Epilog...
Darah segar itu mengalir dari jari telunjuk Bintang yang tak sengaja teriris pisau dapur, segera saja ia mencuci tangannya dan memanggil Senja.
“aa, boleh minta tolong gaaa...?” panggilnya, seorang laki-laki muncul dari ruang teve dan menghampiri Bintang, kaget.
“ya ampun Bii.. bentar yaa..” ia berlari ke ruang tengah mengambil P3K lalu dengan cepat mengurus luka Bintang yang masih mengalirkan darah segar. “udahan masaknya jangan diterusin, biar aku yang urus.. “ pintanya, Bintang mengangguk. Ia mundur dan membiarkan Seja mengiris sisa sayurannya.
Seorang wanita paruh baya menyapa mereka “ekhem, lagi apa nih kalian..?”
“ini mah, masak.. hehee..” jawab Bintang, ia segera mencium tangan keriput wanita itu, calon mama mertua.
“oh hahaa, iya sok atuh lanjutin aja, nanti mamah bakal jadi dewan jurinya..” wanita itu terkekeh “oya, ada salam dari Embun, dia sekarang lagi UAS katanya.. minta didoain sama yang ada di rumah.. bentar lagi mau nyusun juga..”
“wah hebat, kok cepet ya mah..?” Senja masih fokus pada sayurannya “Cambridge emang T.O.P deh.. hehee.. semoga lancar ya mah..”
“Aamiin, semoga sukses disana ya mah...” timpal Bintang.
Mamah hanya mengangguk dan tersenyum, ia berlalu ke ruang tengah dan ikut menonton teve bersama ayah. Hari ini memang hari minggu, semua penghuni rumah ada dan meramaikan rumah setelah weekday yang disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Senja dan Bintang kuliah semester akhir, ayah bekerja di kantor, dan mamah mengajar di salahsatu SMA sekitar rumah. Mereka benar-benar bisa quality time hanya hari minggu saja.
Bintang yang merasa pegal hanya duduk-duduk saja menghampiri Senja “a, mau dibantu ga..?” tawarnya.
“bentar, tangannya masih berdarah ga...?”
“masih, tapi ya gak apa-apa atuh.. sini aku cobain masakan chef Senja..” Bintang menyendok sayur sop yang masih mendidih itu, “adawww.. hanas a.. hanas...” (panas a, panas..)
“aduh hati-hati Bii...” Senja segera menghadap dan melihat keadaan Bintang “mana yang sakit..?” khawatirnya “hati-hati makanya atuh..” Senja merengut.
Cuup..!
Bintang mendaratkan bibirnya di pipi Senja.
“eh? Nakal ya kamu Bii...” gemasnya, ia melingkarkan tangannya di tubuh Bintang dan mengelitikinya.
“maaf atuh aa, ampun.. ahahahaaaa ampun...” gadis itu cekikikan “udahan ah udahan..” katanya, Senja berhenti mengelitiki namun tak melepaskan pelukannya.
“Bii..” bisiknya di telinga kanan Bintang.
“hmm..?” Bintang menciut, ia merasa tubuhnya tiba-tiba panas.
“jangan pernah tinggalin aku..” pintanya sambil tetap berbisik. Bintang mengangguk. “janji..?”
“kan aku udah pernah janji.. jangan-jangan kamu lupa..? hmm..”
“hmm..”
“yang di mobil itu ih, mau aku bongkar kembali nih apa yang udah kita lewatin di mobil malam itu...?” Bintang tersenyum jahil.
“eh, iya iyaaaa jangaan, biar jadi rahasia kita aja deh..” rajuk Senja.
“iyaa, yang penting aku janji gakkan ninggalin kamu..” Bintang membalikkan tubuhnya menghadap Senja, ia memberikan sisa air sop di sendok pada lelaki yang ia cintai itu “sopnya enak chef..!”
“makasih Bii..” Senja tersenyum, ia kembali memasak dan kali ini Bintang membantunya. Dapur itu terasa hangat dan ramai setiap minggunya, dan Senja berharap akan selalu seperti itu hingga jangka waktu yang lama.
“Menerima pasangan dalam sebuah hubungan bukan berarti benar-benar menerima tanpa memberi, karena pada hakikatnya sebuah hubungan adalah hak dan kewajiban, stimulus dan respons, timbal dan balik, aksi dan reaksi, dan take and give ... Semua itu ada dalam proses yang saling keterikatan dan berhungungan satu sama lain..
Selamat menikmati proses.. J”
~Author~