Loading...
Logo TinLit
Read Story - Aku Mencintai Umat Manusia
MENU
About Us  

Bus Si Manis tersendat-sendat seperti kakek tua perokok berat yang dipaksa lari maraton. Mesinnya batuk kering beberapa kali, uhuk-uhuk-groook, sebelum akhirnya mati total. Hening. Hanya suara ban yang menggelinding pelan di aspal panas, memanfaatkan sisa momentum gravitasi di jalanan menurun.

“Indikator solar udah merah pekat, Bos. Lebih merah dari lipstik Mbak Lusia,” lapor Reman sambil menguap lebar, matanya masih bengkak bangun tidur. “Radiator juga kering. Kalau dipaksa jalan lima meter lagi, kita bakal meledak jadi kembang api.”

“Itu!” Jeno menunjuk ke depan. Sebuah plang hijau besar miring hampir roboh di kejauhan. REST AREA KM 45 – SPBU & MINIMARKET.

Aku berdiri, menepuk tangan keras-keras untuk membangunkan sisa kru yang masih teler tertidur dalam posisi-posisi aneh.

“Oke, semuanya bangun! Matahari udah di atas kepala! Kita belanja!”

Bus meluncur pelan, berbelok masuk ke area istirahat yang sunyi senyap. Pemandangannya seperti set film zombie. Mobil-mobil mewah Alphard, Pajero, BMW. Tak bertuan begitu saja dengan pintu terbuka. Koper-koper berserakan di aspal, isinya berhamburan keluar. Tanda pemiliknya lari panik saat gempa susulan kemarin lusa.

“Dengerin gue,” perintahku tegas, mengambil peran komandan lapangan. “Jeno, Reman, Bimo—kalian Tim Solar. Sedot dari tangki pendam kalau perlu. Pake selang dari gudang bus. Awas, jangan ngerokok dekat tangki. Gue nggak mau kita mati konyol cuma gara-gara puntung rokok.”

“Siap!” jawab mereka serempak.

“Adrian, Vina, Fian, Karni—kalian Tim Logistik. Tugas kalian ambil apa aja yang bisa dimakan dan diminum. Beras, mie, sarden, biskuit, air galon.”

Vina mengangkat tangan, matanya melirik freezer es krim yang terlihat dari kaca luar minimarket. “Es krim boleh nggak, Yan? Panas banget nih, sumpah.”

“Jangan,” larangku tegas. “Listriknya udah mati dari gempa dua hari lalu. Es krimnya udah cair, isinya udah jadi sup bakteri. Lo mau diare di semak-semak lagi kayak Lusia tadi pagi?”

Lusia yang sedang membenarkan tatanan rambutnya dengan cermin saku langsung melotot. “HEH! Jangan dibahas lagi! Itu aib negara! Lagian aku cuman buang air kecil, bukan diare!”

Aku tidak menghiraukannya kali ini, fokus ku pada intrums. “Fokus ke makanan kering. Sarden, kornet, roti kalau belum jamuran. Gerak!”

Aku bersiap turun membawa linggis (senjata andalan baru yang kutemukan di bagasi bus). Tiba-tiba, ujung kemeja buntungku ditarik. Lusia menatapku dengan mata puppy eyes andalannya. Topeng angkuhnya sedikit retak karena bosan setengah mati.

“Aku ikut.”

“Nggak,” tolakku tanpa menoleh. “Di dalem sana banyak pecahan kaca. Nanti kaki Tuan Putri lecet lagi. Duduk manis di sini, jagain Lian.”

“Ada Sari yang jagain Lian! Aku bosen di bus! Panas! Bau kaos kaki Bimo kayak keju basi!” rengeknya, kakinya menghentak lantai bus. “Lagian aku jago belanja! Aku hafal letak skincare dan cemilan diet di semua minimarket!”

“Kita nyari beras, Lus! Bukan serum anti-aging!”

“Siapa tau ada diskon! Ayolah William... Asistenku sayang...” Dia mengguncang-guncang lenganku, suaranya dibuat manja yang bikin bulu kuduk berdiri. “Aku butuh stimulasi mental! Kalau aku diem terus di sini, otakku bisa menyusut! Aku janji nggak akan nyusahin. Aku bakal diem. Sumpah demi tas Hermes aku.”

Aku menghela napas panjang. Berdebat dengan Lusia itu membuang kalori yang sangat berharga. Dan kalau dia sudah bawa-bawa Hermes, biasanya dia serius.

“Oke. Tapi syaratnya satu. Pegang baju gue terus. Jangan lepas. Kalau ada orang asing, lari ke belakang gue. Paham?”

“Siap, Kapten!” Lusia hormat dengan gaya berlebihan, senyum kemenangannya merekah.

***

Di dalam minimarket Tempat ini berantakan parah. Rak-rak terguling seperti domino. Lantai lengket oleh tumpahan sirup dan soda. Bau aneh menguar tajam dari area pendingin di pojok, bercampur dengan bau sampah yang mulai membusuk. Lalat beterbangan di mana-mana.

“Ew... baunya kayak kosan cowok yang nggak dibuka setaun,” komentar Lusia, menutup hidung mancungnya dengan sapu tangan sutra yang dia keluarkan dari balik jumpsuit-nya. “Ini minimarket apa TPA Bantar Gebang?”

“Fokus, Nyonya. Cari yang kaleng-kalengan atau kemasan plastik tebal,” kataku sambil waspada. Mataku menyapu setiap sudut gelap, telingaku siaga. Linggis di tangan kananku siap mengayun. “Jangan ambil yang kemasannya rusak.”

Kami berpencar sedikit, tapi tetap dalam jarak pandang. Sementara Adrian sibuk mencari hair gel di rak kosmetik yang sudah hancur (“Rambut gue lepek, Yan! Citra gue sebagai aktor hancur kalau kucel begini!”), dan Vina menjarah pembalut serta obat-obatan (“Ini lebih berharga dari emas, tau! Lo cowok mana paham!”), Lusia berjalan jinjit di lorong makanan ringan, menghindari genangan cairan misterius.

“William! Liat!” serunya girang, suaranya menggema di ruangan sunyi itu.

Aku lari mendekat, jantungku mau copot karena mengira dia ketemu mayat atau ular.

Ternyata dia memegang sebungkus cokelat import mahal yang terselip di bawah rak yang roboh.

“Masih segel!” matanya berbinar seperti anak kecil dapat mainan. “Dark Chocolate 70%! Ini bagus buat antioksidan! Kulit aku butuh ini biar nggak kusam kena debu jalanan!”

“Masukin tas,” kataku lega (tapi agak kesal karena dikagetin Cuma buat cokelat). “Cari lagi yang bikin kenyang. Cokelat nggak bikin kenyang.”

Lusia mengangguk semangat. Dia mengaduk-aduk tumpukan mie instan yang berserakan di lantai. Tiba-tiba dia mengambil satu bungkus, membacanya, lalu melemparnya ke lantai dengan wajah kecewa berat.

“Kenapa dibuang?” tanyaku sambil memasukkan sarden ke karung.

“Mereknya murah,” katanya ketus. “Aku nggak makan yang MSG-nya bikin bloon. Cari yang premium dikit kek. Yang rasa Truffle atau Carbonara gitu. Lidahku kaget nanti kalau dikasih micin curah.”

“Lusia...” aku memijat pelipis yang mulai pening. “Kita lagi kiamat. Cacing di perut lo nggak peduli merek. Ambil aja! Itu kalori!”

“Nggak mau! Lidahku punya standar! Kalau aku mati keracunan MSG murah gimana? Nanti arwahku gentayangan nuntut pabriknya! Malu sama leluhur!”

Saat kami sedang berdebat sengit soal kasta mie instan, terdengar suara langkah kaki berat dari arah gudang belakang.

KREK. KREK. Suara sepatu bot berat menginjak pecahan kaca.

Semua kru terdiam. Adrian yang sedang memegang botol minyak rambut langsung tiarap dan merangkak bersembunyi di balik rak popok bayi. Vina membeku di balik meja kasir. Fian gemetar di pojokan. Dari pintu gudang yang gelap, muncul tiga orang pria. Badan mereka besar-besar. Pria yang di tengah memakai jaket kulit tanpa lengan, memamerkan tato naga yang melilit dari leher sampai lengan. Di tangannya ada parang karatan yang panjang. Dua temannya membawa balok kayu dan rantai motor. Wajah mereka garang, mata mereka merah, jelas bukan orang baik-baik. Penjarah Lokal.

“Woy,” suara si Tato Naga berat dan serak, seperti suara parutan kelapa. “Siapa yang izinin kalian masuk wilayah gue?”

Mereka maju perlahan, menutup jalan keluar. Jeno dan Reman ada di luar menyedot solar, terlalu jauh untuk mendengar teriakan kami. Di sini Cuma ada aku, para cewek, Adrian (yang lagi cosplay jadi popok bayi), dan Fian yang nyalinya ciut.

Aku melangkah maju, mendorong Lusia ke belakang punggungku. Aku menggenggam linggis erat-erat. Keringat dingin menetes di pelipisku.

“Kami Cuma numpang lewat, Bang,” kataku berusaha tenang, memasang kuda-kuda defensif. “Cuma butuh air sama sedikit makanan. Kita bagi dua aja. Nggak perlu ribut. Gudang di belakang masih penuh kan?”

“Bagi dua?” Si Tato Naga tertawa, memamerkan gigi kuningnya yang jarang. “Semua yang ada di sini punya gue. Termasuk nyawa kalian.”

Matanya kemudian jatuh ke Lusia yang mengintip dari balik bahuku. Gaun Lusia memang robek dan kotor, rambutnya acak-acakan, tapi kecantikannya tetap menonjol di tempat kumuh ini. Aura bintangnya tidak bisa ditutupi debu.

“Wah... bening juga nih,” si Tato Naga menjilat bibirnya. “Boleh tuh ditinggal buat nemenin Abang. Di gudang belakang sepi, Neng. Kita bisa ‘main’ sebentar.”

Darahku mendidih. Rasanya seperti ada api yang menyala di dada. Lusia mencengkeram kemejaku kuat-kuat. Aku bisa merasakan kuku-kukunya menembus kain, dia gemetar ketakutan.

“Langkahin dulu mayat gue,” kataku dingin, mengangkat linggis setinggi dada. “Maju satu langkah, leher lo gue bolongin.”

“Banyak gaya lo, cungkring!” Si Tato Naga mengangkat parangnya. Dua temannya ikut menyebar, mengepung kami dari kiri dan kanan.

Aku siap berkelahi. Rasio kemenangan kami tipis. 1 lawan 3. Aku mungkin bisa menjatuhkan satu, tapi dua lainnya pasti akan menghabisiku. Dan setelah itu... Lusia...

Tiba-tiba...

Lusia melepaskan cengkeramannya dari bajuku. Dia melangkah keluar dari belakang punggungku. Dia tidak gemetar lagi. Dia berdiri tegak, membusungkan dada, dagunya diangkat tinggi. Dia mengibaskan rambutnya yang kusut dengan gaya dramatis, seolah-olah dia sedang berada di panggung megah. Matanya menatap si preman dengan tatapan merendahkan yang biasa dia pakai ke promotor yang telat bayar gaji.

“HEH! KUTIL BADAK!” bentak Lusia. Suaranya menggelegar dahsyat. Itu bukan suara teriakan biasa, itu teknik vokal diafragma teater yang bisa terdengar sampai baris paling belakang tanpa mikrofon.

Si preman kaget sampai parangnya turun sedikit. “Hah?”

“Kamu tau siapa saya?!” Lusia menunjuk dirinya sendiri dengan gaya angkuh yang mengerikan. Matanya melotot, rambutnya yang acak-acakan justru membuatnya terlihat liar dan mistis. “SAYA RATU PANTAI SELATAN! SAYA LAGI NYAMAR JADI MANUSIA BIASA!”

Hening. Aku melongo. Adrian mengintip dari balik popok dengan mulut terbuka lebar. Ratu Pantai Selatan? Serius, Lus? Di tengah jalan tol?!

“Liat laki-laki ini!” