Read More >>"> I Can't Fall In Love Vol.1 (BAB 3: Aku, Melanjutkan, dan Saling Mengenal) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - I Can't Fall In Love Vol.1
MENU
About Us  

Keesokan harinya, atau lebih tepatnya hari selasa, pada saat pagi hari di sekolah yang dimana masih tidak terlalu banyak orang. Ian pun pada saat itu telah datang sambil terlihat memikirkan suatu hal.

 “Apa yang harus kulakukan sekarang..? Padahal sudah sampai disini,tapi ke bagian selanjutnya aku tidak tahu apa-apa!”

  Ian pun hanya bisa menghela napasnya sambil tetap memikirkan dan mencari jawaban dari pertanyaan baru yang timbul dalam pikirannya saat ini. Dan saat telah sampai di kelas yang dimana hanya beberapa orang termasuk Sahar dan lainnya, Ian pun kemudian menyimpan tasnya, lalu berkumpul bersama dengan teman-temannya tersebut sambil tetap berpikir akan suatu hal.

 “Oh...,Ian! Kamu sudah datang yah.” Sapa Sahar dengan sangat ramah yang mewakili sapaan dari yang lain.

 Calip dan Dirga pun yang ada disana hanya menyapa dengan sebuah senyuman hangat ke arah Ian.

 “Iya baru-baru kok Sahar!”

 Setelah duduk di tempat biasa kumpulnya bersama Sahar dan lainnya, Ian pun tetap terlihat memikrkan suatu hal tersebut. Yang tentu saja Sahar dan lainnya langsung menyadari hal tersebut.

 “Ian! Apa yang sedang kamu pikirkan?!”  tanya Sahar dengan ringkas.

 “Yah..., bisa dibilang seperti itu Sahar.”  Balas Ian yang masih memikirkan hal tersebut.

 “Oh iya Ian..! Bagaimana dengan Tania,Ian! Apa kamu sudah mencoba memintanya untuk kamu jadi teman baiknya?” tanya Calip.

 “Sudah...! Tapi...”

 Saat Ian berhenti bicara pada waktu itu, serasa seperti tersetrum Dirga pun langsung mendapatkan kesimpulan yang ringkas.

  “Ian..! Apa jangan-jangan kamu ditolak oleh Tania..!” duga Dirga yang terlihat agak serius akan hal itu.

 Sontak Sahar dan Calip yang tidak terlalu menduga hal itu, lalu berbalik ke arah Ian sambil menampakkan ekspresi yang agak kaget saat mengetahui hal tesebut.

  “Apa benar Ian?!” tanya Calip.

  “Tidak-tidak! Tania mau saja menjadikanku teman baiknya. Yah.., walaupun hampir ditolaknya!”

  Mendengar itu Sahar dan lainnya langsung menghela napas mereka sambil menampakkan rasa kelegaan mereka. Dan diantara perkataan Ian tadi, hal itu dirasa janggal oleh Sahar. Lalu selama beberapa detik, diikuti oleh Calip. Kemudian terakhir Dirga pun juga menyadarinya.

  “Maksudmu hampir ditolak Ian, apa?” tanya Sahar yang terlihat bertanya-tanya.

 “Yah...sebenarnya Tania,Sahar! Sepertinya dia memiliki trauma dengan laki-laki tampan!” jawab Ian.

 Saat mendengar itu, membuat Sahar dan lainnya tentu saja agak kaget. Namun, setelah mengetahui kalau Ian tidak ada rasa dengan seorang perempuan, dan mengetahui kalau dia menyukai seseorang 5 detik saja. Bagi mereka mengenai Tania bukanlah apa-apa.

 “Ian...! Memangnya kenapa kamu berkesimpulan begitu..?” tanya Calip yang masih agak kaget akan hal itu.

 “Yah sebenarnya...”

  Ian pun mulai menceritakan hal yang ia alami kemarin. Dimulai dari dirinya yang melihat Tania ditembak oleh salah satu teman kelas mereka, sampai pada saat Ian dan Tania saling berbincang satu sama lain yang dimana Ian tetap tidak mendapatkan jawaban dari alasan Tania kenapa bisa membenci laki-laki tampan.

  Setelah mendengarnya, tampak dari muka mereka bertiga, kalau mereka paham akan alasan kenapa Ian bisa berkata seperti tadi. Yakni Tania yang tidak menyukai laki-laki tampan.

  “Begitu yah..! Sepertinya aku paham akan situasinya Ian!” ujar Sahar.

  “Jadi Ian, memangnya kamu memikirkan apa kalau begitu Ian?” tanya Calip yang masih bertanya-tanya akan hal itu.

  Sahar dan Dirga yang ada disana pun yang bertanya-tanya juga akan hal itu, lalu mengangguk ke arah Ian, sambil menatapnya dengan rasa ingin tahu. Ian pun yang masih memikirkan suatu hal tersebut lalu menjawab.

  “Sebenarnya...,meski aku dan Tania sudah menjadi teman dekat. Tapi aku masih memikirkan cara apa yang bisa kulakukan agar hubungan kami lebih dekat. Apakah akan terdengar aneh kalau kami dibilang teman dekat, padahal hubungan kami hanyalah saling mengenal satu sama lain.”

  Mendengar itu Sahar dan lainnya pun melemaskan badannya, menghilangkan rasa khawatir mereka tadi saat melihat Ian sedang memikirkan sesuatu, lalu mengeluarkan apa yang mereka pikirkan dari perkataan Ian tadi.

  “Haaah....,Ian. Aku kira hal yang kamu pikirkan benar-benar sebuah masalah besar. Ternyata...”

 “Hanya masalah kecil mengenai cara mempererat hubungan pertemanan.” Ujar Calip dan Dirga.

  “Memangnya segampang itu mengatasi masalah ini...? Padahal aku sendiri saja saat ini masih memikirkannya.” Ujar Ian yang terlihat kaget akan perkataan Calip dan Dirga tadi.

  Calip dan Dirga pun agak kaget sekaligus tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ian tadi. Padahal Ian dikenal gampang berteman dengan siapa saja. Namun ternyata dirinya masih tidak bisa mengetahui mendekati seseorang.

 “Kalau begitu Ian! Bagaimana kamu bisa bersahabat dengan Sahar? Kenapa bisa dulu kamu bisa melanjutkan hubungan pertemananmu. Mulai dari kamu saling mengenal dengannya, hingga persahabatanmu kayak sekarang?” tanya Calip sambil memberi petunjuk ke Ian.

 Mendengar itu Ian pun langsung mencoba mengingat-ngingat kembali. Pada saat itu, Sahar pun hanya melihatnya saja tanpa berusaha membantu Ian untuk mengingatnya.

 “Mmmhhh...., sepertinya aku lupa Calip!” ujar Ian sambil terlihat pasrah.

  Calip dan Dirga pun hanya bisa menghela napasnya, lalu mengambil kesimpulan dari pernyataan Ian tadi.

 “Yah..wajar saja Calip. Lagipulakan itu sudah sangat lama sekali! Bahkan aku sendiripun juga melupakannya.” Jelas Sahar.

 “Benar juga sih...” balas Calip.

 Setelah itu, Dirga pun dengan pemikiran yang hampir sama dengan Calip, namun ada beberapa hal yang berbeda lalu berkata.

 “Begini Ian kalau begitu. Bagaimana...,kalau..., kamu coba ingat! Kenapa kamu bisa menjadi teman dekatku dengan Calip? Pastikan kamu mengetahuinya Ian!?”

 “Tentu saja Dirga! Itukan karena kalian itu adalah teman dekat dengan Sahar. Dan aku sahabatnya Sahar. Jadi..., bisa dibilang kita berteman karena kita berdua berteman dengan Sahar! Benarkan!?” jawab Ian.

 Mendengar itu, Dirga pun merasa seperti dihentak.

 “Be-benar juga Ian!” ujar Dirga sambil tersenyum.

 Kemudian dengan ide baru lagi dalam pikiran Calip,dirinya pun mengeluarkan pendapat yang sama seperti tadi. Namun masih memiliki perbedaan sedikit.

 “Bagaimana kalau teman-teman kelas dan yang di luar kelas. Mereka kan semua teman dekatmu?! Jadi....,kenapa kamu bisa menjadi teman dekat mereka?”

 “Yah itu karena..., mereka yang mencoba mengakrabkan diri. Dan setelah beberapa lama, akupun makin lama dekat dengan mereka. Itu saja sih menurutku!”

  Mendengarkan itu, membuat Calip dan Dirga kehabisan ide untuk memberi Ian petunjuk mengenai masalah Ian tersebut.

 “Daripada terlalu lama, lebih baik aku akan memberitahukanmu langsung Ian!”  ujar Calip yang agak kesal.

 Ian yang merasa itu seperti sebuah kalimat tersirat dari Calip untuk fokus terhadap perkataan yang akan diucapkan oleh Calip. Yang membuat, Ian berusaha memfokuskan pendengarannya.

  “Begini! Ian..! Caranya itu kamu hanya—”

  “Ian!” Panggil Sahar yang memotong penjelasan Calip.

  Saat itu, Ian yang tadinya fokus mendengar perkataan Calip, langsung buyar, yang membuat Ian pun merespon balik panggilan Sahar tadi.

  “Ada apa Sahar?”

  Sementara itu, Calip yang sebelumnya tadi hendak menjelaskan ke Ian mengenai cara melanjutkan hubungan pertemanan. Dan saat Sahar memotong pembicaraannya, bukannya protes, atau mempertanyakan tindakan Sahar itu, Calip pun hanya bisa diam dan hanya bisa mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Sahar nantinya.

 “Tunggu dulu Ian!”

 Sahar pun lalu berbalik ke arah Calip, lalu terlihat di wajah Sahar perasaan yang agak menyesal.

 “Calip! Maaf yah tadi aku memotong bicaramu tadi!”

 “Ehh...tidak apa-apa kok Sahar! Lagipulakan kamu pasti ingin menyampaikan sesuatu yang penting kan. Sampai-sampai kamu memotong pembicaraanku tadi.”

  Mendengar itu Sahar pun lalu tersenyum sembari berkata kepada Calip.

 “Terima kasih kalau begitu Calip!”

  Kemudian Sahar pun berbalik ke arah Ian lalu melanjutkan apa yang ingin disampaikannya kepada Ian.

  “Begini Ian. Aku ingin kamu, untuk mencoba menganalisis pertanyaan-pertanyaan dari Calip dan Dirga tadi!”

 “Kenapa kamu malah menyuruh Ian untuk menganalisis pertanyaan kami,Sahar?” tanya Dirga yang terlihat bingung.

 Ian dan Calip pun berekspresi yang sama dengan Dirga.

 “Lakukan saja Ian! Karena kalau kamu pahami Ian, jawaban dari masalahmu itu langsung kamu tahulah pokoknya!” ujar Sahar.

  Ian pun langsung melakukan permintaan dari Sahar tersebut. Dimulai dari dirinya yang mengingat dulu pertanyaan-pertanyaan dari kedua temannya tersebut. Dan setelah mengingatnya, Ian pun lal berusaha menganalisa ketiga pertanyaan yang ada.

 Sementara itu, Calip dan Dirga yang masih bertanya-tanya akan maksud dari Sahar tadi, lalu pun melihat ke arah Sahar, yang dimana mereka melihat Sahar pada saat itu tersenyum senang, yang membuat mereka berdua makin bertanya-tanya akan hal ini.

 “Sahar...! Kenapa kamu malah menyuruh Ian untuk menganalisa pertanyaan-pertanyaanku dengan Calip? Bukannya lebih baik Calip tadi memberitahukan langsung saja?!”

 “Benar Sahar! Dan juga dilihat dari manapun pertanyaan dariku atau dari Dirga, aku rasa tidak ada pesan tersirat. Kalaupun ada, aku rasa Ian tidak akan mendapatkannya, padahal petunjuk-petunjuk yang kami berikan saja, dia tidak paham!”

  Mendengar itu, Sahar pun hanya bisa tetap saja tersenyum sambil tetap menatap Ian yang lagi menganalisa dengan serius, sembari berkata.

  “Yah..,kalian lihat saja dulu! Sesudah ini kalian pasti akan mengerti sisanya.”

 “Dan aku rasa...,para pembaca pun akan menyadarinya dari perkataan awalmu tadi Calip!”

 “Aku..Apa Sahar? Dan apa maksudmu pembaca..?”

 “Bukan apa-apa Calip!”

  Kemudian setelah sekitar 1-2 menit dirinya berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan oleh kedua temannya tersebut, Ian pun terlihat kaget, terasa mindblow, dan bahkan menganggap dirinya selama ini sangat bodoh untuk tidak menyadarinya.

 “Begitu yah...,begitu yah....,Begitu yah...! Aku mengerti sekarang! Aku paham sekarang!”

 Mendengar itu, meski mereka tidak mendengar dan melihatnya secara langsung. Tapi, Calip dan Dirga pun saat itu sudah tahu bahwa Ian yang berkata seperti itu, berarti dirinya sudah tahu harus berbuat apa.

 “I-Ian..! Jadi ka-kamu sudah paham sekarang yah...?!” tanya Calip yang terlihat agak kaget.

 “Iya Calip! Jadi aku sudah paham, kenapa kalian berdua terlihat sangat kesal karena diriku tidak menyadarinya! Aku sangat bodoh tidak menyadarinya!” jawab Ian dengan wajah semangat.

  “Benarkan apa yang aku bilang!” seru Sahar ke Calip dan Dirga.

 “Terima kasih Sahar! Kamu memang sahabatku terbaikku!” ujar Ian.

  “Tidak apa-apa Ian! Lagipula, aku hanya memberikanmu saran itu saja.”

 Ian pun lalu berbalik kedua temannya yakni Calip dan Dirga, untuk mengucapkan rasa terima kasihnya kepada mereka berdua.

  “Terima kasih kalian! Aku tidak sangka kalau kalian sampai-sampai membuat pertanyaan yang rumit-rumit seperti itu hanya untuk memberitahukanku! Dan maaf! Karena saking tidak sadarnya aku, sampai-sampai membuat kalian membuat hal seperti itu.”

 “Ti-tidak a..apa-apa kok Ian!” ujar Calip yang terlihat masih bingung dan mewakili perasaan Dirga juga pada waktu itu.

 Saat itu,Sahar pun terlihat melihat ke sekitarnya sebentar. Dan dimana dirinya pun mendapati kalau jumlah siswa yang telah datang saat mereka cerita mulai banyak dan hampir dari semua teman kelasnya. Sahar pun lalu berbalik ke arah Ian, lalu berkata kepadanya.

 “Ian...! Bukannya lebih baik kamu mendatangi Tania saat ini! Aku rasa...,kemungkinan dia sudah datang dan saat ini sedang menuju ke ke kelas.”

 “Benarkah Sahar?” tanya Ian yang agak semangat.

 “Aku rasa...”

 

  Mendengar itu, Ian pun lalu bergegas meninggalkan teman-temannya dan bergegas menuju ke gerbang untuk menemui Tania, apabila perkataan Sahar itu memang benar adanya. Namun, pada akhirnya Ian pun kembali berjalan seperti biasanya, karena dirinya menduga apabila dirinya berlari cepat, maka dirinya pasti akan tertabrak seseorang dan itu pasti akan menyusahkan orang yang ditabraknya tersebut.

 Selama dirinya berjalan menyusuri sekolahnya menuju ke gerbang sekolahnya, karena kepopulerannya membuat dirinya pun disapa oleh semua siswa seangkatannya. Lalu Ian pun tentu saja membalas sapaan mereka.

 Dan tentu saja, selama perginya tersebut Ianpun tetap saja melihat ke sekitar untuk mengetahui apakah Tania sudah datang atau belum.

 “Apakah Tania sudah benar-benar datang seperti perkataan Sahar tadi?! Apa jangan-jangan Sahar bohong?! Pasti ada yang ingin tidak diberitahukan yah?!” duga Ian dalam hatinya.

 Hingga dirinya telah sampai di depan gerbang, Ian pun tetap saja tidak mendapati Tania dan membuat keyakinan kalau dirinya dibohongi oleh Sahar menjadi sudah menjadi kepastian. Meski begitu, bukannya malah menggerutu atau berusaha mengutuk Sahar akan hal itu, dirinya pun malah menyikapinya dengaan santai, dan lebih memilih untuk menunggu Tania datang.

  Menit-menit awal Ian menunggu Tania, dirinya pun tetap saja disapa oleh siswa-siswa yang mengenal dirinya. Lalu Ian pun berbalik menyapa mereka. Kemudian sekitar 7-9 menit Ian menunggu, beberapa siswa dan guru-guru yang melihat Ian saja yang menyapa dirinya.

 Dan sekitar 10 menit Ian menunggu di sana, yang dimana sebentar lagi waktu pelajaran pertama akan dimulai. Ian pun tetap belum mendapati Tania sama sekali. Dan malahan, dirinya pun menduga kalau Tania tidak akan datang pada hari itu.

