Wartawan mengerumuni empat lelaki atau bisa kubilang malaikat tak bersayap. Empat lelaki rupawan itu berjalan santai maju membelah kerumunan wartawan, tiga diantaranya duduk di kursi kosong sementara satu terus melangkah perlahan.
Luci band? kenapa mereka berada di acara ini? apa gadis plagiat itu mengenal mereka?
Aku terus mengawasi si gitaris bernama Micky. Dia sampai di atas panggung dan mengambil sebuah mic, menepuk-nepuknya. "Tes-tes, pertama-tama mohon maaf nih mengganggu acara pelepasan buku publisher ZZ yang berjudul apa? ah tak penting karena buku ini adalah buku hasil plagiat," ucap pria jangkung kurus berwajah tilus, tersenyum memandang semua pengunjung.
Wow, dia mengacaukan segalanya. Hah! rasakan kau gadis kaca mata plagiat! batinku, sangat bahagia memandang malaikat penyelemat berambut shaggy panjang berpakaian kemeja putih yang kancing bawahnya tak terkancing, menampakkan pusar kecil dan sedikit perut yang sering di sebut perut roti sobek.
Para wartawan langsung bersenandung saling berbisik dan menulis statemen dari Micky, gitaris Lucy band berkulit kuning langsat bermata sayu. Jepretan kamera langsung memuntahkan cahaya, beberapa orang juga ambil bagian mengabadikan momen ini, mereka mengeluarkan alat perekam mereka, berusaha mendekat ke panggung merekam ucapan sang pria berbibir tipis berwarna merah muda.
Kulihat Tyas tersenyum bersilang tangan memandang Micky, mengangguk dan mulai mengelus kepalaku. "Sudah kuduga Kau bukan gadis biasa."
"Apa maksutnya Kak?" ucapku, bingung.
"Lucy Band tak mungkin mau datang tanpa mau di bayar. Mereka itu band yang selalu mengambil keputusan melalui pertimbangan untung dan rugi. Nampaknya kau bukan gadis biasa."
"Eh? maksutnya? Kakak kok bisa ngomong seperti itu? Kakak kenal mereka?"
Tyas menggeleng, "Namun mereka mau mengadakan konser keliling dengan syarat publisher ABCYZ harus menerbitkan buku sampahmu itu." memandang tajam padaku. "Kamu yakin kamu tak mengenal mereka atau setidaknya salah satu dari mereka?"
"Sumpah, Aku enggak kenal kak. Ini pertama kalinya kumelihat mereka!"
"Jika begitu nikmati saja pertunjukan mereka di atas panggung." Memandang sinis ke panggung. "Sepertinya Tuhan mengirim mereka untukmu."
"Kak, Kakak harus percaya dengan ucapanku! Aku enggak bohong."
"Tak ada alasan Kau untuk bohong, tak ada alasanku untuk tak percaya padamukan? gadis sampah manis yang misterius."
Aku tersentak kaget oleh suara meja yang dipukul kencang, memaksaku fokus memandang panggung yang makin ramai oleh para wartawan yang berkerumun, untung pihak keamanan membantu menahan mereka agar tak naik ke panggung. Terlihat si pria hitam itu bangkit memandang tajam Micky.
"Hai Kau, apa maksutmu mengatai novel tentangku seperti itu? tau apa kau tentang dunia kepenulisan, dasar boy band enggak jelas!"
Micky tersenyum memandang pria hitam yang tengah kebakaran jenggot. "Tau apa Kau tentang novel? pria hitam penipu. Kau kira Aku tak tau siapa Kau sesungguhnya, hmm?" melangkah mendekati si pria hitam, "Kau kira Aku datang ke sini dengan tangan kosong?" Micky melempar sebuah flash disk ke atas meja panjang. "jika kalian bersedia, tolong buka data yang telah kukumpulkan itu lalu tolong tampilkan sekarang juga di sini, agar semua jelas tanpa ada yang perlu ditutupi. Mungkin dengan begini publisher ZZ tak akan malu nanti."
Si pria hitam terdiam memandang tajam. Seseorang mengambil flash disk itu dan membisikan seseorang yang beraada di ujung meja panjang, yang sembari tadi diam di depan laptop.
"Eh kak Micky!" bentak si gadis jangkung berkaca mata. "Saya minta kamu untuk keluar, atau aku panggil security!"
"Kenapa manis?" Micky mendekatinya. "Kau takut jika kebenaran terungkap?"
"Bukan itu, tapi Kau ini siapa? datang tak diundang, seenaknya ngomong enggak jelas!"
"Nanti akan kuberi tau Kau, siapa Aku sebenarnya, kenapa Aku datang ke sini, juga kenapa Aku benci sekali dengan tingkah lakumu, gadis tak tau diri, gadis plagiat yang teriak plagiat."
"Hei, jangan mentang-mentang terkenal main ngerusak acara orang saja! apa hakmu datang ke sini hah! keluar Kau, ini acara peluncuran bukuku!"
"Ngomomg-ngomong tentang hak, Aku ada hak kok. Soalnya Kau itu mencuri novel berdasarkan kenangan seseorang dan mengakui seenaknya sendiri sebagai karyamu. Aku sih enggak masalah Kau mau menerbitkan buku apa terserah Kau, soalnya kenangan kan bisa saja sama. Namun Kau berani merusak nama baik seseorang. Sekarang akan kurusak semuanya dengan memberikan kebenaran sesungguhnya pada kalian semua."
"Keluar Kau dari sini, bawa semua Lucy band keluar!" perintah si gadis, namun tak ada satupun yang mengikuti perintahnya.
"Hai bodoh, Kau ini siapa? Kau tau Aku siapa? dasar plagiat teriak plagiat..." Micky terbahak kembali memandang pengunjung. "Pria di sana adalah Andreas Santiago da Costa, pria dari Timor Leste yang besar di Portugal. Dia datang ke Indonesia setelah keluarganya bercerai dan berkuliah di salah satu universitas di Surabaya."
Semua wartawan bahkan orang-orang penerbitan saling bertanya-tanya dan kulihat wajah si gadis berkaca mata memerah, duduk dengan badan bergetar hebat. Dapat terdengar suara nafasnya berat menahan marah atau mungkin takut dari mic yang tak sadar masih menyala.
Tyas mengelus pundakku. "Keren ya orang bernama Micky itu."
"He em, dia keren sekali." Ya, dia sangat kereeen sekali saat ini. Malaikat itu, pantas saja banyak yang menyukainya. Bukan hanya penampilannya yang menawan namun juga sikapnya yang sepertinya baik. Namun aku benar-benar clueless siapa dia sebenarnya. Aku jadi penasaran siapa sih sebenarnya dia, kenapa dia baik kepadaku? kenapa Lucy band datang ke sini? apa mungkin dia salahs atu fansku? tanpa sadar kubergeleng, tersenyum dengan wajah panas.
Tak sadar jika dari tadi Tyas memperhatikan tingkahku. "Kau kenapa?"
"Enggak kok kak." kok dia terus mengawasi sih, enggak ada tontonan lain apa? kan bisa lihat panggung tuh
"Gara-gara lihat cowok ganteng jadi seperti ini? dasar sampah."
"Eh, kok gitu sih!"
"Ya gitulah. Kamu jangan terlalu gampang tergoda dengan wajah. Lagipula Kau tak tau kan siapa dia? apa Kau tak takut jika dia itu orang jahat yang mau memanfaatkanmu?"
"Lah kan Kakak yang bilang harus berpikir positif, kenapa sekaraang beda cerita?"
"Positif sih boleh, tapi gunakan otak kecilmu."
Apaan sih, kok bawa-bawa otak. njengkelin banget sih jadi cowok! Kembali kuperhatikan layar didepan yang sudah tak menampilkan cover buku si gadis berkaca mata. Sekarang aku ikut berdebar, penasaran apa yang akan di tampilkan.
Semua terdiam saat layar mulai menampilkan sesuatu yang berbeda. Micky bagai seorang guru siap menerangkan pelajaran di kelas. Layar menampilkan sebuah biodata seorang berkulit hitam, mulai pasport hingga kartu pengenal dari Negara Timor Leste, negara kecil tertinggal yang dulu merupakan salah satu provinsi dari Indonesia.
"Kalian lihat sendiri, itu adalah bukti jika pria itu tak pernah bersekolah di Indonesia. Walau didarahya ada darah Timor LEste, namun dia lahir di dan besar di Portugal, di sana tak ada yang namanya SMP Bhina Bakti atau apalah yang ada di dalam novel, apalagi bahasa Jawa. Dia datang untuk berkuliah di sini, entah bagaimana mungkin sang author cantik berkaca mata bisa mengklaim bahwa novelnya berdasarkan dari kisah nyata sang pria Portugal keturunan Timor Leste."
Kembali seisi ruangan kembali bising oleh suara bisik-bisik wartawan. Aku melihat pihak publiser juga berbisik-bisik dengan wajah tegang, beberapa dari mereka pergi ke belakang layar, entah apa yang mereka lakukan.
Layar kembali berganti. Kali ini menampilkan sebuah screen shoot dari aplikasi orange, sebuah screen shoot yang memaksaku untuk kembali menyelami memory indah saat aku masih memulai menulis prolog penuh kenangan tentang Andre Jatmiko.
"Itu tulisan pertama sebelum di edit. Masih murni seuah tulisan jelek belum dipoles," komentar Tyas, tersenyum. "Berat membimbingmu sampai menjadi seperti sekarang ini, Kau begitu keras kepala."
Kucubit perut Tyas, "Resek banget sih, enggak usah komentar lah." kuakui tulisanku tak akan bisa sebagus sekarang tanpa bantuannya, namun tetap saja aku gemas jika dia mengungkit masalah itu.
Kembali kufokus mendengarkan presentasi dari Micky, entah aku yang ke GR-an atau memang pria itu terus berusaha mencuri pandangku. Aku wanita normal yang akan berdebar jika ada cowok ganteng, apalagi seorang artis memandang sayu padaku, seperti hendak menyampaikan sesuatu namun bibir sexy-nya tak mengucapkan apapun.
Micky kembali mengetuk mic di tangannya. "Ini adalah screen shoot yang kudapat dari teman dunia maya. Bisa kalian lihat ini adalah hari pertama saat NitaNit mendapat banyak follower, perhatikan tanggal dan bulannya. Januari 2018, lalu dia update novel buatannya ini menyebabkan tanggal berubah, lalu dia update lagi dan lagi terus hingga menjadi novel dengan penulisan yang lebih baik."
Kembali layar berubah menampilkan novel karya si gadis plagiat yang menuduhku memplagiat karyanya. Entah apa yang dia inginkan dengan melakukan semua ini. Kulihat pria hitam itu perlahan meninggalkan panggung lewat pintu belakang, meninggalkan si gadis malang sendirian. Nampaknya gadis itu belum sadar jika si pria sudah pergi sekarang.
Micky kembali memandangku.
Kenapa dia terus memandangku? apa aku begitu cantik?ah dasar Nita bodoh, mana mungkin karena wajahku. Pasti ada hal lain, namun apa?
Tyas kembali mengelus kepalaku. "Kau yakin tak kenal pria itu?"
"Sumpah demi Tuhan! Aku tak kenal dia, namun entah jika dia mengenalku."
Micky berjalan ke kiri dan kanan bagai seorang pembawa acara. "Sekarang kalian coba uraikan sendiri. Ada apa di sini? siapa yang plagiat sebenarnya."
Semua memanang jengkel gadis berkaca mata yang nampak kebakaran jenggot. Beberapa jurnalis mencoret sesuatu di buku saku mereka dan menulis hal lain. Si gadis nampak sudah tak bisa berdiam diri, dia berdiri memandang jengah Micky.
"Sekarang Aku bertanya. Apa yang membuat NitaNit bukan plagiat? mana Andre Jatmiko? apa dia benar-benar ada? jika iya buktikan jika dia ada! bisa saja dia mencuri naskah novelku kan? dia itu pencuri, bukan Aku! benar kan Andreas?" Gadis itu menoleh ke bangku kosong. "Andreas?"
Micky perlahan berjalan mendekati si gadis, dia mengeluarkan dompetnya dan melempar sesuatu ke atas meja di depan gadis di atas panggung. "Tuh, Kau baca saja KTP punyaku. Aku Andre Jatmiko, ada masalah?"
Aku yang mendengar suara jelas Micky dari speaker sontak kaget, perkataannya membuatku menganga. Apa? dia Andre? tidak, tidak mungkin! namun apa mungkin? Andre yang kukenal kalem bisa menjadi sosok pria soper hot dan sexy seperti Micky? masak sih? tidak, ini mimpi kan? Pasti ini mimpi. Kulihat Tyas tak kalah terkejutnya denganku, "Kak, cubit Aku kak!" Namun dia diam tak bergeming, memaksaku mencubit lengannya. "Kak, cubit aku!
Dari belakang Sinca mencubit kedua pipiku, "Sakit enggak, hmm? ayo sakit kan?" menarik kedua pipiku ke kiri dan kanan. "Ini bukan mimpikan Nit?"
"Sakit!" kupandang jengkel Sinca.
Sinca tersenyum duduk bersila tangan, "Jadi Loe rahasiain dia dari Gue ya? jahat ah, padahalkan Gue suka banget sama Micky."
"Oh gitu," sambung Aldo. "Jadi Kakak suka banget sama Micky?"
Sontak Sinca salah tingkah berusaha menenangkan Aldo yang cemberut. "Eh, bukan gitu kok. Gini Do, Gue fansnya bukan suka seperti yang Lo kira, kok sayang."
Kapok! salahnya main cubit tanpa ijin, sekarang syukurin! batinku, kesal dengan tindakan Sinca yang seenaknya sendiri. Tapi aku benar-benar kaget dengan apa yang baru kudengar. Tak kusangka dia adalah Andre Jatmiko, susu hangatku sewaktu masih tinggal di desa.
Di tengah kacaunya situasi, terdengar suara mic diketuk. Seorang pria berjas putih mengambil alih acara. "Baiklah, kami dari publisher ZZ mengumumkan untuk membatalkan peluncuran buku novel terbaru kami. Atas ketidak nyamanannya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya." Pria itu buru-buru menuju balik tirai.
Si gadis kaca mata tak bicara apapun lagi, dia nampak malu mengikuti pria berjas putih. Sementara Micky puas dan berjalan perlahan mendekatiku. Sontak wartawan saling berebut memfotonya untuk mengabadikan momen yang tak terduga.
Semakin dekat semakin berdetak kencang jantungku. Dapat kurasakan adrenalin menyebar ke seluruh bagian tubuh. Darahku berdesir memandang wajah Micky yang ternyata adalah Andre Jatmiko. Entah ada apa dengan diriku, aku sangat bahagia namun juga terbesit rasa sedih dan terharu atas apa yang Andre lakukan untukku.
"Eh Nit," Suara Sinca berbisik. "Wajah lo merah padam tuh, Lo marah atau malu?"
"Berisik ah," jawabku.
"Eh Nit, Lo sadar enggak jika di sebelahmu itu ada kak editor cakep?"
Sontak aku tersadar, kulihat Tyas memandangku tak berkedip. Auranya sangat dingin dan terasa menusuk hati, pandangan matanya tajam bagai elang.
"Kak, kenapa?"
"Tuh, Jatmikomu mendekat," ucap Tyas, terdengar jengkel.
"Kok dingin banget sih? apa Kakak cemburu?"
"Cemburu? bagaimana mungkin Aku cemburu?"
"Kak Tyas, kak." Aku terus menarik lengan kemejanya, berusaha membuatnya mengatakan apa yang membuatnya menjadi ketus dan dingin seperti sekarang.
"Ya Tuhan mimpi apa tadi malam, bisa memandang Micky sedekat ini!" Teriak Sinca dari belakang.
"Eh? sedekat ini maksutnya?" Dapat kucium aroma parfum pria bercampur gel rambut yang menyengat, ketika kumenoleh kulihat Andre sudah berada di depanku. "Andre? Kamu beneran Andre Jatmiko dari Klaten?"
Dia mengangguk, "Lahir dan besar di sana. Kamu sudah berubah sekarang, lebih cantik dari yang di foto ya, Nita." menarikku bangkit, "Sudah lama Aku merindukan hal ini." tanpa peringatan Andre memelukku. "Nita, susu hangatmu sudah datang."
terasa hangat juga sangat nyaman tubuh Andre. Sekarang dia sudah tak krempeng lagi, dia kekar dan dapat kurasakan dada bidang yang kencang. Semua bayangan akan masa lalu seperti berterbangan, semua rasa yang lama kupendam akhirnya dapat kurasakan. Kilatan flash kamera juga suara jepretan dan pertanyaan wartawan mengiringi waktu berjalan lambat.
"Hei Micky, apa Kamu followerku?" ucapku, penasaran.
"Yup, begitulah. Kenapa?"
"Apa kamu Miko1998?"
Belum sempat kudengar jawabannya, seseorang menarik tangan kananku, "Sampah!" seru suara yang sudah kukenal. "Jangan kurang ajar Kau ya!"
Sekarang tangan kiriku yang ditarik. "Siapa Kau? dia ini Nita teman lamaku, susu hangatku."
"Tidak," jawab Tyas. "Dia adalah kelinci manisku. Gadis sampah ini properti ABCYZ!"
Property? punyaku? mereka anggap aku barang? "Lepasikan kalian berdua!" Kulepaskan kedua tanganku dari genggaman mereka. Kupandang kedua lelaki tampan nan mempesona dengan kesal. Ya Tuhan, apa aku harus senang atau sedih?
***