Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku Mencintai Umat Manusia
MENU
About Us  

Panas di Mumbai bukan sekadar suhu; itu adalah serangan fisik. Begitu pintu kargo pesawat C-130 terbuka, udara berbau belerang dan logam terbakar langsung menampar wajah kami.

Kami mendarat di pangkalan militer sementara yang dibangun di sekitar Ground Zero. Langit di atas kami berwarna oranye kotor, tertutup asap tebal yang berputar lambat di sekitar menara hitam raksasa di kejauhan.

Itu dia. Core Stabilizer. Pasak bumi yang sedang sekarat.

“Unit Alpha! Gerak!” teriak seorang sersan, menggiring kami turun dari pesawat.

Kami berjalan beriringan dengan gaya sok penting. Lusia di depan, membetulkan letak kacamatanya setiap lima detik. Jeno membusungkan dada, membawa kotak peralatan las (yang isinya sebenarnya Cuma palu, lakban, dan bekal roti sisa). Adrian berjalan sambil mengangguk-angguk pada siapa saja, seolah dia sedang menyetujui anggaran negara.

Kami dibawa masuk ke tenda komando yang penuh sesak dengan teknisi lokal India. Mereka terlihat stres, berkeringat, dan meneriakkan istilah-istilah teknis yang terdengar seperti bahasa alien di telingaku.

“Hydraulic pressure dropping!”

“Cooling system failure in Sector 4!”

Seorang pria India berperawakan kecil dengan rompi oranye kotor sedang berdebat dengan seorang perwira. Dia memegang tablet retak, wajahnya frustrasi.

“Tidak bisa, Pak! Kita butuh bypass manual! Tapi tidak ada yang cukup gila untuk turun ke sana!” teriak pria itu.

Perwira itu melihat kami datang. “Ah! Bantuan PBB datang! Unit Alpha!”

Pria berompi oranye itu menoleh. Matanya menyipit di balik kacamata debunya. Dia menatap kami satu per satu. Dia menatap Jeno yang kekar tapi mukanya bingung. Dia menatap Om Tio yang keringatan parah.

Lalu matanya terkunci pada Lusia.

Jantungku berhenti berdetak. Mampus. Tatapan orang ini beda. Dia tidak melihat “Dr. Lusia”. Dia melihat sesuatu yang lain. Dia menyipitkan mata, memiringkan kepala, lalu matanya membelalak lebar.

Dia berjalan cepat ke arah kami, mengabaikan perwira itu.

“Dokter...” sapanya, tapi nadanya ragu. “Dokter Lusia?”

Lusia menegakkan tubuh, mencoba tetap dalam karakter. “Benar. Saya Kepala Divisi Psikologi Massa. Ada masalah teknis yang bisa saya bantu, Insinyur...?”

Pria itu tidak menjawab soal teknis. Dia malah mendekatkan wajahnya, menatap tahi lalat kecil di pipi Lusia, lalu menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar.

“Oh my God...” bisiknya. “Kau... kau Ayla, kan? Ayla dengan nama panggung Lusia? Pemeran Fantine di Les Misérables produksi Jakarta 2019?!”

Hening.

Darahku dingin. Jeno memucat. Adrian tersedak ludahnya sendiri.

Tamat riwayat kami. Penyamaran terbongkar di lima menit pertama. Kami akan ditembak mati karena menipu PBB.

Lusia terpaku. Naluri Divanya bertarung dengan naluri bertahannya.

“Saya...” Lusia tergagap.

“Ssstt!” Pria itu tiba-tiba melihat kiri-kanan dengan panik. Dia melihat perwira di belakangnya yang mulai curiga.

Dengan gerakan cepat, pria itu menyambar lengan Lusia dan menarik kami semua ke balik tumpukan peti generator yang bising.

“Ikut saya! Cepat! Sebelum Inspektur Singh melihat kalian!” desisnya.

Kami diseret ke pojok tenda yang gelap. Pria itu melepaskan tangan Lusia, lalu melakukan hal yang paling tidak kami duga.

Dia berlutut.

“Mbak Ayla!” serunya tertahan, matanya berkaca-kaca. “Saya Ravi! Saya fans berat Mbak! Saya nonton streaming konser tunggal Mbak tiga kali! Lagu ‘Jeritan Hati’ itu anthem hidup saya waktu saya diputusin pacar!”

Aku bengong. Jeno bengong. Lusia... well, Lusia langsung tersenyum lebar, lupa kalau dunia mau kiamat.

“Oh ya ampun...” Lusia menyibakkan rambutnya yang lepek. “Fans jauh-jauh di Mumbai? Ternyata selera musikmu bagus juga, Ravi.”

“Lus! Fokus!” tegurku keras, menyadarkan dia dari star syndrome. Aku menarik kerah baju Ravi agar dia berdiri.

“Denger, Bro Ravi,” kataku tajam, mendekatkan wajahku yang sangar (berkat linggis). “Lo tau siapa kami sebenernya?”

Ravi mengangguk cepat. “Kalian bukan ilmuwan. Saya tahu. Saya hafal biografi Mbak Lusia. Dia lulusan SMA swasta, bukan PhD psikologi.”

“Terus kenapa lo nggak laporin kami? Lo mau kami mati?” tanyaku curiga.

Ravi menggeleng kuat. “Justru karena saya tahu kalian bohong, saya mau bantu! Kalau Inspektur Singh tahu kalian penipu, kalian bakal dilempar ke zona radiasi tanpa baju pelindung! Dia kejam!”

Ravi menatap Lusia dengan tatapan memuja.

“Lagipula... kalau dunia memang mau berakhir hari ini, saya lebih rela mati berjuang bareng idola saya daripada bareng bos saya yang galak.”

“Oke, itu valid,” komentar Adrian.

“Tapi Ravi,” potong Jeno, kembali ke mode panik. “Masalahnya kami beneran nggak ngerti mesin! Kami disuruh benerin tiang listrik raksasa itu! Kalau kami turun ke sana, kami Cuma bakal jadi daging panggang!”

Ravi menghela napas panjang. Wajah fanboy-nya berubah serius. Dia mengeluarkan tablet retaknya dan menunjukkan sebuah skema rumit yang penuh garis merah.

“Dengar. Sejujurnya... mesin ini tidak bisa diperbaiki.”

“Apa?” Lusia kaget. “Maksud kamu kita sia-sia ke sini?”

“Mesin ini sudah tua. Core Stabilizer ini dibangun pakai teknologi tahun 70-an. Suku cadangnya sudah nggak diproduksi. Porosnya sudah bengkok permanen,” jelas Ravi dengan cepat. “Secara teori, India harusnya sudah meledak dua jam lalu.”

“Terus kenapa belum meledak?” tanyaku.

“Karena saya menundanya,” Ravi menekan layar tabletnya. “Saya nemu bypass kode di sistem pendingin. Saya alihkan cadangan air dari bendungan kota buat nyiram intinya secara manual. Tapi itu Cuma bertahan sebentar.”

Ravi menatap kami dengan mata yang lelah tapi cerdas.

“Tapi saya punya rancangan. Blueprint darurat.”

Dia memperbesar gambar di tablet. Gambar itu menunjukkan serangkaian tuas manual di dasar mesin.

“Kita nggak perlu benerin mesinnya sampai baru. Kita Cuma perlu maksa dia buat Reset. Masalah utamanya bukan di kerusakan fisik...”

Ravi menatapku tajam.

“Masalahnya adalah Sinkronisasi.”

“Sinkronisasi?” ulangku.

“Iya,” Ravi mengangguk. “Mesin di Mumbai ini adalah Master Node. Dia terhubung sama ratusan mesin lain di seluruh dunia—New York, Tokyo, London. Kalau kita Reboot mesin ini sendirian, dia bakal nyala dengan frekuensi baru. Tapi mesin lain masih pake frekuensi lama.”

Ravi menggunakan tangannya untuk memeragakan tabrakan.

“Crash. Kalau frekuensinya nggak sama, lempeng bumi bakal saling tarik-menarik. Gempa global. Kita semua mati instan.”

“Jadi...” Vina menelan ludah. “Kita harus gimana?”

“Kita harus Reboot mesin ini,” kata Ravi. “Dan di detik yang sama, seluruh teknisi di seluruh dunia harus melakukan hal yang sama. Bersamaan. Sampai milidetik yang tepat.”

“Gila,” bisik Jeno. “Gimana caranya ngasih tau seluruh dunia buat tekan tombol barengan? Sinyal internet aja mati-nyala!”

Ravi tersenyum tipis. Dia menepuk bahu Lusia.

“Itulah kenapa saya senang kalian datang. Kami para teknisi Cuma bisa ngitung angka. Kami kaku. Tapi kalian...” Ravi menunjuk Lusia. “Kalian orang panggung. Kalian tau cara ngatur timing. Kalian tau cara ngasih komando biar orang nurut.”

“Saya bisa bantu kalian masuk ke ruang kontrol. Saya bisa kasih tau tuas mana yang ditarik, kabel mana yang dipotong biar kalian kelihatan pinter,” kata Ravi. “Saya bakal jadi otak kalian. Kalian tinggal jadi tangannya.”

“Tapi sebagai gantinya...” Ravi menatap Lusia malu-malu.

“Apa? Tanda tangan?” tanya Lusia.

“Nanti aja tanda tangannya kalau kita selamet,” kata Ravi. “Saya minta tolong... yakinkan dunia. Kalian Unit Alpha, kan? PBB percaya sama kalian. Gunakan otoritas palsu kalian buat merintahin Global Reboot.”

Aku menatap Ravi, lalu menatap Lusia. Takdir memang punya selera humor yang aneh. Di ujung dunia, kami diselamatkan oleh seorang fans garis keras yang kebetulan jenius.

“Oke, Ravi,” kataku, menjabat tangannya. “Lo resmi jadi kru kehormatan Unit Alpha. Jabatan lo: Prompter. Pembisik naskah.”

“Siap, Mas Asisten!” Ravi hormat canggung.

Tiba-tiba Inspektur Singh berteriak dari luar tumpukan peti. “UNIT ALPHA! TRUK SUDAH SIAP! KITA BERGERAK KE ZONA MERAH SEKARANG!”

Aku menepuk bahu Lusia. “Ayo, Dok. Waktunya akting lagi. Jangan kecewain fans nomor satu lo.”

Lusia membetulkan kacamatanya, menarik napas panjang, dan kembali memasang wajah dingin dan angkuh.

“Tentu saja,” kata Lusia. “Mari kita selamatkan dunia dengan gaya.”

Kami keluar dari persembunyian, diikuti oleh Ravi yang sekarang berpura-pura menjadi asisten lokal kami yang patuh. Kami berjalan menuju truk yang akan membawa kami ke perut bumi, membawa serta satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada bom nuklir:

Rencana nekat untuk mematikan dan menyalakan kembali Planet Bumi.

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags