membuatnya stagnan dan menolak realita.

‘Pernah, tidak, kau memikirkan bagaimana Pluto bergerak lesu setiap hari mengelilingi matahari?’

‘Juna dari dulu ak-‘

‘Ia dengan sedih bertanya-tanya mengapa dia didepak dari Galaksi Bimasakti, berkeliaran di sekeliling sistem solar bertanya-tanya apa yang membuatnya tidak cukup baik sampai dia dihapuskan, dilupakan. Ia bahkan masih tetap bergerak walau tahu telah terhapuskan.’

‘Juna aku minta maaf…’

‘It’s okay, jelas kini hanya tahu satu hal yang kutahu. Pada suatu waktu, di masa lampau, Pluto pernah menjadi bagian dari sistem solar itu.’

Juna kembali termenung memikirkan kejadian menyedihkan satu minggu yang lalu. Ketika dia juga bernasib sama dengan Pluto, terdepak dari sistem solar yang dikitari selama ini. Menjadi bagian yang tidak memiliki nama yang khusus, hanya angka sebagai petunjuk. Jika Pluto mampu bersuara, apakah yang akan dia katakan? Sedih, kecewa, marah? Juna terus saja terjatuh dalam lamunan peristiwa lalu, namun ponsel yang berbunyi mengurungkannya berlama-lama dalam dunia sunyi. Ia kembali masuk ke dalam dan mengambil ponselnya. Melihat nama penelpon yang ada pada layar sejenak sebelum mengangkatnya.

“Halo?” Ucap datar Juna setelah menggeser tombol jawab pada layar ponsel.

“Apa kau datang hari ini?” Suara seseorang yang di sana membalas setelah cukup lama hening yang menyapa.

“Ya. Aku akan datang, setidaknya aku harus melihatmu untuk terakhir kali.”

Juna kembali melirik kertas putih yang merupakan undangan pernikahan Clara –cinta pertamannya serta mentarinya dulu- dengan Steve, Juna mengumul senyum pahit dan berusaha keras mempertahankan suaranya tetap tenang, “Clara aku tahu tak ada nama untukku lagi dalam hidupmu, walau aku pun pernah menjadi bintang. Aku masih akan berkeliaran di sekitarmu tanpa ada yang berubah kecuali perasaan yang dulu kusebut cinta sama seperti Pluto yang dibuang dari solar sistem dan akan selalu berputar mengelilingi matahari. Clara, bahagialah untukku juga ya?”

Realita akan selalu merobek ekspektasi yang Juna berusaha bangun, Juna harus menerima itu bukan? Ya, dia harus. Demi Clara juga. Juna memang sejak seminggu yang lalu telah berstatus sama dengan Pluto. Ia dan Pluto sama-sama dihapuskan dari bagian orbit masing-masing.

Pluto dari orbit sistem solar. Juna dari orbit kehidupan Clara.

Namun itu bukan berarti Pluto dan dirinya harus berhenti mengorbit bukan?

 

-THE END-

Tags: ffWC2

How do you feel about this chapter?

0 0 2 3 0 0
Submit A Comment
Comments (5)
  • juliartidewi

    Saya adalah guru Ruangguru Privat. Saya pernah menonton video di aplikasi belajar Ruangguru. Katanya, Pluto didepak sebagai planet kesembilan karena ukurannya kelewat kecil. Terdapat syarat ukuran minimal untuk bisa disebut sebagai planet.

  • ianian

    @springjeon Makasih sudah suka ceritanya

  • ianian

    @Jihanrhdpark makasih sayangku :")

  • springjeon

    kusuka kusuka kusuka..

  • Jihanrhdpark

    Meski singkat namun tersampaikan dengan sangat baik. Pluto sebagai gambaran dasar mudah d mengerti oleh banyak orang. Semangat sayangku💞

Similar Tags
Mrs. Late
551      398     1     
Short Story
Nadia telah berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki kesalahan yang Dia buat, sampai merasa semua usahanya sia-sia akan tetapi keadaan membuat Dia sadar tak ada yang sia-sia seperti apa yang Dia alami...
Candamu Sakitku
670      427     2     
Short Story
Meski bercanda, mengejek, mencela, itu bagian dari hari-hariku bersama Mas Alif, hatiku berkata lain. Setiap candanya membuat aku tersipu dan berbunga. Namun, begitu cepat pula berubah menjadi sakit dan luka.
Love Arrow
711      518     3     
Short Story
Kanya pikir dia menemukan sahabat, tapi ternyata Zuan adalah dia yang berusaha mendekat karena terpanah hatinya oleh Kanya.
Ruang Nostalgia
514      404     1     
Short Story
Jika kita tidak ditakdirkan bersama. Jangan sesali apa pun. Jika tiba-tiba aku menghilang. Jangan bersedih, jangan tangisi aku. Aku tidak pantas kamu tangisi. Tapi satu yang harus kamu tau. Kamu akan selalu di hatiku, menempati ruang khusus di dalam hati. Dan jika rindu itu datang. Temui aku di ruang nostalgia. -Ruang Nostalgia-
Stalker
627      413     3     
Short Story
Kata orang, cinta buta mampu membuat seseorang kehilangan akal dan rela melakukan apapun demi sosok yang dicinta. Itulah yang Ayuni jalani selama 4 tahun terakhir. Gadis yang pada tanggal 14 Februari esok tepat berusia 25 tahun itu merupakan salah satu korban cinta buta. Lebih tepatnya, ia berubah menjadi seorang stalker garis keras dari Rafael Adibara sesaat setelah pria itu mengatakan pu...
Far Different
907      579     28     
Short Story
Sebagai seorang gadis biasa yang lahir di Guang'An, Guo Yun merasa bahwa mendapat kesempatan untuk bekerja di perusahaan Microsoft Guangzhou merupakan keberuntungan besar.
Asa Menggenggam Kata
749      450     2     
Short Story
Kalbuku tersayat, mengenang kesalahan yang tak dapat kuperbaiki. Hatiku bimbang, kemana kaki harus melangkah?
Perihal Hati
598      365     2     
Romance
Hati manusia siapa yang tahu, hati manusia siapa yang tak mau dijaga. Namun hati siapa juga yang mau tersakiti. Ini semua hanya permainan hati.
Dia yang Bukan Aku
535      405     0     
Short Story
“Berhentilah menganggap aku tak bisa menafsirkan aksara yang kau rangkai untuk dia.”
365 Hari, Aku Bertanya pada Kalian?
833      589     3     
Short Story
Aku akan menceritakan kisahku pada kalian semua. Tidak, tidak. Aku tidak meminta belas kasihan kalian. Wanita seperti ku tidak perlu dikasihani oleh kalian. Karena setelah mendengar ceritaku ini, mungkin kalian akan memberiku kalimat penyemangat yang terdengar basi dan empat menit kemudian kalian sudah melupakanku. Jadi, aku tidak perlu itu semua. Aku hanya ingin bertanya kepada kalian, Apak...