Loading...
Logo TinLit
Read Story - Dialogue
MENU
About Us  

Tentang Abu

 

 

Pagi ini, matahari terlihat malu-malu. Awan abu-abu yang sedari tadi bergelung dan berarak, sepertinya enggan meninggalkan langit. Begitu pula dengan kawanan burung yang biasa terbang lalu lalang, pagi ini mereka pun enggan meninggalkan sarang. Angin berembus sedikit lebih kencang dari biasanya. Daun-daun kering terlihat melayang berjatuhan meninggalkan ranting-ranting tua. Alam seakan murung, semurung hati gue pagi ini.

Pertemuan kemarin membuat mata gue enggan terpejam sejak semalam. Entah perasaan apa yang mengitari gue saat ini. Gelisah tiba-tiba menyesakkan dada. Banyak sekali tanya yang tersusun, tapi entah pada siapa gue harus menanyakannya. Sholat tahajud sudah gue lakukan. Namun tetap saja, selesai sholat, hati gue kembali gelisah. Bahkan, selepas Subuh tadi, beberapa ayat Al-qur’an sengaja gue baca senyaring mungkin. Hingga air mata tak mampu gue tahan.

Zahra. Lagi-lagi lo merusak mood gue pagi ini. Saat lo jauh, rindu yang tak terbendung mengusik habis ruang waktu gue. Saat lo sedekat ini pun, lo malah lebih menyiksa gue. Dia, lo, gue yang lo maksud waktu itu, apakah Ali?

Ya Allah, Zahra. Apa iya gue harus menanyakan hal itu pada lo sekarang? Gue takut. Kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi. Lo menghilang dari hidup gue. Dan gue harus melewati sekian waktu untuk menenangkan diri lagi untuk bertemu lo.

Tapi Ali? Lo dan Ali terlihat sama seperti dulu. Tak ada yang berubah dari Ali, sahabat yang selama ini mengerti tentang perasaan gue ke lo.

 

“Abu! Sarapan dulu, gih. Mama sudah masakin bubur ayam kesukaanmu.” Mama tiba-tiba menghampiri Abu yang sibuk dengan tulisannya di beranda belakang rumah. “Pagi ini cukup dingin. Bubur ayam insyaAllah bisa menghangatkan hatimu itu.”

“Mama?”

Mama tersenyum pada Abu dan berkata, “Wajahmu itu tidak bisa bohong sama mama. Mama tunggu di depan, ya.” Mama pun berlalu, meninggalkan Abu kembali bersama gelisahnya.

Gerimis tiba-tiba menyapa. Mungkin, langit sudah tidak mampu menahan rindunya pada bumi. Atau mungkin juga, kegelisahan awan yang hanya berarak melintasi langit sejak tadi sudah terlalu ingin dilepaskan saja.

Seperti Abu. Inginnya ia segera melepas saja gundah hatinya pagi ini. Tapi bagaimana? Ketakutan yang menggelayut di kepala semakin menambah berat untuknya melangkahkan kaki meninggalkan beranda belakang rumah. Abu sungguh tidak ingin jauh dari Zahra. Jangankan menjalani, untuk membayangkan saja, Abu harus berpeluh mengumpulkan keberanian.

“Astagfirullahaladzim. Kok gue bisa setakut ini. Sedang Allah selalu bersama gue.” Abu mengusap wajahnya dan memandang gerimis yang kian menjadi. “Allahuma shoyyiban naafi’an. Hujan-Mu ini adalah manfaat bagiku, ya Allah.” Abu sadar, bahwa tak seharusnya ia berpikir tentang hujan pagi ini pertanda alam ikut murung sepertinya. Hujan adalah berkah Allah yang harus disyukuri, bukan menjadikannya melankolis seperti ini.

Abu pun menarik senyum dan berjalan menghampiri mama yang sibuk di meja makan. Aroma bubur ayam buatan mama sudah menggoda hidung Abu. Dari jarak yang tidak terlalu jauh itu, Abu bisa memandang wajah mama. Wanita yang sampai hari ini dan selamanya akan menjadi wanita teristimewa baginya.

Sekian lama, sejak papa Abu meninggal, mama adalah tulang punggung keluarga. Bukan hanya menjadi seorang mama yang baik, ia juga pemimpin yang bijaksana.

“Abu, masih berdiri di situ saja?”

“Nggak lah, Ma. Laper.” Abu berkata seraya menggeser kursi dan bersiap di meja makan.

Sarapan berdua bersama mama, momen sangat istimewa bagi Abu. Ia sangat bersyukur memiliki keluarga kecil yang sederhana dan bahagia. Abu hampir tidak pernah ada masalah dengan mama. Mama Abu cukup demokratis. Segala hal yang berkaitan dengan keluarga, mama tak ragu untuk membahas bersama Abu.

Kadang, Abu pun menyesal telah sempat meninggal mama sekian tahun lamanya. Hanya untuk menenangkan hatinya dari penolakan Zahra.

“Ma, maafin Abu, ya. Selama ini, Abu sudah ninggalin mama.” Abu meraih tangan wanita paruh baya itu.

“Sayang, kamu ninggalin mama untuk belajar, kan? Jadi, kenapa harus minta maaf?” Mama mengelus rambut anak semata wayangnya itu. “Ingat, sayang, kamu adalah satu-satunya yang mama miliki di dunia ini.”

Abu tersenyum mendengar perkataan mama. Dalam hati, Abu hanya meyakinkan diri, bahwa wanita yang akan menjadi istrinya nanti, harus juga bisa mencintai mama. Bagi Abu, keluarga adalah segalanya. Dari situlah ia belajar tentang hidup dan kehidupan.

“Abu? Kok buburnya didiemin aja?” Mama menyenggol siku Abu. “Nggak enak, ya? Maafin mama, ya. Nanti mama buatin yang lebih enak, ya.”

“Ah, nggak kok, Ma. Masakan mama tetap juara.”

Kedua mama dan anak lelaki itu pun melanjutkan sarapan mereka. Menikmati hangat bubur ayam di antara hujan yang enggan mereda.

“Semoga yang terbaik senantiasa bersama keluargaku, ya Allah,” lirih gumam Abu saat hujan.

Tags: twm18

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
BANADIS 2
11538      2417     6     
Fantasy
Banadis, sebuah kerajaan imajiner yang berdiri pada abad pertengahan di Nusantara. Kerajaan Banadis begitu melegenda, merupakan pusat perdagangan yang maju, Dengan kemampuan militer yang tiada tandingannya. Orang - orang Banadis hidup sejahtera, aman dan penuh rasa cinta. Sungguh kerajaan Banadis menjadi sebuah kerajaan yang sangat ideal pada masa itu, Hingga ketidakberuntungan dialami kerajaan ...
Happiness Is Real
406      351     0     
Short Story
Kumpulan cerita, yang akan memberitahu kalian bahwa kebahagiaan itu nyata.
Flowers
456      330     1     
Inspirational
Zahra, remaja yang sering menggunakan waktu liburnya dengan bermalas-malasan di rumah, menggunakan satu minggu dari libur semesternya untuk mengunjungi tempat yang ingin dikunjungi mendiang Kakaknya. Bukan hanya demi melaksanakan keinginan terakhir Kakaknya, perjalanan ini juga menjadi jawaban atas semua pertanyaannya.
Kamu VS Kamu
2236      1280     3     
Romance
Asmara Bening Aruna menyukai cowok bernama Rio Pradipta, si peringkat pertama paralel di angkatannya yang tampangnya juga sesempurna peringkatnya. Sahabatnya, Vivian Safira yang memiliki peringkat tepat di bawah Rio menyukai Aditya Mahardika, cowok tengil yang satu klub bulu tangkis dengan Asmara. Asmara sepakat dengan Vivian untuk mendekatkannya dengan Aditya, sementara ia meminta Vivian untu...
Mahar Seribu Nadhom
5707      2197     7     
Fantasy
Sinopsis: Jea Ayuningtyas berusaha menemukan ayahnya yang dikabarkan hilang di hutan banawasa. Ketikdak percayaannya akan berita tersebut, membuat gadis itu memilih meninggalkan pesantren. Dia melakukan perjalanan antar dimensi demi menemukan jejak sang ayah. Namun, rasa tidak keyakin Jea justru membawanya membuka kisah kelam. Tentang masalalunya, dan tentang rahasia orang-orang yang selama in...
Senja Menggila
484      358     0     
Romance
Senja selalu kembali namun tak ada satu orang pun yang mampu melewatkan keindahannya. Dan itu.... seperti Rey yang tidak bisa melewatkan semua tentang Jingga. Dan Mentari yang selalu di benci kehadirannya ternyata bisa menghangatkan di waktu yang tepat.
Begitulah Cinta?
20373      4724     5     
Romance
Majid Syahputra adalah seorang pelajar SMA yang baru berkenalan dengan sebuah kata, yakni CINTA. Dia baru akan menjabat betapa hangatnya, betapa merdu suaranya dan betapa panasnya api cemburu. Namun, waktu yang singkat itu mengenalkan pula betapa rapuhnya CINTA ketika PATAH HATI menderu. Seakan-akan dunia hanya tanah gersang tanpa ada pohon yang meneduhkan. Bagaimana dia menempuh hari-harinya dar...
Starlight and Integra
9724      2592     8     
Fantasy
Siapakah sebenarnya diriku? Apa saja yang sebenarnya disembunyikan oleh orang-orang di sekitarku? Dimana kekeasihku Revan? Mungkinkah dia benar-benar telah tewas saat peristiwa pelantikan prajurit itu? Atau mungkinkah dia ditangkap oleh Kerajaan Integra, musuh kerajaanku? (Roselia Hope, warga Kerajaan Starlight)
Alfabet(a) Cinta
15447      3231     2     
Romance
Alfa,Beta,Cinta? Tapi sayangnya kita hanya sebatas sahabat. Kau yang selalu dikelilingi wanita Dan kau yang selalu mengganti pacarmu setiap bulannya
Premium
Akai Ito (Complete)
7088      1625     2     
Romance
Apakah kalian percaya takdir? tanya Raka. Dua gadis kecil di sampingnya hanya terbengong mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Raka. Seorang gadis kecil dengan rambut sebahu dan pita kecil yang menghiasi sisi kanan rambutnya itupun menjawab. Aku percaya Raka. Aku percaya bahwa takdir itu ada sama dengan bagaimana aku percaya bahwa Allah itu ada. Suatu saat nanti jika kita bertiga nant...