Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku Mencintai Umat Manusia
MENU
About Us  

Pagi di dalam perut The Ark tidak dimulai dengan kokok ayam atau aroma kopi yang baru diseduh, melainkan dengan bunyi sirine yang terdengar seperti robot terjepit pintu.

NGIUNG... NGIUNG... NGIUNG...

“PERHATIAN SELURUH PERSONEL. PERSIAPAN BRIEFING TAKTIS DALAM T-MINUS 60 MENIT. MENU SARAPAN: BUBUR PROTEIN DAN HARAPAN KOSONG.” (Oke, bagian terakhir itu tambahan dari otakku).

Aku membuka mata, langsung disambut oleh pemandangan kaki berbulu Jeno yang menjuntai dari ranjang tingkat di atasku. Baunya luar biasa. Campuran antara apek kaus kaki yang dipakai seminggu lari dari kejaran kiamat dan aroma laut.

“Bangun, Cinderella,” gumamku sambil menendang kasur Jeno dari bawah. “Waktunya pentas.”

Kabin 404 ini benar-benar definisi sarden kaleng. Tujuh belas orang berdesakan di ruangan yang seharusnya Cuma gudang sapu. Adrian tidur meringkuk di lantai memeluk tasbih Ajo (entah kenapa dia yang pegang), Vina tidur sambil duduk bersandar di pintu dengan mulut terbuka, dan Om Tio mendengkur dengan irama yang menyaingi deru mesin reaktor kapal.

“Jam berapa sekarang?” tanya Adrian, mengucek mata sambil meraba-raba lantai mencari kacamata ‘intelektual’ yang dia temukan di reruntuhan kemarin.

“Jam enam pagi waktu kiamat,” jawabku, turun dari ranjang. “Ayo, Unit Alpha. Jangan malu-maluin Jakarta.”

Persiapan pagi itu adalah komedi tragis. Bayangkan tujuh belas orang berebut satu wastafel kecil yang airnya keluar menetes-netes seperti air mata buaya.

“Minggir, Tuyul! Gue mau cuci muka!” bentak Vina, mendorong Adrian yang sedang sibuk bercermin.

“Sabar dong, Kak! Gue lagi latihan ekspresi ‘Ahli Logistik’ nih,” Adrian mematut diri, mengerutkan dahi, lalu mengangguk-angguk sok serius. “Hmm... Supply chain... Distribusi... Kargo... Gimana? Udah kelihatan pinter belum?”

“Kelihatan kayak orang nahan boker,” komentar Jeno datar sambil memakai rompi las-nya (yang sekarang jadi ‘seragam dinas’ Insinyur Struktur).

Lusia, yang entah bagaimana sudah bangun lebih dulu dan terlihat glowing (mungkin dia punya stok rahasia sheet mask), menepuk tangan.

“Fokus, teman-teman! Fokus!” Lusia mengambil peran sutradara pagi ini. “Ingat backstory kalian. Jeno, kamu lulusan ITB (Institut Tukang Bangunan), jangan kebanyakan ngomong, cukup pamer otot. Adrian, kalau ditanya soal logistik dan kamu nggak tahu jawabannya, pura-pura aja marah sama birokrasi.”

“Siap, Dok!” seru Adrian. “Marah sama birokrasi. Keahlian gue banget.”

Kami berbaris keluar menuju Ruang Strategi Utama. Di sepanjang lorong, kami berpapasan dengan tim-tim lain. Ada tim dokter dari Jerman yang jalannya kaku, ada tim insinyur Jepang yang berdiskusi sambil jalan cepat.

Dan ada kami, rombongan lenong yang berjalan dengan dagu diangkat setinggi langit, berusaha terlihat seperti kami tahu apa itu ‘Fisika Kuantum’.

Masuk ke Ruang Strategi rasanya seperti masuk ke set film Star Wars. Layar-layar raksasa menampilkan peta bumi yang berkedip merah. Puluhan ilmuwan dengan jas lab putih yang sudah kusam berteriak-teriak satu sama lain.

Suasananya panas. Bukan karena AC mati, tapi karena sedang ada perdebatan sengit.

Kami menyelinap masuk ke barisan belakang.

“...INI GILA! MUMBAI ITU ZONA MATI!” teriak seorang ilmuwan berambut putih acak-acakan (namanya Dr. Ivanov, kalau tidak salah). Dia menunjuk peta India yang merah menyala. “Suhu di sana 50 derajat! Kita kirim orang ke sana sama saja kita kirim sosis ke panggangan!”

“Kita tidak punya pilihan, Ivanov!” balas ilmuwan lain, wanita berkacamata tebal bernama Dr. Sarah. “Mumbai adalah Node Zero! Itu patokannya!”

“Patokan apanya?! Sistemnya sudah hancur!”

Aku menyikut Om Tio. “Dengerin, Om. Itu materi buat akting nanti.”

Kolonel Sander (si perwira berminyak kemarin) memukul meja. “DIAM SEMUA!”

Hening. Sander menatap peta dunia itu dengan lelah. Dia menekan tombol, dan sebuah hologram bola bumi muncul di tengah ruangan. Bola bumi itu dikelilingi oleh jaring-jaring cahaya biru yang saling terhubung.

“Bagi Unit Alpha yang baru bergabung,” Sander melirik kami (aku mengangguk sok paham), “Biar saya jelaskan kenapa kalian harus ke India.”

“Bumi ini berputar pada porosnya bukan karena sihir. Ada ratusan Core Stabilizer yang ditanam 70 tahun lalu untuk menjaga momentum rotasi. Bayangkan gasing yang dikasih pemberat di berbagai sisi supaya putarannya stabil.”

Sander menunjuk titik-titik cahaya di peta.

“Semua mesin ini saling terikat. Mereka punya konfigurasi. Kalau satu mesin di London berputar dengan kecepatan X, maka mesin di New York harus berputar dengan kecepatan Y untuk mengimbanginya. Ini tarian yang sempurna.”

Lalu, dia menunjuk titik Mumbai. Titik itu berkedip hitam.

“Masalahnya, mesin di Mumbai ini... dia pemimpin tariannya. Dia Conductor-nya. Dia yang mengatur tempo untuk seluruh belahan bumi timur.”

“Saat ini,” potong Dr. Sarah, “Mesin Mumbai rusak parah. Dia berputar off-beat. Dan karena dia pemimpin, mesin-mesin lain di sekitarnya—Jakarta, Tokyo, Bangkok—jadi bingung. Mereka mencoba mengikuti tempo Mumbai yang salah. Akibatnya?”

Dr. Sarah menekan tombol lain. Gambar kerak bumi di peta mulai bergeser.

“Ketidakseimbangan massa. Mantel bumi di bawah Asia mulai saling tabrak karena rotasinya tidak sinkron. Kalau Mumbai tidak diperbaiki dalam 24 jam...”

Dr. Ivanov melanjutkan dengan nada suram, “Lempeng Eurasia akan patah. Dan kita semua akan jatuh ke dalam magma.”

“Makanya!” teriak Ivanov lagi. “Memperbaiki Mumbai itu mustahil! Kita harusnya putuskan koneksinya! Biarkan India hancur, kita selamatkan sisanya!”

“Kalau kita putuskan koneksinya, rotasi bumi akan pincang selamanya! Siang dan malam jadi tidak beraturan!” bantah Sarah.

Perdebatan pecah lagi. Ivanov mau mengamputasi India. Sarah mau menyelamatkannya.

Di tengah keributan itu, Lusia maju selangkah.

Dia tidak membawa data. Dia tidak membawa kalkulator. Dia Cuma membawa aura “Ibu Ratu” yang biasa dia pakai untuk membubarkan tawuran kru panggung.

“Ehem,” dehem Lusia. Suaranya tidak keras, tapi anehnya terdengar jelas di tengah teriakan para profesor.

Semua menoleh.

“Maaf menyela perdebatan akademis kalian,” kata Lusia tenang, membetulkan letak kacamata retaknya. “Tapi saya Dr. Lusia, Psikologi Massa.”

“Psikologi?” Ivanov mendengus. “Apa gunanya psikolog di sini? Kita butuh Fisikawan!”

“Justru karena kalian Fisikawan, kalian lupa satu hal,” Lusia tersenyum tipis, berjalan memutari meja hologram. “Kalian bicara soal mesin seolah-olah dia benda mati. Master Node, Conductor, Leader...”

Lusia menatap Ivanov tajam.

“Kalau pemimpin sedang sakit, apa solusinya? Dibunuh? Diamputasi? Atau diobati?”

“Ini mesin, Nyonya! Bukan manusia!”

“Konsepnya sama, Profesor!” bentak Lusia (keluar sedikit aslinya). “Kalau Mumbai adalah pemimpin tariannya, dan dia sedang salah langkah... mungkin dia Cuma butuh partner dansa yang baru untuk menuntunnya kembali ke irama.”

Lusia menunjuk tim kami—aku, Jeno, Ajo, dan yang lain yang berdiri kikuk di belakang.

“Tim saya bukan orang yang suka membuang aset. Kami spesialis ‘Terapi Manual’. Kami tidak akan memotong Mumbai. Kami akan turun ke sana, memegang tangannya, dan memaksanya menari dengan benar lagi.”

Hening. Metafora Lusia terdengar sangat tidak ilmiah, sangat bodoh, tapi entah kenapa... sangat meyakinkan.

Kolonel Sander tersenyum miring.

“Unit Alpha berangkat,” putus Sander. “Dr. Ivanov, kalau Anda takut panas, silakan duduk di ruangan ber-AC ini. Biarkan para ‘Psikolog’ ini bekerja.”

Ivanov mendengus kesal, melempar penanya, lalu keluar ruangan.

“Menari dengan mesin...” bisik Adrian padaku. “Sumpah, si Lusia kalau bohong kenapa puitis banget ya?”

“Bakat alam, Yan. Bakat alam,” jawabku.

Perjalanan ke India adalah siksaan dalam bentuk lain.

Kami dimasukkan ke dalam pesawat kargo militer C-130 Hercules yang bisingnya minta ampun. Tidak ada pramugari, tidak ada makanan enak, Cuma ada bangku jaring yang membuat pantat tepos.

Perjalanan memakan waktu lima jam. Lima jam penuh kebosanan dan kecemasan.

Jeno, yang seharusnya menjadi Insinyur Struktur, menghabiskan waktu dengan menatap langit-langit pesawat.

“Yan,” teriaknya mengatasi suara mesin. “Ini las-lasannya jelek banget! Liat tuh, ada celah di rangka atas! Kalau gue yang ngelas, gue jamin lebih rapi!”

“Diem, Jen! Jangan kritik pesawat yang lagi kita naikin!” balasku.

Sementara itu, Adrian mencoba mengakrabkan diri dengan tentara pengawal yang duduk di seberang kami.

“Jadi, Pak...” teriak Adrian sambil menunjuk senjata laras panjang si tentara. “Itu pelurunya kaliber berapa? Logistiknya lancar? Supply chain aman?”

Tentara itu menatap Adrian datar dari balik masker gasnya. Tidak menjawab.

“Oke, copy that. Rahasia negara ya,” Adrian nyengir kuda, lalu kembali duduk diam sambil memilin-milin tasbih Ajo.

Di sudut lain, Vina sedang melakukan hal yang paling Vina banget: Manicure di tengah perang. Dia mengeluarkan kikir kuku dari saku rompi medisnya.

“Vin, lo ngapain?” tanyaku heran.

“Kuku gue patah tadi pas ngangkat koper,” jawabnya santai. “Gue nggak mau mati dengan kuku jelek. Nanti kalau mayat gue ditemuin, gue mau kelihatan slay.”

“Prioritas lo emang ajaib,” gumamku.

Ajo, di sisi lain, duduk diam memeluk ulekan batunya. Sejak dari desa ibunya, dia jadi pendiam. Tapi bukan diam sedih, melainkan diam fokus. Seperti petarung yang sedang meditasi sebelum masuk ring.

Dan Lusia?

Dia duduk di sebelahku. Wajahnya pucat. Mabuk udaranya kumat. Dia bersandar di bahuku, matanya terpejam.

“Will,” bisiknya lemah.

“Ya, Dok?”

“Kalau nanti kita mati di India... tolong pastiin di berita obituari, foto yang dipake foto profil Instagram aku yang tahun 2024 ya. Yang pake dress merah. Jangan yang foto KTP. Foto KTP aku jelek, kayak buronan.”

Aku tertawa kecil. “Siap, Nyonya. Ada pesen lain?”

“Sama satu lagi...”

“Apa?”

“Tolong bilangin ke Ivanov tadi... wig-nya miring ke kiri. Aku gatel pengen benerin dari tadi.”

Aku menggelengkan kepala. “Tidur, Lus. Tidur.”

Pesawat berguncang hebat. Lampu tanda sabuk pengaman menyala.

“APPROACHING MUMBAI AIRSPACE!” suara pilot terdengar di speaker. “BRACE FOR TURBULENCE! THE HEAT THERMALS ARE CRAZY DOWN THERE!”

Aku melihat ke luar jendela kecil.

Di bawah sana, India terlihat seperti kuali raksasa yang sedang mendidih. Asap hitam membumbung tinggi. Dan di tengah-tengahnya, menara Core Stabilizer berdiri tegak, memancarkan gelombang panas yang membuat udara bergetar.

Misi bunuh diri dimulai. Dan senjata kami Cuma ulekan batu, las listrik, kikir kuku, dan mulut besar Lusia.

Tuhan, tolong kami.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags