Roda bus Si Manis terus menggilas aspal yang retak, membelah keheningan malam yang terasa jauh lebih berat setelah siaran radio terkutuk itu berakhir. Tidak ada lagi musik dangdut yang biasanya diputar Reman untuk mengusir kantuk, tidak ada celotehan Adrian yang biasanya memenuhi kabin. Yang tersisa hanya deru kasar mesin diesel tua dan suara napas kami sendiri yang tertahan.
Aku duduk di kursi navigator, tepat di sebelah Reman, dengan mata nanar menatap jalanan yang hanya diterangi lampu jauh bus yang mulai meredup sebelah. Pikiranku masih terjebak pada kode Morse yang terselip di antara pesan kematian tadi. “... -.-” Akhir dari pekerjaan. Bahkan operator radio di pusat sana sudah pamit undur diri, pulang ke rumah masing-masing, sementara kami justru baru saja berangkat menuju entah ke mana.
“Yan,” panggil Reman pelan, memecah lamunanku. Matanya tetap fokus ke jalan, tapi aku bisa melihat tangannya mencengkeram setir terlalu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Solar tinggal seperempat. Kalau dalam dua jam kita nggak nemu tempat berhenti, kita bakal mogok di tengah hutan.”
“Jalan terus, Man,” jawabku datar, mataku menatap kegelapan di depan yang seolah tak berujung, menelan cahaya lampu kami sedikit demi sedikit. “Firasat gue bilang di depan ada sesuatu.”
“Firasat atau nekat?” gumam Reman, tapi kakinya tetap menekan pedal gas. Dia percaya padaku, atau mungkin dia hanya tidak punya pilihan lain selain mengikuti satu-satunya orang yang berpura-pura tahu arah.
Satu jam berlalu dalam ketegangan yang merayap pelan. Pemandangan di luar jendela perlahan berubah. Siluet hutan pinus yang tajam berganti menjadi kerangka-kerangka bangunan beton yang menjulang seperti nisan raksasa. Kami memasuki pinggiran sebuah kota kecil yang telah menjadi bangkai. Kota ini mati total. Tidak ada lampu jalan yang hidup. Mobil-mobil terbengkalai di tengah jalan dengan pintu terbuka lebar, seolah pemiliknya lari begitu saja saat kiamat dimulai, meninggalkan harta benda yang kini tak lagi berharga. Sampah koran dan plastik beterbangan dihempas angin, menari-nari seperti hantu di aspal kosong.
“Ada cahaya,” bisik Lusia tiba-tiba.
Dia sudah berdiri di lorong bus, tepat di belakang kursiku, aroma parfumnya yang mahal kini bercampur samar dengan bau debu jalanan. Telunjuknya mengarah ke jam dua. Aku menyipitkan mata, mencoba menembus pekatnya malam. Benar saja. Di kejauhan, di antara reruntuhan sebuah komplek ruko yang kosong, ada pendar oranye yang berkelip lemah namun stabil. Itu bukan kebakaran besar yang liar. Itu api unggun yang dijaga. Dan di mana ada api yang dijaga, di situ ada detak jantung manusia.
“Reman, matikan lampu utama,” perintahku cepat, insting bertahanku mengambil alih. “Jalan pelan. Kita mendekat.”
“Siap, Yan.”
Bus meluncur dalam gelap seperti predator atau mungkin mangsa yang sedang mengendap-endap. Saat jarak kami tinggal seratus meter, barulah bentuk sumber cahaya itu terlihat jelas. Itu adalah sebuah barikade. Tumpukan mobil bekas yang disusun meninggi, karung pasir, dan lilitan kawat berduri menutup akses jalan utama komplek ruko itu. Di balik celah-celah barikade, tiga sosok pria berdiri tegang. Senapan rakitan di tangan mereka terarah lurus ke kaca depan bus kami yang kini gelap.
Sebuah letusan keras memecah malam. DOR!
Reman menginjak rem mendadak. Ciiiiiit! Ban bus berdecit nyaring, membuat seisi bus terhuyung ke depan. Bau karet terbakar langsung menyeruak.
“Mundur, Yan?! Kita mundur?!” Reman panik, suaranya naik satu oktaf, tangannya gemetar hebat di setir.
“Jangan,” tahanku, mencengkeram lengan Reman kuat-kuat, menyalurkan sedikit ketenangan yang sebenarnya tidak kumiliki. “Kalau kita mundur, mereka bakal nembak ban. Kita tamat di sini.”
Aku berdiri, mengambil mikrofon mati yang tadi dipegang Lusia. Meski tidak tersambung ke pengeras suara, benda ini memberiku sedikit rasa percaya diri. Rasa bahwa aku memegang kendali, meski itu ilusi semata. “Buka pintunya, Man.”
“Gila lo?! Mereka bawa bedil! Itu bukan mainan!” teriak Vina dari belakang, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya darurat kabin.
“Buka!” bentakku. Tidak ada waktu untuk berdebat.
Pintu hidrolik mendesis terbuka, suara desisnya terdengar sangat keras di keheningan malam. Angin malam yang membawa aroma debu dan keputusasaan langsung menerpa wajahku. Aku turun perlahan, mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. Di belakangku, aku mendengar langkah kaki ringan—Lusia ikut turun tanpa diminta. Lalu disusul langkah berat Om Tio dan Adrian.
“BERHENTI!” Teriak salah satu penjaga barikade. Suaranya parau, penuh curiga dan ketakutan yang disembunyikan di balik amarah. “Satu langkah lagi, kepala kalian bolong! Kami nggak punya makanan buat dijarah! Pergi!”
Aku menelan ludah. Jantungku berpacu seperti drum metal, berdentum di telingaku. Ini panggung pertamaku sebagai sutradara akhir zaman, dan audiensnya bisa membunuhku kapan saja.
“Kami bukan penjarah!” teriakku, berusaha agar suaraku tidak terdengar gemetar, melainkan lantang dan berwibawa. “Dan kami tidak minta makanan!”
“Terus ngapain kalian ke sini bawa bus rongsokan itu?!” Penjaga itu mengokang senapannya. Klik-klak. Suara logam beradu itu terdengar jauh lebih mengerikan daripada guntur.
Aku menatap Lusia sekilas. Wajahnya tenang, dagunya terangkat angkuh meski tangannya sedikit gemetar. Dia memberiku anggukan kecil. Lakukan, William. Jadi Sutradara.
Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan udara dingin, lalu merentangkan tangan lebar-lebar, meniru gaya ringmaster sirkus yang menyambut penonton. “Kami datang untuk menawarkan pertukaran!” seruku, suaraku memantul di dinding-dinding ruko kosong. “Kami dengar siaran radio tadi. Dunia sudah berakhir! Besok kita mati!”
Para penjaga itu saling pandang. Senjata mereka sedikit turun. Kalimat ‘besok kita mati’ adalah bahasa universal yang kami semua pahami sekarang. Itu adalah sandi persaudaraan orang-orang yang kalah.
“Kalau besok kiamat,” lanjutku, melangkah maju satu langkah, menatap mata penjaga itu menembus kegelapan. “Apa kalian mau menghabiskan malam terakhir ini dengan ketakutan di balik karung pasir? Menunggu langit runtuh sambil menggigil?”
“Siapa kalian sebenarnya?” tanya penjaga yang paling tua, matanya menyipit menatap kami, mencoba mencari kebohongan.
Aku menoleh ke belakang, memberi isyarat pada kru-ku. Adrian langsung melompat ke depan, melakukan salto kikuk di atas aspal lalu mendarat dengan pose jenaka. Jeno merobek kaos kutangnya, memamerkan otot sambil meraung konyol. Om Tio membungkuk hormat dengan gaya bangsawan Eropa. Dan Lusia... Lusia hanya tersenyum, senyuman mematikan yang bisa meluluhlantakkan pertahanan pria mana pun.
“Kami adalah Kelompok Teater Akhir Zaman,” jawabku, mengarang nama itu begitu saja. “Dan kami menawarkan hiburan. Sebuah pertunjukan komedi dan drama untuk melupakan bahwa besok kita akan musnah.”
Angin berdesir pelan, membawa debu jalanan berputar di kaki kami. Ketiga penjaga itu bengong. Mungkin mereka pikir kami orang gila yang lepas dari rumah sakit jiwa.
“Kalian... mau ngelenong?” tanya si penjaga tua, nadanya tidak percaya.
“Kami mau bikin kalian ketawa,” sahut Adrian dengan cengiran lebarnya. “Bayarannya gampang. Izinkan kami parkir di dalam, kasih kami sedikit air bersih, dan jadilah penonton yang baik.”
Si penjaga tua menatap temannya, lalu menatap kami lagi. Perlahan, ujung bibirnya berkedut. Dia menurunkan senapannya. “Orang gila,” gumamnya, lalu dia tertawa kecil. Tawa yang kering dan kasar. “Dunia mau kiamat, malah ngajak nonton teater. Dasar orang gila.” Dia melambai pada temannya. “Buka gerbangnya! Biarin orang-orang gila ini masuk. Setidaknya kalau gue mati besok, gue mati sambil ketawa.”
Suara gesekan logam barikade yang diseret membuka jalan bagi kami, dan saat bus Si Manis merayap masuk, suasana berubah drastis. Di dalam sana, ternyata ada sekitar lima puluh orang penyintas. Kondisi mereka menyedihkan. Orang tua yang terbatuk-batuk, anak-anak yang memeluk boneka kotor, wanita-wanita yang wajahnya kusam tertutup debu. Mereka menatap bus kami dengan mata cekung, kosong tanpa harapan, persis seperti cermin bagi kami sendiri satu jam yang lalu.
Tanpa perlu komando berulang, kru langsung bergerak. Adrenalin membanjiri tubuhku, mengusir rasa lelah. “Jeno, Ajo! Rakit panggung darurat pakai palet kayu di pojok sana! Manfaatkan lampu sorot bus buat lighting! Bikin saterang mungkin!” seruku. “Vina, Sari! Bongkar kostum! Apa aja yang ada! Daster, jas hujan, taplak meja, pakai semuanya!”
Di tengah keriuhan persiapan itu, aku melihat Lusia berdiri mematung di dekat pintu bus. Tangannya meremas ujung bajunya, getaran halus terlihat di bahunya. Topeng ‘Ratu’-nya retak sedikit. Aku mendekatinya perlahan. “Lu, kamu oke?”
Lusia menatapku, matanya menyiratkan ketakutan murni. “Will... aku udah lima tahun nggak manggung dadakan. Enggak ada persiapan atau bahkan gladi bersih. Kalau suaraku jelek gimana? Kalau mereka nggak suka?”
Aku memegang kedua bahunya, menatap matanya lekat-lekat, mencoba menyalurkan keyakinanku padanya. “Lusia, lihat mereka,” aku menunjuk ke arah para penyintas yang mulai berkumpul mendekat dengan wajah penasaran. “Mereka nggak butuh penyanyi sempurna. Mereka butuh alasan buat ngerasa kalau mereka masih manusia. Kasih mereka perasaan itu.”
Lusia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan seolah melepaskan beban berat. Dia memejamkan mata sejenak, dan ketika membukanya kembali, Lusia yang rapuh sudah hilang. Sang Diva telah kembali. “Oke, Pak Sutradara,” ujarnya dengan senyum miring khasnya. “Siapin lampunya. Aku bakal bikin mereka nangis bombay.”
Dan malam itu, di tengah kota mati yang berbau debu dan keputusasaan, sebuah keajaiban kecil terjadi. Panggung kami hanyalah tumpukan palet kayu disinari lampu bus yang berkedip-kedip, tapi bagi kami, itu adalah panggung termegah di dunia. Pertunjukan dimulai dengan tawa canggung yang dipancing oleh kelakuan absurd Adrian dan Om Tio, lalu meledak menjadi gelak tawa lepas saat Jeno berakting menjadi putri duyung yang terdampar. Tawa itu menular, menghapus garis-garis ketakutan di wajah para penonton.
Namun puncaknya adalah saat Lusia naik ke atas palet. Lampu sorot memandikannya dalam cahaya putih. Dengan live musik seadanya dan tanpa mikrofon, dia mulai bernyanyi. Sebuah lullaby lama yang lembut namun menyayat hati. Suaranya meliuk di udara malam, menembus dingin, merambat masuk ke dalam rongga dada setiap orang. Aku melihat seorang bapak tua menangis haru, seorang ibu memeluk anaknya lebih erat. Lusia tidak hanya bernyanyi; dia sedang membasuh luka jiwa mereka. Saat lagu berakhir, hening selama tiga detik, lalu tepuk tangan pecah. Gemuruh itu lebih keras dari suara ledakan mana pun, sebuah perlawanan terhadap kesunyian akhir zaman.
Seiring meredupnya tepuk tangan dan api unggun yang mulai menjadi bara, batas antara ‘kami’ dan ‘mereka’ perlahan hilang. Ajo membagikan sisa kuah kari yang kami punya, menciptakan kehangatan komunal di tengah lapangan parkir itu. Aku sedang membantu Ajo menuangkan kuah ke gelas plastik ketika kurasakan tarikan kecil di ujung celanaku. Seorang anak laki-laki, mungkin berusia tujuh tahun, berdiri di sana dengan wajah malu-malu, ibunya tersenyum sungkan di belakangnya.
“Om...” panggil anak itu pelan.
Aku berjongkok, menyamakan tinggiku dengannya. “Ya? Kenapa? Kurang kuahnya?”
Anak itu menggeleng cepat. “Om tadi keren. Om yang ngatur semuanya, kan? Om yang teriak-teriak tadi?”
Aku tersenyum tipis, mengacak rambutnya yang kusam penuh debu. “Om Cuma tukang teriak-teriak aja, biar temen-temen Om semangat.”
“Nama Om siapa?” tanyanya polos, matanya berbinar penasaran.
Sebelum aku sempat menjawab, Reman yang sedang lewat membawa kayu bakar menyahut sambil tertawa lebar. “Nama Om ini Yan, Dek!” kata Reman lantang, menepuk punggungku bangga hingga aku sedikit terhuyung. “Itu nama panggungnya, nama kerennya dia kalau lagi mimpin pasukan teater ini. Yan Sang Komandan!”
Anak itu mengangguk-angguk kagum, seolah ‘Yan’ adalah nama pahlawan super. “Om Yan...”
“Tapi,” Reman menambahkan sambil mengedipkan sebelah matanya pada si ibu anak itu, “Kalau Adek atau Ibu mau manggil dia Will atau William, juga boleh. Itu nama gantengnya kalau lagi nggak marah-marah.”
Aku menyikut perut Reman pelan, meski bibirku tak bisa menahan senyum. “Banyak omong lo.”
Ibu anak itu tersenyum ramah, tatapannya tulus. “Terima kasih, Nak Yan... atau Nak William. Terima kasih sudah mampir ke sini. Kalian bikin anak saya ketawa lagi setelah seminggu dia diem aja karena takut.” Mendengar itu, ada rasa hangat yang menjalar di dadaku, sebuah rasa yang lebih memabukkan daripada alkohol mahal manapun. Rasa berguna di saat tak ada lagi yang berguna.
Malam semakin larut, dan perlahan para penyintas kembali ke sudut-sudut ruko untuk tidur. Kru-ku juga sudah terlelap di sekitar sisa api unggun karena kelelahan yang luar biasa. Suasana kembali hening, tapi kali ini bukan hening yang menakutkan, melainkan hening yang damai. Aku memutuskan untuk memanjat tangga di belakang bus, mencari sedikit kesendirian di atap.
Namun ternyata aku tidak sendiri. Di sana, duduk memeluk lutut sambil menatap langit ungu yang masih terlihat seperti memar raksasa, ada Lusia. Angin malam menerbangkan rambutnya yang berantakan, memperlihatkan siluet lehernya yang jenjang. Dia terlihat begitu kecil di bawah hamparan langit kiamat ini, namun entah kenapa, malam ini dia terlihat lebih kuat dari sebelumnya.
Aku duduk di sebelahnya, menyisakan jarak satu jengkal. Suara logam atap bus berderit pelan saat menahan berat tubuhku.
“Nggak tidur?” tanyaku pelan, takut merusak momen.
Lusia tidak langsung menjawab. Dia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara malam yang dingin. “Adrenalinnya masih tinggi, Will. Jantung aku masih deg-degan kayak habis lari maraton,” jawabnya tanpa menoleh. Sisa-sisa eyeliner-nya luntur di pipi, membentuk jejak hitam yang justru membuatnya terlihat lebih manusiawi, lebih jujur. “Kamu sendiri? Kenapa Pak Komandan Yan nggak istirahat?”
“Otakku berisik. Susah dimatiin,” jawabku jujur.
Kami diam sejenak, membiarkan suara angin mengisi jeda. Lusia mendongak, menatap guratan ungu di langit.
“Tadi itu...” Lusia memulai, suaranya bergetar sedikit. Dia menoleh padaku, dan aku bisa melihat genangan air mata di pelupuk matanya yang belum tumpah. “Tadi itu panggung terbaik aku, Will. Sumpah. Lebih bagus dari konser tunggal di GBK tahun lalu. Lebih berharga dari semua penghargaan platinum yang numpuk di apartemen aku.”
“Itu karena kamu nyanyi tanpa beban, Lus,” kataku lembut.
Lusia menggeleng pelan, senyum getir tersungging di bibirnya. “Bukan. Di GBK, ribuan orang teriak nama aku karena mereka bayar tiket. Mereka cinta sama image Lusia si Diva. Mereka cinta sama produk.” Dia menatap telapak tangannya sendiri, seolah masih merasakan getaran energi dari penonton tadi. “Tapi tadi... bapak-bapak tua itu nangis bukan karena aku cantik atau terkenal. Dia nangis karena dia butuh lagu itu. Aku bisa ngerasain koneksinya, Will. Rasanya kayak... nyawa ketemu nyawa. Murni.”
Dia menatapku lekat-lekat. “Selama ini aku ngerasa kosong. Aku Cuma boneka industri yang didandanin cantik. Tapi malem ini, di atas palet kayu rongsokan itu... untuk pertama kalinya aku ngerasa jadi seniman beneran. Aku ngerasa... berguna.”
Kata-kata ‘berguna’ itu menusuk hatiku. Di dunia yang sudah mau mati ini, merasa berguna adalah satu-satunya kemewahan yang tersisa.
“Kamu nyelamatin jiwa mereka malam ini, Lus. Itu fakta,” kataku tulus.
Lusia menggeser duduknya, sedikit lebih dekat. Dia memeluk lututnya erat-erat, seolah menahan diri agar tidak hancur. “Kamu takut nggak, Will?” tanyanya tiba-tiba, suaranya mengecil menjadi bisikan.
“Takut apa?”
“Takut besok,” bisiknya. “Kode Omega itu... itu artinya selesai, kan? Nggak ada lagi ‘nanti’. Nggak ada lagi masa depan.”
Aku terdiam. Sebagai ‘Yan’, aku harusnya bilang. Tenang, semua aman. Tapi di depan Lusia, di atap bus ini, aku adalah William.
“Aku takut setengah mati, Lus,” aku mengaku, suaraku parau. “Kakiku gemetar waktu turun dari bus tadi. Aku nggak tau kita mau ke mana. Aku nggak tau apa besok kita masih bisa liat matahari.”
Lusia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara simpati dan kelegaan karena aku akhirnya jujur. Tangan halusnya bergerak, menyentuh lengan jaketku yang kotor. Sentuhannya hangat, kontras dengan udara malam.
“Makasih ya,” ucapnya lembut.
“Buat apa? Aku belum nyelamatin kita dari apa-apa.”
“Makasih karena udah nggak ninggalin aku di hotel itu,” potong Lusia. Matanya kini basah, memantulkan pendar ungu langit. “Kalau kamu nggak nyeret aku keluar, mungkin aku udah mati bunuh diri di kamar mandi hotel, sendirian, Cuma ditemenin piala-piala kosong itu. Kamu ngasih aku kesempatan buat ngerasain malam ini. Kamu ngasih aku panggung terakhir.”
Aku menelan ludah, tenggorokanku tercekat. “Dan kamu ngasih aku alasan buat nggak nyerah, Lus. Liat anak-anak di bawah. Adrian, Jeno, Om Tio... kalau nggak ada kamu yang teriak tadi, aku udah nyerah. Aku udah siap mati pas denger radio itu.”
Lusia tersenyum, air mata menetes di pipinya, tapi dia tidak menghapusnya. “Kita berdua aneh ya, Will?
Aku tersenyum tipis lalu membalasnya bagai lelucon. “Kita semua memang aneh Lus, baru sadar sekarang?”
“Mungkin itu kenapa kita cocok,” jawabku, ikut tersenyum.
Lusia menyandarkan kepalanya di bahuku. Berat kepalanya terasa nyata. Wangi rambutnya menenangkan saraf-sarafku yang tegang. Untuk sesaat, kiamat rasanya tidak terlalu buruk jika dihadapi seperti ini.
“Jadi, skenarionya apa buat besok, Pak Sutradara?” tanyanya pelan, matanya mulai terpejam. “Ke mana Tour Teater Terakhir ini bakal pergi?”
Aku menatap cakrawala gelap di timur. Rasa takut itu masih ada, tapi kini ada sesuatu yang lain di sampingnya. Harapan? Mungkin. Atau sekadar keras kepala untuk tidak mati dalam diam.
“Ke mana aja, Lus,” bisikku, meletakkan tanganku di atas tangannya. “Kita cari kota lain. Kita cari orang-orang yang ketakutan. Kita hibur mereka sampai tirai bener-bener ditutup.”
“Kedengarannya kayak rencana yang buruk,” gumam Lusia mengantuk. “Tapi aku ikut.”
Di bawah bayang-bayang langit yang memar, di atap bus tua yang menjadi bahtera kami, dua jiwa yang rusak mencoba saling menopang. Pertunjukan belum selesai. Selama masih ada satu penonton pun yang membutuhkan senyuman, kami akan terus bermain. Sampai lampu benar-benar padam.
silvius