Read More >>"> Suara Kala (3. Nyata) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - Suara Kala
MENU
About Us  

    “Lo ngapaian ngikutin gue?”

    Ardy sudah berniat bolos hari ini karena malas ikut pelajaran Sejarah. Tapi, gagal total gara-gara laki—ah, makhluk tak hidup bernama Arsen—itu mengganggunya dan memaksanya ke sekolah.

    Ya Looord, Ardy pikir yang kemarin hanya mimpi. Tapi pagi ini … ralat, pagi menjelang siang ini, laki-laki itu muncul di tempat tidurnya dan berteriak menyuruhya bangun. Ardy bahkan marah-marah ke PRT di rumahnya karena membiarkan orang asing masuk ke kamarnya, tapi mereka malah nganggap Ardy masih mimpi.

    Tidak ada yang bisa melihat Arsen selain dia.

    Tidak ada!

    Itu artinya, Ardy benar-benar akan mati tiga pul—ralat, dua puluh sembilan hari lagi. Karena waktu terus berjalan.

    “Gue bilang jangan ngikutin gue!” Ardy kembali melayangkan protes pada laki-laki berjanggut tipis yang mengekor padanya. Sebenarnya cukup tampan andai wajahnya tidak seputih awan dan bibirnya tidak semendung langit.

    Makhluk berwujud laki-laki yang mengaku-ngaku bernama Arsen itu mengangkat pundak. Tak berbicara atau melakukan gerakan apa pun untuk merespon Ardy.

    “Ya ampun dia baru datang.”

    “Masih mabuk kayaknya. Dia ngomong sendiri.”

    “Gue udah bilang dari lama, kali, kalau dia tuh make narkoba. Udah delusional gitu.”

    “Kemarin katanya bolos lagi. Bener-bener nggak jera, ya.”

    “Ganteng-ganteng kok liar. Kan jadi minus.”

    “Coba aja bokap gue sekaya bokapnya, gue juga bisa bebas-bebasan, kali.”

    “Dunia tuh enggak adil, ya. Ada orang yang perfect banget hidupnya meski dia enggak ngehargai hidup.”

    “Kok bisa-bisanya si Kana yang siswa berprestasi mau temenan sama dia? Mendingan gue ke mana-mana.”

    Bodo amat kata orang!

    Ardy melangkah lebar menyusuri koridor. Headphone putih nangkring dengan manis, menutupi telinganya. Sambil menggoyangkan kepala, ia menerobos kerumunan orang-orang yang tengah membicarakannya. Mereka terus nyerocos, tak tau kalau Ardy mendengar dengan baik setiap kata yang terlontar.

    Biarlah orang berspekulasi. Itu hak mereka. Kewajiban Ardy hanya satu, tidak peduli.

    “Enggak sekalian datang pas jam pulang?” Kana yang berdiri di ambang pintu kelas bersungut sambil menarik kasar headphone di kepala Ardy. Bibirnya terbuka saat sadar headphone itu tidak terhubung ke ponsel atau ke mana pun.

    Bukan hanya Kana yang kaget, tapi Ardy juga. Aktingnya selama ini sudah terbongkar.

    “Jadi—” Kalimat Kana menggantung. Selama ini lo denger ucapan orang-orang tentang lo? Tak dapat ia realisasikan dalam bentuk audio.

    “Kemarin siang Dino lo traktir makan bakso di kantin,” ucap Kana setelah berhasil menikam hening yang eksis di antara ia dan Ardy.

    “Hmh.”

    “Padahal paginya dia bilangin lo penyuka sesame jenis di koridor.”

    “Terus?”

    “Jadi lo denger?”

    Kening Ardy mengernyit. “Lo tau, tapi lo enggak bilang ke gue?”

    “Gue udah bilang enggak usah traktir Dino.”

    “Tapi lo enggak bilang kalau dia ngataian gue.”

    Ohhhhhhhh. Kana menutup mulutnya sendiri.

    Tawa Ardy terdengar beberapa detik kemudian.

    “Gue emang denger kok. Menurut gue, cara terbaik ngehukum orang yang jahat ke kita adalah dengan berbuat baik pada mereka.”

    Tidak ada yang bisa paham alur berpikir Ardy, termasuk Kana. Menurut Kana, Ardy itu sebenarnya baik. Malah terlalu baik. Orang-orang hanya iri pada hidupnya—yang menurut mereka—sempurna. Makanya, ia tak berteman dengan siapa pun di sekolah selain Kana. Karena menurut Ardy, mereka semua manusia berwajah palsu. Lebih baik berteman dengan Dio dan Egi yang notabene-nya anak jalanan dibanding teman-teman sekolahnya. Karena Egi dan Dio tidak bermuka palsu.

    Buat Ardy, bodo amat temannya berapa. Yang penting mereka tulus.

    “Ka, mulai hari ini, gue mau ngehukum orang-orang yang jahat sama gue.” Senyum Ardy lebar dan nampak culas. Entah kenapa, matanya berbinar saat mengucap kalimat itu.

    “Jangan gila!”

    Kana segera memutar tubuh dan masuk kelas. Pikirannya kacau.

*

    Kana menghela saat matanya tak sengaja tertuju pada Ardy yang mencoret-coret buku tulisnya dengan spidol. Entah ia menggambar apa. Yang jelas, hobinya itu kadang membuat Kana jengkel. Dalam dunia Ardy, tidak ada yang namanya huruf dan angka. Hanya ada gambar.

    “Tolong perhatikan pelajarannya.” Arsen menegur. Ia sedang duduk di kursi kosong samping Ardy.

    “Bukan urusan lo. Pergi sana.”

    “Menggambarlah saat mata pelajaran seni budaya, Lazuardy Abisena.”

    “EH, ITEM! DIAM LO!”

    Pak Suyoto, guru Sejarah killer berkulit sawo matang yang sedang menjelaskan segera memfokuskan pandangannya ke satu titik. Tepat ke mata Ardy.

    Ardy mengusap wajahnya gusar. Mampuslah dia!

    “Apa kamu bilang?” Pak Suyoto sudah melangkah menghampirinya.

    “Bukan Bapak yang saya maksud, tapi dia,” ucap Ardy sambil menunjuk ‘angin’. Biarkan teman-teman sekelasnya termasuk Kana mengatainya gila.

    “Dari tadi dia ganggu saya, Pak.” Ardy masih menunjuk Arsen. Sedang yang ditunjuk hanya tertawa.

    “Jangan membuat masalah makin runyam, Ardy. Guru kamu tidak bisa melihat saya.”

    “Pak, saya serius—”

    “KELUAR!”

    Helaan napas Ardy terdengar. Ia segera bangkit dari duduknya dan melengos pergi.

    “Puas lo?” ucapnya pada Arsen yang masih mengekor.

    Arsen melipat tangan di dada sambil mengangkat alis kiri. “Saya lebih puas kalau kamu ikut pelajaran seperti siswa normal lainnya.”

    “Menurut lo gue enggak normal?”

    “Sangat. Bahkan kamu tidak bisa sopan santun pada yang lebih tua. Saya ini lebih tua dari kamu.”

    “Kalo lo mau gue hormati, lo harus gue gantung dulu di tiang bendera.”

    Arsen tertawa. Matanya yang sayu menyipit.

    “Jadi bener kalau gue bakal mati?” tanya Ardy setelah tawa Arsen reda. Tatapannya lurus ke depan. Ia bahkan tak berniat menatap Arsen.

    “Ya.”

    “Trus lo malaikat pencabut nyawa yang bakal jemput gue? Gue pernah baca komik tuh. Sisa umur dia tinggal 40 hari. Makanya tinggal bareng malaikat pencabut nyawa.”

    Arsen menghela. Tepatnya pura-pura menghela, menurut Ardy, karena dia bahkan tidak bernapas.

    “Lo sebenarnya makhluk apa? Kenapa mirip manusia? Lo dari Mars?”

    “Sebaiknya kamu pikirkan yang lebih pantas untuk kamu pikirkan daripada asal-usul saya.”

    “Yeaaaah, what ever.”

    “Banyak orang yang mati dalam keadaan menyesal,” ucap Arsen tanpa menatap mata Ardy.

    “Seperti … menyesal karena menyia-nyiakan hidup. Menyesal karena masih banyak yang belum dia lakukan. Menyesal karena belum meminta maaf pada orang tertentu … dan penyesalan lainnya.”

    “Gue enggak akan nyesali apa pun kalaupun gue mati tiga pul—ah, dua puluh sembilan hari lagi.”

    “Katakan itu setelah kamu mati.”

    “Oke. Tunggu aja.”

    Alis kiri Arsen terangkat naik.

    “Jadi gue tanya sekali lagi. Kalaupun gue beneran mati 29 hari lagi, fungsi lo sekarang apa?”

    “Membantu kamu memperbaiki hidup.”

    “Hah?!”

    “Agar tidak ada penyesalan, Ardy.”

    “Gila. Balik lo sono ke antah berantah. Gue enggak butuh bantuan siapa pun. Kalaupun gue nyesel, gue yang tanggung.”

    “Saya sudah membuat pilihan, dan saya tidak bisa menarik pilihan saya.”

    Ya ampun, Ardy stress sendiri karena laki-laki di sampingnya itu bertele-tele.

    “Saya sudah memutuskan untuk membantu kamu. Dan saya tidak diberi pilihan untuk mundur.”

    “Apes banget gue. Belum mati udah diikuti malaikat penjaga neraka.”

    “Pertama-tama, berdamailah dengan kenyataan, Lazuardi Abisena.”

    Ardy mendengus. Siapa lo seenaknya ngatur hidup gue?

    Ardy harap ini hanya mimpi.

    Atau wujud delusinya karena overdosis lem.

    Ya, Ardy harap begitu.

How do you feel about this chapter?

0 0 2 0 0 0
Submit A Comment
Comments (9)
  • Khanza_Inqilaby

    @isnainisnin Udah diperbaiki, Ukh. Jazakillah (Ga bisa emot ^^
    kalem banget emotnya XD

    Comment on chapter 4. Alasan
  • Isnainisnin

    Part ini banyak typonya, Kak hehe.
    Beneran ngga bisa pake emot ternyata >_<

    Comment on chapter 4. Alasan
  • Khanza_Inqilaby

    Alhamdulillah ^^ (ga bisa pake emot T,T)

    Comment on chapter Suara Kala
  • Isnainisnin

    Iya sudah kebaca kok, Kak.

    Comment on chapter Suara Kala
  • dede_pratiwi

    nice story ditunggu kelanjutannya :)

    Comment on chapter Suara Kala
  • Khanza_Inqilaby

    Namanya Lazuardy. Aku emang labil. Jazakillah khoir sudah berkunjung, Ukh. Insyaallah lanjut dong ^^

    Balasan komenku kebaca nggak nih? Aku ngga tau caranya balas komen :&quot;(

    Comment on chapter 3. Nyata
  • Isnainisnin

    Ah iya, ini masih lanjut kan, Kak?

    Comment on chapter 3. Nyata
  • Isnainisnin

    Ini namanya Ardy, Lazuardi atau Lazuardy? Kok beda-beda.

    Comment on chapter 3. Nyata
  • Isnainisnin

    Tulisan kakak bagus, aku suka cerita yang kayak gini. Kayak muhasabah :)

    Comment on chapter 1. Hitam
Similar Tags
Unsuitable
1171      534     6     
Romance
Bagi Arin tak pernah terpikirkan sekalipun bersekolah dalam jerat kasus tak benar yang menganggapnya sebagai pelacur. Sedangkan bagi Bima, rasanya tak mungkin menemukan seseorang yang mau membantunya keluar dari jerat tuduhan yang telah lama menimpanya. Disaat seluruh orang memilih pergi menjauh dari Bima dan Arin, tapi dua manusia itu justru sebaliknya. Arin dan Bima dipertemukan karena...
My Noona
5381      1253     2     
Romance
Ini bukan cinta segitiga atau bahkan segi empat. Ini adalah garis linear. Kina memendam perasaan pada Gio, sahabat masa kecilnya. Sayangnya, Gio tergila-gila pada Freya, tetangga apartemennya yang 5 tahun lebih tua. Freya sendiri tak bisa melepaskan dirinya dari Brandon, pengacara mapan yang sudah 7 tahun dia pacariwalaupun Brandon sebenarnya tidak pernah menganggap Freya lebih dari kucing peliha...
Apakah Kehidupan SMAku Akan Hancur Hanya Karena RomCom?
3547      1034     1     
Romance
Kisaragi Yuuichi seorang murid SMA Kagamihara yang merupakan seseorang yang anti dengan hal-hal yang berbau masa muda karena ia selalu dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya akibat luka bakar yang dideritanya itu. Suatu hari di kelasnya kedatangan murid baru, saat Yuuichi melihat wajah murid pindahan itu, Yuuichi merasakan sakit di kepalanya dan tak lama kemudian dia pingsan. Ada apa dengan m...
Bintang, Jatuh
2416      1185     0     
Romance
"Jangan ke mana mana gue capek kejar kejar lo," - Zayan "Zay, lo beneran nggak sadar kalau gue udah meninggal" - Bintang *** Zayan cowok yang nggak suka dengan cewek bodoh justru malah harus masuk ke kehidupan Bintang cewek yang tidak naik kelas karena segala kekonyolannya Bintang bahkan selalu mengatakan suka pada Zayan. Namun Zayan malah meminta Bintang untuk melupakan perasaan itu dan me...
DanuSA
29198      4457     13     
Romance
Sabina, tidak ingin jatuh cinta. Apa itu cinta? Baginya cinta itu hanya omong kosong belaka. Emang sih awalnya manis, tapi ujung-ujungnya nyakitin. Cowok? Mahkluk yang paling dia benci tentu saja. Mereka akar dari semua masalah. Masalalu kelam yang ditinggalkan sang papa kepada mama dan dirinya membuat Sabina enggan membuka diri. Dia memilih menjadi dingin dan tidak pernah bicara. Semua orang ...
Should I Go(?)
9644      2262     12     
Fan Fiction
Kim Hyuna dan Bang Chan. Saling mencintai namun sulit untuk saling memiliki. Setiap ada kesempatan pasti ada pengganggu. Sampai akhirnya Chan terjebak di masa lalunya yang datang lagi ke kehidupannya dan membuat hubungan Chan dan Hyuna renggang. Apakah Hyuna harus merelakan Chan dengan masa lalunya? Apakah Kim Hyuna harus meninggalkan Chan? Atau justru Chan yang akan meninggalkan Hyuna dan k...
I Always Be Your Side Forever
5682      1531     3     
Romance
Lulu Yulia adalah seorang artis yang sedang naik daun,tanpa sengaja bertemu dengan seorang cowok keturunan Korea-Indonesia bernama Park Woojin yang bekerja di kafe,mereka saling jatuh cinta,tanpa memperdulikan status dan pekerjaan yang berbeda,sampai suatu hari Park Woojin mengalami kecelakaan dan koma. Bagaimana kisah cinta mereka berdua selanjutnya.
Di Bawah Langit
2933      924     1     
Inspirational
Saiful Bahri atau yang sering dipanggil Ipul, adalah anak asli Mangopoh yang tak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Namun, Ipul begitu yakin bahwa seseorang bisa sukses tanpa harus memiliki ijazah. Bersama kedua temannya Togar dan Satria, Ipul pergi merantau ke Ibu Kota. Mereka terlonjak ketika bertemu dengan pengusaha kaya yang menawarkan sebuah pekerjaan sesampainya di Jakarta. ...
Kuliah atau Kerja
478      267     1     
Inspirational
Mana yang akan kamu pilih? Kuliah atau kerja? Aku di hadapkan pada dua pilihan itu di satu sisi orang tuaku ingin agar aku dapat melanjutkab sekolah ke jenjang yang lebih tinggi Tapi, Di sisi lainnya aku sadar dan tau bawa keadaan ekonomi kami yang tak menentu pastilah akan sulit untuk dapat membayar uang kuliah di setiap semesternya Lantas aku harus apa dalam hal ini?
Past Infinity
205      175     0     
Romance
Ara membutuhkan uang, lebih tepatnya tiket ke Irak untuk menemui ibunya yang menjadi relawan di sana, maka ketika Om Muh berkata akan memenuhi semua logistik Ara untuk pergi ke Irak dengan syarat harus menjaga putra semata wayangnya Ara langsung menyetujui hal tersebut. Tanpa Ara ketahui putra om Muh, Dewa Syailendra, adalah lelaki dingin, pemarah, dan sinis yang sangat membenci keberadaan Ara. ...