“Lo ngapaian ngikutin gue?”
Ardy sudah berniat bolos hari ini karena malas ikut pelajaran Sejarah. Tapi, gagal total gara-gara laki—ah, makhluk tak hidup bernama Arsen—itu mengganggunya dan memaksanya ke sekolah.
Ya Looord, Ardy pikir yang kemarin hanya mimpi. Tapi pagi ini … ralat, pagi menjelang siang ini, laki-laki itu muncul di tempat tidurnya dan berteriak menyuruhya bangun. Ardy bahkan marah-marah ke PRT di rumahnya karena membiarkan orang asing masuk ke kamarnya, tapi mereka malah nganggap Ardy masih mimpi.
Tidak ada yang bisa melihat Arsen selain dia.
Tidak ada!
Itu artinya, Ardy benar-benar akan mati tiga pul—ralat, dua puluh sembilan hari lagi. Karena waktu terus berjalan.
“Gue bilang jangan ngikutin gue!” Ardy kembali melayangkan protes pada laki-laki berjanggut tipis yang mengekor padanya. Sebenarnya cukup tampan andai wajahnya tidak seputih awan dan bibirnya tidak semendung langit.
Makhluk berwujud laki-laki yang mengaku-ngaku bernama Arsen itu mengangkat pundak. Tak berbicara atau melakukan gerakan apa pun untuk merespon Ardy.
“Ya ampun dia baru datang.”
“Masih mabuk kayaknya. Dia ngomong sendiri.”
“Gue udah bilang dari lama, kali, kalau dia tuh make narkoba. Udah delusional gitu.”
“Kemarin katanya bolos lagi. Bener-bener nggak jera, ya.”
“Ganteng-ganteng kok liar. Kan jadi minus.”
“Coba aja bokap gue sekaya bokapnya, gue juga bisa bebas-bebasan, kali.”
“Dunia tuh enggak adil, ya. Ada orang yang perfect banget hidupnya meski dia enggak ngehargai hidup.”
“Kok bisa-bisanya si Kana yang siswa berprestasi mau temenan sama dia? Mendingan gue ke mana-mana.”
Bodo amat kata orang!
Ardy melangkah lebar menyusuri koridor. Headphone putih nangkring dengan manis, menutupi telinganya. Sambil menggoyangkan kepala, ia menerobos kerumunan orang-orang yang tengah membicarakannya. Mereka terus nyerocos, tak tau kalau Ardy mendengar dengan baik setiap kata yang terlontar.
Biarlah orang berspekulasi. Itu hak mereka. Kewajiban Ardy hanya satu, tidak peduli.
“Enggak sekalian datang pas jam pulang?” Kana yang berdiri di ambang pintu kelas bersungut sambil menarik kasar headphone di kepala Ardy. Bibirnya terbuka saat sadar headphone itu tidak terhubung ke ponsel atau ke mana pun.
Bukan hanya Kana yang kaget, tapi Ardy juga. Aktingnya selama ini sudah terbongkar.
“Jadi—” Kalimat Kana menggantung. Selama ini lo denger ucapan orang-orang tentang lo? Tak dapat ia realisasikan dalam bentuk audio.
“Kemarin siang Dino lo traktir makan bakso di kantin,” ucap Kana setelah berhasil menikam hening yang eksis di antara ia dan Ardy.
“Hmh.”
“Padahal paginya dia bilangin lo penyuka sesame jenis di koridor.”
“Terus?”
“Jadi lo denger?”
Kening Ardy mengernyit. “Lo tau, tapi lo enggak bilang ke gue?”
“Gue udah bilang enggak usah traktir Dino.”
“Tapi lo enggak bilang kalau dia ngataian gue.”
Ohhhhhhhh. Kana menutup mulutnya sendiri.
Tawa Ardy terdengar beberapa detik kemudian.
“Gue emang denger kok. Menurut gue, cara terbaik ngehukum orang yang jahat ke kita adalah dengan berbuat baik pada mereka.”
Tidak ada yang bisa paham alur berpikir Ardy, termasuk Kana. Menurut Kana, Ardy itu sebenarnya baik. Malah terlalu baik. Orang-orang hanya iri pada hidupnya—yang menurut mereka—sempurna. Makanya, ia tak berteman dengan siapa pun di sekolah selain Kana. Karena menurut Ardy, mereka semua manusia berwajah palsu. Lebih baik berteman dengan Dio dan Egi yang notabene-nya anak jalanan dibanding teman-teman sekolahnya. Karena Egi dan Dio tidak bermuka palsu.
Buat Ardy, bodo amat temannya berapa. Yang penting mereka tulus.
“Ka, mulai hari ini, gue mau ngehukum orang-orang yang jahat sama gue.” Senyum Ardy lebar dan nampak culas. Entah kenapa, matanya berbinar saat mengucap kalimat itu.
“Jangan gila!”
Kana segera memutar tubuh dan masuk kelas. Pikirannya kacau.
*
Kana menghela saat matanya tak sengaja tertuju pada Ardy yang mencoret-coret buku tulisnya dengan spidol. Entah ia menggambar apa. Yang jelas, hobinya itu kadang membuat Kana jengkel. Dalam dunia Ardy, tidak ada yang namanya huruf dan angka. Hanya ada gambar.
“Tolong perhatikan pelajarannya.” Arsen menegur. Ia sedang duduk di kursi kosong samping Ardy.
“Bukan urusan lo. Pergi sana.”
“Menggambarlah saat mata pelajaran seni budaya, Lazuardy Abisena.”
“EH, ITEM! DIAM LO!”
Pak Suyoto, guru Sejarah killer berkulit sawo matang yang sedang menjelaskan segera memfokuskan pandangannya ke satu titik. Tepat ke mata Ardy.
Ardy mengusap wajahnya gusar. Mampuslah dia!
“Apa kamu bilang?” Pak Suyoto sudah melangkah menghampirinya.
“Bukan Bapak yang saya maksud, tapi dia,” ucap Ardy sambil menunjuk ‘angin’. Biarkan teman-teman sekelasnya termasuk Kana mengatainya gila.
“Dari tadi dia ganggu saya, Pak.” Ardy masih menunjuk Arsen. Sedang yang ditunjuk hanya tertawa.
“Jangan membuat masalah makin runyam, Ardy. Guru kamu tidak bisa melihat saya.”
“Pak, saya serius—”
“KELUAR!”
Helaan napas Ardy terdengar. Ia segera bangkit dari duduknya dan melengos pergi.
“Puas lo?” ucapnya pada Arsen yang masih mengekor.
Arsen melipat tangan di dada sambil mengangkat alis kiri. “Saya lebih puas kalau kamu ikut pelajaran seperti siswa normal lainnya.”
“Menurut lo gue enggak normal?”
“Sangat. Bahkan kamu tidak bisa sopan santun pada yang lebih tua. Saya ini lebih tua dari kamu.”
“Kalo lo mau gue hormati, lo harus gue gantung dulu di tiang bendera.”
Arsen tertawa. Matanya yang sayu menyipit.
“Jadi bener kalau gue bakal mati?” tanya Ardy setelah tawa Arsen reda. Tatapannya lurus ke depan. Ia bahkan tak berniat menatap Arsen.
“Ya.”
“Trus lo malaikat pencabut nyawa yang bakal jemput gue? Gue pernah baca komik tuh. Sisa umur dia tinggal 40 hari. Makanya tinggal bareng malaikat pencabut nyawa.”
Arsen menghela. Tepatnya pura-pura menghela, menurut Ardy, karena dia bahkan tidak bernapas.
“Lo sebenarnya makhluk apa? Kenapa mirip manusia? Lo dari Mars?”
“Sebaiknya kamu pikirkan yang lebih pantas untuk kamu pikirkan daripada asal-usul saya.”
“Yeaaaah, what ever.”
“Banyak orang yang mati dalam keadaan menyesal,” ucap Arsen tanpa menatap mata Ardy.
“Seperti … menyesal karena menyia-nyiakan hidup. Menyesal karena masih banyak yang belum dia lakukan. Menyesal karena belum meminta maaf pada orang tertentu … dan penyesalan lainnya.”
“Gue enggak akan nyesali apa pun kalaupun gue mati tiga pul—ah, dua puluh sembilan hari lagi.”
“Katakan itu setelah kamu mati.”
“Oke. Tunggu aja.”
Alis kiri Arsen terangkat naik.
“Jadi gue tanya sekali lagi. Kalaupun gue beneran mati 29 hari lagi, fungsi lo sekarang apa?”
“Membantu kamu memperbaiki hidup.”
“Hah?!”
“Agar tidak ada penyesalan, Ardy.”
“Gila. Balik lo sono ke antah berantah. Gue enggak butuh bantuan siapa pun. Kalaupun gue nyesel, gue yang tanggung.”
“Saya sudah membuat pilihan, dan saya tidak bisa menarik pilihan saya.”
Ya ampun, Ardy stress sendiri karena laki-laki di sampingnya itu bertele-tele.
“Saya sudah memutuskan untuk membantu kamu. Dan saya tidak diberi pilihan untuk mundur.”
“Apes banget gue. Belum mati udah diikuti malaikat penjaga neraka.”
“Pertama-tama, berdamailah dengan kenyataan, Lazuardi Abisena.”
Ardy mendengus. Siapa lo seenaknya ngatur hidup gue?
Ardy harap ini hanya mimpi.
Atau wujud delusinya karena overdosis lem.
Ya, Ardy harap begitu.
@isnainisnin Udah diperbaiki, Ukh. Jazakillah (Ga bisa emot ^^
Comment on chapter 4. Alasankalem banget emotnya XD