Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku Mencintai Umat Manusia
MENU
About Us  

“Tapi Ravi,” potong Jeno, wajahnya masih pucat pasi. “Masalahnya kami beneran nggak ngerti mesin! Kami disuruh benerin tiang listrik raksasa itu! Kalau kami turun ke sana, kami Cuma bakal jadi daging panggang!”

Ravi menghela napas panjang. Wajah fanboy-nya lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata seorang insinyur yang memikul beban dunia. Dia mengeluarkan tablet retaknya, membuka sebuah simulasi holografik bumi yang berputar.

“Dengar. Kalian harus paham dulu apa yang sebenarnya kita hadapi. Kalian pikir mesin ini Cuma paku bumi biar tanah nggak gerak?”

Kami mengangguk mengiyakan serempak.

“Bukan,” Ravi menekan layar tabletnya. Gambar bumi itu melambat. “Bumi ini... intinya sudah dingin. Dia sudah lelah. Secara alami, rotasi bumi seharusnya sudah melambat drastis. Kalau itu terjadi, satu sisi bumi bakal terpanggang matahari selamanya, sisi lainnya beku abadi. Kiamat atmosferik.”

Ravi menunjuk menara hitam di kejauhan.

“Mesin-mesin ini... Core Stabilizer... ini adalah motor penggerak. Merekalah yang memutar bumi secara artifisial. Mereka menciptakan getaran masif yang menembus mantel, mencengkeram inti, dan memaksa planet ini tetap berputar 24 jam sehari.”

“Oke, jadi ini mesin gasing raksasa,” potong Adrian mencoba menyimpulkan.

“Tepat,” kata Ravi cepat. “Tapi bayangkan ada ratusan gasing yang saling terikat tali. Mereka harus berputar dengan kecepatan yang persis sama. Membentuk jaringan yang kompleks. Kalau satu saja mesin melenceng... tali itu kusut.”

Ravi memperbesar gambar simulasi. Garis-garis merah muncul di kerak bumi.

“Ini bukan soal mesin rusak. Ini soal Sinkronisasi Gerak. Kalau mesin Mumbai ini—yang merupakan Master Node—bergetar dengan frekuensi yang salah, dia tidak akan memutar lempeng India searah dengan lempeng lainnya. Lempeng di bawah kaki kita ini bakal bingung. Dia akan bergerak liar. Tanpa arah.”

“Dan kalau dia bergerak liar?” tanya Vina ngeri.

“Tabrakan lempeng tektonik,” jawab Ravi dingin. “Lempeng India akan menghantam Eurasia bukan dalam hitungan juta tahun, tapi hitungan menit. Kerak bumi akan saling melipat, gunung baru akan muncul instan, dan kita semua yang ada di atasnya bakal tergencet seperti lalat di antara dua telapak tangan.”

Hening. Suara bising generator di sekitar kami mendadak terasa jauh. Yang terdengar hanya desau angin panas yang membawa debu kematian.

“Itu sebabnya perbaikannya mustahil,” lanjut Ravi, suaranya merendah, sarat keputusasaan. “Jaringan ini sudah cacat. Beberapa mesin krusial sudah hancur total. Indonesia...”

Ravi menatap kami.

“Mesin di Indonesia sudah mati total sejak minggu lalu. Itu lubang besar dalam jaringan. Tanpa Indonesia, beban Mumbai jadi dua kali lipat. Kita mencoba menyeimbangkan tarian yang kakinya sudah pincang sebelah.”

“Jadi kita mati?” tanya Lusia pelan. Matanya tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan semacam penerimaan yang menyedihkan.

“Hampir,” jawab Ravi jujur. “Kecuali...”

“Kecuali apa?” desakku.

“Kecuali kita berhenti mencoba memperbaiki mesinnya, dan mulai memperbaiki iramanya.”

Ravi menunjukkan skema tuas manual di tabletnya lagi.

“Kita tidak bisa menghidupkan kembali mesin Indonesia yang rusak. Itu mustahil. Tapi kita bisa memaksa mesin Mumbai—dan seluruh mesin lain di dunia—untuk melakukan Hard Reboot serentak.”

“Buat apa?” tanyaku.

“Untuk menciptakan pola getaran baru,” jelas Ravi, matanya berbinar gila. “Pola baru yang mengabaikan titik-titik yang rusak. Kita harus mengajarkan bumi cara berputar lagi dengan kaki yang pincang. Kita harus mencari keseimbangan baru.”

“Tapi risikonya...” Ravi menelan ludah. “Semua mesin di dunia harus dimatikan dan dinyalakan lagi di detik yang sama persis. Sampai ke milidetik. Kalau sinkronisasinya gagal saat nyala... lempeng bumi akan lepas kendali total. Kita mempercepat kiamat dari hitungan hari jadi hitungan detik.”

Aku menatap Ravi. Ini gila. Ini judi terbodoh dalam sejarah manusia.

“Kita butuh komando,” kata Ravi, kembali menatap Lusia. “Para teknisi di seluruh dunia sedang panik. Mereka butuh satu suara yang memerintahkan mereka untuk menekan tombol barengan. Mereka butuh Conductor.”

Ravi tersenyum tipis pada Lusia.

“Dunia butuh orang yang terbiasa mengatur tempo, Mbak Ayla. Dan Mbak... Mbak jagonya bikin satu stadion tepuk tangan barengan, kan?”

Lusia terdiam. Dia menatap tangannya. Tangan yang biasa memegang mikrofon untuk menyanyi, kini harus memegang mikrofon untuk mengatur detak jantung planet.

“Oke,” kata Lusia. Dia membetulkan kacamatanya yang retak. Postur tubuhnya tegak kembali. Karakter Dokter Lusia dan Diva Ayla melebur menjadi satu.

“Ravi, kamu jadi mata saya. Kamu kasih tau kapan harus masuk, kapan harus fade out.” Lusia menatap kami semua. “Dan kalian... Unit Alpha... pastikan saya nggak mati sebelum encore.”

“Siap, Dok!” sahut kami serempak.

“UNIT ALPHA! TRUK SUDAH SIAP! KITA BERGERAK KE ZONA MERAH SEKARANG!” teriakan Inspektur Singh menggelegar dari luar tumpukan peti.

Aku menepuk bahu Ravi. “Ayo, Prompter. Waktunya kerja.”

Kami keluar dari persembunyian. Ravi dengan sigap berubah peran menjadi asisten lokal yang tunduk, berjalan di belakang Lusia sambil membawa tablet.

Kami berjalan menuju truk militer yang mesinnya sudah menderu, siap mengantar kami ke mulut neraka. Di depan sana, menara hitam itu menjulang, bergetar dengan irama yang salah, siap menghancurkan benua jika kami terlambat satu ketukan saja.

 

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags