Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku Mencintai Umat Manusia
MENU
About Us  

“...repeat... this is UN Maritime Task Force... Coordinates 08 South... 110 East...”

Semua kru yang sudah terbangun kini berkumpul, menahan napas. Karni langsung maju, merebut mic radio dari tangan Reman dan memutar frekuensi pelan-pelan untuk memperjelas suara. Tuning yang presisi.

“Dapet,” bisik Karni.

Suara itu menjadi lebih jelas.

“...kami menunggu di lepas pantai selatan. Armada terakhir. Kami tidak bisa merapat ke darat karena tsunami debris. Kapal induk PBB ‘The Ark’ menunggu...”

“Kapal?” bisik Vina. “Mereka mau jemput kita?”

“Sstt! Dengerin!” bentak Pak Tarto.

Suara di radio itu melanjutkan, dan kalimat berikutnya membuat darahku dingin.

“...kami mencari personel spesialis. Ulangi. Kami HANYA mencari personel spesialis. Bumi sekarat. Mesin Penstabil Inti (Core Stabilizers) di sektor Pasifik gagal berfungsi. Kami butuh perbaikan manual. Ini upaya terakhir mencegah keruntuhan total.”

Jantungku berdegup kencang. Mesin Penstabil? Jadi rumor itu benar? Bencana ini bukan hanya tentang alam.

“...Jika Anda mendengar ini... bawa kami teknisi. Bawa kami insinyur mekanik. Bawa kami ahli geologi, ahli kelistrikan, dokter bedah, dan operator alat berat. Kami butuh tangan-tangan yang bisa memperbaiki mesin. Kami butuh orang yang BERGUNA.”

Kata itu menggema di dalam bus besi yang sempit itu.

BERGUNA.

“...Bawa mereka ke titik koordinat. Kami akan menunggu 24 jam sebelum menyelam. Jangan bawa warga sipil tanpa keahlian. Kami tidak punya logistik untuk pengungsi. Kami butuh pekerja. Ulangi... Bring us the fixers, not the eaters. Out.”

KLIK. Sinyal mati. Hanya tersisa suara kresek-kresek statis yang mengejek.

Hening.

Kali ini keheningan yang berbeda. Mata semua orang perlahan bergerak. Saling menilai. Saling menimbang “kegunaan”.

“Teknisi...” bisik Jeno, melihat tangannya yang kekar dan kapalan. Dia teknisi panggung. Dia bisa las besi. Dia bisa memperbaiki motor.

“Kelistrikan...” Karni menyentuh headphone-nya. Dia jenius elektronik.

“Operator alat berat...” Reman memegang setir bus. Dia bisa menyetir apa saja yang punya roda.

“Dokter bedah...” Vina memegang tas P3K-nya. Dia bukan dokter, tapi dia tahu anatomi dan obat-obatan lebih dari siapa pun di sini.

“Koordinator...” Pak Tarto dan Aku. Kami manajer. Kami bisa mengatur tim pekerja.

Satu per satu, kru Si Manis menyadari bahwa mereka punya kesempatan. Keahlian kasar mereka—yang selama ini dianggap kelas dua dibanding para artis—tiba-tiba menjadi tiket emas untuk selamat. Tiket VIP masuk kapal Nabi Nuh.

Lalu, mataku jatuh pada Lusia.

Dia berdiri di dekat pintu bus yang miring. Wajahnya pucat pasi, lebih putih dari tembok. Batu hangat yang tadi dia genggam sebagai “tugas vital”-nya jatuh ke lantai besi.

KLTOK.

Suara batu itu jatuh terdengar sangat keras.

Lusia menatap tangannya sendiri. Tangan yang halus. Tangan yang dirawat dengan manicure mahal. Tangan yang Cuma bisa memegang mic. Dia menatap Jeno, Karni, Reman... lalu menatapku.

Dan aku melihat kehancuran total di matanya. Baru saja lima menit yang lalu aku bilang padanya: “Nggak perlu jadi kuli. Cukup jadi Ratu Halu.”

Dan sekarang, radio itu—suara otoritas terakhir dunia—bilang sebaliknya: “Kami tidak butuh Ratu. Kami butuh Kuli.”

“Insinyur... teknisi...” bisik Lusia, suaranya bergetar hebat. Dia mundur selangkah, menjauh dari kami semua. “Mereka butuh orang yang bisa benerin mesin...”

Dia tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca.

“Aku bahkan nggak bisa benerin tenda.”

“Lus...” aku melangkah mendekat.

“JANGAN DEKETIN AKU!” teriak Lusia histeris. Dia menunjuk kru lain. “Kalian denger kan?! Kalian punya tiket! Kalian ‘orang berguna’! Jeno, Karni, Reman... kalian bakal selamat!”

Dia menunjuk dadanya sendiri.

“Aku? Aku Eater. Aku Cuma ‘Pemakan’. Aku parasit logistik.”

Air matanya tumpah deras.

“Kalian harus pergi. Tinggalin aku di sini. Aku nggak masuk kriteria. Aku Cuma bakal ngabisin jatah oksigen orang pinter di kapal itu.”

Suasana bus menjadi berat. Harapan akan keselamatan bercampur dengan rasa bersalah yang mematikan. Radio itu telah memberikan tujuan baru, Pantai Selatan. Tapi radio itu juga baru saja memvonis Lusia. Dia tidak Lolos Seleksi Alam.

Keheningan setelah pengakuan Lusia terasa lebih menyakitkan daripada suara statis radio. Reman menunduk, jarinya mengetuk-ngetuk setir bus dengan ritme gelisah. Jeno membuang muka. Karni pura-pura sibuk menggulung kabel.

Mereka semua tahu Lusia benar. Di mata logika kiamat, mereka adalah aset, dan Lusia adalah liabilitas.

“Pergi...” isak Lusia lagi, mendorong bahu Jeno. “Jeno, kamu denger kan? Mereka butuh las! Kamu jago las! Pergi sana!”

Jeno tidak bergerak. Tubuh raksasanya mematung.

“Reman! Nyalain mesinnya! Bawa mereka ke pantai!” Lusia berteriak ke arah supir.

Reman tidak menjawab. Dia malah mematikan mesin bus yang tadi sempat menderu pelan.

KLIK. Mati. Sunyi kembali.

Lusia ternganga. “Kalian... kalian tuli ya? Kalian mau mati konyol di sini demi aku?! Demi sampah?!”

Aku melangkah maju, melewati Jeno, dan berdiri tepat di depan Lusia. Tanpa aba-aba, aku merampas mikrofon radio dari tangan Karni.

KLIK. Aku menekan tombol off. Suara statis hilang.

“Berisik,” gumamku datar.

Aku berbalik menghadap kru-ku. Tujuh belas pasang mata menatapku.

“Oke. Tawaran radio tadi menarik,” kataku santai. “Jeno, Reman, Karni, Vina... kalian punya Golden Ticket. Silakan kalau mau jalan kaki ke pantai sekarang. Jaraknya mungkin 20 kilo lagi.”

Jeno mendongak. “Terus lo, Yan? Lo ikut?”

Aku tertawa kecil. Tawa yang kering.

“Gue?” Aku menunjuk dadaku sendiri. “Gue Manajer Panggung, Jen. Keahlian gue Cuma teriak-teriak nyuruh orang, ngatur jadwal, sama bikinin kopi buat Lusia. Gue nggak bisa benerin mesin inti bumi. Gue juga ‘Eater’, Lus. Gue juga parasit logistik menurut standar PBB.”

Lusia terdiam, air matanya menggantung di pipi.

“Om Tio?” Aku menoleh.

“Saya Cuma orang tua yang jago ngafalin naskah Shakespeare,” jawab Om Tio tenang sambil tersenyum pahit. “Tulang saya keropos. Saya pasti ditolak di gerbang.”

“Adrian?”

“Gue...” Adrian garuk-garuk kepala. “Gue bisa niruin suara jangkrik sama kayang. Berguna nggak?”

“Nggak,” jawabku tegas.

Aku kembali menatap Jeno dan tim “Pekerja Kasar”.

“Jadi, opsinya simpel. Kalian yang ‘berguna’ pergi sekarang, selamet sendirian di kapal mewah itu. Tapi kalian ninggalin gue, Lusia, Om Tio, Adrian, Fian, sama Rere di sini buat jadi pupuk kandang.”

Suasana menjadi berat. Jeno mengepalkan tangannya. Reman menggigit bibir.

Tiba-tiba, Vina mendengus kasar. Dia melempar tas P3K-nya ke lantai bus. BRAK.

“Ah elah! Drama banget sih!” sembur Vina judes. “Heh, Diva! Lo jangan ke-GR-an ya. Gue nggak ninggalin lo bukan karena gue sayang sama lo. Najis.”

Vina meludah ke samping.

