Kami kembali ke bus dengan energi yang berbeda. Bus Si Manis meraung, bannya menggerus tanah hangus saat Reman menginjak gas dalam-dalam. Kami meninggalkan Desa Karang Asri yang telah menjadi nekropolis, meninggalkan abu ibu Ajo yang kini menyatu dengan angin.
Kehilangan waktu satu jam membuat Reman mengemudi seperti orang kesetanan. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang berteriak takut saat bus miring di tikungan tajam. Kami semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Aku duduk di kursi navigator, menatap jalanan retak yang meliuk di depan. Mataku melirik spion tengah.
Ajo duduk mematung di belakang, memeluk ulekan batunya seolah itu bayi. Lusia sedang memperbaiki make-up-nya yang luntur oleh air mata, wajahnya keras namun matanya nyalang. Jeno, Adrian, Vina, dan yang lain duduk tegak.
Dulu, aku sering bertanya-tanya: Apa gunanya seni di dunia yang sedang sekarat?
Pertanyaan itu terjawab hari ini.
Saat dunia runtuh dan logika mengatakan “tinggalkan yang mati”, seni membuat kami berhenti. Seni—lewat sandiwara warung makan tadi—memberi ruang bagi Ajo untuk menjadi manusia, bukan sekadar hewan yang lari dari bencana.
Kalimat itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Judul naskah usang yang pernah kutulis saat kuliah dan ditolak dosen karena terlalu pretensius: Aku Mencintai Umat Manusia.
Dulu, aku menulisnya dengan sinis. Aku pikir aku membenci manusia. Manusia itu serakah, perusak, dan bising. Tapi melihat tujuh belas orang buangan ini... melihat bagaimana mereka merawat luka satu sama lain dengan kebohongan yang indah... aku sadar aku salah.
Aku tidak mencintai umat manusia karena kehebatan teknologinya atau kekuatan fisiknya. Aku mencintai umat manusia karena kerapuhannya. Karena kemampuannya untuk menangis, untuk berimajinasi, dan untuk mencintai sesuatu yang sudah hilang.
Dan itulah yang akan kami bawa ke kapal besi itu. Bukan kemampuan memperbaiki mesin, tapi kemampuan untuk tetap merasa, saat dunia menuntut kami untuk mati rasa.
Tiga jam kemudian.
“Liat depan,” bisik Reman, suaranya tegang memecah lamunanku.
Di ujung cakrawala, laut terlihat. Tapi itu bukan laut yang biasa kami lihat di brosur wisata. Airnya berwarna kelabu pekat, ombaknya tinggi dan ganas menghantam sisa-sisa dermaga.
Dan di sana, mengapung di atas kematian itu, adalah The Ark.
Kapal Induk PBB. Raksasa baja hitam yang panjangnya mungkin setara tiga lapangan bola. Lampu sorot dari deknya menembus kabut, menciptakan pilar-pilar cahaya yang menyilaukan. Helikopter Chinook terbang rendah seperti lalat di sekitar bangkai gajah.
Itu adalah monumen puncak pencapaian umat manusia: Dingin. Efisien. Dan menakutkan.
Namun, di antara kami dan kapal itu, ada Purgatorium.
Pos pemeriksaan militer terakhir.
Jalanan macet total oleh kendaraan militer. Tank baja parkir di sisi jalan, moncong meriamnya mengarah ke antrian. Kawat berduri membentang. Ratusan tentara dengan seragam lengkap dan wajah tertutup masker gas mondar-mandir.
Terdengar suara tembakan peringatan. DOR! Lalu jeritan orang-orang yang ditolak masuk.
“Anjir... tentara beneran, Yan,” suara Reman gemetar lagi. “Senjatanya asli.”
Aku menoleh ke belakang. Menatap kru-ku.
“Dengerin gue,” kataku pelan tapi tajam. “Di luar sana, mereka punya senjata. Mereka punya tank. Mereka punya otoritas buat nentuin siapa yang idup dan siapa yang mati.”
Aku menunjuk dada mereka satu per satu.
“Tapi mereka nggak punya apa yang kita punya. Mereka Cuma robot yang jalanin perintah. Kita? Kita adalah penyampai pesan. Kita adalah jiwa.”
Aku menatap Ajo.
“Jo, lo bukan lagi koki yang kehilangan Ibu. Lo adalah Kepala Logistik yang marah karena dunia hampir bikin lo gagal ngasih makan orang. Pake rasa sakit lo tadi. Jadiin bahan bakar.”
Ajo mengangguk pelan. Dia mengelus ulekan batunya. Wajah jenakanya sudah mati, digantikan tatapan dingin seorang pria yang tidak lagi takut pada apa pun.
“Lusia... Dokter Lusia siap?”
Lusia memasang kembali kacamata retaknya. Dia menegakkan punggung. Aura Divanya melebur dengan aura otoritas palsu yang dia ciptakan.
“Panggung sudah siap, Asisten,” jawabnya dingin. “Ayo kita ajari tentara-tentara itu apa artinya intimidasi.”
Bus merayap mendekat. Jantungku berpacu, tapi anehnya, pikiranku jernih.
Seorang tentara bule berperawakan raksasa mengangkat tangan.
“HALT! ENGINE OFF!”
Reman mematikan mesin. Hening yang mencekam. Tentara itu berjalan mendekat, mengetuk pintu bus dengan popor senapan laras panjang.
KANG! KANG!
“DOCUMENTS! IDENTIFICATION!”
Aku menekan tombol pembuka pintu. Cesssss.
Aku tidak turun dengan tangan gemetar. Aku turun dengan langkah cepat, membanting pintu, dan langsung menunjuk wajah tentara itu sebelum dia sempat bicara. Aku menyalurkan seluruh amarahku pada ketidakadilan dunia ini ke dalam suaraku.
“KAMU NGAPAIN NAHAN KITA?!” bentakku dalam bahasa Inggris yang fasih.
Tentara itu tersentak kaget.
“Kita udah telat 3 jam! Kamu tau kenapa?! Karena kebakaran di sektor pemukiman hampir memanggang habis unit logistik kita!” Aku menunjuk bus yang gosong dan penuh debu. “Core Stabilizer di Pasifik nggak bisa nunggu birokrasi sampah kayak gini!”
Tentara itu mundur selangkah, bingung. “Who... who are you?”
“Saya William, Kepala Operasional Unit Alpha! Saya bawa Insinyur Struktur, Ahli Geologi, dan Dokter Psikologi Massa!”
Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, menatap matanya tajam.
“Kalau kamu nahan kita lima menit lagi, dan buminya runtuh gara-gara teknisi saya telat, SAYA PASTIKAN NAMA KAMU ADA DI BARIS PERTAMA LAPORAN KEMATIAN PBB! PAHAM?!”
Tentara itu ragu. Dia melihat bus rongsokan kami. Keraguan adalah celah.
“I need to check the personnel,” katanya defensif.
“CEK AJA!” tantangku. “Tapi kalau mereka lagi kalibrasi alat dan kamu ganggu, itu tanggung jawab kamu!”
Tentara itu naik ke dalam bus. Udaranya berat di dalam.
Dia menatap Om Tio yang duduk sambil memijat pelipis, berpura-pura pusing memikirkan rumus.
“Specialty?”
“Lithospheric Integrity Analysis,” jawab Om Tio dengan suara bariton yang dalam dan bosan. “Saya menganalisis retakan batu sebelum batu itu mengubur anak istrimu. Ada pertanyaan lain? Atau saya boleh lanjut kerja?”
Tentara itu terintimidasi. Dia beralih ke Jeno.
“And you?”
“Structural Welding,” jawab Jeno singkat, memamerkan lengan berototnya yang penuh oli.
Lalu dia berhenti di depan Ajo.
Ajo duduk di kursi paling gelap. Dia tidak menatap tentara itu. Dia menatap ulekan batu di pangkuannya. Matanya merah, bengkak, tapi sorotnya kosong dan menakutkan. Seperti orang yang baru saja melihat neraka.
“And you?” tanya tentara itu, nadanya sedikit ragu melihat aura Ajo.
Ajo mengangkat wajahnya perlahan. Dia menatap tentara itu tepat di mata.
“Logistic & Supply Chain,” geram Ajo. Suaranya bukan suara akting. Itu suara duka yang dipadatkan menjadi ancaman.
Dia mengangkat sedikit ulekan batunya.
“Gue yang pastiin perut kalian nggak laper pas kiamat. Tanpa gue, kalian semua kanibal dalam tiga hari. Minggir.”
Tentara itu menelan ludah. Dia tidak tahu benda apa yang dipegang Ajo—mungkin dia pikir itu alat geiger atau komponen reaktor kuno—tapi dia merasakan bahaya dari pria itu.
Dia mundur. Terakhir, dia berhenti di depan Lusia.
“Ma’am?”
Lusia sedang mencatat di buku kecilnya. Dia menutup buku itu dengan keras. PLAK. Suaranya menggema di kabin besi.
Dia membuka kacamata retaknya, menatap tentara itu dari ujung kaki sampai kepala. Tatapan yang biasa dia pakai untuk menilai make-up artist yang kerjanya berantakan.
“Kamu...” kata Lusia pelan, nadanya analitis.
“Pupil matamu melebar. Tanganmu tremor di pelatuk. Napasmu pendek dan dangkal.”
Lusia berdiri, mendekat ke tentara itu. Dia membalikkan keadaan. Dia bukan lagi korban yang diperiksa, dia adalah dokter yang sedang mendiagnosis pasien.
“Kamu mengalami Gejala Stres Pasca-Trauma tingkat 3. Kamu kurang tidur, dan kamu ketakutan setengah mati kalau kamu nggak bakal dapet tempat di kapal itu. Benar?”
Mata tentara itu membelalak. Topeng militernya runtuh. Dia hanyalah manusia biasa yang takut mati, sama seperti kami.
“Uh... yes, Ma’am.”
“Atur napas,” perintah Lusia tegas tapi ada nada kemanusiaan di sana. “Tarik 4 detik. Tahan 7 detik. Buang 8 detik. Lakukan sekarang sebelum kamu pingsan dan bikin malu seragammu.”
Tentara itu menurut secara refleks. Dia menarik napas.
“Good,” kata Lusia. “Sekarang turun. Dan biarkan kami lewat. Kami mau menyelamatkan nyawamu.”
Tentara itu mengangguk, seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.
“Alright. Looks legit. Go! Go!”
Dia melompat turun dari bus, lalu berteriak ke pos penjagaan. “OPEN GATE 4! PRIORITY UNIT! ALPHA TEAM!”
Besi barikade berat digeser. Jalan menuju dermaga terbuka lebar.
Aku naik kembali ke kursi navigator. Pintu bus tertutup.
“Jalan, Man... pelan-pelan...” bisikku, kakiku terasa seperti jeli.
Reman menginjak gas. Bus Unit Alpha One melaju melewati barisan tentara yang memberi hormat.
Begitu kami masuk ke area pelabuhan dan pintu gerbang tertutup di belakang kami, keheningan di dalam bus pecah.
“Gila...” Adrian merosot ke lantai, memegangi dadanya. “Jantung gue mau copot...”
Lusia melepas kacamatanya. Tangannya gemetar hebat sampai dia menjatuhkan buku catatannya. Dia menatapku, matanya berkaca-kaca.
“Will... tadi itu...”
“Lo hebat, Lus,” potongku, tersenyum bangga. “Lo nggak Cuma nipu dia. Lo ngeliat dia sebagai manusia.”
“Kita berhasil?” tanya Jeno tak percaya.
Aku menatap ke depan. Bayangan The Ark menutupi seluruh kaca depan bus. Kami sudah di dalam perut monster itu.
“Kita berhasil masuk,” jawabku. “Tapi ini baru prolog.”
Aku menoleh ke belakang, menatap kru-ku. Mereka kotor, lelah, dan trauma. Tapi mereka hidup. Dan entah bagaimana, di tengah kepalsuan identitas ini, mereka terasa lebih nyata daripada siapa pun di luar sana.
Aku mencintai umat manusia. Dan tujuh belas orang di dalam bus ini adalah buktinya.
“Oke, Tim Penipu,” bisikku. “Babak satu dimulai. Tujuan kita India.”
***
Masuk ke dalam perut The Ark rasanya seperti ditelan oleh paus besi raksasa yang sedang sakit maag kronis. Lorong-lorongnya sempit, berbau oli terbakar dan keringat ribuan orang pintar yang sedang panik. Dinding-dinding bajanya bergetar rendah, humming dari mesin reaktor nuklir yang menjadi jantung kapal ini.
Kami—tujuh belas penipu dari grup teater—digiring melewati hanggar utama. Pemandangannya surealis. Di kiri-kanan, tumpukan peti kemas logistik menjulang seperti gedung pencakar langit. Di sela-selanya, para “orang berguna” menggelar tikar darurat.
Aku melihat sekumpulan insinyur Jepang sedang berdebat sengit di depan papan tulis yang penuh rumus matematika. Di sudut lain, tim dokter dari Eropa sedang melakukan triase pada peralatan medis yang baru dibongkar.
Dan di tengah-tengah mereka, berjalanlah kami: Unit Alpha. Tim elit (palsu) yang dipimpin oleh seorang asisten pribadi dan aktris manja.
“Jangan melongo,” bisikku pada Adrian yang mulutnya terbuka lebar melihat robot lengan mekanik sedang mengangkut torpedo. “Tutup mulut lo. Orang pinter nggak kagum sama robot. Orang pinter bosen sama robot.”
Adrian langsung menutup mulutnya, memasang wajah cemberut yang dipaksakan.
Kami dibawa ke sebuah ruangan briefing sempit di Dek C. Di sana, seorang perwira tinggi dengan seragam kotor dan mata merah menyambut kami. Di belakangnya, layar monitor raksasa menampilkan peta bumi yang berkedip-kedip merah.
“Selamat datang di neraka, hadirin sekalian,” sapa perwira itu tanpa basa-basi. Namanya Kolonel Sander (bukan penjual ayam goreng, tapi wajahnya sama berminyaknya).
“Kalian adalah gelombang terakhir spesialis yang berhasil kami angkut. Tugas kalian sederhana: Membeli waktu.”
Kolonel Sander menekan tombol. Gambar di layar berubah. Menampilkan struktur mesin raksasa yang tertanam jauh di kerak bumi. Bentuknya seperti paku bumi raksasa dengan cincin-cincin energi.
“Ini adalah Core Stabilizer,” jelas Sander. “Dibangun tujuh puluh tahun lalu saat kerak bumi pertama kali retak akibat penambangan inti. Mesin ini yang menjahit lempeng tektonik kita agar tidak buyar.”
Hening. Aku melirik Lusia. Dia mengangguk-angguk serius, seolah dia paham betul soal geofisika. Padahal aku tahu, satu-satunya “stabilizer” yang dia tahu adalah hair spray agar rambutnya tidak megar.
“Masalahnya,” lanjut Sander, suaranya merendah. “Kita terlalu nyaman. Kita pikir mesin ini abadi. Kita lupa merawatnya. Dan sekarang... oli-nya kering. Porosnya bengkok. Sistem pendinginnya mati.”
Dia menatap kami satu per satu. Tatapannya putus asa.
“Bumi sedang sekarat, Bapak-Ibu. Mesin-mesin penopang hidup planet ini sedang batuk darah. Kita tidak bisa memperbaikinya total—teknologinya sudah hilang. Tapi kita bisa menambalnya. Kita bisa memperpanjang napas bumi seminggu, sebulan, mungkin setahun. Walau pemerintah dunia sudah menyerah, setidaknya kita mencoba bertahan sedikit lagi.”
“Itulah tugas kalian di India nanti,” Sander menunjuk peta Mumbai. “Ada terminal akses manual di sana. Kalian harus masuk ke perut bumi, dan paksa mesin itu jalan lagi. Pukul pakai kunci inggris kalau perlu. Yang penting dia berputar.”
“Ada pertanyaan?”
Keheningan yang canggung. Jeno mengangkat tangan sedikit, tapi aku buru-buru menginjak kakinya.
“Tidak ada, Kolonel,” jawab Lusia tiba-tiba. Suaranya tenang, berwibawa. “Tim saya butuh istirahat sebelum kalibrasi strategi. Efisiensi otak menurun kalau kurang tidur.”
Sander menghela napas panjang, terlihat lega ada yang mengambil kendali.
“Bagus. Saya suka gaya Anda, Dok. Efisien. Kalian dapat Kabin 404 di Lorong B. Istirahatlah. Besok kita mulai kerja rodi.”
Kabin 404 ternyata bekas gudang penyimpanan sapu yang disulap jadi kamar tidur. Sempit, pengap, dan hanya ada empat tempat tidur tingkat untuk tujuh belas orang.
“Gila,” keluh Vina, melempar tasnya. “Ini mah lebih sempit dari kost-kostan gue pas kuliah.”
“Syukuri, Vin,” kata Om Tio, merebahkan punggung tuanya di kasur tipis. “Setidaknya nggak goyang-goyang kayak bus.”
Kru yang lain langsung tepar. Kelelahan fisik dan mental menghantam mereka seketika. Dalam sepuluh menit, suara dengkuran Jeno dan Reman sudah bersahutan, menciptakan simfoni ngorok yang harmonis.
Aku tidak bisa tidur. Aku keluar dari kabin, mencari udara segar (atau setidaknya udara yang tidak bau kaki Jeno).
Aku menemukan balkon kecil di ujung lorong, menghadap ke laut lepas yang gelap gulita. Angin laut menampar wajahku, dingin dan asin.
“Asisten.”
Aku menoleh. Lusia berdiri di ambang pintu besi. Dia sudah melepas blazer dokter palsunya. Rambutnya yang tadi dicepol ketat kini terurai berantakan ditiup angin. Dia memegang sepatu bot di tangannya, bertelanjang kaki di atas lantai baja yang dingin.
“Ngapain di sini, Nyonya Ratu?” tanyaku, menggeser tubuh memberi ruang.
“Kakiku mau copot,” keluhnya, berjalan terpincang-pincang mendekatiku. “Sepatu bot kamu ini... ini penyiksaan, Will. Gimana caranya kamu bisa lari-lari pake beginian?”
“Itu karena kaki saya kaki rakyat jelata, Lus. Kaki pekerja. Bukan kaki putri keraton yang biasa diurut pake minyak zaitun.”
Lusia mendengus, tapi dia tersenyum tipis. Dia bersandar di pagar pembatas, di sebelahku. Bahu kami bersentuhan.
“Will,” panggilnya pelan.
“Hmm?”
“Tadi... pas Kolonel itu ngomong soal mesin bumi yang rusak...” Lusia menatap ombak hitam di bawah sana. “Aku ngerasa aneh.”
“Aneh kenapa? Takut ketahuan bego?”
“Bukan,” Lusia menggeleng. “Aku ngerasa... familiar.”
Dia menatapku.
“Mesin canggih yang dipaksa kerja terus-terusan, yang dari luar kelihatan gagah tapi dalemnya udah karatan, olinya kering, porosnya bengkok, tapi tetep dipaksa muter demi nyenengin orang banyak...”
Lusia tertawa kecil, tawa yang getir.
“Itu kayak aku, ya?”
Aku terdiam. Metafora itu menohok. Lusia sang Diva. Lusia yang selalu tampil sempurna di panggung, yang menopang reputasi teater, yang tidak boleh jelek, tidak boleh sedih. Padahal di dalamnya, dia retak di mana-mana.
Tanpa sadar, aku berjongkok di depannya.
“Mana yang sakit?” tanyaku.
“Hah?”
“Kaki lo. Sini.”
Aku menarik telapak kakinya yang dingin dan kotor debu. Lusia kaget, mau menarik kakinya, tapi aku menahannya.
“Diem. Ini tugas asisten.”
Aku mulai memijat telapak kakinya. Jempolku menekan titik-titik pegal di tumit dan lengkung kakinya. Kulitnya kasar karena debu jalanan, tapi di bawahnya masih terasa kehalusan seorang wanita yang tidak pernah bekerja kasar.
“Aduh... pelan dikit...” desis Lusia, tapi kemudian dia mendesah lega. “Ah... di situ... enak.”
“Lo tau bedanya lo sama mesin itu, Lus?” tanyaku sambil terus memijat.
“Apa? Aku lebih cantik?”
“Itu jelas,” aku terkekeh. “Bedanya, mesin itu nggak punya William.”
Lusia terdiam. Dia menatap ubun-ubunku.
“Mesin itu sendirian nahan beban bumi,” lanjutku. “Lo nggak sendirian. Kalau poros lo bengkok, gue yang lurusin. Kalau oli lo kering, gue beliin es teh manis. Kalau lo capek muter... gue yang gantiin lo muter sementara.”
Lusia tidak menjawab. Hening yang panjang, hanya diisi suara ombak dan dengungan mesin kapal.
Lalu, aku merasakan tangan Lusia menyentuh rambutku. Mengusapnya pelan. Sentuhan yang ragu-ragu, tapi hangat.
“Kamu pinter banget sih ngambil hati atasan,” gumamnya, suaranya sedikit serak. “Pantes gajimu nggak pernah aku potong walaupun kamu sering telat.”
“Saya nggak pernah telat, Nyonya. Nyonya yang kecepetan panik.”
Aku mendongak. Wajah kami dekat. Di bawah cahaya lampu darurat yang remang-remang, Lusia tidak terlihat seperti Diva ataupun Dokter Jenius. Dia hanya Ayla. Gadis yang ketakutan tapi berusaha berani.
“Will...” bisiknya.
“Ya?”
“Dokter Lusia tadi keren nggak?”
Aku tertawa lepas. Pertanyaan itu sangat Lusia. Di tengah kiamat, dia masih butuh validasi akting.
“Keren banget,” jawabku jujur. “Meryl Streep lewat. Tentara tadi hampir ngompol denger diagnosa lo.”
Lusia tersenyum bangga, senyum yang tulus sampai matanya menyipit.
“Tapi lain kali jangan pake istilah ‘Resonansi Tektonik’,” tambahku.
“Kenapa? Kedengeran pinter kan?”
“Iya, tapi itu istilah musik, Lus. Bukan geologi.”
“Bodo amat,” Lusia menjulurkan lidah. “Yang penting dia percaya.”
Dia menarik kakinya dari tanganku, lalu duduk melerosot di lantai balkon, di sebelahku. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Kali ini tanpa ragu. Berat kepalanya terasa pas di bahuku, seolah lekukan bahuku memang didesain untuk menopang kepalanya.
“Makasih ya, Will,” bisiknya, matanya mulai terpejam.
“Buat pijitannya?”
“Buat nggak ninggalin aku. Buat bohong demi aku. Buat jadi... stabilizer aku.”
Jantungku berdesir hangat. Di tengah laut lepas yang dingin, di atas kapal yang menuju ketidakpastian, momen kecil ini terasa lebih berharga daripada keselamatan itu sendiri.
“Tidur gih,” bisikku, menyampirkan jaketku ke tubuhnya yang menggigil. “Besok kita harus nipu satu benua lagi.”
“Hmm... bangunin aku kalau kiamatnya udah selesai ya...”
silvius