9
PESTA KEDUA
Tak ada yang berubah pada papan pengumuman sejak pagi tadi. Tak ada juga yang tertarik untuk melihatnya. Padahal tadi pagi, sepertinya semua siswa berdesakkan di depan sini. Tapi memang pantas, karena sekolah sudah nyaris kosong. Hanya ada satu anak yang berdiri di depan papan pengumuman. Dan satu orang lagi yang mengawasinya, tanpa diketahui anak itu.
Linta memandang daftar nama pada kelas-kelas baru di papan pengumuman. Dia dan Nokva memang berhasil masuk IPA, namun mereka tak berhasil satu kelas. Linta juga tak satu kelas dengan Anya lagi, karena Anya masuk jurusan yang berbeda. Dia hanya satu kelas dengan Rinza.
“Cepetan, deh!” kata seseorang di belakangnya. “Sampai kapan lo mau meratapi enggak sekelas sama gue?”
Linta menoleh, dan melihat Nokva menyandar pada selusur tangga, nyengir.
“Gue seneng, kali!” sewot Linta.
Nokva nyengir makin lebar. “Oh, ya? Gue kira lo bakal nangis-nangis.”
Linta hanya mendengus.
“Gue mau ajak lo,” kata Nokva, serius.
“Kemana?”
“Udah, ayo ikut aja!” Nokva menarik tangan Linta.
*
Sesampainya di rumah, Linta tidur terentang di ranjangnya. Dia tak mengerti, ada apa dengan Nokva atau siapa yang sudah memukulnya. Yang dia tahu, Nokva benar-benar sudah lain, tak seperti yang dulu.
Tadi sepulang sekolah, Nokva mengajak Linta ke mall untuk membeli baju.
“Gue yang beliin,” kata Nokva tadi, sewaktu Linta mengeluh. “Ini kan hari Senin, waktunya gue yang nraktir.”
Linta tertawa, “Jatah lo hari Selasa, Kamis, sama Sabtu.”
“Oh, berarti kita belanjanya nungggu jam dua belas malem dulu?”
Linta hanya tersenyum sendiri mengingat keajadian tadi siang. Dia tersadar saat pintu kamarnya terbuka dan terbanting menutup. Ternyata, Afo telah masuk kamarnya.
“Elo gila? Senyum-senyum sendiri!” kata Afo cuek, lalu membanting tubuhnya di kasur Linta, di sebelahnya.
“Elo kenapa? Kok suntuk gitu?”
“Elo yang kenapa!” sewot Afo. “Ini apa?” tanyanya, menyentuh tas belanjaan Linta.
“Eit!” seru Linta, seraya menyambarnya dari tangan Afo, dan menaruhnya di atas meja, agar tak dapat diraih Afo.
“Sejak kapan lo main rahasia-rahasiaan sama gue?”
“Sejak gue jatuh cinta,” Linta berguling agar lebih dekat dengan Afo.
“Jatuh cinta? Sama Vega?”
“Vega?! Hidup gue isinya bukan cuma dia!” sewot Linta. “Sama pangeran gue, Nok-va!”
“Oh.”
“Dia beliin gue gaun, dia bakal ajak gue kencan minggu depan! Dia juga bakal ajak gue ke salon!”
“Kasihan. Dari dulu lo dapet cowok yang sama.”
Linta memukul pundaknya. “Beda!”
“Sama, bego!” Afo menatap jepit pita yang dikenakan di rambut Linta. “Dia ngerubah lo. Mungkin biar lo mirip seseorang.”
Linta tak menanggapinya, termenung.
“Itu namanya dia nggak bisa terima lo apa adanya,” lanjut Afo. “Mungkin aja dia nggak sebajingan Vega. Tapi dia sama aja, nggak tulus sayang sama elo.”
“Nggak tulus?” ulang Linta.
Afo menganguk antusias.
“Ngerubah?” Linta menatap Afo nanar.
Afo terlihat takut pada Linta.
“Jadi lo juga gitu?”
“Gue?” Afo tampak terkejut.
“Elo nggak tulus sayang sama cewek-cewek lo selama ini! Elo juga ngerubah mereka! Ngerubah dari perawan ke enggak perawan!”
Linta tertawa keras. Afo menimpuknya dengan bantal, terlihat sekali kesal. Linta baru berhenti tertawa dan mengambil bantal dari wajahnya ketika pintu kamar terbanting tertutup lagi. Afo telah keluar.
Banyak sekali orang-orang yang tak dimengerti Linta. Nokva. Afo. Mereka menggunakan bahasa tingkat tinggi yang sulit dimengerti Linta. Linta menatap kosong langit-langit kamarnya. Hanya satu orang yang berhasil dimengertinya, yaitu Loren. Dia mengerti mengapa gaun baru sangat penting.
*
“Hei!”
Ternyata, gosip mengenai Nokva yang memeluk Linta dulu, telah tersebar. Jadi, saat Linta memanggil Nokva dan berlari ke arahnya di koridor, banyak mata anak yang mengawasinya.
Nokva menoleh tepat ketika Linta telah sampai di depannya, yang bertumpu pada lutut dan terengah-engah, padahal tidak jauh.
Linta mendongak. “Gue… laper,”
Nokva setuju untuk diajak Linta ke kantin. Linta telah memesan bakso dan menambahkan sambal banyak-banyak ke dalam mangkuknya. Nokva yang tak memesan apa-apa memandang setiap sendok sambal yang diambil Linta.
“Gue kira kita udah bubar,” kata Linta lansung to the point. “Tapi, kenapa elo masih butuh jasa kecil dari gue?”
“Ini sebagai tanda terimakasih gue,” jawab Nokva.
“Oh ya?” Linta agak tersipu.
“Nggak, sih, sebenernya,” gumam Nokva. “Sebenernya gue perlu lo jemput gue. Soalnya, besok itu pestanya Bang Ota, dan bokap gue tahu. Gue yakin kalau lo yang jemput, bokap gue ngijinin!”
Linta agak kecewa dengan kejujuran Nokva.
“Please!” tambahnya, meniru gaya bicara Linta.
“Oke! Tapi... lo yang harus anter-jemput gue ke sekolah sekarang!”
Nokva tampak tak terima, namun akhirnya mengangguk juga.
*
Ternyata Nokva benar, mereka diijinka pergi saat Linta menjemput Nokva. Bahkan, ayah Nokva bergurau agar Nokva tak usah dipulangkan dan agar Ayah dan Ibu Nokva tak terganggu.
Setelah tertawa hampir sepuluh menit, Linta ditarik Nokva agar cepat bergegas. Linta baru benar-benar menghentikan tawanya setelah masuk mobil dan Nokva memundurkan mobilnya.
“Loren ngebolehin lo pinjem mobilnya?”
“Iya, lagian dia juga pergi sama pacarnya, nggak butuh mobilnya.”
Nokva mengangguk.
Mereka benar-benar seperti pasangan serasi. Benar-benar kompak. Linta mengenakan gaun berwarna putih dengan payet-payet hitam yang dibelikan Nokva kemarin. Sedangkan, Nokva juga mengenakan jas kali ini. Jas hitam dan kemeja putih. Linta merasa, mereka seperti pasangan pengantin.
Hanya saja, satu-satunya alasan pengantin pria menyembunyikan pengantin wanitanya karena ada wanita lain.
Begitu yang dirasakan Linta. Dia langsung ditarik Nokva saat tiba di gedung pesta dan bertemu dengan Nokta. Nokva menariknya bukan karena akan memperkenalkannya kepada Nokta. Penyebabnya adalah seorang gadis yang berada di sisi lain ruangan. Gadis cantik yang masih sama seperti yang dulu.
Nokva memandang tempat itu sejenak, kemudian memandang Nokta dengan marah.
“Kenapa lo nggak bilang kalau dia kesini?” tanya Nokva.
“Buat kejutan!” seru orang yang bernama hampir sama dengan Nokva itu.
Linta melihat gerakan Nokva dari belakang. Linta tahu bahwa Nokva mengendikkan kepalanya ke arah Linta kepada Nokta. Hal itu terbukti, karena setelahnya, Nokta memandangnya. Dan dia hanya mengangkat bahu tak enak.
“Gue masuk dulu, ya!” kata Nokta seraya berlalu.
Setelah Nokta pergi, Nokva berbalik ke arah Linta. Perasaan Linta tak enak.
“Sori,” kata Nokva. “Lo tunggu di mobil aja, ya! Gue janji nggak bakal lama.”
Perasaan tak enak itu terbukti sudah. Walau agak tak terima, Linta menganguk. Dia tak ingin mengganggu acara Nokva. Kemudian, setelah Nokva tersenyum simpul dan mengikuti Nokta masuk, Linta melangkah kembali ke arah dia datang. Yang bisa ia lakukan adalah menunggu Nokva. Maka, dia kembali ke mobil dan duduk di atas kap mobilnya.
Cukup lama Linta termenung menatap langit. Langit indah, cerah, dan berbintang. Namun kata ibunya, langit berbintang malah membuat malam lebih dingin. Dan memang itu yang dirasakan Linta.
Tiba-tiba, langkah-langkah mendekatinya. Linta berpaling untuk melihat siapa yang datang. Linta kaget oleh siapa yang dilihatnya. Yang dilihatnya pun sama kagetnya, saat memandang Linta.
“Linta?” serunya. “Lo kok disini?”
“Elo kok juga disini?”
Loren semakin mendekat. Dan ketika telah sampai ke tempat Linta, dia ikut duduk di atas kap mobil.
“Temen Angga dari jurusan seni undang dia kesini, dan gue ikut, deh! Kalau lo?”
“Gue pernah bilang kalau Nokva fotografer, kan?” kata Linta.
Loren menganguk paham.
“Bego, ya, mau ikut kesini?” desah Loren. “Tempat cewek-cewek cantik yang bikin cowok lupa sama ceweknya. Yuk pulang!”
Ajakan Loren membuat Linta tersentak.
“Kenapa? Elo nggak mau?” tanyanya.
“Nokva gimana?”
“Elo masih sama dia? Gue kira elo dicuekin juga.”
Linta terdiam dan menggeleng perlahan. “Dia lagi ambil minum. Dia ajak gue keluar karena di dalem sumpek.”
“Oh!” ujar Loren tajam. “Sweet ya! Nggak kaya Angga! Siniin kuncinya! Gue mau pulang!”
“Terus gue gimana?”
“Lha, elo, kan, sama Nokva?”
Loren menengadahkan tangannya. Tanpa bisa membantah lagi, Linta memberikan kunci mobil Loren.
Dua menit kemudian, Linta telah melepas Loren pergi. Dia tak tahu apa yang akan terjadi atau bagaimana dia dan Nokva pulang nanti. Sekarang Linta duduk di pilar beton dekat gerbang masuk. Dia sudah kedinginan di sana.
Tak peduli bahwa Nokva bilang tak akan lama atau sudah berapa lama Linta menunggu, Linta mulai menguap. Punggungnya sudah pegal dan tubuhnya kaku kedinginan. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di pilar beton itu. mencoba tak merasakan dinginnya angin yang semakin malam. Dia terlelap…
Tidur Linta tak nyenyak, tapi dia juga tak bisa bangun. Dia bisa mendengar derap-derap kaki, gumam-gumam, dan juga deru mobil. Tapi yang dilihat Linta tak sesuai dengan apa yang didengarnya. Dia sedang meringkuk di pojok stasiun, kedinginan. Seharusnya yang didengarnya bukan derum-derum mobil, melainkan suara peluit atau kereta yang berjalan di atas rel.
Sesuatu yang hangat mengagetkannya. Dia tersentak bangun, dan yang langsung dirasakannya adalah betapa dinginnya seluruh badannya. Dan karena posisi tidur Linta tak keruan, leher dan pinggang serta kaki-kaki dan satu tangannya sangat pegal. Sesuatu yang hangat itu adalah tangan Nokva yang menyentuh pipi Linta. Di belakang Nokva, mobil terakhir keluar ke jalan raya melewati gerbang.
Linta belum sepenuhnya sadar, dia ingin bangkit tapi tak mampu. Nokva yang berada di samping kepalanya, menampakkan ekspresi ganjil. Entah kasihan atau merasa bersalah.
“Jam berapa?” itu yang ditanyakan Linta.
“Jam dua.”
Linta tersenyum, “pantes dingin banget.” gumam Linta, dan dia merasa suaranya sangat parau. “Gue nunggu dari jam sembilan.”
“Sori,” kata Nokva lirih.
Nokva menekan punggung Linta dan membantunya bangun. Linta langsung terhuyung. Kepalanya pusing dan tenggorokkannya kering tak menyenangkan, sepertinya dia akan flu. Nokva segera melepaskan jas hitamnya dan memakaikannya pada Linta. Itu sangat membantu, meski kaki-kaki Linta masih dingin kaku.
“Mobil lo mana?” tanya Nokva.
“Dibawa Loren,” jawab Linta enteng.
Ekspresi Nokva tampak lebih ngeri lagi.
“Ya udah, yuk pulang!” katanya, jauh dari perkiraan Linta. Linta mengira Nokva akan memarahinya, namun Nokva malah menanggapi dengan enteng pula.
Kemudian Nokva membantu Linta berdiri. Linta sangsi kaki-kakinya bisa untuk berdiri. Tapi ternyata bisa, meski dia terhuyung lebih hebat. Nokva menahan bahunya. Lalu dengan cepat dia berjalan tepat di depan Linta, tetap memegang bahunya, takut Linta jatuh.
Tanpa diduga Linta, Nokva sedikit membungkuk di depan Linta, memaksa tangan-tangan Linta melingkari lehernya, kemudian menempelkan punggungnya ke Linta. Dia mengangkat kaki-kaki Linta dan bangkit. Linta merasa terhuyung lagi. Namun Linta tak takut jatuh, karena Nokva menopangnya.
Mereka berjalan di sepanjang trotoar yang gelap dan sepi. Jalan raya juga nyaris kosong, hanya terkadang sepeda motor lewat. Linta tak tahu apa yang dirasakannya. Dia meletakkan kepalanya di atas bahu kiri Nokva. Kakinya masih dingin, tapi tak sedingin tadi karena sebagian diamit oleh Nokva.
*
Baunya sangat familiar. Sepertinya sudah sangat sering dia kesini. Dia yakin sudah sepenuhnya terjaga. Tapi dia tak bisa melihat apa-apa. Gelap. Dan yang bisa dicerna indranya hanyalah bau ini.
Akan tetapi, Linta bisa mendengar sebentar kemudian. Dia mendengar napas yang dalam di sisi kepalanya. Ternyata tadi dia belum sepenuhnya sadar, karena matanya belum terbuka. Bau apak yang sudah dikenalnya dan napas dalam itulah yang telah membangunkan Linta.
Linta membuka matanya. Dia memang di tempat yang gelap, meski tak sepenuhnya gelap. Ada sedikit sekali cahaya yang masuk, mungkin menerobos masuk melalui gorden jendela yang tebal. Lalu, Linta merasa bahwa dia di atas sesuatu yang empuk. Dan sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhnya.
Aneh sekali. Rasanya baru sebentar tadi Linta terbangun karena kedinginan dan di atas sesuatu yang keras dan dingin, seperti pualam. Mencoba tak memikirkannya, Linta berguling dalam tidurnya, dan langsung berhadapan dengan sang pembuat napas berat.
“Aaargh!” jerit Linta, langsung bangkit dengan kaget dan membentur dinding di belakangnya. Sakit sekali.
Yang membuatnya terkejut hanya bergerak sedikit karena terganggu. Seketika Linta tersadar dia berada di mana. Bau yang sangat dikenalnya dan ruangan yang gelap jika gordennya ditutup meski siang. Kamar Nokva!
Sesuatu yang lain lebih mengejutkan Linta. Gaun yang dipakainya semalam telah diganti dengan baju serta celana yang kedodoran.
“LO APAIN GUE?” teriak Linta dan menendang Nokva dengan kakinya.
Nokva hanya bergumam sebal.
Ingin sekali rasanya Linta menangis. Dia bangkit dan melangkahi tubuh terentang Nokva. Kemudian berjalan menuju pintu, melewati karpet yang penuh dengan barang. Dia menhampiri pintu yang sudah dia hafal betul tempatnya. Terkunci.
Dengan liar, Linta menaik-turunkan knopnya. Tetap tak bisa.
“Buka!” teriak Linta histeris. “Buka!”
Linta menggedor-gedor pintu itu dengan menangis dan terus berteriak histeris. Kemudian ada yang menyalakan lampu. Linta menoleh dan mendapati Nokva sudah berdiri di dekatnya. Satu tangan Nokva menempel pada tombol lampu. Matanya masih redup dan wajahnya terlihat letih.
“Lo kenapa?” Nokva melangkah.
“Berhenti!” teriak Linta, masih histeris.
Linta menyambar sesuatu di dekat kakinya. Ternyata keranjang pakaian kotor.
“Kalau lo maju, gue lempar ini!” ancam Linta.
Mata Nokva langsung terbuka sepenuhnya. Tampak kaget.
“Tenang, tenang!” katanya, sepertinya benar-benar takut Linta akan melemparnya.
“Tenang! Tenang!” teriak Linta. “Lo pikir gue bisa tenang?”
“Kenapa?” tanya Nokva hati-hati. “Elo nggak gila, kan? Epilepsi elo nggak kumat, kan?”
“Elo yang gila!” teriak Linta lebih keras, dan benar-benar melemparkan keranjang baju kotornya.
Nokva berkilah tepat waktu. Keranjang itu menghantam tembok di belakang Nokva, memantul dan tergeletak di kaki Nokva. Nokva memandang keranjang itu dan Linta dengan bergantian, tampak tak percaya. Kemudian dia mengangkat keranjang itu tinggi-tinggi, sepertinya akan membalas Linta.
Linta menjerit lagi. Dia menutupi kepala dengan satu tangan dan tangan lain mulai menggedor-gedor pintu dengan liar. Terus berteriak dan menangis histeris. Karena sibuk berteriak, Linta tak sadar Nokva telah mendekat. Linta benar-benar menjerit. Dia menutupi dadanya dengan tangan yang tadi dia gunakan untuk menutup kepala, dan tangan lain masih menggedor pintu lebih ngeri.
Nokva menangkap tangan Linta yang memukul pintu. Ini jelas membuat Linta kian panik. Dia segera memukul bagian tubuh Nokva mana saja yang bisa diraihnya. Nokva langsung menangkap tangannya yang ini pula. Linta berhenti menjerit, dia akan pasrah.
Suasana menjadi sunyi. Hanya terdengar isakan kecil Linta. Linta tak berani memandang Nokva yang ternyata sangat jahat. Kemudian, tanpa disangkanya, pegangan erat Nokva pada lengannya mengendur.
“Elo kenapa? Mau keluar?” tanya Nokva.
Linta terdiam, masih menunduk dan terisak lemah.
“Nggak bisa buka pintunya?” Nokva melepas lengan Linta dan memutar kunci di pintu. “Gini caranya.”
Kemudian Nokva membuka pintu yang sudah tak terkunci itu. Cahaya lain dan udara segar memenuhi kamar yang sumpek dan remang-remang itu. Linta menatap bingung ke luar, lalu dengan takut menatap Nokva. Nokva juga menatap Linta bingung.
“Kok dibuka?” tanya Linta.
“Elo mau keluar, kan?”
Linta menggeleng tak mengerti, dia sudah berrhenti menangis.
“Gu-gue pikir… gue pikir lo…”
Linta terdiam, tak sanggup melanjutkan.
“Lo pikir gue kenapa?”
“Lo bakal apa-apain gue.”
Nokva terdiam sejenak, kemudian dia tertawa keras. Linta hanya menatapnya bingung.
“Lo pikir gue mau apa-apain elo?” kata Nokva keras, masih tertawa. Linta hanya mengerjap. “Apanya yang mau diapa-apain?” Nokva menatap Linta dari bawah ke atas. “Udah kecil, rata lagi!”
Otomatis Linta menutupi dadanya lagi dan memukul kepala Nokva. “Jadi-lo-lihat?” tanyanya galak.
“Lihat? Lihat apaan?”
“Nggak usah sok polos! Lo buka-buka baju gue, kan, semalem?”
Nokva tertawa lebih keras. “Nyokap gue, Lintah! Dia yang gantiin baju elo!”
Linta terdiam. Dia lega, namun itu belum menjawab segalanya.
“Terus kenapa elo tidur sama gue?”
“Terus gue suruh tidur dimana? Ini kan kamar gue!” kata Nokva. “Nyokap nyuruh gue tidur di bawah, tapi lihat, tuh!” Nokva menunjuk lantai yang berlapis karpet dengan penuh barang. “Gue ogah tidur situ!”
“Terus kenapa elo kunci pintunya?” tuntut Linta.
“Kalau nyokap masuk dan lihat gue seranjang sama elo, dia bisa-bisa mikir yang aneh-aneh kayak elo! Bego!” Nokva menoyor Linta.
Linta terdiam lagi. Dia menyadari sesuatu, bahwa dia benar-benar bodoh. Dan dia tertawa keras. Nokva ikut tertawa.
“Elo polos banget, sih, jadi cewek?” kata Nokva sambil mengacak rambut Linta dan mendekatkan wajahnya. “Apa elo emang pengin gue apa-apain?”
Linta berhenti tertawa dan memukul kepala bagian belakang Nokva. Nokva malah tertawa lebih keras, dan berbalik dan berjalan ke kasur dengan gontai.
“Matiin lampunya! Lo ngeganggu orang tidur aja! Capek tau, gendong elo dua kilo!”
Sedetik kemudian, Linta teringat kejadian tadi malam.
wew
Comment on chapter Pesta Kedua