“Tapi kalau gue pergi ke kapal itu sendirian... siapa yang bakal gue ajak ribut? Siapa yang bakal gue sindir bajunya jelek? Hidup gue bakal bosen banget kalau isinya Cuma benerin mesin sama ngobrol sama insinyur kaku. Gue stay. Persetan sama kapal Nuh. Gue lebih suka mati bareng orang-orang gila ini daripada idup bareng robot.”

Reman menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya.

“Sama,” sahut Reman. “Gue buta arah, Yan. Kalau nggak ada lo yang bacain peta, gue paling nyasar ke kandang macan.”

“Gue juga nggak bisa pisah sama Rere,” kata Jeno pelan, merangkul bahu Rere.

Satu per satu, kru “Pekerja” menolak tiket emas mereka. Solidaritas kaum terbuang ternyata lebih kuat daripada insting bertahan hidup.

Lusia menatap mereka tak percaya. “Kalian... kalian bodoh,” bisiknya.

“Emang,” sahutku, berjongkok di depannya, menghapus air mata di pipinya. “Kita kan rombongan teater, Lus. Teater macam apa yang ninggalin aktor sama primadonanya di tengah jalan?”

“Tapi...”

“Diem,” potongku. “Kita bakal tetep pergi ke pantai selatan.”

Semua orang kaget. “Hah? Ngapain? Kan kita ditolak?” tanya Adrian.

Aku berdiri tegak, senyum licik mulai terukir di bibirku.

“Mereka butuh spesialis, kan? Kita ini siapa?” tanyaku.

“Tikus Panggung?” jawab Bimo.

“Salah,” koreksiku. “Kita adalah PENIPU ULUNG. Kerjaan kita tiap hari itu bohong! Kita bikin styrofoam jadi batu, kita bikin lampu jadi matahari! Kalau PBB mau orang berguna, kita bakal KASIH mereka orang berguna.”

Aku menunjuk Adrian. “Adrian, mulai besok, lo adalah... Ahli Logistik Taktis dan Manajemen Krisis.”

Adrian melongo. “Hah? Itu apaan?”

“Artinya lo jago mindahin barang dan nggak panik. Lo bisa akting jadi Profesor kan?”

“O-oke... bisa. Pake kacamata biar meyakinkan!” Adrian mulai semangat.

Aku menunjuk Om Tio. “Om adalah... Konsultan Geologi Senior dan Pakar Struktur Tanah.”

Om Tio terkekeh. “Geologi? Saya taunya Cuma batu akik.”

“Cukup. Istilahnya nanti kita karang. Yang penting wibawa Om.”

Lalu akhirnya, aku menunjuk Lusia. “Dan lo, Lusia.”

Lusia menelan ludah. “Aku apa? Ahli Tata Rias Mayat?”

“Bukan,” aku menggeleng. “Lo adalah... Dr. Lusia, Spesialis Psikologi Massa dan Negosiator Konflik Global.”

“Hah?!” Lusia menjerit. “Gue lulusan SMA doang, William!”

“Mereka butuh confidence lo, Lus. Lo jago manipulasi emosi orang. Di dunia baru ini, itu namanya Leadership.”

Aku berbalik menghadap semua kru.

“Kita bakal palsuin identitas kita. Kita bakal cosplay jadi tim penyelamat elit. Ini pertunjukan terbesar kita. Panggungnya: Kapal Induk PBB. Penontonnya: Tentara bersenjata. Kalau akting kita jelek... kita mati. Kalau akting kita bagus... kita selamet.”

Perlahan, senyum miring muncul di wajah Jeno. “Ahli Struktur Bangunan Jeno... Hmm, keren juga.”

“Dr. Lusia...” Lusia bergumam, mencoba merasakannya di lidah. Dia menegakkan punggungnya. Sorot mata Ratu-nya kembali.

“Oke, Asisten. Siapin skripnya. Aku butuh terminologi ilmiah biar kedengeran pinter.”

Aku tersenyum lega. “Siap, Dok.”

“Tapi busnya gimana?” tanya Reman realistis. “Si Manis penyok parah.”

Aku menepuk bahu Jeno. “Insinyur Jeno, tugas pertama Anda. Bikin benda rongsokan ini jalan lagi. Kita berangkat besok subuh.”

Malam itu, di dasar jurang yang gelap, keputusasaan berubah menjadi kesibukan produksi. Tidak ada lagi yang menangis. Semua orang sibuk “menghafal peran” baru mereka. Ini bukan lagi survival. Ini adalah Gladi Resik untuk penipuan terbesar dalam sejarah umat manusia.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags