“Blaire, apa akhir pekan ini kau ada waktu luang?” Tanya Ricci saat kami berempat mengemasi barang kami untuk pulang.
“Sepertinya aku punya banyak waktu luang, ada apa??”
“Dyne dan Adia akan menginap di rumahku, apa kau mau bergabung dengan kami? Kedua orang tuaku akan pergi ke luar kota di akhir pekan ini.”
“Sepertinya menyenangkan.” Senyumku secara otomatis mengembang melihat ekspresi senang mereka. “Kirimi aku alamat rumahmu, aku akan kesana setelah latihan pagiku selesai.” Aku akan berusaha untuk membaur dengan mereka, dengan para mees.
Kami berjalan ke luar gedung bersama. Aku mengedarkan pandanganku mencari sepedaku yang sudah tidak ada lagi ditempatnya semula. Ini membuatku kesal, di hari pertamaku aku sudah kehilangan sepeda baruku. “Sepedaku hilang.” Ucapku dengan sedikit geram yang aku tahan.
“Apa? Sebaiknya kita melaporkan ini kepada petugas keamanan.” Usul Adia.
Tiba-tiba aku merasakan adanya kehadiran dari kaumku, guardian. Aku berbalik dan menemukan Lexy, seorang guardian yang selalu menemani kakek kemanapun ia pergi. Ricci, Dyne, dan Adia melakukan hal yang sama sepertiku, berbalik dan mata mereka tertuju ke arah pandanganku.
“Nona...” Dia membungkuk memberiku hormat.
“Kakek yang menyuruhmu? Tidak aku sangka akan secepat ini aku ketahuan oleh kakek.” Aku tidak bisa marah kalau ini menyangkut perintah kakek, tapi aku bisa membangkang, karena itu adalah kebiasaan lamaku. “Berkat kau, hari ini aku akan pulang dengan berjalan kaki.”
“Nona tidak akan pulang dengan berjalan kaki, mulai sekarang saya yang akan mengantar nona kemanapun. Dan tuan yang menyuruh saya untuk menjaga nona selama 24 jam penuh.”
“Apa kau bercanda?” aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesalku sekarang. Kakek sudah melanggar janjinya untuk memberiku kebebasan tanpa adanya guardian lain yang akan mengawasiku. “Kau bahkan tidak akan mampu menghentikanku kabur darimu, lalu bagaimana kau akan menjagaku?”
“Ini perintah dari ketua, kakek anda, nona tidak bisa menolaknya.”
“Tentu aku bisa menolaknya.” Aku mengalihkan perhatianku pada teman-temanku lagi. “Apa kalian bisa memberiku tumpangan pulang?”
Ricci, Dyne, dan Adia menyeringai ke arahku. “Tentu saja.” Ucap Ricci sambil menunjukkan kunci mobil yang dipegangnya.
“Nona.”
Dia mencoba menghentikanku, tapi sayangnya aku bisa dengancepat beralih kebelakang Lexy. Menahan tubuhnya dari belakang agar ia tidak bisa berbalik dan dengan cepat kupukul tengkuknya hingga ia jatuh pingsan.
“Wow, bagaimana kau melakukannya?” Tanya Adia dengan ekspresi kagumnya.
“Keluargaku mempunyai perusahaan yang bergerak dibidang keamanan dan pelatihan ilmu beladiri, jadi aku belajar dari sana.” Kebohongan yang aku katakan bukan sepenuhnya sebuah kebohongan, karena keluargamu memang melakukan bisnis yang berkaitan dengan keamanan. Keamanan bagi para witch, vampire, werewolf, dan juga manusia.
Sementara Ricci mengemudi, aku duduk disamping kursi kemudi, Dyne dan Adia memilih duduk di kursi belakang. “Apa perlu hari menginap kita dipercepat menjadi malam ini?” Tukas Ricci.
“Aku setuju.” Jawab Dyne dan Adia bersamaan. “Blaire?”.
“Aku sama sekali tidak keberatan.”
Ricci mengantarku pulang ke apartemen setelah mengantar Adia dan Dyne ke rumah mereka masing-masing untuk mengambil keperluan menginap dan meminta ijin kepada kedua orang tua mereka. Ketika keluar dari mobil, aku melihat limosin milik kakek terpakir di trotoar tidak jauh dari apartemenku. Aku menduga kakek sudah menunggu untuk menceramahiku di dalam sana, dan aku sedang tidak ingin berdebat dengannya. Aku kembali lagi ke dalam mobil sebelum sempat melangkahkan kaki memasuki area apartemen.
“Kenapa kembali lagi?” Tanya Ricci tepat setelah pintu mobil terbuka dan tertutup kembali.
“Kakekku sedang menungguku di dalam sana untuk menceramahiku, dan aku sedang tidak ingin berdebat dengannya. Bisakah kita pergi ke supermarket untuk membeli keperluan menginapku?” Tanpa memberi jawaban, Ricci langsung menjalankan mobilnya kearah supermarket yang tidak jauh dari apartemenku.
Selama perjalanan ke rumah Ricci, handphoneku tidak berhenti bordering.
“Kau tidak ingin mengangkatnya Blaire?” Adia mengambil handphoneku dan melihat nama yang tertera di layar. “Rone”.
“What?” Aku terkejut dan langsung kuambil handphoneku dari tangan Adia. “Kakakku.” Aku memberikan isyarat agar mereka diam. “Hallo?”
“Blaire, kau dimana sekarang?”
“Apa kakek yang menyuruhmu menelphoneku, Rone? Kau bahkan tidak menanyakan bagaimana kabarku, bagaimana hari pertama sekolahku.” Aku sudah menduga, Rone tidak akan menghubungiku kalau tidak benar-benar penting atau karena permintaan kakek.
“Jangan bertingkah seperti anak kecil Blaire. Beritahu aku, dimana kau sekarang? Kakek mencarimu.”
“Aku tau. Aku bukan anak kecil, jadi berhentilah menghawatirkanku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku keluar dari rumah kakek bukan untuk diawasi selama 24 jam.”
“Itu demi kebaikanmu Blaire. Jangan menentang.”
“Kalian terlalu berlebihan. Jangan membuat hariku menjadi buruk karena sikap berlebihanmu dan kakek, Rone.”
“Blaire, kembali ke apartemenmu sekarang juga. Di luar sana tidak aman untukmu.”
“Aku lebih baik darimu dalam menghajar orang Rone, tidak perlu menghawatirkanku. Sampaikan pada kakek kalau aku tidak inginada pengawal yang mengikutikuselama 24 jam.” Aku menyinggung kewajiban para guardian yang harus selalu mendampingi ke-tiga kaum selama sisa hidup mereka.Kumatikan telphoneku, aku tidak ingin mendengar bunyi bisingnya lagi.
“Apa kau baik-baik saja Blaire?” Tanya Adia.
“Aku baik-baik saja. Kakakku terlalu overprotektif”
***
Kediaman keluarga Ricci sangat besar, lebih cocok disebut mansion daripada sebuah rumah. Begitu kami masuk ke area ruang keluarga, kedua orang tua Ricci menyambut kami dengan sangat ramah.
“Selamat siang, saya Blaire Bailey, teman baru Ricci.” Aku memperkenalkan diri, karena aku yakin hanya aku yang belum mereka kenal diantara kami bertiga, sebagai teman Ricci. Ketika aku bersalaman dengan ayah Ricci, aku memperhatikannya cukup lama dan merasa cukup familiar dengannya.
“Blaire Bailey?” ia terlihat mengenaliku. “Apa kau sudah lupa denganku Blaire? Aku memakluminya, sudah sekitar 10 tahun sejak terakhir kali kita bertemu.” Mendengar ucapannya membuatku diam sejenak. Aku mulai berfikir ulang mengenai diriku di 10 tahun yang lalu.
Aku tidak mengingat apapun saat usiaku 10 tahun. Aku tidak bisa mengingat apapun itu. Ingatanku sebagai Blaire 10 tahun yang lalu sudah menghilang.
“Ayah mengenal Blaire?”
“Ricci, kau tidak mengingatnya? Dulu Blaire dan Rone sering sekali bermain bersamamu dan Rayn.” Jelas Ibu Ricci.
Aku berusaha mengingatnya. Aku kembali ke ingatanku, entah bagaimana aku melakukannya. Aku seperti melakukan perjalan waktu dengan di dalam ingatanku, seperti yang biasa dilakukan oleh para witch.
“Paman Rush, Bibi Millie. Aku mengingatnya. Aku mengingat kalian. Aku juga ingat denganmu icci, dan juga Rayn. Iya Rayn, apa dia baik-baik saja?” Ingatanku benar-benar nyata. Semua kenanganku bersama keluarga Wagner seolah muncul kembali setelah terkubur dalam waktu yang cukup lama.
“Kau mengingat semuanya?” tukas mereka bersamaan. “Bagaimana?”
“Aku hanya mengingatnya begitu saja.” Rasa haru merasuk kedalam diriku, begitu aku mengingat kejadian yang melibatkan Rayn, kakak Ricci. Paman Rush memelukku, membuatku nyaman di dalam dekapannya. Aku merindukan pelukan kasih sayang ini. Kenapa aku melupakan hal sepenting ini?
“Wow, ini sesuatu yang mengejutkan.” Aku mendengar ucapan Dyne dan Adia. “Kalian sudah saling mengenal sebelumnya, dan kalian tidak mengingatnya.” Tambah Dyne padaku dan Ricci.
“Aku mengingatnya, Aku mengingat Blaire sebagai Aire. Aku tidak mengingat Blaire sebagai Blaire.” Jelas Ricci.
“Ricci stop, jangan membuat kami semakin bingung dengan ucapanmu.” Ucap Dyne dan Adia bersamaan yang membuat kami tertawa serempak.
Kami semua duduk bersama di ruang keluarga. Aku duduk bersama bibi Millie, sementara Paman Rush duduk seorang diri, dan Ricci duduk bersama Dyne dan Adia.
“Bagaimana dengan Rayn?” tanyaku.
“Rayn mulai sekarang ikut menjalankan bisnis keluarga, sementara Ayah sibuk di pemerintahan. Sebentar lagi dia pasti pulang.” Jelas Ricci.
“Apa kau tau Blaire? dia sangat tampan, itulah kenapa aku suka main kemari. Aku tidak bosan melihatnya.” Sahut Dyne yang membuat Ricci geram.
“Jadi kau kemari hanya untuk kakakku? Lalu aku? Dyne Maxwell kau benar-benar menyebalkan”. Ricci melemparkan bantal kearah Dyne dan Dyne membalasnya. Pembicaraan ini berubah menjadi perang bantal dan gelak tawa yang tak henti-hentinya. Sangat menyenangkan berada diantara mereka, kenapa aku melupakan ini? Kenapa aku bisa lupa kalau aku pernah tinggal ditengah-tengah mereka, para mees?
“Bagaimana kabarmu dan Rone?” Tanya bibi Millie.
“Rone sudah bekerja sekarang. Aku keluar dari rumah kakek dan mencoba untuk mandiri.”
“Aku sangat berterima kasih padamu Blaire, berkat kau, Rayn bisa sembuh dan bisa menjalani kehidupannya dengan normal sekarang.”
“Aku sangat senang mendengarnya bibi. Tapi aku rasa bukan karena aku Rayn bisa sembuh. Aku yakin Rayn sembuh karena kemauannya yang besar untuk hidup normal.” Aku memperhatikan bibi Millie dan paman Rush bergantian kemudian beralih kepada ketiga temanku. “Mungkin takdir yang sudah mempertemukanku dengan kalian lagi. Hari ini hari pertamaku sekolah.Ricci, Dyne, dan Adia menjadi teman pertamaku.”
“Aku senang mendengarnya Blaire.” bibi memeluk dan bersandar dibahuku. “Sepertinya kita harus menunda keberangkatan kita Rush, aku ingin menghabiskan waktu dengan Blaire dan yang lainnya.” Tukasnya.
Paman Rush hanya mengangguk dan berlalu bersama handphonenya untuk menghubungi seseorang agar ia bisa membatalkan jadwal kepergiannya. Aku melihat paman Rush menghilang dari pandanganku dan bersamaan dengan itu aku melihat pula seseorang yang masuk menuju ruang keluarga. Masih muda, berpakaian rapi,dan sangat tampan. Begitu melihatnya menampakkan diri, Ricci, Dyne, dan Adia berhambur ke arahnya. Aku mengenalnya. Dia seseorang yang sangat aku sayangi seperti halnya aku menyayangi Rone, kakakku. Dia adalah orang yang aku kagumi. Aku senang melihatnya mampu berdiri tegak dengan kakinya sendiri, melihatnya berjalan dengan langkah kakinya. Aku sangat senang melihatnya. Aku tetap duduk dan membiarkan bibi Millie tetap bersandar di bahuku sambil melihat ke arah putra sulungnya itu.
“Berkat kau dia bisa seperti sekarang. Dia bisa tumbuh seperti anak-anak normal lainnya.” Gumam bibi Millie lirih di telingaku.
“Ibu...” Dia menyela, mendekat pada bibi Millie dan memberinya ciuman di pipi. “Dia siapa? Teman Ricci atau kenalan ibu? Sepertinya ibu sangat akrab dengannya.” Aku bisa mendengarnya berbisik pada bibi Millie. Dia membuatku menahan tawa. Aku mengulurkan tanganku padanya dan dia menjabatnya.
“Hai Rayn, sudah lama kita tidak bertemu.”
“Apa aku mengenalmu?”
“Dia Aire.” Sahut Ricci, membuat Rayn terkejut.
***
Ketika malam semakin larut dan semua orang telah tertidur lelap, aku memulai rutinitasku untuk melatih ilmu beladiriku, kemampuan dasarku sebagai seorang guardian. Aku berada di ruang Gym milik keluarga Wagner yang sebelumnya paman Rush telah mengijinkan aku untuk menggunakannya. Aku tidak ingin kemampuanku tumpul sebagai seorang guardian selama aku tinggal ditengah-tengah para mees.
Setelah cukup lama berlatih, aku merebahkan badanku di lantai. “Hah... bagaimana aku bisa lupa hal penting seperti ini?” aku bergumam pada diriku sendiri.
“Kau, belum tua tapi sudah pikun.” Aku melihat kearah suara itu berasal.
“Rayn. Kau belum tidur?” Rayn berdiri tepat diambang pintu.
“Kalau aku sudah tidur, mana mungkin aku berbicara denganmu sekarang.” Dia melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya kepadaku. “Bangun, atau kau akan terkena demam karena berbaring di lantai larut malam seperti ini.” Aku meraih tangannya dan bangkit dari posisiku sebelumnya. Aku bisa melihat senyumnya. “Lekas mandi dan tidur.” Ucapannya yang seperti seorang ibu kepada anaknya membuatku tertawa. “Kenapa tertawa?” tanyanya padaku.
“Kau sangat perhatian, lebih perhatian dari kakakku sendiri.”
“Aku memang lebih baik dari Rone.” Aku suka ketika dia berpura-pura membanggakan dirinya, seolah berbeda dengan pria muda ber-jas rapi yang aku temui beberapa jam yang lalu. Dia mengambil jaket olahragaku dan memakaikannya untukku. Kami beranjak ke beranda dan duduk di sebuah kursi ayun.
“Kenapa kau baru datang sekarang? Dulu saat aku terbangun, orang pertama yang ingin aku lihat adalah kau. Kau dan Rone menghilang begitu saja.” Ucapnya membuka pembicaraan.
“Maaf Rayn, aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku melakukannya. Entah kenapa aku lupa dengan semua yang terjadi 10 tahun yang lalu. Melupakan kalau aku pernah mengenalmu dan keluargamu. Aku ingat karena aku berusaha mengingatnya setelah pamandan bibi menyinggungnya. Maafkan aku.”
“Tidak perlu meminta maaf, itu bukan salahmu.” Dia menunjukkan senyumnya padaku. “Bagaimana hari pertama sekolahmu?” Dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Sejauh ini masih baik-baik saja. Bagaimana denganmu, tuan pengusaha?”
“Sejauh ini masih baik-baik saja.” Dia menirukan jawaban dan gaya bicaraku. “Bagaimana dengan Rone dan keluargamu?”
“Rone tetap sibuk dengan pekerjaannya dan keluargaku menjadi lebih menyebalkan.”
“Menyebalkan?”
“Rone dan kakek menjadi lebih overprotektif. Mereka ingin aku tidak terlibat dengan bisnis mereka dan mengijinkanku keluar dari rumah, tapi sekarang setelah aku melakukannya, mereka mulai membuat batasan-batasan yang membuatku merasa seperti hidup di dalam sangkar.”
“Mereka melakukan itu demi kebaikanmu Aire.”
“Blaire.” Aku mengoreksi caranya memanggilku, aku tidak terbiasa mendengarnya untuk sekarang.
“Okey, Blaire. Kau tinggal dimana sekarang?”
“Di apartemen Livin City.”
“Tinggal seorang diri?” aku hanya mengangguk. “Kau tidak takut?”
“Kenapa aku harus takut? Aku seorang guard-“ aku segera menutup mulutku tanpa menyelesaikan ucapanku
“Guardian.” Rayn menyelesaikan ucapanku. “Dulu Rone juga sering mengatakannya, bahwa dia adalah seorang guardian yang menjaga keseimbangan dunia.” Dia melihatku dengan seksama. “Apakah kalian benar-benar nyata?”
Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya. “Apakah ke-empat kaum yang diceritakan dalam sejarah memang benar adanya?” Aku masih tidak membuka mulutku.
“Blaire, katakansesuatu, aku akan menjaganya sebagai rahasia kalau kau benar-benar menginginkannya. Aku menyadarinya ketika kau menyembuhkanku yang lumpuh karena sakit yang aku miliki.”
“Aku menyembuhkanmu? Itu sepertinya tidak mungkin.” Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rayn. Yang aku tau, para guardian tidak memiliki kemampuan untuk menyembuhkan, hanya para vampire dan witch lah yangbisa dan mampu melakukan itu, dan aku bukanlah bagian dari mereka.
“Aku mendengarnya dari kakekmu saat ia menjengukku di rumah sakit. Ia berbicara dengan dua orang lainnya yang tidak aku kenal ketika mereka sepertinya mengira aku sedang tertidur. Dia yang mengatakan kalau kau yang menyembuhkanku dengan kemampuan yang kau miliki.” Aku terdiam melihatnya. “Sejak saat itu aku mempercayai apa yang diceritakan dalam sejarah, mengenai guardian, witch, vampire, dan werewolf.”
“Aku tidak bisa mengingat kejadian itu, ingatanku seolah-olahtelah-“
“Dihapus.” Rayn meneruskan ucapanku lagi. “Aku mendengarnya dari seseorang yang berada dikamarku bersama dengan kakekmu. Dia mengatakan akan menghapus ingatanmu.” Okey, ini semakin membuat kepalaku berasap. Yang aku ketahui, para witch lah yang memiliki kemampuan untuk menghapus ingatan. Hal yang masih tidak bisa aku percaya adalah aku yang telah menyembuhkan Rayn.
“Sepertinya sekarang aku harus mendinginkan kepalaku.” Aku ingin berhenti sejenak untuk membahas ini.
“Mandilah, aku akan mengambil beberapa kudapan, kalau kau masih belum ingin tidur, kau bisa bergabung denganku di ruang tv kalau kau mau.” Tangan besarnya mengusap kepalaku, aku menyukai caranya menenangkanku.
***
Aku menuruni tangga ketika aku melihat Rayn tengah bersantai di depan tv. “Hei guardian, how do you feel?” Tukasnya ketika ia melihatku.
“Well, lebih baik.” Aku bergabung dengannya di sofa.
“Kau mengakuinya sekarang?”
Aku hanya mengangguk. Tidak ingin membahas lebih lanjut mengenai siapa aku dimatanya sekarang. Aku lebih memilih kudapan yang sudah ia siapkan.
“Blaire, ada satu hal yang belum sempat aku katakan.” Aku tahu dia menginginkan perhatianku. Aku berhenti dengan kudapanku dan mulai mendengarkan apa yang ingin ia katakan.“mungkin ini terdengar tiba-tiba, tapi sebenarnya orangtuamu bukanlah orangtuamu. Itu yang mereka katakan.”
Mendengar ucapan Rayn membuat jantungku seolah-olah dipaksa untuk berhenti. “Apa yang kau bicarakan Rayn?”
“Kau menyembuhkanku, dan mereka mengatakan kau mewarisinya dari Black. Dan seingatku itu bukan nama dari orang tuamu seperti yang pernah kau ceritakan. Aku sangat yakin kalau Black yang mereka maksud adalah orangtua kandungmu. Mereka tidak menyebutkan nama belakangnya.”
“Black Schoonhoven.” Aku berkali-kali mendengar nama itu ketika kakek menceritakan mengenai ‘kill the wire’.
Kenyataan yang Rayn menamparku dengan keras. Rasanya sakit sekali. Sampai aku tidak mampu menahan air mataku, dan mengalir begitu saja. Aku hanya bisa menutupi wajahku dengan kedua tanganku dan mulai terisak. Bagaimana mungkin kenyataan seperti ini disembunyikan kakek dariku? Apakah ini yang membuat kakek menyuruhku untuk melupakan peranku sebagai guardian karena aku bukanlah bagian dari mereka? Apa Rone mengetahui hal ini? Aku yakin Rone juga tau mengenai hal ini. Pikiranku mulai memikirkan berbagai hal. Ini membuatku bingung.
“Blaire...” Rayn memelukku dan menenangkanku dengan tepukan ringan di punggungku. “Apakah aku mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya aku katakan? Maafkan aku. Saat aku terbangun di rumah sakit, itulah kenapa aku mencarimu. Aku ingin memberitahu semua ini, tapi kau menghilang.”
“Terimakasih Rayn.” Aku melepaskan pelukannya. Aku melihat tepat kearah mata birunya. “Apa kau bisa menjaga rahasia ini untukku?”
wah aku suka penulis menulis sesuatu yang berbeda. mantap
Comment on chapter Chapter 1 - My Memories 1