Bulan purnama tengah malam yang selalu menjadikan waktu dimana seseorang syaman dan cenayang untuk melakukan upacara persembahan. Mereka berusaha memanggil para roh untuk merasuki tubuh mereka.
"Para manusia itu, kenapa mereka begitu bodoh!" Jungkook melihat dari jauh upacara gut yang sedang berlangsung.
"Ah, kau baru melihatnya akhir-akhir ini tapi kami sudah melihatnya ribuan tahun lalu." Gumam Suga.
"Mereka menyembah para roh busuk dari pada Sang Maha Kuasa. Meskipun begitu Tuhan selalu menggap manusia makluk paling mulia. Cih, lihatlah keserakahan dan ambisi bodoh mereka. Bahkan dalam sekejap mereka bisa berubah lebih kejam dari para roh jahat itu." Cibir Taehyung.
"Kemana kita harus mencarinya?" Helaan nafas Jungkook terdengar jelas. Ia duduk diatas rumput kering yang luas dan di ikuti Suga beserta Taehyung.
"Kurasa kita harus membaur dengan manusia." Celetuk Taehyung yang seketika membuat Jungkook dan Suga memandangnya seolah memintanya memberikan penjelasan.
"Begini, aku ingin kita menyamar sebagai manusia." Ungkap Taehyung dengan bangga.
"Ani, aku tidak ingin melakukannya!" Tolak keras Suga.
"Bagaimana dengan mu Jungkook-ah?" Taehyung bertanya kepada Jungkook yang masih terdiam.
"Entahlah, aku merasa kalau ide itu tidak terlalu buruk hyung. Coba kalian bayangkan, selama ribuan tahun ia tak bisa kita temukan. Kurasa kekuatannya sungguh besar sekarang sampai kita tak bisa merasakan keberadaannya. Apa mungkin sekarang dia menjadi manusia hyung? Aku pernah mendengarkan bahwa ia memiliki kekuatan yang mampu mengendalikan manusia bahkan para roh lain." Dan semua kecurigaan Jungkook benar.
"Bahkan ia bisa sesuka hati masuk dalam tubuh manusia yang ia inginkan. Apa benar dengan ide ini kita dapat menemukannya?" Tanya Suga dengan ragu.
"Tentu hyung! Kita harus selangkah lebih cepat dari roh itu." Kini semangat untuk memburuh roh jahat yang mereka tidak tau seperti apa wujudnya itu begitu membara.
---***---
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna karena dilengkapi akal, bukan hanya nafsu saja. Dengan akal itu, mereka bisa memikirkan banyak hal dalam waktu bersamaan. Memikirkan hal bodoh, menggelikan, kesedihan, kebahagiaan, ketakutan, ambisi dan lainnya.
Setiap manusia memiliki dua sisi, baik dan buruk. Mereka mengendalikan diri mereka untuk lebih banyak memiliki kebaikan atau mungkin keburukan. Bahkan keinginn yang menjadi dasar sebuah keegoisan, ambisi besar yang berasal dari nafsu mereka terkadang tak mampu untuk di kendalikan.
Karena itu, manusia juga bisa dinilai makhluk paling rapuh. Mereka mudah goyah dan dijatuhkan terperdaya oleh nafsunya dan diperparah dengan gangguan makhluk tak kasat mata. Hwang Sinb yang merupakan wujud dari roh yang berhasil memasuki tubuh manusia selalu menggunakan kelemahan para manusia itu untuk memperkuat dirinya.
"Kalian sudah menyiapkannya?" Sinb duduk di lantai sebuah rumah tradisional korea. Ia memakai pakai dress hitam lengkap dengan topi serta cadar yang menutupi sebagian wajahnya sampai separuh hidungnya. Ada beberapa orang paruh bayah duduk dihadapannya.
"Iya nona, ini adalah Tuan Shin." Seseorang yang sepertinya pengikut Sinb memperkenalkan pria paruh bayah dan segera pria tua itu menggeser duduknya.
"Apa kau benar-benar bisa membantuku untuk menang di pemilu kali ini?" Tanyanya dengan memandang remeh Sinb.
"Aku? Tentu saja tidak bisa. Kau memintalah pada Tuhan." Sinis Sinb yang membuat sebagian manusia yang duduk bersamanya cukup tercengang.
"Nona..." Syaman tersebut seolah mengingatkannya dan Sinb hanya meliriknya sinis yang seketika membuat Syaman tersebut menundukkan kepalanya tak berani. Mereka tidak tau siapa Sinb sebenarnya? Selama ini mereka hanya menganggap Sinb adalah seorang gadis yang memilih keistimewaan dapat melihat roh, hanya sebatas itu.
"Kau tak perlu datang kemari, jika kau tak memiliki keyakinan!" Pria itu nampak kesal dengan ucapan Sinb.
"Kau? Bahkan usia ku lebih tua darimu!" Protes Tn. Shin yang membuat Sinb tertawa.
"Haha, wae? Apa kau menyuruh ku untuk memanggilmu Ajussi? Kau memiliki ambisi begitu besar tapi kepongahan mu yang akan menjadi penghalang besar kesuksesanmu, kau harus lebih ramah lagi kepada siapapun!" Ungkap Sinb yang membuat ekspresi Tn. Shin semakin menakutkan.
"Kau tidak pantas menilaiku! karena kau hanyalah seorang perantara!" Bentaknya yang seketika membuat senyum Sinb menghilang.
"Wae? Kau tidak terima dengan ucapan ku? Apa kau ingin membunuhku juga? Seperti orang-orang yang menentangmu selama ini?" Tuan Shin terkejut menyadari bahwa Sinb mengatahuinya.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu? Pergilah dari sini, selagi aku baik padamu. Kau tidak akan menjadi apapun! Kecuali sehancuran dan kau tidak akan memiliki apapun!" Sinb berdiri dan akan pergi tapi Tn. Shin menghalanginya, bukan untuk berontak tapi bersujud dihadapan Sinb.
"Kumohon bantulah aku, aku akan memberikan apapun yang kau mau." Diantara ketidak percayaannya dengan apa yang dikatakan gadis ini, tentang bagaimana gadis ini tau rahasia tentang dirinya. Tn. Shin pada akhirnya memilih untuk mempercayainya. Seketika senyum terukir dibibir mungil itu. Ia hanya perlu memancing manusia yang memiliki ambisi besar dan setelah itu? Ia akan mudah mendapatkan apa pun yang inginkan.
---***---
"Kau Gila!" Teriak frustasi Jungkook yang kini memegang kerah baju Taehyung dan mengakat tinggi tubuh itu. Taehyung tak menunjukkan ekspresi terkejut bahkan juga takut. Ia hanya tersenyum memandangi wajah Jungkook yang dirundung kemarahan. Suga hanya diam tak menunjukkan pergerakan apapun, wajahnya juga terlihat frustasi.
"Ini hanya satu-satunya jalan untuk kita, bukankah kalian menyetujuinya?" Kukuh Taehyung sambil terus mempertahankan senyumnya.
"Katakan kepadaku! dari semua jenis manusia, kenapa harus siswa SMA?" Tanya Jungkook. Alasan inilah yang membuat malaikat seperti Jeon Jungkook marah. Memang wajahnya terlihat begitu mudah tapi ia sudah hidup lebih lama dari semua manusia yang paling tua di dunia ini. Jika ia memerankan sebagai karakter anak SMA? Tentu saja ia tidak bisa dan tidak mau melakukannya!
"Aku akan menjadi seorang guru saja." Ucap Suga sambil menghela nafas merasa lelah menghadapi kejahilan seorang malaikat seperti Taehyung.
"Andwae! Kalau kau jadi Songsaenim kau tidak akan dapat menikmati menjadi manusia hyung. Seorang siswa SMA adalah puncak dimana seorang manusia tidak harus mencemaskan apapun! Karena seorang pelajar hanya perlu belajar tanpa harus terlalu memikirkan rumitnya dunia bukan?" Selalu, Taehyung mengungkapkanya dengan cara menggelikan dan berlebihan membuat Jungkook kesal dan Suga hanya mampu menghela nafas.
"Berhentilah bermain-main!"
BRUG
Jungkook menjatuhkan tubuh Taehyung, kemudian tubuhnya merosot lesu.
"Jangan berlebihan. Kalian akan baik-baik saja, aku sudah mendaftar kan kalian di Hang Dong High School."
"Kim Taehyung!!!" Ucap mereka bersamaan.
"Wae? Kalian tidak suka menunda-nunda pekerjaan bukan? Kurasa inilah saatnya, aku yakin kita akan menemukan roh sialan itu!" Tekat Taehyung begitu bulat membuat kedua temannya itu tak mampu berkata-kata lagi.
---***---
Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang indah dan udara yang cukup sejuk memenuhi kota Seoul. Di apartemen yang cukup mungil seorang sedang sibuk di dalam dapur yang cukup kecil pula. Ia memotong beberapa sayuran menjadi lebih kecil dan mengambil kotak kimchi, menatanya dalam piring saji.
"Hal inilah yang ku benci dari manusia!" Keluhnya kesal.
"Karena aku berada ditubuh manusia karena itu aku harus memberi makan tubuh ini. Sungguh melelahkan aku harus melakukan ini setiap hari. Haruskan aku menyewa seorang pembantu? Ah tidak! Semua orang akan bertanya bagaimana bisa anak yatim piatuh sepertiku bisa menyewa seorang pembantu. Aish! Mengesalkan sekali menjadi seorang manusia!" Keluhnya lagi yang tak lain adalah Sinb. Ia bisa saja memakan sesuatu dari sebuah kedai, tapi ia tidak bisa melakukan itu terus menerus karena bagaimana pun, seseorang akan mencurigainya? Populasi malaikat kematian semakin meningkat akhir-akhir ini. Kewaspadaannya benar-benar terorganisir, tidak ada yang boleh tau siapa dirinya sebenarnya.
"Wae!" Bentaknya ketika sosok roh muncul dihadapannya.
"Nona menyuruh ku untuk mencari seorang roh perempuan yang terperangkap di dalam sebuah sumur tua." Ucapnya.
"Hoh! Apa kau menemukannya?" Terlihat sekali bahwa Sinb tak sabaran untuk segera tau bagaimana hasilnya.
"Roh itu terkurung dalam sumur tua. Ia dibunuh dan dimasukkan ke sumur tua tersebut, setelah diperkosa oleh beberapa teman sekolahnya dulu. Ia menjadi roh yang gentayangan dan menakut-nakuti banyak orang disana dan seorang biksu berhasil mengurungnya sampai ketika seorang syaman berhasil mengeluarkannya dari sana, ku rasa sekarang ia hidup bersama Syaman tersebut dan membalas dendam pada semua orang yang terlibat dalam pembunuhannya."
"Mwo? Apa dia tidak tau? Mereka semua sudah mati karena kasus ini sudah terjadi 40 tahun yang lalu." Sinb tak mengerti dengan tujuan roh penasaran yang satu ini.
"Ia mengincar semua keturunannya dan tak segan-segan untuk membunuhnya." Terang roh pria muda yang kini masih berlutut dihadapan Sinb.
"Ckck...Benar-benar menarik. Aku dapat merasakan amarah dan ambisinya. Mendengar bahwa ia bisa membunuh, ku rasa ia berhasil mengusai tubuh manusia. Akan sangat menarik jika aku berhasil menemukannya." Sepertinya Sinb sedang merencanakan sesuatu.
