“Tes... tes... Cek satu. Induksi elektromagnetik pada poros inti mengalami fluktuasi signifikan...”
Lusia berjalan mondar-mandir di depan api unggun sambil memegang jagung bakar. Dia bicara dengan nada serius, alisnya dikerutkan, kacamata retak (punya Yuni) bertengger di hidungnya.
“Gimana, Will? Udah kedengeran kayak ilmuwan belum?”
“Kurang galak,” koreksiku sambil membantu Reman mengikat bumper. “Ilmuwan stres itu ngomongnya cepet dan ketus.”
“Oke, ulangi,” Lusia membuang muka angkuh. “Denger ya, Kopral! Kalau kita nggak stabilin resonansi tektonik di sektor 9, lempeng Pasifik bakal patah jadi dua! Kamu mau tanggung jawab?! Hah?!”
“Nah! Itu dapet!” seru Adrian tepuk tangan.
Kami sudah menghabiskan waktu lima jam untuk “memperbaiki” bus. Bus Si Manis sekarang terlihat seperti kendaraan perang Mad Max. Kaca depannya diganti terpal plastik transparan dan jaring kawat. Bumper depannya diganti batang kayu gelondongan. Di sisi bus, Fian mengecat tulisan besar: UN EMERGENCY RESPONSE UNIT – SPECIAL DIVISION.
“Siap jalan, Komandan Yan!” lapor Reman. “Tapi maksimal lari 40 km/jam.”
“Cukup,” jawabku.
Aku mengumpulkan semua orang. Penampilan mereka sudah berubah total. Sari membongkar peti kostum. Sekarang mereka memakai paduan kemeja safari, rompi banyak saku, dan celana kargo. Lusia memakai blazer putih kucel dan sepatu botku, terlihat sangat otoritatif.
“Perhatian semua Tim Spesialis!” teriakku. “Misi kita menyusup ke The Ark. Jangan ada yang ketawa. Paham?”
“PAHAM!”
“Berangkat!”
Bus Si Manis—yang kini berganti nama jadi Unit Alpha One—merayap naik dari dasar jurang. Perjalanan menuju pantai dimulai.
Dua jam perjalanan berlalu dalam ketegangan. Jalanan rusak parah, membuat kami terguncang hebat di dalam. Mulut komat-kamit menghafal istilah teknis.
“Mitigasi... mitigasi... fluktuasi...” gumam Lusia seperti mantra.
Tiba-tiba, suara Ajo memecah konsentrasi.
“Man... Reman... rem, Man,” suaranya bergetar.
Reman menoleh sedikit. “Kenapa, Jo? Ada longsor?”
“Bukan... itu...” Ajo menunjuk sebuah plang jalan yang sudah miring dan tertutup debu di persimpangan depan. DESA SUMBER MAKMUR – 5 KM.
Ajo berdiri, wajah jenakanya hilang, digantikan oleh ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Rapuh.
“Itu kampung gue, Man,” bisik Ajo. “Emak gue... rumah Emak gue di situ.”
Hening seketika.
“Jo,” kata Jeno pelan. “Kita buru-buru. Radio bilang 24 jam. Kita udah abisin waktu buat benerin bus.”
“Gue tau!” seru Ajo, matanya basah. “Tapi... Emak gue sendirian, Jen. Bapak gue udah nggak ada. Dia Cuma punya gue. Gue anak tunggal. Kalau gue lewat sini dan nggak mampir... gue anak durhaka.”
Dia mencengkeram sandaran kursi Reman.
“Gue nggak minta lama. Cuma mau liat... dia masih idup apa enggak. Tolonglah. Gue masakin kalian tiap hari, gue nggak pernah minta apa-apa. Sekali ini aja.”
Dilema menghantam kami. Waktu kami sempit. Jeno hendak protes, tapi aku menahannya. Aku menatap Ajo, lalu menatap kru lain.
Saat itu, aku tersadar akan sesuatu yang menyakitkan.
Di dalam bus kaleng ini ada tujuh belas nyawa. Enam belas dari kami—termasuk aku, Lusia, Jeno, bahkan Adrian—adalah “anak hilang”. Kami adalah yatim piatu yang dipungut jalanan, atau anak-anak broken home yang dibuang keluarga (seperti Lusia). Bagi kami, teater adalah satu-satunya “orang tua”. Kami tidak punya rumah untuk pulang. Kiamat bagi kami hanyalah pindah panggung.
Tapi Ajo... Ajo beda.
Dia satu-satunya orang di antara kami yang masih punya akar. Dia satu-satunya yang bergabung dengan teater bukan untuk melarikan diri, tapi untuk mencari nafkah demi ibunya di kampung. Dia satu-satunya yang masih punya alasan untuk pulang saat Lebaran. Dia satu-satunya yang masih punya keluarga kandung.
Kehilangan dunia bagi kami mungkin biasa. Tapi bagi Ajo, kehilangan ibunya adalah kiamat yang sesungguhnya.
Lusia sepertinya juga menyadari hal itu. Dia menutup buku catatannya pelan.
“Belok, Sersan Reman,” perintah Lusia tegas. “Kesehatan mental kru adalah prioritas.”
“Lakukan, Man,” aku menyetujui.
Bus berbelok. Namun, semakin dekat kami ke Desa Karang Asri, semakin hancur hati kami.
Tidak ada desa.
Yang ada hanyalah ladang arang. Kebakaran hebat telah menyapu wilayah ini pasca-gempa. Rumah-rumah kayu rata dengan tanah, menyisakan tiang-tiang gosong yang menusuk langit seperti jari-jari mayat.
“Nggak...” desis Ajo, wajahnya pucat pasi.
Bus berhenti di depan reruntuhan bangunan yang dulunya mungkin sebuah ruko. Plang besinya sudah meleleh, tapi masih terbaca samar: RM PADANG BUNDO KANDUANG.
Ajo melompat turun. Kakinya mendarat di atas abu panas.
“MAK! EMAK!”
Dia berlari menerobos puing-puing yang masih mengepulkan asap. Kami semua turun, mengikuti Ajo dalam diam. Bau daging terbakar dan kayu hangus menusuk hidung.
Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada jenazah utuh. Api telah melahap semuanya menjadi debu. Ibu Ajo, dan mungkin seluruh kenangan masa kecilnya, sudah menjadi abu yang beterbangan dihempas angin.
Ajo berdiri di tengah reruntuhan dapur. Dia mengaduk-aduk abu dengan tangan kosong, tidak peduli panasnya. Dia mencari, terus mencari, berharap menemukan satu saja tanda kehidupan.
Tapi dia hanya menemukan satu benda.
Sebuah kalung tasbih yang manik-maniknya terbuat dari batu alam, setengah hangus, tergeletak di dekat sisa dipan besi yang bengkok.
Ajo memungut tasbih itu. Tangannya gemetar hebat. Dia mengenali benda itu. Itu tasbih yang selalu melingkar di tangan ibunya.
Dia jatuh berlutut, menggenggam tasbih itu di dadanya. Dia tidak berteriak. Dia tidak menangis histeris. Dia hanya menunduk dalam, bahunya merosot seolah seluruh tulang di tubuhnya dicabut paksa.
Hening yang menyakitkan. Hanya suara angin menderu.
Satu menit berlalu. Ajo berdiri perlahan. Wajahnya kosong. Dia memasukkan tasbih itu ke saku, lalu berbalik badan menghadap kami.
“Ayo balik,” katanya datar. Suaranya mati. “Nggak ada apa-apa di sini. Emak udah nggak ada. Ayo ke kapal.”
Dia melangkah melewatikau, matanya menatap lurus ke pintu bus seolah dia ingin lari dari kenyataan ini secepat mungkin. Dia ingin menelan rasa sakit itu sendirian, memendamnya sampai membusuk.
Tapi firasatku menyala. Aku melihat matanya. Itu bukan mata orang yang ikhlas. Itu mata orang yang jiwanya tertinggal di reruntuhan ini. Kalau dia naik ke bus sekarang, Ajo yang kami kenal akan mati. Yang tersisa hanya cangkang kosong.
Aku merentangkan tangan, menahan dadanya.
“Berhenti, Jo.”
“Minggir, Yan. Kita telat.”
“Lo nggak bisa pergi kayak gini,” kataku tegas.
“Emak gue udah jadi abu, Yan! Mau apa lagi?! Mau gue pungutin abunya?!” Ajo membentak, air mata akhirnya merebak di sudut matanya. Pertahanannya retak.
“Lo butuh pamitan,” kataku. “Lo butuh pemakaman. Lo butuh nyelesaiin tugas lo sebagai anak.”
“Pemakaman apa?! Mayatnya aja nggak ada! Gue gagal, Yan! Gue gagal!”
“Kita orang teater, Jo,” kataku lembut, mencengkeram bahunya. “Kita nggak butuh mayat buat bikin upacara. Kita butuh rasa. Kita butuh imajinasi.”
Aku menoleh ke arah kru lain. Mereka bingung, tapi mereka melihat kode mataku.
“Teman-teman,” teriakku. “Posisi! Kita buka warung!”
“Hah?” Adrian melongo. “Warung apaan? Gosong semua gini?”
“Ajo mau masak buat ibunya,” kataku lantang, suaraku bergema di antara puing-puing. “Ini masakan terakhir sebelum kita pergi. Kita butuh pelanggan. Kita butuh suasana. SET THE STAGE!”
Lusia adalah yang pertama mengerti. Dia paham betul rasanya kehilangan panggung. Dan sekarang, dia akan memberikan panggung itu untuk Ajo.
Lusia berjalan anggun melintasi puing-puing gosong, lalu duduk di atas sebuah batu besar seolah itu adalah kursi VIP. Dia mengibaskan debu dari blazernya.
“Pelayan!” seru Lusia, suaranya lantang dan manja, memecah kesunyian kematian. “Saya sudah menunggu lima menit! Mana rendang saya?! Saya laper!”
Vina langsung menyambar. Dia mengambil sepotong kayu gosong, menyelipkannya di telinga seperti pulpen, dan mengeluarkan sobekan kertas. “Sabar, Bu! Dapur lagi ngebul! Sabar dong! Es teh manis satu, ya!”
Adrian dan Jeno langsung bereaksi. Mereka duduk bersila di atas tanah berdebu, seolah sedang di lesehan.
“Uda! Tambuah ciek!” teriak Jeno, menepuk perutnya.
“Ayam pop satu! Kuah gulai banyakin, Da! Jangan pelit-pelit!” timpal Adrian.
Suasana hening pekuburan itu tiba-tiba pecah. Kru teater mulai berisik. Mereka menciptakan “suara” rumah makan yang hidup di tengah kematian.
Kring! Kring! Reman memukul-mukul dua batu kali, meniru suara piring beradu.
Sreng! Sreng! Sari dan Kiki menirukan suara orang menggoreng kerupuk dengan mulut mereka.
Om Tio berjalan santai dengan wibawa seorang datuk, berakting sebagai bapak-bapak yang sedang membaca koran pagi sambil menunggu pesanan dibungkus.
Ajo terpaku. Matanya membelalak melihat kegilaan teman-temannya. Dia melihat Lusia yang berakting marah-marah demi dirinya. Dia melihat Jeno yang pura-pura makan dengan lahap meski tangannya kosong.
Mereka... keluarga yatim piatu ini... sedang berusaha menyelamatkan satu-satunya saudara mereka yang punya ibu.
“Jo,” aku menepuk bahunya, lalu menunjuk ke arah sisa-sisa dapur yang hangus. Di sana, ada sebuah meja batu yang masih utuh dan sebuah ulekan (cobek) besar yang selamat dari api.
“Ibu lo nungguin, Jo. Masakin yang enak. Terakhir kali.”
Bibir Ajo bergetar hebat. Dia menatap meja batu itu. Perlahan, kakinya melangkah mendekat.
Dia berdiri di depan meja dapur imajinernya.
Tangannya terangkat, memegang ulekan batu yang kosong. Tidak ada cabai. Tidak ada bawang. Tidak ada daging. Hanya ada abu dan debu.
Tapi Ajo mulai bergerak.
Dia mengulek. Grok... grok... grok...
Suara batu beradu dengan batu terdengar ritmis. Ajo memejamkan mata. Dalam kepalanya, dia tidak melihat abu. Dia melihat cabai merah keriting yang segar, bawang merah yang pedas, dan jahe yang harum.
Dia mengambil “daging” dari udara kosong, memasukkannya ke dalam “kuali” (sebuah ember penyok bekas). Dia mengaduknya.
“Santan masuk...” bisiknya parau, air mata menetes ke pipinya. “Daun kunyit... serai geprek...”
Dia mengaduk udara kosong itu dengan gerakan penuh perasaan, seolah sedang mengaduk rendang yang harus dimasak empat jam agar warnanya hitam sempurna. Bau hangus di sekitar kami seolah tergantikan oleh aroma rempah imajiner yang kuat.
Di belakangnya, hiruk pikuk kru semakin menjadi.
“Enak banget nih rendangnya!” seru Fian, menjilati jari-jarinya yang kotor oleh debu. “Bumbunya nendang!”
“Bungkus lima ya, Da! Buat orang rumah!” seru Om Tio.
Air mata Ajo menetes jatuh ke dalam “masakan”-nya. Dia terisak sambil terus mengaduk. Dia menuangkan seluruh rasa rindunya, seluruh rasa bersalahnya, seluruh baktinya yang belum tuntas, ke dalam masakan imajiner itu.
Setelah beberapa menit, Ajo berhenti. Napasnya tersengal. Dia mengambil sebuah piring pecah yang tergeletak di tanah. Dia menyendok “nasi” dan “rendang” ke atas piring itu dengan hati-hati.
Dia berjalan membawa piring itu ke sudut ruangan yang atapnya terbuka, tempat dia menemukan tasbih tadi. Tempat ibunya biasa duduk menjaga kasir.
Ajo meletakkan piring itu di atas tanah yang hitam. Dia bersimpuh.
“Mak...” suaranya serak, penuh cinta. “Makan, Mak. Ini Ajo masakin. Rendang kesukaan Emak. Nggak pedes kok. Dagingnya empuk. Ajo udah bisa masak enak sekarang, Mak.”
Hening sejenak. Angin berhembus menerbangkan abu di sekitar piring itu, seolah ada tangan tak terlihat yang menerima persembahan itu.
“Ajo pamit ya, Mak,” bisik Ajo, mencium tanah tempat ibunya meninggal. “Ajo mau pergi jauh. Ajo punya keluarga baru yang harus Ajo kasih makan. Ajo bakal selamet. Ajo janji.”
Dia menunduk lama sekali.
Lalu, dia berdiri. Dia mengambil ulekan batu itu. Hanya itu yang dia bawa. Warisan terakhir, sekaligus senjata barunya.
Saat dia berbalik menghadap kami, wajah Ajo sudah berubah. Dia bukan lagi koki yang ketakutan. Dia adalah pria yang sudah menyelesaikan urusannya. Dia yatim piatu sekarang, sama seperti kami. Dan itu membuatnya semakin kuat.
Kru menghentikan akting mereka. Lusia berdiri, menghapus air mata di sudut matanya yang diam-diam menetes.
“Enak, Jo?” tanya Lusia pelan.
“Enak, Dok,” jawab Ajo mantap, memeluk ulekan batunya. “Masakan Padang terbaik di dunia.”
“Oke,” kataku, merasakan tenggorokanku tercekat. “Rumah makan tutup. Kita berangkat.”
silvius