Loading...
Logo TinLit
Read Story - Rasa Itu
MENU
About Us  

Panasnya matahari pagi ini benar-benar telah melengkapkan hari ini. Panas dan menyengat srta tanpa ada angin yang menyapa sebagi penurun suhu panas. Begitu juga dengan diriku yang tak kuasa menahan cacing dalam yang menyiksa perutku serta membuat pikiranku menjadi buntu.

“Erika Ve! Coba kamu kerjakan soal no D!” Panggil Ibu Azma tiba-tiba.

Aku tertegun. Aku sadar bahwa diriku tak memperhatikan pelajaran. Aku pun berjalan  dengan lesu kearah papan tulis. Kuambilkan kapur. Menulis soal dengan seksama tanpa sadar apa yang sebenarnya sedang aku lakukan.

“Erika! Kenapa kamu? Sakit? Oke gak apa-apa. Kamu boleh duduk sekarang.”

Aku memutarkan tubuhku kembali ketempat duduk. Aku merasa bahwa ini bukan diriku yang seperti biasa. Hari ini begitu membuatku lelah tanpa alasan, yang aku sendiri tak tau harus menafsirkan bagaimana.

“Erika, what Happen? Koq gak semangat?”

“Lagi gak mood. Trus cuacanya juga panas. Ngak ngedukung buat otak encer” jawabku singkat sambil mengipas-ngipas diri dengan tanganku.

Bel pulang sekolah yang ditunggu akhirnya berbunyi. Aku pulang tanpa mau berkomentar apapun tentang apapun dan siapapun. Hari ini telah menyihirku menjadi patung yang diam seribu bahasa.

“Kak Masnya datang tu!” Ulfa menepuk pundakku

“Hei lucu sekali. Kakak udah masang wajah manis. Trus senyum yang begitu merekah. Koq gak dibalas sih”  Tiba-tiba aku mulai bersemangat

“Hahahahahah…. Mungkin dia takut. Ih kasihan banget kakaku dikacangin. Cup cup” Ujar Ulfa sambil mencubit pipiku

*****

Yach pagi ini telah memberikan semangat baru bagiku. Sesuatu yang aku perlukan setiap hari yang dulu pernah hilang, kini datang kembali pulang. Sepertinya dialah orang yang telah mencuri hatiku sepenuhnya. Saat aku mulai rapuh ia datang menguatkannya. Suatu hal yang sangat aku harapkan. Seseorang yang pernah datang tapi sekarang ia telah menghilang di hempas oleh angin tanpa kabar.

“dialah alasan semangat baruku”

Cepa-cepat aku menepiskan perasaan itu dan bergegas menyiapkan diri kesekolah. Tiba-tiba tanpa sengaja  sembari menunggu jemputan Ulfa aku duduk sejenak diteras rumah. Tiba-tiba alasan aku bersemangat tiap pagi datang melewati  rumahku. Aku terpana sesaat.

“Hai kakak cantik… Yuk!”

“Iya” aku berlari lari kecil menuju kearah Ulfa yang berdiri diujung jalan menungguku.

“Aduh Ulfa koq telat sih hari ini! Tadi masnya dah lewat loh”

“Maaf deh tadi kebelet, yang penting kaka liat kan tadi”

 “Yuk!”

Meskipun hari ini begitu panas. Tapi aku tetap  semangat untuk mengikuti les bersama temanku Novi. Kami juga satu kelas bahkan satu kampong tapi kedekatanku hanya sebatas teman  yang lebih sering berbarengan kalau ada kegiatan disekolah dan mengerjakan pr secara bersama-sama. Aku pun jarang curhat dengannya. Aku lebih percaya Ulfa. Dialah sepupuku bahkan teman curhatku yang selalu mengerti akan perasaanku ini. Dialah satu-satunya sepupu yang selalu menyemangatiku untuk menjadi diri sendiri dan memperjuangkan cintaku. She is my beloved sister

“Erika, kamu kenal sama Akbar?”

“Akbar yang mana ya?” aku pura-pura tidak mengenalnya

“Ya Ampunnnn…… Itu loh Erika. Cowo yang disamping rumahku. Biasanya dia make motor Kawasaki kalau sekolah. “

Jantungku berdengup kencang. Saat Novi mengucapkan nama itu

“Oh Novi” Batinku

“Kemarin Ka Molida cerita bahwa akbar selalu muji-uji Fira. Entah apa maksudnya? Sepertinya Akbar suka sama Fira. Bahkan dia juga sering nitip salam buat Fira sama kak Molida” Novi mulai bercerita

Aku tertegun. Menelan ludahku kembali. Kata-kata Novi bak petir disiang bolong. Cowok yang sedang kutaksir nyatanya menyukai orang lain.

