Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku Mencintai Umat Manusia
MENU
About Us  

Pagi datang bukan dengan kokok ayam, melainkan dengan suara klakson yang bersahut-sahutan seperti simfoni orang stres.

Bus Si Manis berhenti mendadak, membuat kepalaku terhantuk kaca jendela.

“Aduh! Reman, bisa nyetir nggak sih?!” omel Adrian yang baru bangun, ilernya masih menempel di pipi.

“Melek dulu, Tuyul,” sahut Reman santai sambil menunjuk ke depan. “Liat tuh. Macet ibukota pindah ke gunung.”

Di depan kami, jalanan aspal yang meliuk di pinggir tebing itu macet total. Ratusan mobil parkir sembarangan. Orang-orang menggelar tikar di aspal, menjemur baju di spion mobil orang lain, dan ada yang nekat buang air kecil ke arah jurang. Ini bukan kemacetan biasa; ini adalah camping ground keputusasaan.

Kami berada di jalur pegunungan yang sempit. Kiri tebing batu cadas, kanan jurang sedalam ratusan meter yang dasarnya tertutup kabut.

“Solar abis, Yan,” lapor Reman, mengetuk indikator bensin yang jarumnya sudah patah saking seringnya mentok di kiri. “Kita nggak bisa nyalain AC. Siap-siap jadi ikan pepes.”

Panas mulai menyengat. Di dalam bus, bau keringat tujuh belas orang mulai terfermentasi.

Lusia terbangun. Dia melihat kotak susu stroberi di sampingnya (yang sudah kosong karena dia minum sambil tidur—bakat alami). Dia meremas kotak itu, lalu menatap sekeliling.

Semua orang sibuk.

Sari dan Kiki sedang menjahit terpal robek. Jeno dan Ajo sedang menghitung sisa mie instan. Vina sedang meregangkan otot kakinya.

Lusia bangkit, mencoba merapikan rambutnya yang mirip sarang burung. Dia ingin membantu. Dia harus membantu. Kata-katanya semalam tentang “berguna” masih menghantui.

Dia melihat Bimo yang sedang kesusahan mengangkat galon air kosong ke atap bus (untuk menampung air hujan nanti).

“Sini aku bantu,” kata Lusia, suaranya masih serak.

Dia memegang gagang galon itu.

“Eh, nggak usah, Mbak!” tolak Bimo panik. “Berat!”

“Aku bisa! Jangan remehin aku!” Lusia memaksa. Dia menarik galon itu.

Tapi tenaga Lusia hanyalah tenaga seorang wanita yang biasa mengangkat mic seberat 300 gram. Galon itu meleset dari tangannya, menggelinding jatuh, dan menimpa kaki Kiki.

“ADUH!” jerit Kiki. “Kaki gue!”

“Ma—maaf! Aku nggak sengaja!” Lusia mundur, wajahnya pucat.

Kiki memegangi jempol kakinya sambil meringis, matanya menatap Lusia tajam.

“Mbak Lusia... mending duduk aja deh,” kata Kiki ketus. “Daripada nambah kerjaan. Kita udah capek, jangan ditambahin sakit fisik.”

Kalimat itu sederhana, tapi efeknya seperti tamparan.

Vina yang melihat kejadian itu hanya menghela napas. “Udah, Lus. Lo duduk manis aja jaga tas. Itu jobdesc paling aman buat lo.”

Lusia mundur perlahan, kembali ke pojokannya. Dia merasa mengecil. Jadi dia benar-benar tidak berguna. Bahkan untuk mengangkat galon kosong pun dia gagal. Dia melihat tangan-tangannya yang halus dan terawat. Tangan ini tidak diciptakan untuk kiamat. Tangan ini diciptakan untuk memegang piala. Dan sekarang, piala tidak ada gunanya.

Aku melihat kejadian itu dari kursi depan, tapi aku diam. Lusia harus belajar bahwa niat baik saja tidak cukup kalau tidak pakai otot.

“Yan,” panggil Jeno. “Kita nggak bisa diem di sini. Orang-orang di depan mulai rusuh rebutan jalan. Kita butuh barter. Kita butuh solar buat nerobos.”

Aku melihat kerumunan pengungsi di depan. Wajah mereka tegang. Ada sekelompok bapak-bapak yang menjaga truk tangki minyak di ujung jalan, memegang kunci inggris dan balok kayu.

“Oke,” aku berdiri, mengambil mikrofon mati andalanku. “Kita dagang.”

“Dagang apaan? Stok kita abis!” protes Ajo.

“Dagang tawa,” jawabku. “Kita hibur mereka. Kalau mereka ketawa, mungkin mereka mau kasih kita solar seliter dua liter.”

Kami turun dari bus. Lusia ikut turun paling belakang, langkahnya ragu.

Di pinggir tebing yang curam itu, kami menggelar lapak.

“PERHATIAN! PERHATIAN!” teriak Adrian dengan suara cemprengnya, berdiri di atas batu besar. “JANGAN STRES! JANGAN TEGANG! SAKIT GIGI LEBIH PARAH DARI KIAMAT!”

Beberapa orang menoleh. Awalnya curiga, tapi melihat Adrian yang memakai celana dalam di luar celana panjang (ide kostum dadakan Sari), beberapa mulai tersenyum.

“Kami tim teater! Mau menghibur Bapak Ibu sekalian!”

Jeno mulai melakukan atraksi angkat beban—mengangkat Bimo yang sedang makan biskuit. Penonton bertepuk tangan. Suasana cair.

“Sekarang!” bisikku pada Lusia. “Giliran lo. Nyanyi. Satu lagu aja. Yang semangat.”

Lusia maju. Dia memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang.

Dia melihat wajah-wajah penonton. Mereka kotor, lelah, dan bau matahari.

Tiba-tiba, ingatan tentang pria di mobil pengantin itu muncul lagi.

“Lo Cuma pelacur panggung! Istri gue mati!”

Lusia membeku. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia merasa semua orang di situ menatapnya dengan jijik. Dia merasa mereka semua ingin meludahinya.

“Lus?” panggilku. “Ayo. Showtime.”

“Nggak bisa...” cicitnya, mundur selangkah. “Mereka benci aku... aku nggak bisa...”

“Lusia! Ini bukan waktunya demam panggung!”

“Aku nggak bisa, William!” Lusia berbalik dan lari bersembunyi di balik ban bus yang besar. Menutup telinganya.

Penonton mulai bingung. “Mana nyanyinya? Woy!”

“Biar gue aja!” Vina tiba-tiba melompat maju. Dia bukan penyanyi, suaranya pas-pasan, tapi dia punya nyali. Dia menyanyikan lagu dangdut koplo dengan goyangan heboh. Penonton bersorak, tertawa. Vina menyelamatkan pertunjukan.

Di balik ban bus, Lusia menangis tanpa suara. Liat kan? Vina bisa. Tanpa kamu, dunia tetep jalan. Kamu bener-bener sampah.

Tepat saat Vina sedang asyik bergoyang gergaji, tanah yang kami pijak bergetar.

Bukan getaran sound system, tapi getaran dari perut bumi.

GRUDUG... GRUDUG...

Tebing batu di sebelah kiri kami mulai rontok. Batu-batu sebesar kepalan tangan berjatuhan menimpa atap mobil-mobil yang parkir.

“GEMPA!” teriak Pak Tarto. “SEMUA MASUK BUS!”

Kepanikan massal terjadi. Orang-orang berlarian saling injak. Mobil-mobil membunyikan klakson.

Tapi terlambat. Retakan besar muncul di aspal, tepat di bawah roda depan bus kami.

KRAK!

Jalan raya itu patah.

“REMAN! MUNDUR!” teriakku.

“Nggak bisa mundur! Di belakang ada truk!” jerit Reman dari kursi supir.

Aspal di bawah kami miring. Gravitasi mengambil alih.

Bus Si Manis, beserta kami semua yang baru saja loncat masuk ke dalamnya, terperosok ke arah kanan.

Ke arah jurang.

“PEGANGAN!”

Itu teriakan terakhir yang jelas kudengar. Sisanya adalah bunyi logam beradu dengan batu, kaca pecah, dan teriakan histeris Lusia yang melengking lebih tinggi dari suara sirine.

Bus kami tidak jatuh vertikal (kalau iya, cerita ini tamat). Bus kami meluncur.

Tebing jurang itu miring sekitar 45 derajat, terdiri dari tanah gembur dan semak belukar. Bus Si Manis meluncur turun seperti papan seluncur raksasa di wahana waterboom maut.

“JENO! TAHAN KULKASNYA!” teriak Ajo saat peti es (yang kosong) melayang di dalam kabin.

“MAMA!!! AKU BELUM KAWIN!” jerit Adrian sambil memeluk tiang besi.

Di pojok belakang, aku melihat Lusia terlempar dari persembunyiannya. Dia melayang sejenak sebelum menabrak tumpukan kostum. Aku melepaskan peganganku, meluncur di lantai bus yang miring, dan menyambar pinggangnya.

“Dapet!”

Kami bergulingan, menabrak dinding, lalu tertimpa karpet.

Di luar jendela, pemandangan berputar. Langit-tanah-langit-tanah. Suara dahan pohon yang patah dihantam bodi bus terdengar mengerikan. BRAKK! KRAKK!

Lalu... hening.

Bus berhenti dengan sentakan keras yang membuat gigi kami beradu.

Debu mengepul di dalam kabin.

Hening selama lima detik.

“Absen!” suara Pak Tarto terdengar serak dari bawah tumpukan terpal. “Siapa yang mati, angkat tangan!”

Tidak ada yang angkat tangan (tentu saja).

“Sakit...” rintih Lilo. “Pantat gue kejepit speaker.”

Aku menyingkirkan karpet yang menimpaku. Seluruh badanku sakit, tapi tulangnya terasa masih utuh. Aku melihat ke bawah lenganku. Lusia ada di sana, matanya terpejam rapat, tangannya mencengkeram kemejaku sampai buku jarinya putih.

“Nyonya?”

Dia membuka mata satu. “Kita udah di neraka?”

“Belum. Setan masih nolak kita,” jawabku, melihat sinar matahari yang masuk lewat kaca depan yang pecah seribu.

Kami merangkak keluar dari bus yang kini posisinya miring tersangkut di antara dua pohon besar di dasar lembah.

Kondisi bus Si Manis menyedihkan. Bumper depan copot, kaca samping retak semua, dan bodi kirinya penyok parah. Tapi ajaibnya, bus ini masih berbentuk bus.

Kami semua berkumpul di tanah lapang di dasar jurang, terbatuk-batuk kena debu.

Reman memeriksa mesin. “Radiator bocor. As roda bengkok dikit. Tapi mesin masih idup. Si Manis emang badak.”

“Kita di mana?” tanya Vina, membersihkan daun dari rambutnya.

Aku melihat ke atas. Tebing yang kami turuni tadi tingginya minta ampun. Di atas sana, debu longsor masih mengepul. Kami selamat karena ‘berselancar’ di atas longsoran tanah.

“Kita di dasar jurang,” jawabku. “Dan nggak ada jalan naik.”

Tiba-tiba, suara tawa pecah.

Bukan tawa bahagia, tapi tawa histeris.

Lusia tertawa. Dia duduk di atas batu sungai, tertawa sambil memegangi perutnya.

“Kenapa lo, Lus? Gegar otak?” tanya Adrian ngeri.

“Lucu...” Lusia menunjuk bus yang nyaris gepeng itu. “Lucu banget...”

Air mata mengalir di pipinya lagi.

“Tadi... pas busnya meluncur... aku teriak. Aku teriak kenceng banget. Cuma itu yang aku lakuin. Teriak.”

Dia menatap kru lain dengan pandangan kosong.

“Reman nyetir biar kita nggak kebalik. William ngelindungin aku. Jeno nahan barang biar nggak nimpa kita. Vina tadi ngehibur orang. Aku? Aku Cuma sound effect teriakan.”

Lusia berdiri, kakinya goyah.

“Kalian sadar nggak sih? Kalau aku nggak ada di bus tadi, busnya bakal lebih ringan 50 kilo. Mungkin remnya lebih pakem. Mungkin kita nggak jatuh.”

“Lus, stop,” potongku.

“Nggak! Ini fakta matematik!” Lusia mulai meracau, overthinking-nya mencapai level dewa. “Aku beban aerodinamis! Aku parasit oksigen! Aku Cuma abisin jatah susu stroberi kalian!”

Dia mengambil batu kerikil dan melemparnya ke sungai.

“Harusnya aku mati aja tadi ketimpa kulkas! Setidaknya kulkas ada gunanya buat nyimpen es batu!”

Kru lain saling pandang. Mereka lelah, sakit badan, dan lapar. Mendengar Lusia drama lagi membuat kesabaran mereka menipis.

“Yaudah sih, Mbak,” celetuk Kiki pelan tapi pedas. “Kalau sadar diri, ya mulai sekarang belajar ngapa-ngapain kek. Jangan Cuma ngerasa bersalah doang. Rasa bersalah nggak bikin perut kenyang.”

Lusia terdiam. Kata-kata Kiki menusuk tepat di ulu hati.

Dia tidak marah. Dia mengangguk pelan.

“Iya. Kamu bener.”

Lusia berjalan menjauh dari kelompok, menuju pinggir sungai.

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Nyari kayu bakar,” jawabnya tanpa menoleh. “Atau nyari batu buat ganjel ban. Atau apalah. Yang penting aku nggak diem.”

Langkahnya pincang (kakinya pasti terkilir saat jatuh tadi), tapi dia memaksakan diri.

Aku mau menyusulnya, tapi Om Tio menahan lenganku.

“Biarin, Will,” kata Om Tio bijak. “Biar dia berproses. Kalau kamu bantuin terus, dia nggak akan pernah tumbuh.”

Aku melihat punggung kecil Lusia yang tertatih-tatih mengumpulkan ranting pohon di pinggir sungai deras. Dia terlihat menyedihkan, konyol, tapi juga... keras kepala.

Ratu Panggung itu kini jadi pemulung ranting. Dan mungkin, Cuma mungkin, itu peran terbaiknya sejauh ini.

“Oke,” kataku pada sisa kru. “Kita camping di sini malem ini. Jeno, cek stok makanan. Reman, cek seberapa parah Si Manis. Adrian... lo diem aja, jangan bikin masalah.”

“Siap, Komandan!”

Kami terjebak di dasar jurang, terisolasi dari dunia, dengan bus rusak dan Ratu yang sedang krisis identitas.

Sempurna.

Malam di dasar jurang itu gelapnya kurang ajar. Kalau malam di kota itu gelap gulita, di sini gelapnya seperti dicelup ke dalam tinta cumi-cumi raksasa.

Tidak ada lampu jalan, tidak ada lampu rumah, dan karena kami dikelilingi tebing tinggi, bahkan cahaya bulan pun malas mampir. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah lampu senter HP Adrian yang baterainya tinggal 15% (dan dia pakai buat main wayang tangan di dinding tebing, dasar Tuyul) serta api unggun kecil yang sedang diusahakan oleh Ajo.

“Susah nyala, Yan,” keluh Ajo, meniup-niup bara api sampai pipinya kembung. “Kayunya lembap semua. Lembah ini basah.”

“Terus kita makan sarden mentah lagi?” tanya Vina nelangsa. Perutnya berbunyi kruyuk kencang, bersahutan dengan suara jangkrik hutan.

Di sudut lain, Jeno dan Reman sedang berusaha mendirikan tenda darurat menggunakan terpal biru besar yang robek dari atap bus.

“Tarik ujung sana, Man!” perintah Jeno. “Iket ke pohon beringin itu!”

“Siap, Bos!”

Aku sedang sibuk membalut luka di betis Lilo dengan sobekan kaos dalamku ketika Lusia muncul dari kegelapan semak-semak.

Dia berjalan tertatih-tatih, wajahnya cemong tanah, gaun sutranya yang robek diikat simpul di pinggang supaya tidak nyerimpet. Di pelukannya, dia membawa tumpukan benda gelap.

“Minggir! Minggir!” seru Lusia dengan napas memburu. “Bantuan logistik datang!”

Dia menjatuhkan tumpukan itu di depan Ajo.

BRUK.

Semua orang menoleh, berharap dia membawa kayu bakar kering atau buah-buahan hutan.

Ternyata itu adalah tumpukan batu kali. Batu. Keras. Dingin. Berat.

Hening.

Ajo menatap batu itu, lalu menatap Lusia.

“Ini... buat apa, Mbak?”

Lusia berkacak pinggang, dagunya terangkat bangga (meski bibirnya gemetar kedinginan). “Itu batu vulkanik. Aku baca di majalah National Geographic di lobi dokter gigi tahun lalu. Katanya batu jenis ini bisa nyimpen panas lama. Jadi kalau apinya mati, kita bisa peluk batu ini biar anget.”

Lusia tersenyum lebar, menunggu pujian. Menunggu seseorang bilang: “Wah, ide brilian, Lusia! Kamu penyelamat kami!”

Tapi yang terjadi adalah Adrian tertawa ngakak.

“Batu? Kita lagi laper, butuh api, lo bawa batu?! Lo mau kita ngemut batu kayak permen gagang?!”

“Itu strategi bertahan hidup, Adrian!” bentak Lusia, suaranya mulai melengking defensif. “Kamu mana ngerti sains!”

“Mbak,” potong Jeno lelah, tangannya masih memegang tali terpal. “Kita butuh kayu kering. Bukan batu sauna. Batu segede gitu malah bikin sempit area tidur.”

Senyum Lusia luntur seketika. Bahunya merosot.

“O-oh... nggak guna ya?” cicitnya pelan.

“Bukan nggak guna, Lus,” sahutku mencoba menengahi (walau dalam hati aku setuju sama Jeno), “Cuma... kurang prioritas. Mending lo duduk aja deh.”

“Nggak! Aku mau bantu!” Lusia panik. Dia melihat Jeno yang sedang kesusahan memegang tiang penyangga tengah tenda (batang bambu lapuk) sendirian.

“Sini! Aku pegangin tiangnya!”

Lusia lari mendekat sebelum aku sempat melarang.

“Lus, jangan—“

Lusia sudah menyambar tiang bambu itu. “Aku pegang! Jeno, kamu iket talinya!”

Jeno ragu-ragu. “Mbak, ini berat lho. Anginnya kenceng.”

“Aku kuat! Aku sering pilates! Otot core aku bagus!” Lusia memasang kuda-kuda, memeluk tiang bambu itu erat-erat. Wajahnya serius seperti pejuang kemerdekaan memegang bambu runcing.

Jeno akhirnya melepaskan tiang itu untuk mengikat tali di pasak tanah.

“Oke, Mbak. Tahan lurus ya. Jangan gerak. Tiga menit aja.”

“Siap!”

Satu menit berlalu. Aman. Lusia merasa bangga. Liat kan? Aku berguna. Aku adalah tiang penyangga peradaban.

Tapi kemudian, bisikan overthinkingnya tidak sengaja terdengar oleh ku.

“Tunggu... kalau aku pegang terlalu kencang, nanti aliran darah di tangan mati. Kalau tangan mati, aku nggak bisa megang mic lagi. Tapi kalau aku longgarin dikit, nanti tendanya rubuh dan nindih Adrian. Kalau Adrian mati geprek, siapa yang jadi badut? Ya Tuhan, beban nyawa 16 orang ada di tangan aku. Kenapa tiang ini miring ke kiri dikit? Apa aku skoliosis? Jangan-jangan aku skoliosis karena kebanyakan pake heels?”

Keringat dingin mengucur di dahi Lusia. Dia mulai gemetar.

“Mbak? Jangan goyang, Mbak!” seru Jeno yang lagi nyimpul tali.

“Ini... ini miring, Jen! Rotasi buminya bikin pusing!” racau Lusia.

“Apaan sih rotasi bumi? Lurusin!”

Lusia mencoba meluruskan tiang itu, tapi karena gugup, dia malah menggesernya terlalu keras ke kanan.

KRAK.

Bambu lapuk itu tidak kuat menahan over-correction Lusia. Bambu itu patah di tengah.

Dan hukum fisika bekerja. Terpal berat yang sudah dipasang setengah itu runtuh seketika.

WUSH! BRUK!

Terpal biru raksasa yang basah dan berat itu jatuh menimpa Jeno, Sari, dan Kiki yang ada di bawahnya.

“ADUH! PATAH TULANG GUE!” teriak Sari.

“WOY! GELAP! SIAPA YANG KENTUT?!” jerit Adrian yang ikut ketiban.

Aku menepuk jidat. Sempurna.

Lusia berdiri mematung memegang patahan bambu di tangannya. Matanya membelalak horor. Dia baru saja meruntuhkan satu-satunya atap kami malam ini.

Kru berjuang keluar dari balik terpal seperti zombie bangkit dari kubur. Wajah Jeno merah padam menahan emosi. Sari mengelus pinggangnya yang encok. Kiki menatap Lusia dengan tatapan yang kalau bisa membunuh, Lusia sudah jadi abu.

“Maaf...” bisik Lusia, bibirnya gemetar hebat. “Aku... aku Cuma mau ngelurusin dikit biar fengshui-nya bagus...”

“Fengshui mbahmu!” sembur Kiki, kesabarannya habis. “Mbak Lusia, please deh! Lo diem aja bisa nggak sih?! Tiap lo gerak, ada aja bencana! Lo itu kutukan tau nggak!”

Lusia mundur. Patahan bambu jatuh dari tangannya.

“Aku... aku...”

Dia tidak bisa membela diri. Fakta ada di depan mata. Dia baru saja menghancurkan kemah.

“Udah, udah!” aku maju, menengahi sebelum terjadi perang saudara. “Jeno, cari bambu lain. Sari, Kiki, istirahat dulu. Biar gue sama Reman yang pasang.”

“Terus dia ngapain?!” tunjuk Kiki ke arah Lusia.

Aku menatap Lusia. Dia terlihat sangat kecil, sangat menyedihkan, dan sangat ingin menghilang.

“Lusia,” panggilku tegas.

Dia menunduk, siap dimarahi.

“Tugas lo sekarang adalah... jaga batu.”

Lusia mendongak. “Hah?”

“Batu yang lo bawa tadi. Susun yang rapi di pinggir api unggun. Pastiin batunya anget tapi nggak gosong. Itu tugas vital. Kalau batunya meledak, kita semua mati. Ngerti?”

Itu tugas bodoh. Tugas mengada-ada supaya dia tidak menyentuh hal penting lainnya. Tapi Lusia mengangguk cepat, air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Siap. Jaga batu. Aku bisa.”

Dia lari ke tumpukan batunya, mulai menyusunnya dengan presisi obsesif seolah sedang menyusun berlian di etalase toko perhiasan.

Malam semakin larut. Kami akhirnya tidur berhimpitan di bawah terpal yang dipasang seadanya (tanpa tiang tengah, jadi agak ceper kayak tenda pramuka gagal).

Dinginnya menusuk tulang.

Aku terbangun tengah malam karena mendengar suara isak tangis tertahan.

Aku menoleh. Di dekat sisa bara api yang hampir mati, Lusia duduk memeluk lutut. Dia tidak tidur. Dia menjaga batu-batunya.

Aku merangkak keluar dari sleeping bag (sebenarnya Cuma karung goni), dan duduk di sebelahnya.

“Belum tidur?”

Lusia buru-buru menghapus air matanya. “Aku jaga batu. Belum panas merata. Yang sebelah kiri suhunya masih kurang optimal.”

“Lus...”

“Aku nggak guna, Will,” potongnya, suaranya pecah. “Kiki bener. Aku kutukan. Aku nyoba bantu, malah ngerusak. Aku nyoba nyanyi, malah dihina. Aku nyoba diem, malah jadi beban pikiran.”

Dia mengambil satu batu hangat, menggenggamnya erat.

“Aku mikir... apa mending aku jalan aja ke dalem hutan sana? Siapa tau ada harimau yang laper. Setidaknya kalau aku dimakan harimau, aku berguna jadi protein buat dia. Rantai makanan, kan?”

“Jangan ngomong gitu,” kataku, merebut batu itu dari tangannya. “Harimau di sini nggak doyan daging penuh silikon dan botox.”

Lusia tertawa kecil, tawa yang sangat sedih. “Jahat. Aku natural tau. Cuma filler dikit di bibir.”

“Dengerin gue,” kataku, menatap api yang meredup. “Lo emang nggak bakat jadi kuli. Lo nggak bakat jadi teknisi. Lo bahkan nggak bakat jadi asisten rumah tangga.”

“Makasih lho, motivasinya,” sindirnya.

“Tapi lo punya satu hal yang kita nggak punya.”

“Apa? Bakat ngerusuhin suasana?”

“Imajinasi,” jawabku.

Lusia menoleh.

“Kita semua di sini orang lapangan, Lus. Jeno, Karni, Reman... otak kita isinya kabel, baut, sama nasi bungkus. Kita realistis. Kalau liat tembok, ya kita liat tembok.”

Aku menunjuk ke arah kegelapan hutan yang menyeramkan di depan kami.

“Tapi lo... lo liat panggung. Lo liat drama. Lo liat cerita di mana-mana. Lo halu, iya. Tapi di dunia yang udah jelek kayak gini, kita butuh orang halu.”

“Besok pagi, jangan coba-coba angkat galon atau pasang tenda lagi. Tangan lo lecet, asuransi lo udah nggak aktif.”

“Terus aku ngapain?”

“Lo bohongin kita.”

“Hah?”

“Bohongin kita kalau semuanya bakal baik-baik aja,” kataku. “Pake akting lo. Pake suara lo. Jadi Ratu lagi. Ratu yang nggak perlu angkat bambu, tapi Ratu yang bikin rakyatnya semangat bangun pagi.”

Lusia terdiam, mencerna kata-kataku. Dia menatap batu hangat di tangannya.

“Jadi... aku nggak perlu jadi kuli?”

“Nggak perlu. Biar Jeno yang jadi kuli. Dia seneng pamer otot.”

Lusia tersenyum tipis. Sedikit beban di bahunya terangkat.

“Oke. Aku bakal jadi Ratu Halu.”

“WOY! YAN! REMAN!”

Teriakan Jeno memecah momen syahdu itu. Dia berlari dari arah bus yang tersangkut di antara pohon.

“Buruan sini! Ada suara aneh!”

Aku dan Lusia sontak berdiri. Firasatku langsung siaga satu.

“Suara apa? Longsor lagi?”

“Bukan! Dari dalem bus! Buruan!”

Kami berlari mendekati bangkai bus Si Manis. Reman sudah ada di sana, duduk di kursi supir yang miring. Dia sedang mencoba memutar kunci kontak.

“Gue Cuma mau manasin mesin bentar, Yan. Cek aki,” kata Reman, wajahnya tegang. “Tapi pas gue puter kuncinya... radio komunikasinya nyala sendiri. Bukan siaran pemerintah yang kemaren.”

Reman memutar kenop volume.

KRESEK... KRESEK... NGIIIING...

Suara statis yang tajam memenuhi kabin bus yang pengap. Lalu, di antara derau putih itu, terdengar suara manusia. Suara laki-laki, panik, napasnya terengah-engah, berbicara dalam bahasa Inggris yang cepat namun beraksen berat. Sinyal radio yang bocor.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags