Loading...
Logo TinLit
Read Story - Like Butterfly Effect, The Lost Trail
MENU
About Us  

Nasi sudah menjadi bubur, arang yang hitam tidak akan kembali menjadi kayu. Tidak peduli dengan masa lalu yang kelam, aku tidak pernah melakukan hal sia-sia untuk mengungkit apa yang sudah terjadi, tidak ada gunanya untuk saling menyalahkan. Jika aku melempar semua pada Ryan sekarang, tidak akan ada yang kudapat darinya. Sesuatu yang hilang tetap hilang, apa yang terjadi juga tidak akan berubah. Jika aku tetap melakukannya demi nafsuku, masa depan yang menunggu hanyalah kehampaan. Aku tidak cukup bodoh untuk mau membuang apa yang kumiliki sekarang.

Memang benar, luka yang kudapat tidak dapat sembuh total. Aku sendiri tidak pernah mencari usaha untuk mengembalikan arang menjadi kayu secara langsung. Tapi sesuatu seperti itu bukan bukanlah mustahil, hanya saja tekniknya tidak instan. Jika aku membakar kayu sampai menjadi abu, semua gas yang dihasilkan akan diserap oleh tumbuhan sebagai nutrisi, sedangkan abu yang tersisa bisa kita pakai sebagai pupuk. Mereka akan tumbuh menjadi kayu baru.

Luar biasa kan? Artinya, pengembalian bukan bergerak mundur tetapi bergerak maju. Daripada menyalahkan, lebih baik memperbaiki apa yang sudah ada.

Aku tidak membenci Ryan. Aku tidak menyalahkan Mia kalaupun dia tidak memberitahuku apa-apa. Sesuatu seperti pengembalian kayu memang hal yang sulit. Sampai sekarang, aku tidak punya gambaran apapun tentang apa yang kulupakan.

Masih ada beberapa hal yang ingin kutahu, masih ada yang ingin kucari, tapi masa abu-abu tidak ingin kuulang kembali. Lebih baik syukuri apa yang ada dan biarkan semuanya berjalan perlahan.

Setelah bicaraku dengan Ryan selesai, kami berangkat menuju tempat yang dijanjikan dengan para wanita, suatu terminal di pinggir jalan utama. Walaupun tujuan sebenarnya sudah terpenuhi, aku tetap tidak bisa mengabaikan janji umpan yang sudah kubuat.

Waktu satu setengah jam ternyata sangat lama. Aku menghabiskan waktuku dengan sedikit berbelanja makanan.

Jam tanganku menunjukkan pukul 10:10. Aku tidak peduli mereka terlambat, karena tidak ada harapan tinggi yang kutaruh. Atau mungkin, mereka memang tidak terlambat, karena beberapa jam milikku disetting lima belas menit lebih awal.

"Hh... Hah... Maaf yah, kalian nunggu lama?"

"Bukan nunggu lagi, Gua udah bulak-balik nyari kalian"

"Ryan, harusnya kamu bilang kalau kamu juga baru sampai"

"Gua baru sampai kok"

"Sudah telat"

Aku tidak menyadari kedatangan mereka, waktu itu aku sedang di sibukkan dengan jam tangan dan penglihatan ke bawah.

Mereka masih melakukan lawakan seperti biasa. Aku tidak tahu apa Ryan sadar telah melakukan lawakan itu, tapi aku yang melihatnya masih terhibur.

"Kak"

Suara kecil mungil datang dari arah samping. Awalnya aku tidak menyadarinya karena Mia datang dari sudut yang sedikit berbeda dengan Hana. Dia memakai pakaian terusan panjang berbahan lembut berwarna biru dan berumbai-rumbai dengan pola hitam di beberapa ujung kainnya.

Ha? Mia? Apa ini? Kenapa dia selalu seperti ini? Apa iblis succubus sedang mengutukku sekarang? Kembalikan diriku yang masih polos.

Wajahnya yang mungil dengan hidung, mulut dan garis muka yang sangat enak dipandang. Ditambah lagi kacamata frame hitamnya. Hidung yang kecil membuat kacamata besarnya sedikit melorot, tapi itu tidak buruk sama sekali. Seolah hidung itu mengatakan kalau dirinya memang sudah ditakdirkan menjadi singgasana sang kacamata. Dari semua itu, yang paling membuatku heran adalah tatapannya.

Kejam, sangat kejam.

Seolah menghancurkan akal sehat, dia selalu membuatku seperti ini. Tanpa ada niat, tanpa ada strategi dan tanpa ada serangan, hasil yang dibuatnya sudah luar biasa.

Wanita benar-benar mengerikan. Padahal dari sudut pandangannya dia hanya melihat biasa.

Entah karena kebiasaan atau bukan, dia jarang menggerakan lehernya, tapi justru inilah yang membuatnya berbeda. Tubuhnya yang lebih pendek dariku, membuat arah pandangnya membentuk sudut ke atas. Memperlihatkan bola mata layaknya bayi kucing yang membesarkan pupilnya. Setiap detail tindakannya mengartikan hal yang sama.

Sial, aku ingin melindunginya.

Dari awal saja dia memang sudah... Oke, aku tidak akan berkomentar lagi. Aku tidak tahu ini perbuatan Hana atau bukan. Intinya dia tampil berbeda dengan dandanan natural yang menghiasinya.

"Kak?"

"Ah, Iyak? Kenapa?"

"..."

Hn?

"Ryan, temenmu payah yah"

Suara mengejek terdengar dari arah lain. Tidak perlu ditanya siapa pelakunya. Hanya ada satu orang di kelompok ini yang kutahu bisa mengatakan itu.

Apa aku melakukan kesalahan? Aku bahkan belum melakukan apapun.

"Harusnya kamu puji dia atau apalah, kayak gitu aja kok gak ngerti sih san"

Aku memang tidak melakukan itu, tapi kau tidak berhak menghinaku karena Ryan juga tidak melakukan hal tersebut. Asal kamu tahu, laki-laki yang tulus tidak akan jujur begitu saja ketika melihat wanita cantik. Semakin banyak kata itu keluar, semakin rendah derajatnya.

"..."

Tapi yang sebenarnya terjadi, aku hanya tidak punya keberanian untuk mengatakannya.

"Hana..."

Kali ini Ryan yang membuka mulutnya.

Tunggu, apa yang akan dikatakannya? Apa dia benar-benar akan mengatakan itu?

"Cepet berangkat, nanti keburu panas"

Woi. Menurut pembicaraan tadi, bukankah sudah jelas apa yang harus kau katakan. Lagipula...

Ah, bodohya aku.

Mana mungkin Ryan mengatakannya. Dia pria super dingin yang tidak mengerti situasi. Aku memang sedikit berharap untuk melihat pujian keluar dari mulutnya, tapi perkataan Ryan barusan ada benarnya juga. Kami tidak berkumpul untuk berjembur di sini.

Setelah mengatakan itu, Ryan memimpin jalan ke arah bus yang berhenti. Kami menyusulnya dengan cepat dari belakang.

Aku tidak berniat membuat rencana ini menjadi spesial, tapi karena melihat penampilan mereka, aku jadi ingin sedikit lebih serius. Sebuah rencana bermain ke pusat perbelanjaan, kami berempat, dan di hari libur. Mungkin inilah yang mereka biasa sebut sebagai kencan.

“Oh iya, Mia...”

“Kenapa kak?”

Aku sendiri penasaran bagaimana reaksi Mia tentang pengetahuanku sekarang. Apa yang dia akan katakan jika aku mengetahui tentang sinyal itu? Apa dia akan berhenti melakukan pencarian? Apa hubungan kita akan berakhir?

“...”

“Kak?”

“Enggak, gak jadi”

Mungkin bukan hari ini.

Aku takut, aku memang pengecut. Berhenti bertidak karena melihat risiko yang ada. Mia, tetaplah seperti ini, untuk sementara aku tidak ingin berubah dulu.

Kemampuanku memang sampah, kemampuanku tidak pernah membahagiakan orang lain. Tapi hanya satu orang, satu individu yang tidak pernah menolak perkataanku. Satu dari ratusan manusia yang yang terus ada di sampingku. Entah dia sadar atau tidak, aku sekarang bisa menikamati hidup lebih nyaman.

Aku tidak yakin hubungan kami saling menguntungkan. Hanya ini yang bisa kulakukan, menjawab semua pertanyaan penasarannya.

Ravi, apa kekuatanku sekarang sudah digunakan dengan benar? Apa pedang bermata dua akan tetap berbahaya? Jika itu hanya istilah yang kuberikan, bisa saja aku salah. Mungkin bukan pedang bermata dua, melainkan pendekar pedang buta.

Aku memang memiliki pedang tajam, tapi tidak bisa menggunakannya. Jika bisa melihat, mengetahui dan mengerti, mungkin saja kekuatan ini akan membentuk kebahagiaan.

“Oi... Kalian ngapain berdua? Cepet naik”

Hana berteriak dari kejauhan. Aku dan Mia menyusulnya dan segera masuk ke dalam bus.

Banyak bayangan tentang bagaimana hari ini akan berjalan dan bagaimana kelanjutan dari pertemenan kami. Oleh sebab itu, aku memilih untuk mengabaikan hasrat besarku yang menggebu-gebu ini. Ada satu pertanyaan yang sebenarnya ingin sekali aku ucapkan.

Aku tahu aku sudah memutuskan, tapi tetap saja perasaan ini tidak bisa diabaikan.

Jika aku sudah tahu banyak, bukankah tidak ada gunanya untuk bersembunyi? Aku sudah tahu penyakitku, aku sudah tahu apa yang kualami dan aku masih waras dibuatnya. Bukankah ini menjadi bukti kalau aku tidak akan rusak hanya karena ingatan buruk. Bukankah aku yang sudah mengetahu ini menandakan sudah siap menerima kenyataan? Aku bicara pada Ryan seperti itu untuk menunjukkan kalau aku baik-baik saja. Aku tahu aku sakit jiwa, tapi itu hanya masa lalu. Memang ini hanya pendapatku saja, tapi pikiran ini terus lewat di benakku.

Ryan, Apa benar kalau yang kualami itu bukan murni kecelakaan?

 

 

 

END

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Cinta Datang Tanpa Menyapa
781      514     2     
Short Story
Setelah Reina menolong Azura, dia mendapat kesempatan untuk kuliah di Jepang. Kehidupanya selama di Jepang sangat menyenangkan sampai hari dimana hubungan Reina dengan keluarga Azura merenggang, termasuk dengan Izana.salah satu putra Azura. Apa yang sebenarnya terjadi? dan mengapa sikap Izana berubah?
Paragraf Patah Hati
5861      1903     2     
Romance
Paragraf Patah Hati adalah kisah klasik tentang cinta remaja di masa Sekolah Menengah Atas. Kamu tahu, fase terbaik dari masa SMA? Ya, mencintai seseorang tanpa banyak pertanyaan apa dan mengapa.
Love Warning
1496      687     1     
Romance
Dinda adalah remaja perempuan yang duduk di kelas 3 SMA dengan sifat yang pendiam. Ada remaja pria bernama Rico di satu kelasnya yang sudah mencintai dia sejak kelas 1 SMA. Namun pria tersebut begitu lama untuk mengungkapkan cinta kepada Dinda. Hingga akhirnya Dinda bertemu seorang pria bernama Joshua yang tidak lain adalah tetangganya sendiri dan dia sudah terlanjur suka. Namun ada satu rintanga...
JANJI 25
4      2     0     
Romance
Pernahkah kamu jatuh cinta begitu dalam pada seseorang di usia yang terlalu muda, lalu percaya bahwa dia akan tetap jadi rumah hingga akhir? Nadia percaya. Tapi waktu, jarak, dan kesalahpahaman mengubah segalanya. Bertahun-tahun setelahnya, di usia dua puluh lima, usia yang dulu mereka sepakati sebagai batas harap. Nadia menatap kembali semua kenangan yang pernah ia simpan rapi. Sebuah ...
NEET
548      397     4     
Short Story
Interview berantakan bukan pilihan. Seorang pria melampiaskan amarahnya beberapa saat lalu karena berkali-kali gagal melamar pekerjaan, tetapi tidak lagi untuk saat ini, karena dia bersama seseorang. Cerita ini dibuat untuk kontes menulis cerpen (2017) oleh tinlit. NEET (Not in Education, Employment, orTraining) : Pengangguran. Note: Cover sama sekali tidak ada hubungannya dengan cerita...
You Can
1246      775     1     
Romance
Tentang buku-buku yang berharap bisa menemukan pemilik sejati. Merawat, memeluk, hingga menyimpannya dengan kebanggaan melebihi simpanan emas di brankas. Juga tentang perasaan yang diabaikan pemiliknya, "Aku menyukainya, tapi itu nggak mungkin."
Yang Terlupa
452      257     4     
Short Story
Saat terbangun dari lelap, yang aku tahu selanjutnya adalah aku telah mati.
JURANG
1010      499     5     
Short Story
Adikku memang orang yang aneh. Adikku selalu beri pertanda aneh untuk kehidupanku. Hidupku untuk siapa? Untuk adikku atau calon suamiku tercinta?
Behind the Camera
1869      717     3     
Romance
Aritha Ravenza, siswi baru yang tertarik dunia fotografi. Di sekolah barunya, ia ingin sekali bergabung dengan FORSA, namun ternyata ekskul tersebut menyimpan sejumlah fakta yang tak terduga. Ia ingin menghindar, namun ternyata orang yang ia kagumi secara diam-diam menjadi bagian dari mereka.
Unthinkable
13145      2303     6     
Romance
Cinta yang tidak diketahui keberadaannya, namun selalu mengawasi di dekat kita