Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku Mencintai Umat Manusia
MENU
About Us  

Euforia panggung itu seperti alkohol murah, malamnya bikin mabuk kepayang sampai lupa diri, paginya bikin kepala mau pecah dihantam realitas.

Matahari pagi yang warnanya sekarang lebih mirip kuning telur busuk yang dicampur pewarna ungu memar menembus kelopak mataku. Aku mengerang, mencoba meregangkan leher yang kaku. Tidur di atap bus berbantalkan besi dingin dan ransel bukanlah rekomendasi ortopedi terbaik. Di sebelahku, Lusia masih tertidur. Posisinya meringkuk seperti udang, tertutup jaket denimku yang sekarang baunya pasti sudah bercampur antara keringat, debu, dan aroma parfum Chanel yang mulai apek.

“Nyonya,” panggilku, menyenggol ujung sepatu botnya dengan kakiku. “Bangun. Check-out time.”

Lusia melenguh. Dia membuka mata perlahan, mengerjap menatap langit aneh di atas kami. Sedetik kemudian, dia langsung duduk tegak, panik meraba wajahnya.

“Kaca! William, kaca!” jeritnya serak. “Muka aku bengkak nggak? Kantung mata aku turun nggak? Semalem aku tidur nggak pake night cream!”

Aku menghela napas. Selamat datang kembali, Diva. Tadi malam di bawah sinar bulan dia sempat jadi filsuf yang bijak, pagi ini dia kembali jadi pelanggan VVIP yang ribet.

“Muka lo masih sama. Masih ada idung sama matanya,” jawabku datar sambil bangkit berdiri, menepuk debu dari celana. “Buruan turun. Reman udah manasin mesin. Kita nggak bisa jadi parasit di sini selamanya.”

Kami turun dari atap bus. Di bawah, suasana perpisahan sedang terjadi. Para penyintas ruko itu berbaris di depan gerbang barikade mobil bekas. Mereka tidak lagi menodongkan senapan. Ibu-ibu melambaikan tangan, bapak-bapak mengangguk hormat.

Si anak kecil yang semalam yang mengira aku pahlawan super bernama Yan berlari mendekat saat aku menapak tanah.

“Om Yan!” serunya. Dia menyodorkan secarik kertas koran bekas. Di atasnya ada gambar orat-oret pakai arang. Ada gambar kotak besar (bus), garis-garis lidi (kami), dan tulisan cakar ayam: TEATER KITA.

“Buat Om. Biar nggak lupa jalan pulang,” katanya polos.

Aku menerima kertas kotor itu. Rasanya lebih berat dari peti properti. Aku melipatnya hati-hati, memasukkannya ke saku kemeja flanelku, tepat di dada kiri.

“Makasih, Jagoan,” kataku, mengacak rambutnya yang bau matahari. “Jaga Ibu kamu. Jangan biarin dia sedih.”

“Siap, Komandan!” Dia hormat.

Aku naik ke bus. Reman sudah di balik kemudi, wajahnya tegang menatap jarum indikator solar yang setia di garis merah.

“Cabut, Man,” perintahku.

“Siap, Yan. Bismillah nyampe pom bensin,” gumam Reman, menginjak gas.

Bus Si Manis meraung pelan, bergerak meninggalkan ruko itu. Lusia duduk di dekat jendela, melambai pada “penonton” pertamanya dengan gaya Miss Universe di atas kendaraan pawai. Dia tersenyum lebar sampai bus berbelok dan barikade itu hilang dari pandangan.

Begitu penonton hilang, senyumnya langsung rontok. Dia berbalik menatapku, wajahnya berubah horor.

“William. Aku laper. Kita sarapan apa? Jangan bilang mie instan lagi. Usus aku bisa keriting.”

“Menu hari ini: Biskuit bayi rasa pisang punya Adrian, atau puasa sunah,” jawabku sambil membuka peta buta di pangkuan.

“Gila!” Lusia melempar dirinya ke sandaran kursi bus. “Ini pelanggaran HAM! Di rider kontrak aku tertulis sarapan harus croissant anget sama fresh orange juice!”

“Kontrak lo udah hangus kebakar bareng hotel, Nyonya,” sahut Vina dari kursi belakang, mulutnya sibuk mengunyah biskuit bayi jatah terakhir. “Terima nasib aja. Nih, mau nggak? Tinggal remah-remah.”

Lusia menatap biskuit lumat itu dengan jijik. “Mending aku makan kuku sendiri.”

Bus terus melaju. Pemandangan di luar makin absurd. Jalanan aspal mulai tidak rata, bergelombang seperti ombak beku akibat gempa. Pohon-pohon di pinggir jalan bukan tumbang, tapi miring seragam ke arah utara, seolah-olah ada magnet raksasa yang menarik mereka.

“Yan,” panggil Reman pelan, matanya menyipit. “Di depan... apaan tuh?”

Aku melihat ke depan. Sekitar dua ratus meter di depan, jalan raya tertutup sesuatu yang berwarna-warni.

“Pelan-pelan, Man,” insting waspadaku menyala.

Saat kami mendekat, bentuknya makin jelas. Itu bukan barikade preman. Itu adalah iring-iringan mobil pengantin.

Ada sekitar sepuluh mobil mewah—Mercy, Alphard, Camry—berhenti berantakan di tengah jalan. Semuanya dihias pita bunga-bunga plastik yang sekarang sudah layu dan kusam. Tapi anehnya, tidak ada tanda-tanda kerusakan parah. Mobil-mobil itu Cuma... berhenti. Pintu-pintunya terbuka.

Sunyi. Tidak ada mayat. Tidak ada orang.

“Berhenti,” perintahku.

“Mau ngapain, Yan? Itu serem banget woy,” protes Jeno yang memeluk jok depannya. “Itu pasti ada hantunya. Liat tuh pitanya goyang sendiri!”

“Kita butuh bensin, Jen,” kataku tajam, mengambil linggis andalanku. “Mobil-mobil orang kaya itu biasanya bensinnya Pertamax Turbo. Si Manis butuh minum.”

“Gue ikut!” seru Bimo tiba-tiba, matanya berbinar. “Biasanya di mobil kawinan ada katering, Yan! Siapa tau ada sisa lemper atau kue sus!”

“Aku juga!” Lusia berdiri, merapikan rambutnya. “Aku mau ikut.”

“Lo diem di sini,” larangku. “Bahaya.”

“Nggak mau! Di situ ada Alphard! Siapa tau ada charger HP atau power bank! HP aku mati total dari kemarin, aku nggak bisa ngaca!” bantah Lusia keras kepala.

Akhirnya, tim penjarah terbentuk: Aku, Jeno (bawa selang), Reman (bawa jerigen), Bimo (bawa karung goni buat makanan), dan Lusia (bawa... dirinya sendiri yang ribet).

Kami turun ke jalanan yang panas. Uap aspal dan bau karet menyengat. Kami berjalan mendekati mobil paling depan, sebuah sedan convertible putih yang dihias boneka beruang di kap mesin.

“Permisi...” bisik Bimo sopan, seolah-olah takut membangunkan pengantinnya.

Kosong. Kunci masih menggantung di kontak. Ada sepatu hak tinggi tertinggal di aspal, satu pasang. Jas pengantin pria tersampir di jok, lengkap dengan bunga di saku.

“Kemana orangnya?” bisik Jeno, bulu kuduknya berdiri. “Masa diangkat UFO?”

“Mereka lari,” kataku, memeriksa tanah. “Liat jejak kakinya. Menjauh dari jalan, masuk ke hutan.”

Mungkin saat gempa pertama terjadi, atau saat langit berubah warna, kepanikan massal membuat mereka meninggalkan besi-besi mahal ini dan lari mencari tanah tinggi. Ironis. Pernikahan yang menghabiskan miliaran rupiah, bubar jalan karena bumi batuk sedikit.

“Harta karun!” pekik Reman girang. Dia sudah membuka tutup tangki Alphard hitam. “Penuh, Yan! Masih full tank! Rezeki anak soleh!”

“Sedot, Man. Jangan sampe tumpah,” perintahku.

Sementara Reman dan Jeno sibuk jadi maling bensin, Bimo mengaduk-aduk bagasi mobil katering.

“Yah... basi...” keluh Bimo, mengangkat kotak nasi yang sudah berjamur. “Lempernya udah jadi fosil.”

Sedangkan Lusia, dia berjalan dengan dagu diangkat, melangkah di antara mobil-mobil mewah itu seolah sedang berjalan di red carpet.

“Ini baru properti yang layak,” gumam Lusia, mengusap kap mesin Rolls Royce putih yang berdebu. “William, nanti kita pindahin barang-barang aku ke mobil ini. Bus Si Manis terlalu bau buat image aku.”

“Kita nggak bisa bawa sedan di jalan hancur, Lus. Pikir pake logika,” bantahku sambil membuka tutup tangki mobil lain untuk menyedot bensin.

“Aku nggak peduli. Aku mau mobil ini,” Lusia keras kepala. Dia berjalan menuju pintu belakang Rolls Royce itu. “Siapa tau di dalemnya ada champagne atau gaun pengantin yang bisa aku pake buat kostum.”

“Lus, hati-hati. Jangan sembarangan buka,” peringatku, perasaanku mulai tidak enak. Hening di sini terlalu menusuk.

Lusia tidak mendengar. Dengan percaya diri penuh—rasa percaya diri yang dia dapat karena merasa dirinya “Ratu Penyelamat”—dia menarik gagang pintu mobil mewah itu.

“Permisi...” ucapnya dengan nada anggun yang dibuat-buat. “Maaf ya, mobilnya aku sita demi kepentingan nega—“ Kalimatnya terputus.

Pintu terbuka. Bau busuk menyengat langsung menampar wajah kami. Bau darah amis dan daging yang mulai rusak.

Di dalam mobil itu, tidak kosong. Ada seorang pria duduk di sana. Pria itu memakai jas pengantin yang koyak dan berlumuran darah kering. Di pangkuannya, terbaring seorang wanita dengan gaun pengantin putih yang sudah berubah merah pekat di bagian dada. Wanita itu sudah tidak bernapas. Matanya melotot kosong.

Pria itu... masih hidup. Dia mendongak perlahan saat cahaya matahari masuk. Wajahnya hancur oleh kesedihan dan kegilaan. Matanya merah, liar, dan basah. Di tangannya, dia menggenggam sebuah pecahan kaca tajam—mungkin dia berniat menyusul istrinya tapi tidak punya nyali.

Lusia terpaku. Wajahnya pucat pasi. Tapi, bukannya mundur, insting “Diva”-nya yang salah kaprah malah mengambil alih. Dia pikir dia bisa menangani ini seperti dia menangani preman kemarin. Dia pikir semua orang butuh “dihibur”.

“Oh... astaga,” Lusia menutup mulutnya dengan gaya teatrikal yang kaku. “Turut berduka cita... Mas. Tapi tenang... aku di sini. Aku Lusia.”

Lusia mencoba tersenyum, senyum manis yang biasa dia pakai untuk fans.

“Keadaan memang buruk, tapi kamu jangan putus asa ya. Kami punya rombongan seni. Mungkin... mungkin sebuah lagu bisa bikin perasaan kamu lebih ba—“

“DIAM!”

Teriakan pria itu meledak seperti petir. Sebelum aku sempat bergerak, pria itu melompat keluar dari mobil. Dia tidak terpesona. Dia tidak butuh hiburan. Dia menerjang Lusia, mendorong tubuh mungil itu hingga Lusia jatuh terjengkang ke aspal panas yang penuh kerikil.

“LUSIA!” teriakku, berlari mendekat sambil mengacungkan linggis.

Tapi pria itu tidak menyerang lagi. Dia berdiri di atas Lusia, menunjuk wajah Lusia dengan jari yang gemetar penuh darah istrinya.

“Lo... gue tau lo...” desis pria itu. Suaranya penuh racun dan kebencian murni. “Lo Lusia kan? Si artis sok suci yang tiap hari nongol di TV?”

Lusia gemetar di aspal, matanya membelalak kaget. “I-iya... itu aku... aku Cuma mau bantu—“

“MENJIJIKAN!” Pria itu meludah tepat ke wajah Lusia.

Cuih.

Ludah bercampur darah itu mendarat di pipi Lusia yang mulus. Lusia membeku. Syok.

“Istri gue mati kehabisan darah! Kami kejebak macet tiga hari! Nggak ada dokter! Nggak ada bantuan!” Pria itu menjambak rambutnya sendiri, menangis histeris sambil tertawa gila. “Dan sekarang lo dateng? Artis? Mau nyanyi? MAU NYANYI KATALO?!”

“Mas... tenang...” Lusia mencoba mundur, air mata mulai menggenang. “Aku... aku ratu...”

“RATU SAMPAH!” potong pria itu. Dia menendang debu ke arah Lusia. “Lo dan semua orang-orang kayak lo di TV... kalian itu racun! Kalian sibuk pamer tas mahal, pamer liburan, sementara dunia udah mau kiamat! Lo pikir nyanyian lo bisa ngidupin istri gue?! HAH?!”

“Lo Cuma pelacur panggung yang nggak berguna! Pergi lo dari sini sebelum gue robek mulut lo biar nggak bisa nyanyi lagi!”

Pria itu mengangkat pecahan kaca di tangannya, siap menyabet.

BRAK!

Aku menabrak pria itu dari samping, membantingnya ke kap mobil. Linggisku menekan lehernya.

“Pergi, Lus! LARI!” bentakku.

“LEPASIN GUE! BIAR GUE BUNUH DIA! DIA NGGAK GUNA!” Pria itu meronta, tenaganya tenaga orang gila. “ARTIS SAMPAH! MATI AJA LO!”

Lusia masih duduk di aspal. Dia tidak lari. Dia menatap pria itu, lalu menatap ludah di bajunya, lalu menatap mayat pengantin wanita di dalam mobil. Realita menghantamnya telak. Kemarin, preman takut padanya karena mereka bodoh dan percaya takhayul.

Hari ini, orang yang benar-benar menderita melihat Lusia sebagai apa adanya. Wanita pesolek yang tidak berguna di tengah bencana. Lusia tidak menyelamatkan siapa-siapa. Nyanyiannya tidak bisa menyembuhkan kematian. Delusinya hancur berkeping-keping.

“Jeno! Bawa Lusia masuk bus!” teriakku.

Jeno dan Reman berlari, menyeret Lusia yang lemas seperti boneka kain. Lusia tidak melawan. Tatapannya kosong. Aku mendorong pria gila itu menjauh, lalu mundur perlahan. Pria itu merosot di samping mobil, kembali memeluk mayat istrinya sambil meraung-raung memanggil nama Tuhan. Sedangkan Kami, berlari dengan Bus Si Manis tancap gas meninggalkan konvoi neraka itu.

Di dalam bus, suasananya mati. Tidak ada yang berani bicara. Lusia duduk di pojok paling belakang, di antara tumpukan kostum. Dia memeluk lutut. Ludah pria tadi masih ada di pipinya, mengering, tapi dia tidak menghapusnya. Aku berjalan mendekat, membawa tisu basah (yang kutemukan di dashboard salah satu mobil tadi).

“Lus,” panggilku pelan. “Bersihin muka lo.”

Lusia tidak menjawab. Dia tidak menoleh. Matanya menatap lurus ke lantai besi yang berkarat.

“Nyonya,” panggilku lagi, lebih tegas.

Perlahan, Lusia mendongak. Dan hatiku mencelos melihat matanya. Sinar itu hilang. Mata yang biasanya berapi-api, angkuh, atau setidaknya memancarkan keinginan untuk hidup... sekarang mati. Gelap. Seperti lampu panggung yang bohlamnya pecah.

“Dia bener, Will,” bisik Lusia. Suaranya serak, pecah, hampir tak terdengar.

“Dia orang gila, Lus. Dia lagi stres berat. Jangan didengerin.”

“Dia bener,” ulang Lusia. Air mata menetes pelan, tanpa isak tangis. “Aku nggak guna. Aku Cuma badut yang pake baju bagus. Aku pikir... aku pikir aku bisa jadi Ratu. Aku pikir aku spesial.”

Dia tertawa kecil, tawa yang menyayat hati.

“Ternyata aku Cuma sampah yang kebetulan terkenal. Nyanyian aku nggak ada artinya dibanding mayat itu.”

“Lus...”

“Jangan ngomong sama aku,” Lusia membenamkan wajahnya ke lutut. Bahunya bergetar hebat. “Tolong... anggep aku nggak ada. Aku malu... aku malu banget sama diriku sendiri.”

Aku berdiri diam di sana, memegang tisu basah yang tak terpakai. Aku ingin menghiburnya, ingin melontarkan sarkasme biar dia marah, tapi aku tahu itu percuma. Kali ini, mentalnya benar-benar patah. Sang Diva telah turun panggung, dan dia tidak mau naik lagi.

Bus terus melaju dalam keheningan yang menyakitkan. Di luar, langit semakin gelap, seolah merespons matinya satu-satunya cahaya optimisme di dalam bus kami. Untuk beberapa babak ke depan, sepertinya kami akan berjalan dalam gelap.

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags