Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dialogue
MENU
About Us  

Dia, Gue Maunya Lo

 

 

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya lah terdapat Umulkitab (Lohmahfudz) (QS. Ar-Ra’du, 13:39)

 

Abu mengakhiri bacaannya di ayat itu. Sejenak ia mencoba mencari arti dari ayat yang baru saja ia baca. Hanya Allah lah yang berhak menetapkan segalanya, termasuk tentang Zahra. “Semoga Allah menghendaki lo hanya untuk gue, Ra.” Abu bergumam lirih sambil menutup Al-Qur’an kecil di tangannya.

Tak beberapa lama, Abu melangkah mendekat jendela kamar yang masih terbuka. Senja mulai menyapa. Warna jingganya mulai ikut masuk ke kamar Abu. Hangatnya menyentuh kulit yang sedari pagi terasa dingin. Hujan dari pagi sudah reda sempurna. Matahari baru menebar hangat saat senja. Hari ini, matahari cukup malas rupanya. Sejak pagi, ia hanya sembunyi di balik awan.

Abu tersenyum menatap langit senja dari balik jendela. Mengagumi karya Allah ini memang tiada habisnya, apalagi mengagumi karya secantik dan sesempurna Zahra. Ah, hayalan Abu terhenti karena suara notifikasi yang terdengar dari ponsel Abu. Ia pun mengusap layar ponsel dan membaca sebuah pesan, dari Ali.

 

“Abu, lo ada waktu nggak? Kalau lo lagi nggak ada acara, kita konkow yak, di café biasa.” (Ali)

“Siap! insyaAllah, tigapuluh menit lagi gue nyampek ya, bray.” (Abu)

“Okay. On time ya, bray. Gue butuh lo, nih.” (Ali)

“Ada apaan sih, bray. Lo bikin gue penarasan.” (Abu)

“Ntar aja ceritanya. Gue tungguin lo, ya.” (Ali)

 

Tanpa membalas lagi pesan singkat dari sahabatnya itu, Abu segera mempersiapkan diri dan melangkah menuju mobilnya.

“Ma, Abu keluar bentar, ya.”

“Abu! Hujan baru aja reda. Mau kemana kamu?”

“Mau ketemu Ali, Ma. Sepertinya, dia lagi ada masalah tuh. Assalamualaikum.” Abu membuka pintu mobil dan segera duduk di balik kemudi.

“Oh, Ali. Iya deh. Salam ya buat Ali.”

“InsyaAllah, Ma.”

“Kamu hati-hati, ya, sayang. Waalaikumsalam.”

Abu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju café yang ditunjuk Ali dalam pesannya. Café yang biasa mereka gunakan untuk melewatkan senja.

Tak butuh waktu lama untuk Abu sampai di café itu. Waktu tiga puluh menit yang dijanjikannya, masih tersisa banyak. Ia pun memarkir mobil dan segera masuk ke dalam café.

Mata Abu langsung mengarah ke bangku sudut café, tempat yang biasa mereka bertiga gunakan untuk bertemu. Sudah ada Ali di sana. Menunggu dengan secangkir cappuccino di depannya.

Ali. Lelaki yang lupa cara serius. Menjalani semua dengan santai dan tanpa beban adalah kebiasaan Ali. Tapi kali ini, guratan keseriusan tergambar dari wajah Ali. Ada kegelisahan yang sedang melingkupi dirinya. Abu mudah saja melihat kegundahan itu. Kali ini, Ali terlihat serius membaca sebuah buku setebal bantal. Ali membaca buku artinya ia sedang berusaha keras menenangkan diri.

“Assalamualaikum. Udah dari tadi, bray?” Abu duduk di bangku depan Ali.

“Waalaikumsalam. Cepet banget, ngebut lo, bray?”

“Iya lah. Takut lo kenapa-napa. Kusut gitu muka, lo.” Tanpa permisi, Abu pun menyesapi cappuccino Ali yang terlihat belum tersentuh sejak tadi. Sudah cukup menghangat.

“Gue pesenin, ya.” Ali memanggil waiter dan memesan secangkir cappuccino lagi untuk Abu.

“Ada apaain sih? Harusnya lo seneng, study lo bentar lagi kelar.” Abu menghentikan kalimatnya. Ingin ia menanyakan tentang rencana Ali dan Zahra selanjutnya. Tapi, Abu tidak ingin merusak suasana hati Ali yang sudah terlihat kacau sore itu.

“Bray, nyokap gue, pengen gue segera menikah.”

Deg!

Andai jantung tak terhalang rusuk dan daging, mungkin sudah melompat saja ke luar meninggalkan tubuh Abu saat itu juga.

“Menikah?” Abu kembali menghentikan pertanyaannya. Padahal, ingin sekali ia memastikan, apakah dengan Zahra, Ali akan menikah.

Kembali Abu mengatur raut wajahnya. Berusaha ia sembunyikan lagi guratan kecemburuan yang mungkin saja tergambar di sana. Ali masih sibuk dengan bukunya. Sesekali, ia melirik ponsel yang terbaring bisu di atas meja. Sepertinya, ia sedang menunggu dering ponsel itu.

“Lo nggak ngajak Zahra juga, bray?” Abu mencoba membuka percakapan.

“Nggak lah.”

“Kenapa?”

“Nggak pa pa. Gue hanya mau ngobrolnya sama lo.” Ali menatap dalam mata Abu. “Lo nggak keberatan, kan?”

“Ya nggak lah.” Abu menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku café. Seperti ada sesuatu yang berat menggantung di punggungnya sore itu. “Setelah sekian lama nggak ketemu, ternyata lo masih mau bicara tentang hal pribadi lo sama gue. Thanks ya, bray.”

Ali tersenyum mendengar ucapan Abu. “Gue yang terimakasih. Lo sahabat terbaik buat gue, bray. Banyak hal yang lo lewatkan tentang gue selama ini.”

Hening.

Tidak terdengar lagi percakapan antara Ali dan Abu. Mereka sibuk dengan cangkir cappuccino masing-masing. Abu ingin segera membuka saja segalanya. Menanyakan sejuta tanya yang menjejal di kepala. Namun, bibir Abu seakan kelu. Banyak hal apa yang telah ia lewatkan itu? Apakah tentang Zahra?

“Oya, bray. Gue suka tulisan-tulisan lo. Selama ini, lo banyak banget berkarya, ya. Nggak nyangka gue. Ternyata, kesukaan lo nulis berlanjut sampai sekarang.” Kali ini Ali membuka percakapan walau terdengar sedikit garing.

“Ah, biasa aja. Gue hanya menuliskan yang ada di kepala aja. Belum bisa disebut berkarya.”

“Kok gitu?”

“Menurut gue, tulisan-tulisan gue masih biasa aja. Belum bisa bermanfaat buat orang lain.”

“Nah lo. Bukannya pembaca buku-buku lo udah bejibun, bray. Udah pada dipajang aja tuh di toko buku superior. Lo bilang biasa?”

“Lebay lo.” Abu tertawa ringan mendengar pujian Ali. Sesaat, wajah Ali pun terlihat lebih segar dari beberapa menit lalu. Ia sudah mulai bercanda seperti biasa dan bicara sedikit ringan.

“Gue juga pengen berkarya seperti lo. Punya sesuatu yang fenomenal.”

“Heleh. Bukannya modifikasi motor lo itu lebih dari fenomenal?”

“Itu dulu, bray. Sekarang gue hampir nggak ada waktu untuk hal sekecil itu.”

Dan kembali hening.

Beberapa menit berlalu tanpa obrolan apapun. Abu dan Ali sibuk menata hati mereka masing-masing. Hingga dering ponsel Ali pun terdengar. Ali hanya memandangi layar ponsel yang menampakkan wajah seorang perempuan berhijab. Sayangnya, wajah itu tidak dapat terlihat jelas oleh Abu. Lagi-lagi, ia mengira itu Zahra. Namun, setelah dua kali ponsel itu berdering, tangan Ali tidak bergeming untuk menyentuhnya.

“Kok nggak lo angkat?” Abu bertanya lirih. Ali hanya membalasnya dengan senyum. Penasaran makin menyeruak di dada Abu, “Siapa yang telepon, bray?”

“Mama.”

“Angkat lah, bray. Siapa tahu penting.”

“Ah, paling juga nanyain tentang rencana entar malem.”

“Rencana? Entar malem?”

“Iya. Mama mau ngundang keluarga calon istri gue dinner.”

Pyar!

Hati Abu pecah berkeping-keping rasanya. Calon istri Ali? Tapi, mengapa ia tidak menyebut saja namanya, Zahra! Mungkin Ali hanya ingin menjaga perasaan Abu saja. Saat ini, perasaan yang seperti apa lagi yang harus dijaga. Sedang semua rasa yang Abu miliki terasa sudah pergi meninggalkan tubuh Abu yang membeku di bangku sudut café.

Ponsel Ali kembali berdering.

“Lo angkat deh, bray. Kali aja nyokap lo butuh sesuatu atau … .” Abu menghentikan kalimatnya. Gesture tangannya menunjuk pada ponsel yang sedang meraung-raung di atas meja, sudah cukup untuk memaksa Ali mengangkat telepon dari mama.

“Iya deh. Lo tunggu bentar, ya.” Ali meninggalkan Abu sendiri. Ia sedikit menjauh dari bangku sudut café. Abu hanya mampu tersenyum.

Percakapan antara Ali dan mama memang tidak seharusnya Abu dengar. Abu sadar, ini adalah masa-masa sulit untuk Ali. Jika benar ia akan menikah dengan Zahra, tentu ia harus menata segalanya untuk menyampaikan pada Abu, agar ia tidak terluka.

“Sorry ya. Lo jadi nugguin gue.” Ali kembali setelah beberapa menit.

“Nyantai aja. Oya, jadi, lo sebenarnya mau ngomong apa?”

Ali tersenyum dan menyesapi cappuccino di cangkir yang terlihat tinggal setengah. “Alhamdulilah, bray. Acara entar malem pending.” Wajah Ali terlihat sumringah. Seperti ada beban berat yang tetiba lenyap.

“Pending? Kok lo malah seneng gitu?”

“Iya, paling nggak ada waktu untuk gue … .”

“Untuk apa?” Abu makin tidak sabar mendengar cerita Ali yang terlihat terputus-putus itu.

“Hhhhggghhh. Karena gue juga belum tahu siapa anak teman mama itu. Dan gue … .” Kembali Ali terhenti. Wajah Abu makin terlihat penasaran. “Gue mencintai orang lain, bray.”

Ya, Allah, apa lagi ini?” Abu berkata dalam hati.

“Tapi gue nggak berani bilang itu ke dia. Karena gue juga nggak tahu, siapa yang dicintainya.”

“Dia? Siapa?” Abu berada di puncak keingintahuannya kali ini. “Gue kenal?”

Kali ini, Ali yang terkesiap. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini ia tahu bahwa Abu juga mencintai Zahra. Bahkan sejak SMA. Jadi, tidak mungkin jika ia menyebut nama Zahra.

“Ah, sudahlah. Lupakan, bray. Oya, gue dengar, besok lo ada meet and greet lagi di café ini? Jangan lupa undangan gue, ya. VVIP” Ali menyenggol lengan Abu yang masih lemas di atas meja. Abu hanya tersenyum. Abu benar-benar lupa jadwalnya besok.

Bertemu dan berbincang dengan para pembaca serta berbagi tanda tangan adalah hal yang luar biasa bagi Abu. Seorang penulis baru yang tanpa ia sangka,buku-buku yang ditulisnya banyak diminati, terutama remaja.

Obrolan dua orang sahabat itu pun mengalir begitu saja. Ali sejenak melupakan rencana perjodohannya. Sedang Abu telah sedikit lega karena untuk sementara, ternyata bukan Zahra yang akan menikah dengan Ali. Tapi, hanya Allah yang tahu. Siapa jodoh Ali dan Abu sebenarnya.

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Hug Me Once
9689      2535     7     
Inspirational
Jika kalian mencari cerita berteman kisah cinta ala negeri dongeng, maaf, aku tidak bisa memberikannya. Tapi, jika kalian mencari cerita bertema keluarga, kalian bisa membaca cerita ini. Ini adalah kisah dimana kakak beradik yang tadinya saling menyayangi dapat berubah menjadi saling membenci hanya karena kesalahpahaman
The watchers other world
2282      1020     2     
Fantasy
6 orang pelajar SMA terseret sebuah lingkarang sihir pemanggil ke dunia lain, 5 dari 6 orang pelajar itu memiliki tittle Hero dalam status mereka, namun 1 orang pelajar yang tersisa mendapatkan gelar lain yaitu observer (pengamat). 1 pelajar yang tersisih itu bernama rendi orang yang suka menyendiri dan senang belajar banyak hal. dia memutuskan untuk meninggalkan 5 orang teman sekelasnya yang ber...
Flower
363      309     0     
Fantasy
Hana, remaja tujuh belas tahun yang terjebak dalam terowongan waktu. Gelap dan dalam keadaan ketakutan dia bertemu dengan Azra, lelaki misterius yang tampan. Pertemuannya dengan Azra ternyata membawanya pada sebuah petualangan yang mempertaruhkan kehidupan manusia bumi di masa depan.
Werewolf Game
943      736     2     
Mystery
Saling menuduh, mencurigai, dan membunuh. Semua itu bisa terjadi di Werewolf Game. Setiap orang punya peran yang harus disembunyikan. Memang seru, tapi, apa jadinya jika permainan ini menjadi nyata? Cassie, Callahan, dan 197 orang lainnya terjebak di dalam permainan itu dan tidak ada jalan keluar selain menemukan Werewolf dan Serial Killer yang asli. Bukan hanya itu, permainan ini juga menguak k...
Tembak, Jangan?
320      276     0     
Romance
"Kalau kamu suka sama dia, sudah tembak aja. Aku rela kok asal kamu yang membahagiakan dia." A'an terdiam seribu bahasa. Kalimat yang dia dengar sendiri dari sahabatnya justru terdengar amat menyakitkan baginya. Bagaimana mungkin, dia bisa bahagia di atas leburnya hati orang lain.
Perfect Candy From Valdan
3815      1626     2     
Romance
Masa putih abu-abu adalah masa yang paling tidak bisa terlupakan, benarkah? Ya! Kini El merasakannya sendiri. Bayangan masa SMA yang tenang dan damaiseperti yang ia harapkan tampaknya tak akan terwujud. Ia bertanya-tanya, kesalahan apa yang ia buat hingga ada seorang senior yang terus mengganggunya. Dengan seenaknya menyalahgunakan jabatannya di OSIS, senior itu slalu sukses membuatnya mengucapka...
Apakah Kehidupan SMAku Akan Hancur Hanya Karena RomCom?
4661      1482     1     
Romance
Kisaragi Yuuichi seorang murid SMA Kagamihara yang merupakan seseorang yang anti dengan hal-hal yang berbau masa muda karena ia selalu dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya akibat luka bakar yang dideritanya itu. Suatu hari di kelasnya kedatangan murid baru, saat Yuuichi melihat wajah murid pindahan itu, Yuuichi merasakan sakit di kepalanya dan tak lama kemudian dia pingsan. Ada apa dengan m...
JEANI YOONA?
440      318     0     
Romance
Seorang pria bernama Nicholas Samada. Dia selalu menjadi korban bully teman-temannya di kampus. Ia memang memiliki tampang polos dan bloon. Jeani seorang perempuan yang terjebak di dalam nostalgia. Ia sangat merindukan seorang mantan kekasihnya yang tewas di bunuh. Ia susah move on dari mantan kekasihnya hingga ia selalu meminum sebuah obat penenang, karena sangat depresi. Nicholas tergabung d...
High Quality Jomblo
50253      9186     54     
Romance
"Karena jomblo adalah cara gue untuk mencintai Lo." --- Masih tentang Ayunda yang mengagumi Laut. Gadis SMK yang diam-diam jatuh cinta pada guru killernya sendiri. Diam, namun dituliskan dalam ceritanya? Apakah itu masih bisa disebut cinta dalam diam? Nyatanya Ayunda terang-terangan menyatakan pada dunia. Bahwa dia menyukai Laut. "Hallo, Pak Laut. Aku tahu, mungki...
Sanguine
6323      2102     2     
Romance
Karala Wijaya merupakan siswi populer di sekolahnya. Ia memiliki semua hal yang diinginkan oleh setiap gadis di dunia. Terlahir dari keluarga kaya, menjadi vokalis band sekolah, memiliki banyak teman, serta pacar tampan incaran para gadis-gadis di sekolah. Ada satu hal yang sangat disukainya, she love being a popular. Bagi Lala, tidak ada yang lebih penting daripada menjadi pusat perhatian. Namun...