"Baiklah, kau sudah bekerja keras dan kau boleh menghadiri upacara Gut di desa Yangdong. Kau boleh menghabiskan sesaji itu tanpa yang lain dan bermain-main dengan manusia bodoh itu." Perintanya yang seketika membuat roh pria tersebut terlihat senang. Sinb memiliki banyak pengikut roh laki-laki dibandingkan perempuan karena apa? Kepercayaan masyarakat semenjak dulu, mereka lebih mempercayai roh laki-laki dari pada wanita karena mereka menggap wanita lebih rendah dari laki-laki. Sinb hanya akan menjadikan roh wanita yang benar-benar memikili kekuatan diatas rata-rata roh pada umumnya sebagai pengikutinya.
"Terima kasih nona." Ucap roh pria itu dengan senang dan Sinb hanya membalasnya dengan menggerakkan tangannya untuk mengusir roh tersebut.
Kini hanya tinggal Sinb sendirian didalam apartemen mungilnya, pikirannya masih saja memikirkan tentang gadis yang baru saja pengikutnya ceritakan. Kalau seandainya ia ingin balas dendam terhadap keturunannya? Itu berarti Sinb harus mencari siapa saja keturunan dari teman-temannya, hanya dengan cara itu dia bisa menemukan gadis tersebut.
---***---
Seorang pelajar pria berjalan melewati gang sempit dengan sedikit cepat, ia terus menoleh kebelakang setiap waktu. Sepertinya seseorang berusaha mengikutnya dan ketika sampai di perempatan sosok perempuan dengan rambut tergerai sedang membelakanginya.
Dengan nafas tersengal-sengal dan rasa takut yang masih memenuhi fikirannya, ia berjalan mendekati sosok gadis itu, belum sampai tangannya menyentuh pundak gadis tersebut, gadis itu membalik dan menampakkan muka berlumuran darah dan salah satu matanya hilang.
"KYAAAAAKKKK" Teriak pelajar laki-laki itu ketakutan. Ia terjatuh dan berusaha kabur namun kakinya seolah lumpuh. Ia terlihat begitu ketakutan.
"Je-ba-l!" Pekiknya berlahan.
"Hihihihihi." Gadis itu tertawa melihat ekspresi ketakutan pria tersebut.
"Eom-ma a-ku ta-kut." Lirihnya dengan air mata yang mengalir dan gadis itu terus saja tertawa serta mendekati pelajar pria itu.
Gadis berwajah buruk itu berjongkok dihadapan pria yang kini lemas karena ketakutan. Ia meraih lehernya dengan kedua tangan mungilnya dan mematahkannya dengan satu gerakan cepat.
KRAK
Bukan hanya tulang pada leher itu yang patah tapi juga kepala pria muda itu terpisah dari tubuhnya.
"Aku akan membunuh keturunan kalian semua. Hihihihihi...." Gadis itu pun tertawa dan menghilang begitu saja.
---***---
"Kenapa kau terlambat sekali?" Keluh seorang gadis berkacamata dengan seragam yang melambangkan sekolah Hang Dong High School.
"Ah, inilah derita seorang sebatang kara sepertiku. Karena aku semakin tua, jadi aku tidak bisa seenergik dulu lagi." Keluh gadis yang kini duduk disamping gadis berkaca mata.
"Aish! Dasar kau! Berhenti mengeluh Sinb-ah!" Gadis berkacamata itu terus memukul pelan bahu Sinb membuat Sinb tertawa.
"Yak, Appo! Umji-ya berhenti bertingkah seperti ajumma." Ejek Sinb yang tentu saja membuat Umji semakin geram.
"Aigo, kau menyebalkan sekali! Kau menggap ku seperti ajumma? Aku tidak akan mengampunimu!" Umji akan memukul Sinb lagi kalau saja Im Songsaenim tiba di dalam kelas dan di ikuti sosok murid baru, seorang pria. Sinb memperhatikannya dalam diam. Sementara gadis lainnya ricuh karena menyadari betapa menawannya sosok murid pria tersebut.
"Wah daebak! Apa dia seorang idol? Kenapa ia begitu tampan!"
"Kali ini kelas kita benar-benar diberkahi oleh langit! Bagaimana ada pria setampan dia?"
"Ottokae sepertinya aku menyukainya!"
Sinb terus mendengar suara kekaguman banyak siswi kepada pria yang kini berada dihadapannya tapi ia masih memandanginya dengan serius dan nampaknya siswa baru itu juga tak merasa nyaman.
"Pagi anak-anak. Sebelum memulai pelajaran saya akan memperkenalkan murid baru kepada kalian. Hakseng, silahkan perkenalkan dirimu." Im Songsaenim mempersilahkan sosok siswa tampan itu untuk maju dan memperkenalkan dirinya.
"Jeon Jungkook-imnida, senang bertemu dengan kalian." Ucapnya dengan singkat dan datar.
"Wah, dia begitu to the point."
"Ace prince kelas kita!"
"Aku menyukai gayanya!"
"Aku harus mendapatkannya! Harus!"
Suasana semakin riuh dan Jungkook masih berusaha untuk bertahan dengan setengah kesal karena reaksi berlebihan dari para siswi di kelas barunya, tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Seorang gadis di depan yang terus menatapnya dengan ekspresi berbeda.
Ketika pandangan mereka saling bertemu, seketika gadis itu berusaha untuk mengalihkan pandangannya bukan dengan malu-malu tapi dengan sinis? Kenapa gadis ini sebenarnya? Dihari pertamanya kenapa sudah ada seseorang yang tidak menyukainya? Batin Jungkook.
"Umji..." Panggil Im Songsaenim.
"Ne, Saem." Jawab Umji.
"Kau bisa duduk dengan Suk Jin kan? Jungkook harus mengejar ketertinggalannya dan Sinb juga bisa membantunya." Seketika Sinb terlihat tegang dan ekspresi ketidakpercayaannya itu terlihat jelas diwajahnya. Jungkook merasa bingung dengan reaksi aneh Sinb, sudah menjadi hal yang biasa jika kehidupannya sebagai sosok Malaikat dengan paras tampan dan disukai beberapa malaikat lainnya. Ia dapat merasakan bahwa seseorang itu menyukainya dari setiap reaksi yang mereka berikan, tapi gadis ini berbeda? Ekspresi apa itu sebenarnya? Jungkook tidak mengerti sama sekali!
"Jeon Jungkook, silahkan duduk disebelah Sinb."
"Ne." Ucapnya yang kini berjalan semakin dekat kearah Sinb. Ketika Jungkook masih fokus memperhatikan kursi yang akan ia duduki, Sinb memejamkan matanya sesaat.
"Apa kau tidak nyaman dengan ku?" Jungkook yang selalu to the poin. Sinb menoleh dengan ekspresi kesalnya.
"Jangan berbicara dengan ku, jika bukan aku yang mengajakmu berbicara." Dahi Jungkook mengernyit merasa gadis disampingnya ini bertambah aneh saja.
"Wae?" Tanya Jungkook yang merasa tak melakukan kesalahan apapun.
"Karena aku tidak menyukaimu!" Sinis Sinb membuat Jungkook blank seketika. Ini pertama kalinya, seseorang secara terang-terangan mengatakan tidak menyukai dirinya. Biasanya tidak ada yang berani mengatakan itu kepadanya, kalau mereka tidak mau di hajar oleh Jungkook yang memiliki keistimewaan dari pada Malaikat lain. Jungkook, entah dulunya ia sosok seperti apa? Sebelum berengkarnasi menjadi malaikat, yang pasti Jeon Jungkook adalah salah satu dari 7 malaikat terkuat meskipun usianya di bilang lebih mudah. Banyak yang tidak menyukai kebenaran ini, mereka yang merasa Jungkook masih sangat muda dan memiliki emosi yang labil tak layak memiliki keistimewaan itu. Memang selama ini untuk menjadi 7 yang terkuat membutuhkan waktu yang sangat panjang tapi sosok Jungkook seolah tiba-tiba sudah dilahirkan kembali dengan kekuatan tersebut.
Sialan! Jungkook mengumpat dalam hatinya. Ingin sekali ia meremas mulut Sinb dan memotong lidahnya, agar gadis ini tak banyak bicara namun ia menahan dirinya dan berusaha keras memikirkan cara untuk membalas perkataan Sinb.
"Baguslah, setidaknya aku tak perlu cemas kau menggangguku!" Sindir Jungkook yang seketika mendapatkan tatap sinis lagi dari Sinb.
Selama pelajaran berlangsung mereka hanya diam tak mengatakan apapun. Setelah jam istirahat berbunyi, Sinb berjalan dengan cepat meninggalkan kelasnya sampai-sampai ia tak menghiraukan panggilan Umji.
"Sinb-ah..." Umji merasa heran dengan tingkah laku sahabatnya ini, tidak biasanya ia bertingkah seperti itu.
Sinb masih berjalan dengan cepat dan kali ini terlihat jelas ekspresi kesal dan frustasinya.
"Apa yang malaikat bodoh itu lakukan disini? Apa dia berusaha menangkapku? Aniya! Untuk saat ini memang ia tidak dapat mengenaliku tapi nanti, saat energi ku melemah dan aku membutuhkan persembahan jiwa manusia mereka akan dapat mengenaliku dengan jelas." Sinb berjalan dengan fikirannya yang kacau sampai ia melihat sosok Taehyung dan Suga saling berbicara.
"Kesialan macam apa ini? Tidak cukupkah hanya satu? Ini ada tiga? Dan semua adalah murid sekolah ini? Wah, daebak! Aku akan bertemu dengan mereka setiap hari? Kesialan yang menggelikan!" Sinb terus menggerutu.
Akhirnya ia pun pergi di atap dan berbicara dengan beberapa roh pengikutnya.
"Ada apa nona?"
"Setiap hari, kalian kesini dan jangan biarkan roh berkeliling disekitar sini." Para roh itu merasa bingung.
"Ada 3 malaikat disini." Sinb menjawab ketidak mengertian pengikutnya.
"Aku dapat merasakan kekuatan besar mereka terutama yang bernama Jeon Jungkook, pastikan tidak ada roh yang datang menemuiku. Kalau sampai ada? Aku akan melenyapkan kalian semua!" Ancam Sinb
"Baik nona, akan kami laksanakan!" Ucap mereka bersamaan dengan rasa takut.
"Kalian boleh pergi sekarang." Perintahnya dan sekejap para roh itu menghilang.
Kini hanya tinggal Sinb dengan pikiran kacaunya, memandangi halaman sekolah. Sinar mentari yang terik dan sebuah sosok bayangan hadir dan menghilang mengalihkan perhatiannya ketika ia melihat gedung di sebrang.
"Siapa dia? Manusia? Tapi bagaimana dia bisa menghilang?" Pikirnya, ia hendak mengejarnya tapi seketika ia bersembunyi kita mendapati sosok Jungkook sudah berada diatap gedung dimana sosok bayangan itu hadir.
"Sial! Untung saja aku tidak mengejarnya! Tidak ada pengikutku yang memiliki kekuatan sama sepertinya. Andai saja malaikat bodoh itu tak muncul, aku pasti bisa menangkapnya!"
"Apa yang kau lakukan disini?" Sinb akan terjungkal dan terlihat akan membentur tepian pagar kalau saja seseorang tidak menariknya.
Sinb membisu saat menyadari sosok itu adalah seseorang yang barusan ia bicarakan. Sinb tak mengedipkan matanya sedikit pun, ia terlihat begitu kaget.
"Ku pikir kau bukan gadis ceroboh? Nyatanya sama saja."
BRUG
"Yak!" Jungkook melepaskan tangannya dari tangan Sinb membuatnya benar-benar terjatuh sekarang ke lantai.
"Wae?" Jungkook membalik, menatap Sinb intens membuat gadis itu merasa jantungnya seolah akan lari keluar dari tubuhnya.
"A-ani. Ka! Sudah ku bilang jangan berbicara dengan ku dan apa ini? Kau muncul seenaknya didepan ku! Kalau aku mati karena serangan jantung bagaimana???" Keluh Sinb dengan hebohnya.
"Dasar gadis aneh!" Gerutu Jungkook yang masih dapat Sinb dengar.
"KAU? APA YANG KAU KATAKAN?" Ucap Sinb dengan nada tingginya, yang kini sudah berada dihadapan Jungkook.
"Gadis aneh!" Jungkook mengulangi ejekannya dengan santai membuat Sinb bertambah kesal saja.
"KAU!" Tangan Sinb sudah melayang hendak melakukan sesuatu kepada Jungkook namun seseorang menahannya.
"Apakah teman ku ini membuatmu marah nona?" Sosok pria muda yang tak lain adalah Taehyung kini berdiri diantara Sinb dan Jungkook, menahan tangan Sinb.
"Dia memang tidak bisa bersikap ramah terhadap seorang gadis." Suga juga muncul dan bergabung bersama mereka. Sinb terdiam tak menunjukkan ekspresi apapun untuk beberapa saat sampai ia menyadari Jungkook menatapnya.
"A-aku ti-dak akan memukulnya, hanya akan menjewernya saja." Akui Sinb yang seketika membuat Taehyung dan Suga tertawa geli.
"Apa yang kalian tertawakan?" Protes Jungkook.
"Ku rasa kau bertemu dengan seseorang yang dapat menandingimu." Ucap Taehyung.
"Aku Taehyung."
"Aku Suga."
"Siapa namamu?" Tanya mereka bersamaan.
"Hwang Sinb." Jawab Sinb.
"Ka! Lebih baik kau pergi dari sini. Seorang gadis di atap sendirian? Itu cukup mengkhawatirkan!" Celetuk Jungkook yang membuat Sinb semakin kesal saja.
"Wkwkwk...Ini pertama kalinya dia mengkhawatirkam manusia!" Ucapan Taehyung tidak terkontrol.
"Maksudnya mengkhawatirkan seorang gadis." Suga mencoba meralat perkataan Taehyung sementara Jungkook sudah melotot kearah Taehyung yang terlihat nyengir kuda sementara Sinb berusaha untuk menahan senyum gelinya.
"Aish! Bagaimana kalian bisa berteman dengan pria menyebalkan sepertinya!" Keluh Sinb yang kini berjalan meninggalkan mereka bertiga. Suga dan Taehyung hanya bisa tertawa melihat begitu lucunya seorang Hwang Sinb.
"Yak! Kau melihatnya? Bagaimana mereka bisa sangat mirip?" Taehyung terus menggoda Jungkook membuat pria itu terlihat kesal.
"Aish! Diam kalian! Sekarang aku tanya? Apa kalian merasakannya?" Kali ini Jungkook berbicara cukup serius.
"Roh busuk?" Tebak Taehyung dan Jungkook mengangguk.
"Aku hampir saja mengakapnya kalau saja aku tidak menyadari gadis aneh itu disini!" Keluh Jungkook.
"Dia mengincar sesuatu disini." Dugaan Suga.
"Hoh, kita harus waspada. Kurasa dia bukan sekedar roh biasa, aku dapat merasakan energinya yang kuat." Lanjut Jungkook.
"Tenang saja, kita masih lama berada disekolah ini, jadi kita bisa segera menangkapnya." Taehyung menimpali perkataan dua sahabatnya ini.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Jungkook.
"Apa? Tentu saja ke kantin!" Jawaban yang selalu diluar ekspektasi dari seorang Taehyung.
"Sejak kapan kau begitu menyukai masakan manusia?" Tanya Suga tak percaya.
"Sejak hari ini, kajja!" Taehyung akhirnya menyeret kedua malaikat malaikat tampan tersebut.