Bukan inginku yang seperti ini, terjebak pada cinta tak terbalas dan kasih yang tak pernah sampai. Bukan inginku yang seperti ini, mencintai dalam keheningan tersudut menunggu layu. Bukan inginku yang seperti ini, menunggu datangnya matahari ditengah badai yang menerpa. Bukan pula keinginanku yang seperti ini, terdiam tanpa pernah bisa melakukan.
**********
Rumah mewah itu terlihat begitu menyeramkan, sepi tak terawat, rumput – rumput tinggi menjulang, air kolam penuh dengan dedaunan kuning dan coklat yang mengambang, didasar kolam warna hitam pekat begitu dominan. Siapa pemilik rumah mewah tak terawat ini?
Pagar berwarna coklat berkarat itu terbuka, seorang gadis masuk dengan langkah gontai lalu menutup kembali pagar itu. Wajahnya lesu tak bersemangat, pucat pasi masih menghiasi wajahnya. Ia merogoh kunci rumah dari dalam celana jeans yang ia kenakan.
“ Assalamu’alaykum, Mah Arin pulang, “ Serunya sambil melepaskan sepatu datarnya tepat didepan pintu dan membiarkan pintu itu terbuka lebar, memperlihatkan seisi rumah yang benar – benar sangat terjaga berbeda sekali dengan penampilannya dari luar rumah yang seperti rumah hantu tak berpenghuni.
Tak ada jawaban. Arini bergegas menuju kamarnya, menghempaskan tubuhnya diatas kasur berwarna coklat kayu dengan corak teddy bear. Lagi, lagi kamarnya terlihat suram. Warna hitam melapisi setiap dinding kamarnya bahkan pendingin kamarnya pun juga berwarna hitam, mungkin ia menyukai hitam ataukah ia sedang mengalami keresahan hati yang tak ada habisnya?
Ia turun kelantai satu, memasuki kamar paling besar dirumah itu, sebuah tempat tidur terlihat jelas, ada seorang wanita tua sedang terbaring diatasnya, mungkin ia belum bangun. Masih bersembunyi dibalik selimutnya dengan tangan yang bersilang di dada. Arini menghampirinya dengan perlahan menepuk lembut tangan wanita tua ia. Dielus lembut permukaan pipi yang sudah menunjukkan keriputnya. Mengerjap. Wanita tua itu terbangun dan tersenyum ramah pada Arini membalas genggaman tangannya dan mencium punggung tangan Arini.
“ Ibu, maaf semalam Arini tidak pulang, Arini terlalu lama mengerjakan pekerjaan sampai Arini tertidur dikantor, “ Alasan yang ia buat agar sang Ibu tak khawatir kepadanya.
“ Iya sayang, tidak apa-apa, apa kau sudah makan? Kalau belum ayo kita masak bersama, ibu juga belum ada sarapan, “ Kata wanita tua itu. Arini dan Ibunya pun bergegas menuju dapur, dibukanya kulkas dan hanya menemukan dua butir telur dengan kol yang terlihat setengah layu. Tanpa fikir panjang akhirnya mereka pun membuat nasi goreng dengan bahan yang tersisa. Tak butuh waktu lama akhirnya hidangan pun sudah tertata diatas meja.
Sesendok demi sendok mereka masukan kedalam mulut mereka yang sedang lapar hingga habis tak tersisa. Arini bangkit dari duduknya dan membawa piring kotor itu untuk ia cuci.
Teng....tenggg....tengggggg....... suara dentingan jam bergema keseluruh ruangan, pukul dua belas siang. Tanpa terasa ia menghabiskan waktunya untuk hal yang ia rasa belum berguna. Biasanya ia menghabiskan setengah harinya di kantor dan berkutat dengan laptop serta berkas – berkas yang silih berganti menunggunya atau menghadiri rapat yang terkadang harus membutuhkan waktunya seharian penuh. Hari ini ia memilih untuk berdiam diri dirumah, semalaman dirumah sakit membuatnya harus beristirahat lagi hari ini dirumah, menghabiskan waktunya untuk sekedar menonton televisi atau membaca buku.
Deerrrrrtttt....deeerrrttttt... ponselnya bergetar, sebuah nomor tidak dikenal tertera dilayar ponsel pintarnya. Siapa ini gumamnya singkat sebelum menjawab panggilan masuk itu.
“ Halo, ini Arini?” Tanya seseorang diseberang sana.
“ Iya, ini siapa ya?”
“ Ini aku, Revan yang menolongmu semalam, sepertinya kau meninggalkan buku catatan dan dompetmu dicafe ku, kemana aku harus mengantarkannya? ” Kata lelaki itu. Arini terdiam sejenak. Ia berlari kecil menuju kamarnya dan mencari tasnya. Benar saja buku catatan dan dompetnya tidak ada.
” Eee.. kau boleh datang ke taman seri di jalan merbabu, aku akan menunggumu disana jam satu siang, “
“ Apa tidak sebaiknya aku antar kerumahmu saja? Kau baru sembuh dan masih harus beristirahat, “
“ Tidak, aku sudah tidak apa – apa, aku menunggumu disana ya! “ Serunya lalu menutup telpon. Masih ada satu jam untuknya pergi ke taman.
***************
Seorang lelaki tinggi duduk di kursi taman seorang diri, kepalanya menoleh kesana-kemari dengan gelisah. Menunggu seseorang memang sangat menyebalkan batinnya. Dari sudut lain seorang perempuan berjalan gontai melangkah dengan pasti memasuki area taman.
“ Hei! “ Sapa lelaki itu sambil melambaikan tangannya ke arah Arini
“ Ahh, kamu, terima kasih banyak ya kamu sudah banyak menolong ku, aku ndak tahu harus ngebalas kamu dengan apa, “ Arini menerima tas yang diberikan oleh lelaki itu.
“ Tak perlu kau membalasku, aku malah senang bisa membantumu, “
“ Bolehkah aku tahu namamu, sejak semalam kau membantuku, aku tak tahu namamu, “
“ Benzivar Aedennis, kau cukup panggil aku Ben saja, ah maaf ya Arini, aku tak bisa lama –lama karena ada jadwal meeting, sampai bertemu kembali dan tolong jaga kesehatanmmu ya.” Arini menatap punggung lelaki itu dengan sedikit senyum yang mengembang diwajahnya. Tak biasanya ia begini, merasa nyaman dengan seorang lelaki apalagi yang baru ia temui. Dia ia pun terlihat begitu hangat baginya, seperti mengobati luka-luka dalamnya yang kian hari kian membesar.