Bus Si Manis menepi di sebuah tanah lapang yang berumput, agak jauh dari jalan raya, diapit oleh hutan pinus dan sungai kecil yang airnya masih jernih. Mesin dimatikan. Hening.
“Semuanya turun,” perintahku pelan. “Kita istirahat. Mesinnya udah panas, kalau dipaksa masak di dalem, kita bakal mati kehabisan oksigen sebelum mati dimakan mayat hidup.”
Begitu pintu bus dibuka, udara malam yang dingin dan segar langsung menyerbu masuk. Rasanya seperti meneguk air es setelah seharian berjalan di gurun pasir.
“AHHH... SUMPAH ENAK BANGET!” teriak Adrian sambil melompat turun, merentangkan tangannya lebar-lebar, lalu berguling-guling di rumput seperti anak anjing yang baru dilepas dari kandang. “Rumput! Ini rumput asli, bukan karpet hotel bau apek!”
“Jangan teriak-teriak, Tuyul! Nanti mengundang tamu tak diundang,” tegur Jeno, meski dia sendiri tersenyum lega sambil meregangkan otot-otot raksasanya yang kaku karena duduk seharian.
Kami menggelar tikar sisa karpet hotel dan terpal biru di atas rumput. Ajo dengan sigap menyusun batu kali untuk membuat tungku darurat. Api unggun kecil dinyalakan, memberikan kehangatan di tengah angin malam yang menggigit.
“Malam ini, Chef Ajo menyajikan hidangan Fine Dining konsep Open Air!” seru Ajo sambil mengaduk panci besar di atas api unggun. “Mie Sedaq Kari Spesial, dimasak dengan teknik slow cooking dan bumbu rahasia: keringat perjuangan!”
Aroma bumbu kari yang tajam dan gurih segera menguar. Perut kami semua berbunyi serempak. Kruyuk...
Saat mie matang, kami makan sambil duduk melingkar di atas rumput. Uap panas mengepul dari mangkuk-mangkuk plastik. Suapan pertama masuk ke mulut.
“Gila...” desah Vina, matanya terpejam. “Gue nggak pernah nyangka bakal secinta ini sama micin. Dulu gue anti banget makan beginian takut jerawatan.”
“Sama,” sahut Adrian, mulutnya penuh mie. “Gue dulu rela nggak makan malem demi perut sixpack. Sekarang? Boro-boro sixpack, perut gue isinya Cuma penyesalan.”
Semua tertawa. Suasana mulai cair. Keluh kesah tentang “hidup lama” mulai keluar.
“Kalian tau nggak?” kata Jeno sambil menunjuk otot lengannya. “Gue abisin duit jutaan buat beli whey protein biar badan gede gini. Tujuannya biar kelihatan serem pas jadi bodyguard.”
“Terus?” tanya Fian.
“Terus pas kiamat dateng, badan gede gini malah nyusahin!” Jeno tertawa getir. “Masuk lubang susah, lari cepet capek, butuh makan banyak. Harusnya gue jadi kurus kayak Bang Yan aja. Irit bensin.”
Aku tertawa, hampir tersedak kuah. “Enak aja lo, Jen. Gue kurus karena tekanan batin ngurusin kalian semua.”
Lusia yang duduk di sebelahku tidak marah ataupun tertawa. Dia malah tersenyum kecil, meniup kuah mienya. Dia terlihat berbeda tanpa makeup tebal. Lebih... nyata.
“Jujur ya,” kata Lusia tiba-tiba. Semua orang diam mendengarkan sang Diva. “Selama lima tahun ini, aku nggak pernah makan mie instan. Manajer aku ngelarang. Katanya pipi aku bakal chubby di kamera.”
Lusia menatap mangkuk mienya dengan tatapan sendu.
“Lima tahun aku makan salad, makan rebusan, minum jus sayur yang rasanya kayak rumput diblender. Tiap malem aku kelaperan di kamar hotel mewah, Cuma bisa liat foto makanan di Instagram.”
Lusia menyuapkan mie besar-besar ke mulutnya. Kuah oranye menetes di dagunya, tapi dia tidak peduli.
“Dan sekarang... pas dunia mau kiamat, aku baru bisa makan enak lagi,” Lusia tertawa, tapi matanya berkaca-kaca. “Ironis banget, kan? Aku punya duit miliaran, tapi kebahagiaan aku Cuma semangkuk mie tiga ribuan ini.”
“Berarti kita menang banyak malem ini, Lus,” sahut Om Tio sambil mengangkat gelas plastiknya. “Kita bebas. Nggak ada manajer, nggak ada diet, nggak ada skenario.”
“TOS!” Adrian mengangkat biskuit bayinya. “Untuk kebebasan dan kolesterol!”
“TOS!”
Kami semua mengangkat mangkuk dan gelas. Tertawa lepas. Melupakan sejenak bahwa di luar lingkaran cahaya api unggun ini, dunia sedang gelap gulita.
Satu jam berlalu. Perut kenyang, hati sedikit lebih ringan. Beberapa kru mulai rebahan di rumput, menatap langit. Aku menyingkir sedikit dari keramaian, duduk di tepi sungai kecil sambil mencuci muka. Airnya dingin membekukan, menyegarkan otakku yang panas. Langkah kaki berat mendekat. Om Tio duduk di batu sebelahku. Dia menyodorkan rokok lintingannya.
“Nih. Biar anget.”
Aku menerimanya. Kami duduk diam sejenak, hanya mendengarkan suara gemericik air dan tawa samar dari arah api unggun di mana Adrian sedang stand-up comedy garing.
“Liat mereka, Will,” kata Om Tio pelan, menunjuk ke arah kru. “Kemarin mereka nangis-nangis. Sekarang mereka ketawa kayak lagi piknik sekolah.”
“Manusia itu aneh ya, Om,” jawabku. “Cepet banget adaptasinya.”
Om Tio menghela napas panjang, asap rokoknya mengepul putih ke udara. Dia mendongak menatap langit. Langit malam ini aneh. Bintang-bintang terlihat buram, dan ada guratan ungu tipis yang berpendar seperti memar di kulit langit.
“Kamu tau penyesalan terbesar saya, Will?” tanya Om Tio tiba-tiba.
“Apa, Om?”
“Saya terlalu sibuk ngejar peran utama,” katanya getir. “Tiga puluh tahun di teater. Saya sikut temen, saya jilat produser, saya tinggalin istri dan anak saya di rumah demi latihan. Saya pikir, kalau saya jadi aktor hebat, hidup saya bakal lengkap.”
Om Tio menoleh padaku, matanya basah.
“Tapi sekarang, di ujung dunia ini... piala-piala saya di rumah itu nggak ada gunanya. Nggak bisa dimakan. Nggak bisa ngelindungin saya dari monster. Yang saya inget sekarang Cuma muka anak saya yang kecewa karena saya nggak dateng pas ulang tahunnya.”
Aku terdiam. Kata-kata itu menusuk.
“Kamu masih muda, Will. Jangan kayak saya,” Om Tio menepuk bahuku keras. “Kamu punya bakat mimpin orang. Liat tuh, Lusia. Dia itu ratu yang kesepian. Dan kamu satu-satunya orang yang dia dengerin.”
“Dia dengerin saya karena terpaksa, Om. Karena nggak ada pilihan.”
“Bukan,” Om Tio menggeleng. “Dia dengerin kamu karena kamu satu-satunya yang nganggep dia manusia, bukan aset dagang. Jaga dia. Dan jaga anak-anak itu. Kamu sutradaranya sekarang.”
“Saya nggak siap jadi sutradara, Om. Saya Cuma mau kita selamet.”
“Nggak ada yang pernah siap, Nak. Tapi panggung udah dibuka. Kamu harus main.”
Kami terdiam lagi. Menikmati momen tenang ini. Rasanya damai sekali. Seolah-olah besok kami bisa bangun tidur, sarapan nasi uduk, dan pergi kerja seperti biasa.
Namun, kedamaian di dunia ini adalah barang yang paling mahal. Dan harganya harus dibayar sekarang.
KRRRRRRTTTTT...
Suara itu memecah tawa dari arah api unggun. Datang dari pintu bus yang terbuka lebar. Radio komunikasi yang biasanya mati suri, tiba-tiba hidup sendiri. Volumenya maksimal. Suaranya memantul di lembah sunyi itu.
...SREEEEKKKK... PERHATIAN... TES... SATU...
Kami semua tersentak. Adrian yang sedang berjoget langsung berhenti. Lusia termenung dengan memeluk lututnya menatap langit malam—langsung berdiri. Reman terbangun dari tidurnya.
Aku dan Om Tio berlari ke arah bus. “Reman! Kenapa radionya?!”
“Nyala sendiri, Yan! Gue nggak ngapa-ngapain sumpah!” Reman berteriak panik, menggunakan panggilan panggung kami karena gugup.
Seluruh kru berkerumun di dekat pintu bus. Suara dari radio itu bukan suara manusia biasa. Itu suara text-to-speech otomatis. Datar. Dingin. Final.
Radio itu berbunyi keras, Layar LCD kecil itu berkedip-kedip redup dalam kegelapan, menampilkan angka 2182.0 USB yang terpampang pada layar kota radio itu ”Ini adalah siaran prioritas Otoritas Gabungan Pemerintah Dunia. Kode Omega.”
Jantungku berhenti berdetak. Om Tio mencengkeram lenganku. Kode Omega.
”Kepada seluruh warga Bumi yang masih bertahan. Kami... Pemerintah Dunia... dengan ini menyatakan penyerahan diri total.”
Hening. Angin malam yang tadi terasa sejuk, kini terasa menusuk tulang sumsum.
”Bencana ekologis telah terjadi serentak di tujuh benua. Tsunami global, gempa tektonik skala mega, dan runtuhnya atmosfer tidak dapat lagi dibendung. Teknologi kami gagal. Bunker kami runtuh.”
Suara itu memberi jeda. Kemudian suara Morse terdengar seperti “.- -..” tidak terlalu jelas tapi cukup untuk terdengar, setelahnya kode itu mengulang diantara pesan-pesan berikutnya.
”Tidak ada estimasi waktu. Kiamat ini tidak memiliki jadwal. Bisa satu jam lagi, bisa besok. Skala kerusakannya tidak terhitung. Tidak ada zona aman. Tidak ada evakuasi.”
Vina mulai menangis histeris, menutup telinganya. “Nggak... nggak mungkin...”
”Pulanglah. Jika Anda sedang berlari... berhentilah. Peluk orang yang Anda cintai. Jangan habiskan sisa waktu dengan ketakutan. Terimalah takdir ini. Bumi sudah lelah. Selamat malam, umat manusia. Dan terima kasih.” Suara itu tidak mati setelah pesan terakhirnya berbunyi
“... -.-”
Sisanya seperti kaset rusak yang terus mengulangi kalimat yang sama. Aku yang mematikannya karena suara datar dan dingin itu terasa horor jika terus mengambang di telinga kami.
Reman terduduk lemas di tanah. Kakinya tidak kuat menopang tubuhnya. Di atas rumput tempat kami tadi tertawa dan makan mie, kini sunyi senyap seperti kuburan.
Adrian menatap langit yang berwarna ungu memar itu. Biskuit di tangannya jatuh. “Jadi... beneran abis?” suaranya pecah. “Kita lari jauh-jauh... kita ketawa-tawa tadi... Cuma buat denger kalau kita nggak punya masa depan?”
Jeno tiba-tiba berteriak, melempar mangkuk mienya ke api unggun. “BANGSAT! Terus ngapain gue bertahan idup?! Ngapain gue makan kalau besok gue mati juga?!”
Keputusasaan itu nyata. Berat. Mengimpit dada. Sari memeluk Fian sambil menangis tersedu-sedu. Om Tio menunduk, bahunya merosot. Semangat yang tadi ada, lenyap tak berbekas. Kami hanyalah mayat yang sedang menunggu giliran.
Aku bersandar di badan bus. Lututku goyah. Apa gunanya aku memimpin mereka kalau tujuannya adalah kematian? Aku gagal.
Tiba-tiba, Lusia bergerak. Dia tidak menangis. Wajahnya pucat pasi, tapi dia berjalan tenang menuju tumpukan barang jarahan kami. Dia mengambil sebuah mikrofon bekas (properti teater) yang kabelnya sudah putus.
Dia berjalan ke tengah lingkaran api unggun yang mulai redup. Dia berdiri tegak, memegang mikrofon mati itu seolah dia sedang di panggung Wembley.
“Tes... tes...” bisiknya pada mikrofon mati itu.
Semua orang menoleh padanya. Bingung.
“Lus... lo ngapain? Udah gila?” isak Vina.
“Dunia udah nyerah,” kata Lusia lantang. Suaranya tidak bergetar. “Pemerintah nyerah. Tentara nyerah. Oke. Fine.”
Dia menatap kami satu per satu dengan mata yang menyala liar.
“Tapi kita ini Seniman. Kita bukan pemerintah. Kita bukan tentara. Tugas kita bukan nyelamatin bumi.”
Lusia menunjuk Jeno yang sedang menangis. “Tugas kamu apa, Jeno?”
Jeno diam.
“Tugas kamu bikin panggung!” bentak Lusia.
Lusia menunjuk Adrian. “Tugas kamu apa, Adrian? Tugas kamu jadi badut! Bikin orang ketawa!”
Lalu dia menatapku. Tatapannya tajam, menembus jiwaku, menarikku keluar dari jurang keputusasaan.
“Dan tugas kamu, William... tugas kamu nulis cerita.”
Lusia merentangkan tangannya ke arah jalanan gelap di depan sana.
“Waktu kita nggak terhitung. Mungkin besok kita mati. Tapi sebelum itu terjadi... aku nggak mau mati sambil nangis di pinggir jalan ini! Aku menolak jadi penonton yang pasrah!”
Dia melempar mikrofon itu ke arahku. Aku menangkapnya refleks.
“Kita bakal jalan terus,” kata Lusia, suaranya kini bergetar oleh emosi yang meluap. “Kita bakal cari manusia-manusia lain yang udah pasrah. Kita bakal kasih mereka pertunjukan terakhir. Kita bakal bikin mereka ketawa, nangis, dan ngerasa idup... sampe detik terakhir bumi meledak!”
“Kita bakal jadi Tour Teater Terakhir Umat Manusia.”
Hening sejenak. Kata-kata itu meresap.
Mengubah rasa takut menjadi sesuatu yang lain. Menjadi... tujuan. Menjadi sebuah misi suci di akhir zaman.
Om Tio perlahan berdiri, menghapus air matanya. Dia tersenyum bangga. “Pertunjukan perpisahan, ya? Terdengar... agung.”
Ajo mengusap ingusnya dengan celemek. “Gue... gue bakal masak sisa stok kita buat penonton. Pesta rakyat terakhir.”
Reman kembali ke kursi supir, menyalakan mesin. VROOOM!
Suara mesin bus memecah kesunyian lembah.
“Tujuannya ke mana, Yan?” tanya Reman lewat jendela, matanya kini kembali fokus, menunggu perintah komandannya.
Aku menggenggam mikrofon mati itu erat-erat. Aku menatap Lusia, lalu menatap kru-ku yang kini mulai bangkit berdiri, satu per satu.
“Ke mana aja, Man,” jawabku mantap. “Cari cahaya kota. Cari asap api unggun. Kita jemput penonton kita.”
Malam itu, di bawah langit ungu yang menandakan akhir zaman, kami tidak lagi melarikan diri dari kematian.
Kami menyongsongnya. Dengan panggung, dengan tawa, dan dengan kepala tegak. Pertunjukan... baru saja dimulai.
silvius