“I hope it is not true”

Aku merenung, mengingat kata-kata Novi barusann. Aku pun menceritakannya kembali kepada Ulfa dengan harapan ia bisa memecahkan masalahnya dan mengatakan bahwa itu Hoax.

“Gak mungkin terjadi lah kaka. Mana cocok sama firah. Firah masih kelas satu SMP. Sedangkan dia kelas 3 SMA. Ulfa harap dia menyukai Kakak. Aku gak mau liat kakakku yang cantik ini sedih lagi”

Aku terdiam dan hanya memandang kearah Ulfa dengan senyuman

“Itulah yang kuharapkan semestinya” batinku berbisik

****

Aku bingung dengan perasaanku. Ada 2 pilihan yang sulit untuk aku putuskan. Karena mereka mempunyai karakter yang hampir sama. Dan juga mereka sama-sama aku cintai. Yach aku memiliki persaan yang sama terhadap keduanya.

“Ilham, cowok yang mengajariku tentang cinta. Tapi sekarang dia hanya melukiskan rasa sakit dihati ini. Dia pergi tanpa aku tau kemana? Sedangkan Akbar……… Mmmm aku belum bisa sepenuhnya melupakan Ilham padahal sudah hampir setahun tanpa pernah saling berkomunikasi.” Aku benar-benar bingung dan tak mampu menerka jawabannya.

Hari ini aku telah mempersiapkan hatiku bahwa aku harus melanjutkan impianku. Karena cinta yang tulus akan datang disaat yang tepat.

Waktu terus berlalu. Perpisahan siswa/i SMA kelas 3 pun tiba. Aku tak percaya cowo yang pernah hilang hampir setahun datang kembali. Aku benar-benar tak menduga dia akan hadir sebagi perwakilan dari sekolahnya. Sepertinya hatiku tercuri kembali. Aku sempat gagap dan membisu saat dia memanggil namaku. Aku masih mengenal suara itu.

“Erika Ve!”

Aku masih tak percaya. Namum aku mencoba memutarkan kepalaku menoleh kearah suara itu. Ya dialah sang pencuri hatiku “Ilham”. Mataku berbinar aku tak percaya. Aku membalikkan tubuhku sepenuhnya, agar aku bisa melihat wajahnya dengan sempurna tanpa penghalang. Tapi lagi-lagi tubuhku kaku. Lidahku kelu dan terdiam membisu. Akhirnya ia datang mendekat kearahku. Menepuk pundakku. Menghilangkan segala rasa terhipnotisku akan dia. Kali ini rasanya dunia mau runtuh. Seakan-akan diri ini terhipnotis. Aku tak mampu menghindar dari tatapannya.

“Erika, aku mau bicara sama kamu. Bolehkah aku mengganggumu untuk sebentar”

Aku menggangguk cepat. Lidahku masih tak bisa berucap.

Dia menarik tanganku membawa bersamanya ketempat pertama kali kami bertemu. Tempatnya bukanlah Cafee atau resto dan kantin sekolah atau bahkan tempat romantise bak film-film melainkan sebuah pohon nangka yang hampir roboh. Tak ada yang romantic karena semua terjadi secara kebetulan.

“Erika, maafkan aku ya! Selama ini aku sudah membuatmu kecewa”

Aku tetap terdiam.

“Jangan tanyakan alasannya. Karena aku tak mau membahasnya karena hari ini adalah kebahagianku. Aku bisa bertemu denganmu lagi”

“Jadi” aku mencoba menguasai diri dan menghilangkan rasa grogiku

“Jadi,……” Dia menarik nafas pelan

“Jadi, aku ingin kata-kata yang pernah aku ucapkan ke kamu dulu ada jawabannya darimu. Jawaban yang pernah kamu gantung. Aku mencintaimu Erika! Masih adakah tempat dihatimu untukku?”

Ludahku tertelan kembali. Lidahku kembali kaku. Aku hanya bisa mengangguk.

“Aku janji akan menjagamu. Dan gak akan ninggalin kamu lagi. Ayuk kita mulai semua dengan baik. Dan melupakan masa lalu itu.” Ilham meyakinkanku

Aku tersenyum. Beban yang telah lama sesak kini sudah hilang. Semangat yang dulu pernah hilang  kembali sudah. Seseorang yang sangat aku tunggu kini datang mengulurkan benang kasih yang sempat terputus. Karena dia cinta dihati. Akbar sosok laki-laki yang baru aku kenal. Yang sedang aku taksir harus benar-benar aku kuburkan bersama dengan perasaan yang pernah ada untuknya. Sekarang perasaan itu telah aku berikan sepenuhnya untuk Ilham sang cinta pertamaku. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya. Cinta yang hilang dan kembali hanya untukku rasa itu. Ya rasa itu rasa cintaku unttuknya

Tags: Romance

How do you feel about this chapter?

1 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Our Tears
3511      1708     3     
Romance
Tidak semua yang kita harapkan akan berjalan seperti yang kita inginkan
In Your Own Sweet Way
577      438     3     
Short Story
Jazz. Love. Passion. Those used to be his main purpose in life, until an event turned his life upside down. Can he find his way back from the grief that haunts him daily?
Dialog Hujan
745      547     3     
Short Story
Tak peduli orang-orang di sekitarku merutuki kedatanganmu, aku akan tetap tersenyum malu-malu. Karena kau datang untuk menemaniku, untuk menenangkanku, untuk menyejukkanku. Aku selalu bersyukur akan kedatanganmu, karena kau akan selalu memelukku di dalam sepiku, karena kau selalu bernyanyi indah bersama rumput-rumput yang basah untukku, karena kau selalu menyebunyikan tangisku di balik basahmu.
Dosa Pelangi
764      491     1     
Short Story
"Kita bisa menjadi pelangi di jalan-jalan sempit dan terpencil. Tetapi rumah, sekolah, kantor, dan tempat ibadah hanya mengerti dua warna dan kita telah ditakdirkan untuk menjadi salah satunya."
Backstreet
1802      935     1     
Fan Fiction
A fanfiction story © All chara belongs their parents, management, and fans. Blurb: "Aku ingin kita seperti yang lain. Ke bioskop, jalan bebas di mal, atau mancing di pinggiran sungai Han." "Maaf. But, i really can't." Sepenggal kisah singkat tentang bagaimana keduanya menyembunyikan hubungan mereka. "Because my boyfie is an idol." ©October, 2020
Angel in Hell
630      492     0     
Short Story
Dia memutar-mutar pena di genggaman tangan kanannya. Hampir enam puluh detik berlalu dan kolom satu itu masih saja kosong. Kegiatan apa yang paling Anda senang lakukan? Keningnya berkerut, menandakan otaknya sedang berpikir keras. Sesaat kemudian, ia tersenyum lebar seperti sudah mendapatkan jawaban. Dengan cepat, ia menggoreskan tinta ke atas kertas; tepat di kolom kosong itu. Mengha...
KETIKA SENYUM BERBUAH PERTEMANAN
711      537     3     
Short Story
Pertemanan ini bermula saat kampus membuka penerimaan mahasiswa baru dan mereka bertemu dari sebuah senyum Karin yang membuat Nestria mengagumi senyum manis itu.
Everything In Between
4      4     0     
Romance
Nathaniel Salvatore, putra kedua keluarga penegak hukum tersohor di Republik Isolamerta. Tumbuh dengan keyakinan utuh bahwa hukum akan memberi keadilan kepada semua orang tanpa terkecuali. Sampai ia bertemu Eleonora Hale, gadis yang sering kali menguliti idealisme Nathaniel dengan argumen dan sinisme tajam. Rasa penasaran mendorong Nathaniel mendekati Eleonora. Namun, semakin ia mencoba mengen...
Bisakah Kita Bersatu?
757      471     5     
Short Story
Siapa bilang perjodohan selalu menguntungkan pihak orangtua? Kali ini, tidak hanya pihak orangtua tetapi termasuk sang calon pengantin pria juga sangat merasa diuntungkan dengan rencana pernikahan ini. Terlebih, sang calon pengantin wanita juga menyetujui pernikahan ini dan berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk menjalani pernikahannya kelak. Seiring berjalannya waktu, tak terasa hari ...
Balada Valentine Dua Kepala
454      317     0     
Short Story
Di malam yang penuh cinta itu kepala - kepala sibuk bertemu. Asik mendengar, menatap, mencium, mengecap, dan merasa. Sedang di dua kamar remang, dua kepala berusaha menerima alasan dunia yang tak mengizinkan mereka bersama.