Hingga akhirnya, sekitar 3 menit sebelum pelajaran pertama dimulai, gerbang sekolahpun akhirnya tertutup yang membuat Ian pun akhirnya meninggalkan gerbang sekolah, menuju ke kelasnya, sambil berusaha meyakinkan dirinya kalau Tania akan datang esoknya.

 “Sayang,padahalkan aku harapnya hari ini hubungan pertemananku dengannya bisa lebih baik lagi!” pikir Ian yang setelah itu kemudian menghela napasnya.

 Kemudian, belum sampai di depan kelasnya, atau lebih tepatnya Ian berada di sekitaran koperasi sekolah. Dirinya pun melihat seorang perempuan dengan ciri-ciri yang meski baru ia lihat beberapa kali, tapi pada waktu itu, Ian pun tentu saja sudah merasa familiar dan dekat akan dirinya pada saat kemarin.

 Yang terlihat sambil membawa tas di punggungnya layaknya anak sekolah lain. Dan seragam-seragam sekolah yang terlihat baru yang dibawanya karena dirinya masih siswi baru di sekolah itu.

 Melihat itu, Ian pun lalu bergegas menghampiri perempuan itu, dengan wajahnya yang dipenuhi rasa lega,senang dan sangatlah semangat untuk memberitahukan suatu hal kepada perempuan itu.

 “Tania...!!” panggil Ian ke arah Tania yang saat itu berjalan ke arah kelasnya.

 “Ohh...,Ian!” balas Tania yang saat itu berbalik ke arah Ian yang saat itu berada di belakangnya.

 Setelah sapaan yang dilakukan mereka berdua, mereka pun lalu berjalan santai menuju kekelas mereka, sambil melakukan perbincangan layaknya seorang teman dekat.

 “Tania..,memangnya sejak kapan kamu datang? Perasaan daritadi aku tidak melihatmu di gerbang!?”

 “Aku sebenarnya sudah datang ke sekolah daritadi. Sekitaran 15 menit yang lalu, kalau tidak salah.”

  Ian lalu mengingat kembali pada waktu yang dikatakan Tania tadi. Dan akhirnya teringat kalau dia masih sedang bercerita dengan Sahar dan lainnya. Dan, alasan Ian tidak mendapati Tania pada waktu itu, karena saat Tania telah sampai di sekolah. Bukannya menuju ke ruang kelasnya, dirinya malah menuju ke koperasi sekolahnya untuk mengambil seragam-seragamnya, sambil tetap membawa tasnya tersebut.

“Aku kira kamu akan datang terlambat, atau paling buruknya tidak datang pada hari ini Tania!” ujar Ian.

 “Mustahil aku terlambat Ian! Aku ini malah di sekolah duluku selalu dijuluki sama teman-temanku disana sebagai yang tercepat datang!” ujar Tania yang terlihat bangga akan dirinya.

“Begitu yah....” ujar Ian yang sambil tersenyum.

“Jadi...Ian! Memangnya kenapa kamu mencariku? Pasti ada hal yang ingin kamu beritahukan yah, sampai-sampai kamu menungguku?!” tanya Tania.

 Mendengar itu, Ian pun seolah teringat akan niatnya tersebut.

“Begini Tania! Karena sekarang kita sudah berte—”

     “Kring...,kring...,kring...!”

 Bunyi bel sekolah yang menandakan pelajaran pertama dimulai, membuat Ian pun menunda bicaranya. Lalu Tania yang mendengar bel sekolahnya, kemudian menyimpan seragam yang ia bawa kedalam tasnya, dan memegang erat-erat tasnya sembari berkata ke arah Ian.

 “Ian! Ayo kita cepat! Pelajaran pertama sepertinya akan dimulai!”

 Tania pun lalu terlihat bergegas menuju ke kelasnya. Diikuti oleh Ian yang mengikuti apa yang dikatakan oleh Tania tadi. Dalam hatinya, Ian pun hanya bisa berharap kalau pada waktu istirahat nantinya, ia dapat memberitahukan idenya ke Tania.

Kemudian kembali sekitar 10 menit yang lalu. Atau lebih tepatnya saat Ian meninggalkan kelas untuk menemui Tania. Sahar, Calip dan Dirga pun hanya bisa melihat perginya Ian yang sangat tergesa-gesa tersebut.

  “Jadi dia pergi tanpa mengucapkan apa-apa!" ujar Dirga yang melihat Ian pergi.

 Setelah Ian sudah tidak terlihat lagi oleh pandangan mereka, Sahar pun lalu menatap ke arah 2 temannya tersebut dengan wajah tersenyum sambil berkata.

 “Jadi...,ada yang ingin kalian tanyakan?!”

 “Tentu saja Sahar!” jawab Calip dengan cepat.

  Calip pun lalu menatap Sahar dengan wajahnya yang agak mengkerut dan berkata.

 “Bagaimana Ian baru bisa mengetahui tentang ide yang kita maksud hanya dengan dari pertanyaan kami berdua?”

 “Be-benar Sahar! Padahal, pertanyaan yang awalnya niat kami itu petunjuk untuk Ian itu, malahan tidak bisa dia jawab!” ujar Dirga yang sama tercengangnya dengan Calip.

 Sahar yang mendengar ketercengangan Calip dan Dirga hanya tetap tersenyum. Dan malahan senyumnya pun saat ini, lebih lebar daripada sebelumnya yang membuat Calip dan Dirga makin bertanya-tanya.

 “Yah...,kuduga juga kalian akan seperti ini! Begini...,Calip,Dirga! Apakah kalian ingat pertanyaan-pertanyaan yang kalian katakan tadi ke Ian?”

 “Kalau tidak salah itu... ‘Bagaimana kamu bisa bersahabat dengan Sahar? Kenapa bisa dulu kamu bisa melanjutkan hubungan pertemananmu? Mulai dari kamu saling mengenal dengannya, hingga persahabatanmu kayak sekarang?’, kan?

 “Dan yang kedua...—”

 “Sudah Calip! satu saja pertanyaannya!” ujar Sahar sambil mengangkat tangannya untuk memberhentikan perkataan Calip.

“Jadi Sahar..., Memangnya kenapa dengan pertanyaan itu? Kenapa Ian bisa paham ide yang dimaksud, hanya dengan pertanyaanku itu?” tanya Calip yang menatap Sahar dengan penuh tanya.

 “Jawabannya...., analisis kalimat. Calip,Dirga!”

 “Analisis....

Kalimat!” ujar Calip dan Dirga secara bergantian.

 “Benar! Analisis kalimat. Sebuah penentuan mengenai subjek,predikat dan objek dalam suatu kalimat. Simpel kan?!”

 Mendengar penjelasan Sahar tersebut, tidak membuat Calip dan Dirga makin tidak mengerti. Bahkan, apabila Calip dan Dirga berusaha keras untuk memikirkannya, mereka tetap saja tidak akan menemukan jawaban atau bisa dibilang pemikiran mereka tidak akan sampai disana.

 Sahar yang melihat kegelisahan dan kebingungan teman-temannya, dirinya un lalu tersenyum sembari berkata.

 “Yah...,singkatnya seperti ini. Pertanyaan pertama dari Calip tadi, telah termuat 3 kalimat. Dan pada saat Ian menyadarinya, dirinya pun langsung mengambil setiap kata dari satu kalimat untuk dimuat menjadi suatu rumusan kalimat benar dengan cara—.”

“Analisis kalimat. Kan Sahar?!” potong Dirga.

“Benar Dirga! Dan selanjutnya, kita tahu kalau Ian itu bisa dengan cepat memikirkan suatu hal, dan menarik kesimpulan. Jadi, pada saat Ian sedang menganalisis kalimat, dirinya pun merangkai kata perkata dalam pertanyaan Calip tadi. Yang akhirnya membuat Ian mendapatkan kalimat yang tidak lain adalah jawabannya.

  Mengambil kata ‘kamu’ di kalimat pertama. Lalu ‘melanjutkan’ di kalimat kedua. Dan terakhir mengambil kata ‘Saling mengenal’ di akhir kalimat. Paham?!”

  “Kalau dibaca berarti....

  Kamu, melanjutkan, dan saling mengenal.” Ujar Calip dan Dirga.

 Selama beberapa detik mencoba memahami kata-kata itu di pikiran mereka. Dirga pun ternyata masih tidak mengerti dan paham akan maksudnya. Sedangkan Calip, saat itu terlihat mindblow akan apa yang ia perkirakan tersebut. Melihat itu Sahar pun hanya menyeringai, seolah ekspresi yang akan dikeluarkan oleh 2 temannya sesuai dengan dugaannya.

 “Ehh...,Sahar! Aku masih tidak mengerti! Memangnya...,apa hubungannya kata-kata tadi itu dengan saran yang kita hendak beritahu ke Ian?”

 Mendengar itu, Sahar pun lalu berbalik ke arah Calip yang saat ini telah mengetahui jawabannya. Lalu sambil mengangkat tangannya seolah mempersilahkan, Sahar lalu berkata.

“Calip coba kamu jelasin tentang jawabann yang kamu pikirkan itu!”

“Ba-baik Sahar!! Dirga begini, maksud dari kata-kata itu, mudahnya begini. Pikirkan kata-kata itu saja menjadi sebuah kalimat yang menurutmu masuk akal. Jadi jawabannya adalah...,’Kamu seharusnya melanjutkannya dengan saling mengenal’ Begitulah.”

 Mendengar perkataan Calip tersebut, membuat Dirga pun akhirnya memahami tentang cara Ian mengetahui saran dari mereka dari hanya pertanyaan Calip tadi.

 “Begitu yah..., aku tidak sangka kalau Ian bisa melakukan hal sehebat itu!” ujar Dirga.

 “Iya Dirga, Ian memang hebat dalam menganalisanya seperti itu. Namun, Ian kan pasti tidak bisa kalau bukan karena Sahar!” ujar Calip.

“Kenapa malah begitu Calip? Padahal Sahar pada saat itu diam saja?!” tanya Dirga yang mempertanyakan perkataan Calip tadi.

“Tentu sajakan! Ingat Dirga, kalau bukan karena Sahar yang memberitahukannya, aku yakin ujung-ujungnya kita yang langsung memberitahukannya. Selain itu, aku yakin kalau yang mengajarkan Ian hal hebat sepert itu adalah Sahar! Benarkan Sa—”

 “Calip! Mungkin kamu tidak sadar, kalau alasanku memberitahukan hal ini kekalian karena, aku ingin kalian memuji dan kagum akan Ian. Aku mengerti, kalau kamu hendak memujiku karena memang aku lebih cepat tanggap dalam memahaminya, dan akupun yang memberitahu Ian akan hal itu....

 ....Tapi Calip, Aku memperingatkanmu! Dibanding kamu, aku lebih memilih Ian apabila kalian berdua sedang disandra lalu diberi pilihan! Apabila kalian berdua nantinya sedang dalam masa krisis, aku lebih memilih membantu Ian daripada kamu Calip....!

  ....Jadi intinya, kalau aku mendengar kamu berusaha menjelakkan Ian, atau berusaha melakukan hal yang buruk ke dia, maka itu akan menjadi urusanku Calip!!! Dan kamu tahukan apa yang terjadi kalau aku yang sudah memulai!!?” ujar Sahar yang memberikan peringatan ke Calip, dengan tatapan yang sangat serius dan cukup menakutkan untuk Calip.

 Calip pun hanya bisa terdiam,terpaku tidak mampu untuk memprotes atau mempertanyakan perkataan Sahar tersebut. Seolah Calip harus patuh perkataan dari Sahar. Sedangkan Dirga yang meski bukan dirinya yang ditegur oleh Sahar. Namun dirinya pun terlihat keadaannya kurang lebih sama dengan Calip.

Sahar pun yang melihat itu, lalu menghela napasnya seolah dirinya hendak membuang segala emosinya yang masih tersisa karena mendengar perkataan Calip tadi.

 “Maafkan aku Sahar karena sudah mengatai Ian seperti itu!”  ujar Calip yang terlihat sangat menyesal.

 Dirga pun saat itu menampakkan ekspresi yang menyesal layaknya Calip, meski dirinya saat itu tidak berusaha meminta maaf seperti yang dilakukan Calip sebelumnya.

 “Yah..,tidak apa-apa! Lagipula, kalian seperti ini karena kalian juga belum terlalu mengenal Ian. Tapi, suatu saat aku yakin kalian akan mengerti kenapa aku berusaha membela sebegitunya Ian.” Ujar Sahar dengan wajah yang agak tenang.

Kring...,kring...,kring...!”

 Perkataan Sahar tadi, dan juga bunyi bel yang menandakan pelajaran pertama akan dimulai. Membuat perkumpulan Sahar dan yang lainnya akhirnya mereka akhiri, dengan adanya perasaan menyesal dan juga perasaan bertanya-tanya oleh Calip mengenai alasan Sahar melindungi Ian sekeras begitu.

Meskipun, Calip hanya bisa menduga kalau alasan Sahar sepeduli begitu karena Ian adalah sahabat masa kecilnya. Kemudian, Ian dan Tania yang akhirnya sampai ke kelas sekitar 1 menit sejak bel pelajaran pertama berbunyi, merupakan akhir dari peristiwa yang terjadi sebelumnya, dan dimulainya pelajaran pertama adalah sebuah awal baru yang mungkin akan sangat dirasakan oleh mereka semua yang bermain dalam kisah ini.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Cinta Tau Kemana Ia Harus Pulang
7889      1465     7     
Fan Fiction
sejauh manapun cinta itu berlari, selalu percayalah bahwa cinta selalu tahu kemana ia harus pulang. cinta adalah rumah, kamu adalah cinta bagiku. maka kamu adalah rumah tempatku berpulang.
Cinta Tak Terduga
4650      1381     8     
Romance
Setelah pertemuan pertama mereka yang berawal dari tugas ujian praktek mata pelajaran Bahasa Indonesia di bulan Maret, Ayudia dapat mendengar suara pertama Tiyo, dan menatap mata indah miliknya. Dia adalah lelaki yang berhasil membuat Ayudia terkagum-kagum hanya dengan waktu yang singkat, dan setelah itupun pertemanan mereka berjalan dengan baik. Lama kelamaan setelah banyak menghabiskan waktu...
Anderpati Tresna
2428      945     3     
Fantasy
Aku dan kamu apakah benar sudah ditakdirkan sedari dulu?
An Hourglass from the Opus Kingdom
443      249     3     
Science Fiction
When a girl, rather accidentaly, met three dwarfs from the Opus Kingdom. What will happen next?
To Be Feminine
948      511     2     
Romance
Seorang gadis adalah sosok yang diciptakan Tuhan dengan segala kelembutan dan keanggunannya. Tapi... Apa jadinya kalau ada seorang gadis yang berbeda dari gadis biasanya? Gadis tangguh yang bisa melukai siapa saja. Lee Seha bukan seorang gadis biasa. Sekali mengangkat tangan seseorang akan terluka. Dan orang itu adalah sahabatnya. Sebuah janji terjalin dan menuntunnya pada perubahan baru da...
North Elf
1910      861     1     
Fantasy
Elvain, dunia para elf yang dibagi menjadi 4 kerajaan besar sesuai arah mata angin, Utara, Selatan, Barat, dan Timur . Aquilla Heniel adalah Putri Kedua Kerajaan Utara yang diasingkan selama 177 tahun. Setelah ia keluar dari pengasingan, ia menjadi buronan oleh keluarganya, dan membuatnya pergi di dunia manusia. Di sana, ia mengetahui bahwa elf sedang diburu. Apa yang akan terjadi? @avrillyx...
14 Days
870      615     1     
Romance
disaat Han Ni sudah menemukan tempat yang tepat untuk mengakhiri hidupnya setelah sekian kali gagal dalam percobaan bunuh dirinya, seorang pemuda bernama Kim Ji Woon datang merusak mood-nya untuk mati. sejak saat pertemuannya dengan Ji Woon hidup Han Ni berubah secara perlahan. cara pandangannya tentang arti kehidupan juga berubah. Tak ada lagi Han Han Ni yang selalu tertindas oleh kejamnya d...
Rinai Hati
501      267     1     
Romance
Patah hati bukanlah sebuah penyakit terburuk, akan tetapi patah hati adalah sebuah pil ajaib yang berfungsi untuk mendewasakan diri untuk menjadi lebih baik lagi, membuktikan kepada dunia bahwa kamu akan menjadi pribadi yang lebih hebat, tentunya jika kamu berhasil menelan pil pahit ini dengan perasaan ikhlas dan hati yang lapang. Melepaskan semua kesedihan dan beban.
Mencintaimu di Ujung Penantianku
4767      1289     1     
Romance
Perubahan berjalan perlahan tapi pasti... Seperti orang-orang yang satu persatu pergi meninggalkan jejak-jejak langkah mereka pada orang-orang yang ditinggal.. Jarum jam berputar detik demi detik...menit demi menit...jam demi jam... Tiada henti... Seperti silih bergantinya orang datang dan pergi... Tak ada yang menetap dalam keabadian... Dan aku...masih disini...
I'il Find You, LOVE
5729      1591     16     
Romance
Seharusnya tidak ada cinta dalam sebuah persahabatan. Dia hanya akan menjadi orang ketiga dan mengubah segalanya menjadi tidak sama.