Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku Mencintai Umat Manusia
MENU
About Us  

Keheningan di dalam bus Si Manis bukan jenis hening yang damai seperti di perpustakaan, melainkan hening yang mencekik seperti di ruang tunggu kamar mayat.

Sudah tiga jam berlalu sejak kami meninggalkan konvoi pengantin berdarah itu. Reman mengemudi tanpa menyalakan musik dangdut andalannya. Jeno duduk mematung menatap jalanan gelap. Bahkan Adrian, si Tuyul yang biasanya tidak bisa diam lebih dari lima menit, kini tertidur gelisah sambil memeluk lututnya sendiri.

Kejadian tadi bukan sekadar penolakan. Itu adalah pembunuhan karakter. Pria gila itu tidak membunuh tubuh Lusia, tapi dia menyembelih jiwanya di depan umum, mencincang egonya, dan menyajikannya mentah-mentah.

Aku melirik ke pojok belakang. Lusia masih di sana.

Dia tidak bergerak satu inci pun. Posisinya masih sama: memeluk lutut, kepala tertunduk, bersembunyi di balik benteng kostum-kostum panggung yang kini tampak seperti tumpukan kain kafan warna-warni.

Noda itu masih ada. Ludah bercampur darah yang mengering di pipi kirinya. Sebuah stempel kehinaan yang dia biarkan menempel, seolah dia merasa pantas menerimanya.

Aku tidak tahan lagi.

Aku bangkit dari kursi navigator, mengambil sisa tisu basah yang tadi kuambil dari mobil pengantin (benda yang ironisnya berbau baby powder yang lembut), dan berjalan ke belakang.

Langkah kakiku terdengar berat di lantai besi. Vina, yang duduk di bangku tengah, menatapku sekilas. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan judes, kali ini terlihat khawatir. Dia menggeleng pelan, seolah bilang: “Jangan diganggu, Yan. Dia lagi hancur.”

Aku mengabaikannya. Lusia tidak butuh waktu sendiri. Pikirannya sekarang adalah musuh terbesarnya. Kalau dibiarkan sendiri, dia akan membusuk dari dalam.

Aku duduk bersila di depannya. Jarak kami hanya selengkah.

Dia tidak mendongak. Napasnya terdengar berat dan tersendat, seperti orang yang lupa caranya bernapas otomatis.

“Lus,” panggilku pelan.

Hening.

“Nyonya.”

Masih hening.

“Ayla.”

Tubuhnya tersentak kecil saat mendengar nama aslinya. Nama yang dia kubur dalam-dalam di bawah lapisan bedak dan sorotan lampu. Perlahan, sangat perlahan, dia mengangkat wajahnya.

Wajah itu berantakan. Matanya bengkak, maskaranya luntur membentuk jalur hitam di pipi, berbaur dengan noda ludah yang menjijikkan itu. Tidak ada Ratu di sini. Yang ada hanya seorang gadis kecil yang tersesat di neraka.

“Mau apa?” suaranya parau, seperti gesekan amplas kasar.

“Bersihin muka lo,” kataku datar. “Lo bau amis.”

“Biarin,” jawabnya, memalingkan wajah ke dinding bus. “Emang tempat sampah baunya gini, kan?”

Kesabaranku menipis, tapi bukan karena marah. Karena sakit melihatnya begini.

Aku mengulurkan tangan, mencengkeram dagunya. Bukan cengkeraman kasar seperti saat aku menyeretnya keluar hotel, tapi cengkeraman tegas yang menuntut atensi.

“Lepas...” rintihnya lemah.

“Diem. Nurut sama asisten.”

Aku memaksanya menatapku. Tanganku yang satu lagi mengusapkan tisu basah itu ke pipinya. Dingin tisu basah bertemu kulitnya yang demam.

Aku menggosok noda ludah itu. Sekali. Dua kali. Darah kering itu susah hilang. Aku harus menekannya sedikit lebih keras.

“Sakit, Will...”

“Tahan. Dikit lagi.”

Aku terus menggosok sampai noda merah kecokelatan itu berpindah ke tisu putih di tanganku. Sampai pipinya kembali bersih, meski merah bekas gosokan.

Setelah noda itu hilang, aku tidak berhenti. Aku membersihkan sisa maskara di bawah matanya. Membersihkan debu di dahinya. Membersihkan dagunya.

Ini bukan tugas asisten. Ini tugas seorang kakak, atau mungkin ibu, atau mungkin sesuatu yang belum punya nama di antara kami.

Lusia diam saja, membiarkan aku memperlakukannya seperti boneka keramik yang sedang direstorasi. Matanya menatapku, tapi tatapannya tembus pandang.

“Udah bersih,” kataku akhirnya, membuang tisu kotor itu ke lantai. “Sekarang lo balik jadi manusia.”

Lusia menatap tisu kotor di lantai itu lama sekali. Lalu, bibirnya bergetar. Pertahanannya jebol.

“Kenapa, Will?” bisiknya, air mata baru mulai mengalir lagi. Kali ini bening.

“Kenapa apa?”

“Kenapa kamu nggak tinggalin aku aja di sana? Pria itu bener. Aku nggak guna. Aku Cuma bikin orang makin marah.”

Dia mencengkeram pergelangan tanganku. Kukunya menancap sakit.

“Dengerin aku, William. Serius. Turunin aku. Tinggalin aku di pinggir jalan.”

“Jangan ngaco.”

“Aku serius!” suaranya naik setengah oktaf, putus asa. “Kalian butuh space. Aku Cuma beban. Aku nggak bisa angkat barang, aku nggak bisa masak, aku cengeng, aku ribet. Dan ternyata... nyanyian aku nggak laku.”

Dia tertawa getir di sela tangisnya.

“Teater Terakhir Umat Manusia? Itu lelucon paling lucu sedunia. Siapa yang butuh hiburan kalau perutnya laper? Siapa yang butuh lagu kalau istrinya mati? Kita orang gila, Will. Kita delusi.”

Aku diam membiarkan dia menumpahkan racun di kepalanya.

“Turunin aku, Will. Plis. Biar aku mati sendiri. Setidaknya aku mati tanpa ngebebanin kalian.”

Aku menatapnya lurus-lurus. Mengunci pandangannya.

“Udah ngomongnya?” tanyaku dingin.

Lusia terisak, mengangguk.

“Oke. Sekarang dengerin gue.”

Aku mendekatkan wajahku, hidung kami hampir bersentuhan.

“Lo bener. Lo emang beban. Lo ribet. Lo manja. Dan lo bener, nyanyian lo nggak bisa ngidupin orang mati.”

Lusia memejamkan mata, menerima ‘vonis’ itu.

“Tapi lo salah soal satu hal,” lanjutku.

Dia membuka mata.

“Kita nggak pernah nyari ‘berguna’. Kita nyari alesan buat tetep waras.” Aku menunjuk ke arah kru yang tertidur di depan.

“Liat Jeno. Dia butuh lo buat diteriakin biar dia ngerasa punya bos. Liat Adrian. Dia butuh lo buat jadi bahan lawakan biar dia nggak gila mikirin keluarganya. Liat gue.”

Suaraku melembut di akhir kalimat.

“Gue butuh lo buat jadi alesan gue bangun pagi. Kalau lo nggak ada, gue Cuma tukang angkat barang yang nggak punya tujuan. Gue asisten, Lus. Asisten butuh majikan. Kalau majikannya mati, asistennya nganggur. Lo mau gue jadi pengangguran di tengah kiamat?”

Lusia menatapku bingung, air matanya berhenti sejenak. Sudut bibirnya berkedut sedikit, sangat sedikit.

“Kamu... egois banget,” bisiknya lemah.

“Emang. Manusia itu egois. Kita bertahan idup karena egois.”

Aku mengambil bantal leher (bekas Adrian) yang tergeletak di dekat situ, lalu menaruhnya di belakang punggung Lusia.

“Sekarang tidur. Besok kita pikirin lagi soal teater bodoh ini. Kalau emang nggak ada yang mau nonton, ya udah. Kita nyanyi buat pohon. Kita nyanyi buat setan. Kita nyanyi buat diri kita sendiri.”

“Tapi aku takut...” Lusia memeluk lututnya lagi. “Aku takut ketemu orang kayak tadi lagi.”

“Kalau ada orang kayak tadi lagi...” Aku meraih linggis yang tergeletak di sampingku, menepuknya pelan. “Gue yang maju duluan. Gue bakal pastiin dia nggak sempet ngeludah sebelum giginya rontok.”

Lusia menatap linggis itu, lalu menatapku.

“Panglima Jin,” gumamnya pelan, mengutip julukan konyolnya sendiri.

“Hadir,” jawabku.

Lusia menghela napas panjang, sangat panjang, seolah mengeluarkan separuh nyawanya. Dia menyandarkan kepalanya ke dinding bus yang bergetar.

“Will...”

“Hmm?”

“Jangan jauh-jauh. Duduk di sini aja.”

“Kakiku kesemutan kalau duduk bersila terus.”

“Bodo amat. Itu perintah Ratu.”

Ratu. Dia menyebut kata itu lagi. Meskipun suaranya lemah dan tidak meyakinkan, setidaknya kata itu sudah kembali.

“Siap, Nyonya,” jawabku pasrah.

Aku meluruskan kaki, bersandar di sebelah tumpukan kostum, menjaga jarak satu jengkal darinya.

Bus terus melaju menembus malam yang pekat. Tidak ada tujuan pasti. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada panggung megah.

Hanya ada kami, tujuh belas orang gila di dalam kaleng besi berjalan, mencoba lari dari kenyataan bahwa dunia membenci kami.

Lusia perlahan tertidur karena kelelahan menangis. Napasnya mulai teratur.

Aku merogoh saku kemejaku, mengeluarkan kertas koran bekas pemberian anak kecil di ruko tadi.

Gambar cakar ayam itu terlihat samar di kegelapan.

TEATER KITA.

Aku meremas kertas itu pelan, lalu menyimpannya kembali.

Mungkin pria di mobil pengantin itu benar. Seni itu sampah saat perut lapar. Tapi anak kecil itu... dia tersenyum.

Dunia ini mungkin terbelah jadi dua kubu sekarang: mereka yang ingin mati sambil marah-marah, dan mereka yang ingin mati sambil tersenyum.

Tugas kami Cuma mencari kubu yang kedua. Sisanya, urusan linggisku.

“Yan,” bisik Vina tiba-tiba dari kursi depan. Dia tidak menoleh ke belakang, tapi dia mengulurkan tangannya ke belakang sandaran kursi.

Di tangannya ada sekotak susu UHT kecil rasa stroberi.

“Buat Lusia,” bisiknya. “Gue nemu nyelip di tas obat gue. Jangan bilang dari gue. Nanti dia ge-er.”

Aku menerima susu kotak itu. Masih agak dingin.

“Thanks, Vin.”

Vina hanya mengacungkan jempol, lalu kembali memeluk tasnya.

Aku menaruh susu kotak itu di samping Lusia yang terlelap.

Setidaknya malam ini, Sang Ratu tidak sendirian. Dan selama dia tidak sendirian, pertunjukan belum bubar.

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags