Loading...
Logo TinLit
Read Story - Forbidden Love
MENU
About Us  

Okta terbangun dari tidurnya dengan tiba-tiba. Jarum jam masih menunjuk ke angka 2 dan Okta merasa tak akan bisa tidur lagi. Ia lalu mengingat apa penyebab ia terbangun. Sebuah mimpi yang aneh. Mimpi yang terasa sangat nyata tapi juga mustahil. Okta memimpikan Ezra.

Bukan wajah dingin pria itu yang Okta lihat di mimpi tadi. Bukan pula cara bicaranya yang  tak ramah. Tapi tetap saja, mimpi itu berhasil membuat Okta takut. Bisa-bisanya Ezra hadir dalam alam tidurnya, padahal ia sama sekali tak memikirkan pria itu. Setidaknya tidak saat mau tidur tadi. Okta melihat dirinya bersama Ezra, duduk bersebelahan di dalam sebuah kelas di mimpinya tadi.

Okta yakin mimpinya tadi bukan hanya sekedar bunga tidur. Ia yakin kejadian yang ia lihat tadi adalah salah satu bagian dari memorinya yang hilang. Anita juga bilang bahwa dirinya pernah mengenyam pendidikan di salah satu universitas. Itu berarti ruang kelas yang ia lihat tadi bisa jadi adalah ruang kelasnya dulu. Tapi mengapa ada Ezra di sana? Bukankah Anitalah teman sekelasnya?

Anita. Gadis itu satu-satunya orang yang harus Okta tanyai sekarang. Tanpa berlama-lama lagi, Okta pun pergi ke kamar Anita dan Ezra di lantai 1. Okta berjalan dengan tak sabaran dan akhirnya sampai di kamar itu Mengangkat tangan bersiap mengetuk, Okta mengurungkan niatnya. Ia mendengar sesuatu dari dalam kamar. Sebuah suara yang membuat Okta merinding sekaligus memerah. Okta memang tak mengingat apapun dari masa lalunya, tapi ia tak bodoh. Ia tahu suara apa yang ia dengar barusan, ia kenal suara itu dan ia paham apa kegiatan yang bisa menghasilkan suara semacam itu. Okta mengerti, dan ia memilih menjatuhkan tangannya ke samping tubuh. Mengurungkan niat menggebu untuk bertanya, gadis itu berbalik dan pergi dari depan kamar Anita dan Ezra.

Saat pagi datang, Anita yang baru saja selesai mandi menemukan Okta di ruang makan. Gadis itu sedang menyusun makanan di meja.

“Okta,” panggil Anita setelah berdiri di samping meja makan  Ia cukup heran mengapa Okta di ruang makan sepagi ini.

Okta yang menyadari kehadiran Anita langsung menunduk malu. Bagaimanapun, ia sudah mencuri dengar tadi malam. Rasa malu bercampur takut Okta bertambah saat kehadiran Ezra dilihatnya.  

Ezra melirik pada Okta dan menahan senyumnya. “Kau memasak sarapan?” Ezra menarik satu kursi dan duduk di sana.  

Okta menjawab dengan mengangguk. Ia tak berani menatap wajah Ezra ataupun Anita.

Ezra memulai memakan sarapannya, tapi terus melirik pada Okta. Ia tahu apa alasan Okta menunduk sedari tadi. Ia tahu mengapa sejak tadi Okta tak berani menatap dirinya atau Anita. Okta sama sekali belum berubah. Gadis itu tak pernah bisa menyembunyikan sesuatu. Ezra tahu bahwa tadi malam Okta lewat di depan kamarnya. Pintu kamarnya tak sepenuhnya tertutup.  

“Hari ini kau libur, kan? Ikut kami ibadah pagi saja.” Anita mengajak Okta pergi bersamanya dan Ezra. Sangat jarang Okta mendapat jatah libur di hari minggu seperti ini.

Sudah 2 bulan Okta menjadi kasir di sebuah  toko buku. Gadis itu bekerja setiap hari dalam satu minggu, dari pukul 9.30 sampai pukul 5 sore, jika mendapat shift pagi. Karena lumayan besar, toko buku tempat Okta bekerja memberlakukan 2 shift setiap harinya.

“Iya.” Okta menjawab sembari mengunyah makanannya. Sesekali ia melirik pada Ezra yang sedari tadi terus menatap padanya layaknya singa yang hendak menerkam. Apa Ezra tahu apa yang ia mengintip semalam? Tapi Okta benar-benar tak sengaja.

Kemudian acara sarapan di meja makan itu pun berlangsung dengan diam. Tiga orang di sana fokus pada makanan masing-masing, setidaknya begitu yang terlihat. Beberapa menit kemudian Anita beranjak dari meja makan, hendak bersiap. Dan suasana canggung di sana pun semakin kentara.

“Aku duluan, Ezra,” kata Okta sambil berdiri.  

Ezra ikut berdiri. Laki-laki itu menatap Okta dengan senyuman mengejek, lalu berucap, “Bersihkan pikiranmu sebelum pergi ibadah, Okta.” Kemudian ia pun pergi dari ruang makan dengan sebuah senyum kemenangan. Menggoda Okta memang selalu menyenangkan sejak dulu.

Okta terduduk lagi di kursinya. Tebakannya benar. Ezra tahu apa yang sudah ia lakukan semalam. Malu setengah mati, Okta ingin menghilang saja dan tak melihat wajah Ezra hari ini. Kenapa pula hari liburnya harus ia habiskan dengan seperti ini.

“Aku bahkan belum bertanya soal mimpiku,” sungutnya sembari bangkit berdiri.

Seharian itu, Okta sama sekali tak emndapat kesempatan bertanya soal mimpinya. Sepulangnya mereka ibadah Anita mengajak makan di luar, setelah itu mereka pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan rumah, dan akhirnya tiba di rumah setelah mentari sepenuhnya terbenam.

“Kita mandi saja dulu, setelah itu baru makan malam.” Anita menenteng tas belanjaannya, bersiap pergi ke kamarnya.

“Ada yang ingin aku tanyakan.” Okta tiba-tiba berdiri dan menatap Anita juga Ezra bergantian. Ia rasa sudah waktunya ia bertanya.

Ezra duduk di sofa, “Ada masalah?” tanyanya

“Aku mengingat sesuatu.”

Ezra menahan nafasnya sebentar. “Ingat apa?”

“Kau. Aku, kau, di dalam kelas, tertawa saat seorang dosen berkemeja biru sedang menjelaskan.”

Berkedip sekali, Ezra menaruh satu kakinya di atas kaki yang lain. “Lalu?” tanyanya tenang.

“Apa dulu kita juga sekelas? Saat kuliah? Bukankah kata Anita, aku sekelas dengannya? Dan seingatku, Anita tak pernah menyinggung tentangmu, “jelas Okta

Kinerja serebrum Ezra terpecah. Satu sisi ia sedang sibuk memutar kembali kejadian yang Okta sebut tadi, sedangkan sebagian lagi sedang berusaha membuat sebuah kebohongan. Okta tak boleh curiga dan meragukan semua cerita yang sudah Anita tuturkan.

Okta menangkap kerutan halus di kening Ezra. Mendadak ia merasa gelisah. “Kita juga sudah saling mengenal sejak dulu, Ezra?”

Ezra yang sempat tertunduk akhirnya mendongak. Pandangannya menerawang dan tak lama satu senyuman kecil muncul di wajahnya. Ia ingat saat-saat itu dan ia berhasil menemukan sebuah kebohongan. Dengan yakin, ia pun berdiri. Tepat berada di hadapan Okta, laki-laki itu sedikit mendongak demi bisa bersitatap dengan kedua mata Okta.

Memasukkan kedua tangannya ke saku celana, Ezra pun berucap, “Kejadian yang kau sebutkan tadi benar. Kita memang pernah sekelas, Okta. Dan kurasa penjelasanku ini akan sekaligus menjawab rasa penasaranmu selama ini. Aku tahu, meski selama ini kau diam, sebenarnya kau sangat ingin tahu apa alasanku begitu baik padamu, kan?”

Untuk sebentar, Okta lupa akan ingatannya yang tiba-tiba muncul itu. Ia penasran soal seberapa pintarnya Ezra. Pria itu selalu tahu segalanya. Ezra yang terlalu pandai atau dia yang bersikap terlalu kentara. Lagi pula, siapa yang tak curiga? Anita memang temannya, tapi Ezra adalah orang lain-setidaknya sebelum ingatan tadi muncul. Tapi semua sikap pria itu selama Okta tinggal di sini sungguh amat baik. Dia membolehkan Okta tidur di kamar utama, yang sebelumnya adalah kamarnya dnegan Anita. Kemudian, saat Okta bercerita pada Anita soal mimpinya yang ingin jadi penulis. Seminggu setelah itu Ezra membelikannya seperangkat komputer super canggih. Katanya agar leher Okta tak sakit karena setiap hari mengetik di laptop yang dipangku. Siapa yang tak berprasangka buruk setelah diperlakukan seperti itu? Entahlah. Okta tak tahu. Ezra itu punya maksud lain atau memang benar-benar baik. Jika benar dia laki-laki baik, maka Anita sungguh sangat beruntung. Tunggu! Apa yang Okta pikirkan? Bisa-bisanya ia menilai suami orang.

Tanpa sadar Okta menggeleng, “Tidak, tidak,” gumamnya pelan.

Di depan Okta, Ezra menukikan alis. “Tidak mau mendengar penjelasan?” tanyanya dengan suara ringan.

“Hah?” Okta tersadar. Cepat-cepat ia mengangguk, “Mau,” katanya yakin.

Ezra tertawa pelan, lalu lanjut berucap, “Kita memang pernah sekelas. Kita bertiga memang sekelas sejak kuliah. Aku menjadi temanmu, karena kau temannya Anita. Itulah sebabnya aku tak keberatan kau tinggal di rumah kami. Singkatnya, bukan hanya Anita, tapi aku juga temanmu.”

Okta menimbang. Alasan yang masuk akal. “Jadi begitu….” Okta berusaha menerima fakta baru itu.

“Apa sudah selesai? Atau ada hal lain yang ingin kau tanyakan?” Ezra bertanya seolah siap ditanyai apapun, padahal dalam hati ia berteriak agar Okta tak meneruskan sesi bertanya ini. Menciptakan  satu kebohongan  saja sudah membuatnya kehilangan banyak energi.

Okta terdiam. Ada sedikit rasa bersalah yang ia rasakan. Selama ini ia sudah beberapa kali berburuk sangka pada Ezra. Ternyata laki-laki itu memang tulus membantunya. Ditambah lagi ternyata Ezra adalah temannya. Pria itu pasti merasa kecewa karena tidak diingat.

“Maaf,” kata Okta selanjutnya

“Untuk apa?” tanya Ezra tak paham. Ia sudah membohongi Okta dan gadis itu malah meminta maaf padanya. Apa Okta sengaja? Ah benar. Sejak dulu memang beginilah Okta.

“Aku sempat berprasangka buruk padamu. Tapi kau tak bisa menyalahkanku speenuhnya. Kalian sungguh sangat baik padaku, wajar aku curiga. Kau bahkan berniat membuang komputer baru itu karena aku tak mau menerimanya.” Okta membela diri.

“Boleh aku tahu niat buruk apa yang kau pikir aku punya?” Ezra bertanya dengan wajah penasaran

“Hmmm?” Okta sama sekali tak menyangka Ezra aan bertanya demikian. Ia segera melirik Anita dan meminta pertolongan pada gadis itu agar bisa selamat dari pertanyaan Ezra barusan.

Anita mengerti, dia mengangguk pelan. “Sepertinya kalian harus menunda pembicaraan ini. Aku sudah sangat lapar. Bisa kita makan sekarang?”

Ezra menoleh pada istrinya. Sumpah demi apapun, ia baru sadar ternyata sedari tadi ada Anita di sini. Ia kira hanya ada ia dan Okta tadi. “Baiklah.” Ezra pun segera berlalu. Meninggalkan Anita dan Okta di ruang tamu itu.

Okta segera menghampiri Anita. Mengamit lengannya dan bertanya, “Jadi kita bertiga memang sudah berteman sejak kuliah?”

“I-iya. Ah, bisakah kau bertanya nanti? Aku sungguh sangat lapar.” Anita mengelus-elus perutnya agar terlihat meyakinkan. Bukan  lapar, ia mulas. Ia tak bisa sehebat Ezra yang mampu mengarang kebohongan yang sangat meyakinkan dengan cepat.

“Baiklah.” Okta mengangguk dan melepaskan lengannya dari Anita. “Aku naik dulu,” pamitnya, kemudian berjalan menuju tangga.

Selagi Okta menapaki tangga menuju lantai 2, Anita terus memandangi punggung gadis itu. Ia merasa bersalah. Bagaimanapun, ia dan Ezra sudah banyak membohongi gadis baik itu.

Ezra. Anita mengingat sesuatu. Senyum, tawa, dahi yang berkeurut dan nada yang tidak kaku. Seingat Anita, Ezra tak pernah menujukkan itu semua selama menikah dengannya. Pria itu selalu bicara dengan suara datar. Jangannya tertawa, tersenyum saja sekali satu tahun. Anita yang sudah lupa, atau Ezra memang tampak berbeda?

“Ah, aku jadi benar-benar lapar.” Tak mau ambil pusing, wanita itu meninggalkan ruang tamu. Ia harus rapat dengan Ezra untuk rencana selanjutnya.

Malam itu menjelang tidur, setelah Ezra dan Anita berbincang soal beberapa kebohongan baru, Ezra mencetuskan sebuah ide. Mereka bertiga akan pergi berlibur dua hari lagi. Ini demi mengalihkan perhatian Okta dari ingatan itu dan mencegah gadis itu mencoba mengingat hal lainnnya.

Vila Ezra yang ada di luar kota adalah tujuan mereka. Anita setuju dengan cepat. Ia juga sudah lama tak pergi liburan.

“Tapi Ezra, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Dengan posisi tidur menghadap Ezra yang membelangkinya, Anita bertanya. Ia kemudian mendengar Ezra berdehem tanda setuju. “Apa ada yang salah jika Okta tahu bahwa temannya semasa kuliah adalah kau dan bukan aku? Toh, tidak akan ada masalah. Aku juga tak keberatan jika Okta tinggal bersama kita. Jujur saja, aku senang dia di sini. Aku jadi punya teman.” Baru hari ini Enita berani menyuarakan rasa bingungnya.

“Tidak bisa,” jawab Ezra cepat.

“Kenapa?”

Hening. Pertanyaan Anita tak dijawab Ezra.

Anita melihat bahu Ezra yang bergerak teratur. “ Kau sudah tidur rupanya,”kata gadis, kemudian memejamkan mata untuk segera tidur.

Di sisi ranjang yang lain, Ezra sebenarnya belumlah tidur. Ia hanya berpura-pura agar Anita tak mendesaknya untuk memberikan jawaban. Okta tahu bahwa dirinyalah yang merupakan teman gadis itu semasa kuliah, tidak masalah. Tapi Ezra takut. Ia khawatir kebenaran itu akan memancng ingatan Okta. Detik dimana Okta mengingat masa lalunya bersama Ezra, deti itu juga gadis itu akan menghilang dari hadapannya. Dan sumpah demi apapun, Ezra tak ingin itu terjadi. Ezra sadar ia sedang bersikap egois, tapi ia tak akan sanggup jika harus kehilangan Okta lagi.

Kehilangan Okta, Ezra tersenyum miris saat menyadari apa yang sudah ia pikirkan. Memang kapan Okta pernah menjadi miliknya? Ia hanya seorang pria pengecut yang tak berani mengambil resiko demi kebahagian orang yang ia cintai.

Tags: twm18 romance

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • Madesy

    ceritanya bagus.. bacanya gak bisa berenti, harus tuntas.. Promote kak..

    Comment on chapter Bab 14
Similar Tags
Bulan Dan Bintang
5806      1691     3     
Romance
Cinta itu butuh sebuah ungkapan, dan cinta terkadang tidak bisa menjadi arti. Cinta tidak bisa di deskripsikan namun cinta adalah sebuah rasa yang terletak di dalam dua hati seseorang. Terkadang di balik cinta ada kebencian, benci yang tidak bisa di pahami. yang mungkin perlahan-lahan akan menjadi sebuah kata dan rasa, dan itulah yang dirasakan oleh dua hati seseorang. Bulan Dan Bintang. M...
Stars Apart
686      491     2     
Romance
James Helen, 23, struggling with student loans Dakota Grace, 22, struggling with living...forever As fates intertwine,drama ensues, heartbreak and chaos are bound to follow
Code: Scarlet
29685      7627     16     
Action
Kyoka Ichimiya. Gadis itu hidup dengan masa lalu yang masih misterius. Dengan kehidupannya sebagai Agen Percobaan selama 2 tahun, akhirnya dia sekarang bisa menjadi seorang gadis SMA biasa. Namun di balik penampilannya tersebut, Ichimiya selalu menyembunyikan belati di bawah roknya.
Special
1885      1082     1     
Romance
Setiap orang pasti punya orang-orang yang dispesialkan. Mungkin itu sahabat, keluarga, atau bahkan kekasih. Namun, bagaimana jika orang yang dispesialkan tidak mampu kita miliki? Bertahan atau menyerah adalah pilihan. Tentang hati yang masih saja bertahan pada cinta pertama walaupun kenyataan pahit selalu menerpa. Hingga lupa bahwa ada yang lebih pantas dispesialkan.
The Second Lady?
596      455     6     
Short Story
Tentang seorang gadis bernama Melani yang sangat bingung memilih mempertahankan persahabatannya dengan Jillian, ataukah mempertahankan hubungan terlarangnya dengan Lucas, tunangan Jillian?
Anything For You
3681      1610     4     
Humor
Pacar boleh cantik! Tapi kalau nyebelin, suka bikin susah, terus seenaknya! Mana betah coba? Tapi, semua ini Gue lakukan demi dia. Demi gadis yang sangat manis. Gue tahu bersamanya sulit dan mengesalkan, tapi akan lebih menderita lagi jika tidak bersamanya. "Edgar!!! Beliin susu." "Susu apa?' "Susu beruang!" "Tapi, kan kamu alergi susu sayang." &...
DarkLove 2
1452      751     5     
Romance
DarkLove 2 adalah lanjutan dari kisah cinta yang belum usai antara Clara Pamela, Rain Wijaya, dan Jaenn Wijaya. Kisah cinta yang semakin rumit, membuat para pembaca DarkLove 1 tidak sabar untuk menunggu kedatangan Novel DarkLove 2. Jika dalam DarkLove 1 Clara menjadi milik Rain, apakah pada DarkLove 2 akan tetap sama? atau akan berubah? Simak kelanjutannya disini!!!
Dua Warna
855      608     0     
Romance
Dewangga dan Jingga adalah lelaki kembar identik Namun keduanya hanya dianggap satu Jingga sebagai raga sementara Dewangga hanyalah jiwa yang tersembunyi dibalik raga Apapun yang Jingga lakukan dan katakan maka Dewangga tidak bisa menolak ia bertugas mengikuti adik kembarnya Hingga saat Jingga harus bertunangan Dewanggalah yang menggantikannya Lantas bagaimana nasib sang gadis yang tid...
Tentang Kita
2243      1042     1     
Romance
Semula aku tak akan perna menduga bermimpi pun tidak jika aku akan bertunangan dengan Ari dika peratama sang artis terkenal yang kini wara-wiri di layar kaca.
Love after die
569      403     2     
Short Story
"Mati" Adalah satu kata yang sangat ditakuti oleh seluruh makhluk yang bernyawa, tak terkecuali manusia. Semua yang bernyawa,pasti akan mati... Hanya waktu saja,yang membawa kita mendekat pada kematian.. Tapi berbeda dengan dua orang ini, mereka masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Dmitri, sang malaikat kematian. Tapi hanya 40 hari... Waktu yang selalu kita anggap ...