Loading...
Logo TinLit
Read Story - Jika Aku Bertahan
MENU
About Us  

“LO DAPET 75?”

Aya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mencari alasan. “Gue juga gak nyangka bakal dapet segitu, beruntung saja,” ucapnya selagi memperhatikan kertas kuis sejarahnya yang dihiasi angka 75, nilai kkm. “Kalo lo dapet berapa Ly?”

Lily mendengus kesal. “Menurut lo? Gue dapet 20 tau!” protes gadis berambut lurus itu dengan nada tersinggung. “Pengkhianat! Katanya bakal dapet 0.”

Sehari setelah kejadian di kali itu, pikiran Aya menjadi lebih kompleks. Bayangan tentang aksi bunuh dirinya yang digagalkan semudah itu oleh orang asing, membuatnya suka terdiam sesaat. Apa tekadnya memang selemah itu? Apa penderitaannya belum cukup?

“Gak pas pelajaran atau istirahat kerjaan lo cuma bengong, Ya!” keluh Lily selagi menarik tangan Aya, membimbingnya keluar dari kelas dengan cepat. “Gue laper nih, udah jam 10.”

Aya mengangkat bahu. “Sarapan dong.”

“Sarapan cuma buat orang lemah,” tukas Lily.

“Ucapan itu cuma buat orang yang kesiangan atau diet, pilih salah satu!” selidik Aya dengan mata dipincingkan, langsung segera tahu jawabannya.

Lily cemberut. “Habis alarmnya gak nyala!” protesnya selagi berjalan di lorong kelas X sekolah mereka. Jalannya tiba-tiba terdiam ketika gadis itu menyadari kebisingan di depan kelas sebelah, X-B. “Ada apa sih?”

Dengan paksa, Lily menyelinap di antara deretan perempuan yang mengitari ruang kelas. Setibanya di pintu, gadis itu langsung terdiam dan segera kembali menuju Aya yang menunggunya dengan jengkel.

“Siapa sih yang tadi ngeluh laper?” tanya Aya yang pastinya sarkastik. “Tuh kelas kenapa, ada yang kesurupan?”

Lily sontak tertawa aneh, bahunya naik turun dengan cepat. “COWOK GANTENG, YA!”

Mendengarnya, Aya refleks merinding. Ternyata memang kesurupan. “Siapa? Perasaan isi X-B cowok-cowok bopung semua.”

Lily menggeleng sangat kuat hingga Aya sempat khawatir kepalanya akan lepas. “BEDA, MURID PINDAHAN!”

Setelah mengucapkannya Lily langsung terbang ke arah kelas yang ditujunya, lupa perutnya sudah berbunyi entah berapa kali. Ketika Aya berhasil melewati entah berapa banyak perempuan yang menghiasi sekitar pintu kelas, sahabatnya sudah tersenyum lebar penuh rencana.

Celaka.

“Gue bakal buat dia suka gue! Apapun caranya, dia bakal jadi pacar gue!” bisik Lily dengan semangat kepada Aya selagi menunjuk orang yang dia maksud. Mata Aya langsung melebar ketika mengenali incaran Lily, membuatnya terdiam sebentar.

“Lo yakin Ly? Saingannya bakal banyak,” ucap Aya dengan ragu, pikirannya sudah terlalu banyak semenjak kejadian kemaren, tidak ada lagi ruang yang cukup untuk komplikasi lain. “Namanya aja lo gak tau.”

“Dia Farel.” Walaupun sudah mendengar namanya dengan jelas dari Lily, Aya tetap saja tidak bisa membayangkannya lebih dari orang asing yang pernah menggagalkan niatan bunuh dirinya. Orang pertama yang tahu depresinya.

“Sial,” bisiknya.

                                                                                                                                  ***

Ketika Aya berpikir tidak ada yang lebih buruk dari kehadiran Farel setelah insiden memalukan kemaren, ternyata rencana Lily jauh lebih mengerikan.

“Gue namain rencana ini road to Farel’s heart!” serunya dengan gembira di salah satu bangku kantin, di hadapan Aya yang sedang asyik mengunyah nasi gorengnya. “Gue udah mikirin banyak cara buat ngeluluhin hati Farel.”

Aya mengerutkan dahi selagi menyuap telur setengah matangnya. “Serius?”

“Gue tau pasti bakal banyak cewek cantik yang ngedeketin dia,” ujar Lily dengan yakin, sepertinya dia sudah melupakan mie ayamnya yang mulai mendingin. “Tapi gue punya rencana. Pertama, bekal!”

Aya tersedak mendengar ide gila Lily, terakhir kali gadis itu memasak keadaan berubah menjadi buruk. “Lo mau buat Farel suka atau mau bunuh orang sih?”

Lily memberengut, tersinggung mendengarnya. “Enak aja. Liat aja besok, pasti Farel langsung ketagihan!”

Dan benar saja, esok hari yang seharusnya monoton dan normal seperti kehidupan SMA biasa, berubah sejauh 180 derajat berkat Lily. Kabar burung tentang Farel yang dilarikan ke rumah sakit setelah memakan bekal kutukan di istirahat pertama, menjadi gosip besar hingga pulang sekolah. Wajah Lily memerah sepanjang hari, rencananya gagal total.

Aya menghela napas melihatnya merapikan buku dengan gusar selepas bel pulang sekolah. “Mending kita jenguk aja ke RS, gimana?”

Secepat cahaya, Lily langsung menoleh dan mengangguk setuju. “Dan bukan cuma itu saja, Ya,” tukasnya dengan senyum penuh rencana, saatnya beralih ke rencana kedua. “Gue bakalan bayarin biaya RS-nya.”

Sekaget apapun Aya mendengar pernyataan mendadak Lily, bahkan badai topan atau tsunami-pun takkan bisa menghentikan gadis itu bila dia sudah menetapkan pilihan. Maka berangkatlah mereka menuju rumah sakit tempat Farel dirawat menggunakan mobil Avanza milik Lily. Gadis itu terlihat semangat sekali hingga Aya sempat berpikir apa jangan-jangan Lily sengaja menaruh sesuatu di bekal Farel.

“Saya mau membayar biaya rawat pasien bernama Farel,” ujar Lily kepada wanita registrasi rumah sakit selagi mengulurkan kartu ATM pribadinya. “Semuanya.”

Mendengar ucapannya, wanita itu tersenyum ramah lantas mencari data pasien yang disebutkan Lily. “Mohon maaf dik, tapi biaya rumah sakit Ananda Farel sudah dibayarkan oleh Bu Novi.”

“Sial!” seru Lily kesal, dicengkramnya kartu ATM miliknya dengan emosi yang naik. “Gagal lagi, gagal lagi!”

Tapi ada seseorang yang lebih terkejut dibandingkan Lily. Mendengar nama familiar disebut, meskipun mungkin tidak ada hubungannya dengan orang yang dikenalnya, tetap membuat hati Aya meringis. Sudah lama sekali nama itu tidak disebut hingga terasa menghantam dadanya ketika mendengarnya lagi.

“LEPASIN!” teriak seseorang yang lantas menarik perhatian Aya dan Lily. Tampak Farel sedang berusaha membebaskan diri dari cengkeraman seorang suster, layaknya lelaki itu berniat untuk angkat kaki dari rumah sakit namun terlanjur tertangkap. “Gue harus pergi ke kali! Ini sudah jam 4!”

Bagaikan dihantam oleh palu, dada Aya langsung sakit ketika mendengarnya.

“Mas Farel belom boleh pergi dari rumah sakit! Nanti saja,” bujuk suster tersebut selagi sesekali melirik sekitar untuk mencari bantuan dari mitra kerjanya. “Pasti janji di kali itu bisa diundur.”

Tapi Farel sudah bertekad untuk pergi, ditariknya lengannya hingga lepas dari genggaman sang suster. “Gak! Ini ada hubungannya dengan hidup mati seseorang, gak bisa diundur-undur sembarangan!” ucapnya dengan lantang, berusaha kabur ke pintu depan rumah sakit namun terlambat, dua orang suster lainnya sudah berjaga di hadapannya. “Sial.”

Melihat Farel ditahan oleh tiga suster dan digiring kembali menuju lift untuk diantarkan ke kamarnya, membuat Aya tersenyum. Ada seseorang yang peduli padanya. Namun sebetapa hal itu menghangatkan dadanya seperti ketika pertama kali dia bertemu dengan Farel, Aya tidak bisa menjadikannya alasan untuk berhenti mencoba. Berhenti mencoba untuk pergi dari dunia busuk ini apapun caranya.

“Kenapa pas ngeliat Farel lo kaget banget, Ya?” tanya Lily penuh selidik, membuat Aya kembali teringat bahwa gadis itu berdiri di sebelahnya sejak awal. “Gue jadi curiga, jangan-jangan lo ada hubungannya dengan kali itu?”

Betapa kagetnya Aya, kenapa Lily bisa sepeka itu? “Ya gak lah, Ly,” jawab Aya dengan terbata-bata, bingung melihat raut wajah tidak percaya yang ditunjukkan oleh Lily padanya.

“Sahabat gak boong, lo tau aturannya,” ucap Lily selagi memperhatikan lekat-lekat wajah Aya, mencari kebohongan sahabatnya itu. “Jawab, apa lo ada hubungannya sama kali itu?”

Melihat wajah menakutkan Lily, Aya pun akhirnya menghela napas. “Gue cuma gak sengaja ngeliat Farel nyelamatin cewek yang mau loncat ke kali dua hari yang lalu,” jawabnya dengan tegas, Aya berusaha untuk terlihat meyakinkan ketika mengucapkannya. Hal terakhir yang dia inginkan adalah wajah khawatir Lily yang mengetahui bahwa gadis itu adalah Aya. “Cuma itu aja, lagipula ceweknya pake masker jadi ketutupan mukanya.”

Mendengar informasi itu, mata Lily sontak melebar dengan ide baru yang mengalir deras di otaknya. Senyum segera membingkai wajahnya ketika dia bilang ingin berpura-pura menjadi gadis yang hendak melompat dari kali itu demi menarik perhatian Farel.

Aya yang mendengarnya tertegun, tentu saja dia tidak punya alasan untuk melarang Lily toh dia keras kepala. Tapi Aya ragu apakah hubungan yang berdasarkan kebohongan akan berjalan mulus. Meskipun tidak setuju, Aya menutup mulutnya.

“Gue mau ke kali deket sekolah sekarang juga! Dah.” Dengan itu Lily beranjak pergi meninggalkan Aya yang terdiam seribu bahasa selagi melihat sosok sahabatnya menjauh. Aya menghela napas, kini pusing untuk menentukan lokasi baru yang cocok untuk melanjutkan usahanya.

“Dah, Ly,” gumamnya murung.

                                                                                                                       ***

 

“KE MANA SAJA LO!” teriak seseorang ketika Aya memasuki rumah, dengan cepat menarik kerah seragam sekolah gadis itu dan melemparnya asal ke lantai. Aya mengaduh perlahan, kakinya tertusuk beling botol bir yang kembali mengitari rumah. “MANA BARANGNYA!”

Aya menggeleng kuat selagi menahan isak tangis, matanya sudah mulai basah. “Aya gak mau membawanya pulang lagi!” tolaknya dengan suara bergetar, walaupun berusaha duduk tegak namun keberadaan lelaki itu selalu membuat Aya lemas. “Ayah harus berubah! Jangan minum-minum lagi!”

Mendengar pembangkangan dari putrinya, lelaki itu menampar anak semata wayangnya hingga terkulai lemas di lantai. Dengan lemah Aya menggerakkan tangannya menuju pipi kanannya yang kini membengkak, membuat gadis itu terisak pelan.

Tidak apa bila Ayahnya memukul lengannya atau tubuhnya. Tidak apa bila lelaki itu menghajar perutnya atau meninju kakinya. Aya masih bisa menahan segalanya selama bagian itu tertutup dari mata teman-temannya terutama Lily, agar mereka tidak tahu betapa banyak lebam dan luka menghiasi tubuhnya.

“Jangan menangis!” ujarnya dengan kesal, dijambaknya rambut Aya dengan kasar. “Cepat pergi dan bawa benda itu atau gue gak bakal bolehin lo masuk rumah lagi!”

Dengan langkah cepat Ayah Aya menyeret putrinya menuju pintu rumah, mendorongnya keluar dan menguncinya segera. “CEPAT!”

Aya terisak sejenak di depan pintu rumahnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum berpikir langkah yang harus dia lakukan selanjutnya. Sayangnya dia tidak punya pilihan lain selain melaksanakan perintah Ayahnya, jika membangkang maka dia akan kehilangan rumahnya.

Maka berjalanlah Aya sebelum terlebih dahulu mengenakan masker yang ironisnya sama seperti yang digunakannya dulu ketika pertama kali bertemu Farel. Dengan langkah berat Aya memasuki toko yang dimaksud Ayahnya, segera mengambil benda itu dari lemari pendingin.

Dulu Aya sempat berpikir untuk mengubah kebiasaan buruk Ayahnya terlebih dahulu sebelum meregang nyawanya. Dia pikir dengan melakukannya dapat memperkecil dosanya. Namun sekuat atau seteguh apapun Aya dalam usahanya mengubah pola kebiasaan Ayahnya, luka-luka dan lebam di tubuhnya lah bukti kegagalannya.

“Lo yang waktu itu di kali kan?” Mata Aya langsung melebar ketika mengenali suaranya, dengan cepat menoleh ke arah lelaki itu. Farel berdiri tidak jauh darinya, menunjuk benda yang dipegangnya dengan ekspresi terkejut. “Lo beli bir?”

 

 

To be continue~

Makasih banyak ya yang udah nyempetin waktu baca chapter 2!

Jangan lupa kesan pesannya ya guys

How do you feel about this chapter?

0 0 4 8 0 0
Submit A Comment
Comments (12)
  • yurriansan

    Awal bca lgsg tertarik
    :D

    Comment on chapter Hidup yang Membosankan
  • DyaPrim

    @shelapu iyaa mungkin sekarang Lily lagi nyebelin. Baca terus ya buat tau lanjutannya:)

    Comment on chapter Tentang Lelaki itu
  • shelapu

    Kok kesel ya sama Lily

    Comment on chapter Tentang Lelaki itu
  • DyaPrim

    @aiyuriyu wah makasih banyak! Tetep nantiin lanjutannya ya:)

    Comment on chapter Hidup yang Membosankan
  • aiyuriyu

    Langsung suka sama alur ceritanya

    Comment on chapter Hidup yang Membosankan
  • Currururururut

    EHEHEHEHEHEHEHEH

    Comment on chapter Hidup yang Membosankan
  • DyaPrim

    @Lolita_Kyn besok yaa, makasih mau nunggu:)

    Comment on chapter Hidup yang Membosankan
  • Lolita_Kyn

    Next dong!!

    Comment on chapter Hidup yang Membosankan
  • DyaPrim

    @Anganangan makasih dann hehe

    Comment on chapter Hidup yang Membosankan
  • DyaPrim

    @Alinarose_19 makasih banyak nihh:)

    Comment on chapter Hidup yang Membosankan
Similar Tags
I\'m Too Shy To Say
555      395     0     
Short Story
Joshua mencintai Natasha, namun ia selalu malu untuk mengungkapkannya. Tapi bagaimana bila suatu hari sebuah masalah menimpa Joshua dan Natasha? Akan masalah tersebut dapat membantu Joshua menyatakan perasaannya pada Natasha.
Lovesick
557      417     3     
Short Story
By Khancerous Why would you love someone else when you can’t even love yourself?
Of Girls and Glory
5513      2507     1     
Inspirational
Pada tahun keempatnya di Aqiela Ru'ya, untuk pertama kalinya, Annika harus berbeda kamar dengan Kiara, sahabatnya. Awalnya Annika masih percaya bahwa persahabatan mereka akan tetap utuh seperti biasanya. Namun, Kiara sungguh berubah! Mulai dari lebih banyak bermain dengan klub eksklusif sekolah hingga janji-janji yang tidak ditepati. Annika diam-diam menyusun sebuah rencana untuk mempertahank...
déessertarian
6285      1973     5     
Romance
(SEDANG DIREVISI) Tidak semua kue itu rasanya manis. Ada beberapa yang memiliki rasa masam. Sama seperti kehidupan remaja. Tidak selamanya menjadi masa paling indah seperti yang disenandungkan banyak orang. Di mana masalah terbesar hanya berkisar antara ujian matematika atau jerawat besar yang muncul di dahi. Sama seperti kebanyakan orang dewasa, remaja juga mengalami dilema. Ada galau di ant...
HADIAH PALING BERHARGA
652      454     4     
Short Story
Seorang wanita yang tidak bisa menerima kenyataan, keharmonisannya berubah menjadi kebencian, sebuah hadiah yang mengubah semua hal tentangnya .
Chrisola
1404      887     3     
Romance
Ola dan piala. Sebenarnya sudah tidak asing. Tapi untuk kali ini mungkin akan sedikit berbeda. Piala umum Olimpiade Sains Nasional bidang Matematika. Piala pertama yang diraih sekolah. Sebenarnya dari awal Viola terpilih mewakili SMA Nusa Cendekia, warga sekolah sudah dibuat geger duluan. Pasalnya, ia berhasil menyingkirkan seorang Etma. "Semua karena Papa!" Ola mencuci tangannya lalu membasuh...
Warna Warni Rasa
1426      704     2     
Romance
Rasa itu warna. Harus seperti putih yang suci. Atau seperti hijau yang sejuk. Bahkan seperti merah jambu yang ceria. Rasa itu warna. Dan kau penentunya. Banyak gradasi yang harus di lalui. Seperti indahnya pelangi. Bahkan jika kelabu datang, Kau harus menjadi berani seperti merah. Jangan seperti biru yang terlihat damai, Tapi jika marah akan menghancurkan bumi seperti tsunami. R...
In Your Own Sweet Way
531      397     3     
Short Story
Jazz. Love. Passion. Those used to be his main purpose in life, until an event turned his life upside down. Can he find his way back from the grief that haunts him daily?
Hello Goodbye, Mr. Tsundere
1864      1257     2     
Romance
Ulya tak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Natan di kampus. Natan adalah panggilan kesayangan Ulya untuk seorang cowok cool, jenius, dan anti sosial Hide Nataneo. Ketika para siswa di SMU Hibaraki memanggilnya, Hide, Ulya malah lain sendiri. Ulya yakin si cowok misterius dan Tsundere ini punya sisi lain yang menakjubkan. Hingga suatu hari, seorang wanita paruh baya bertopi fedora beludru...
SALAH ANTAR, ALAMAKK!!
971      695     3     
Short Story
EMMA MERASA BOSAN DAN MULAI MEMESAN SESUATU TAPI BERAKHIR TIDAK SEMESTINYA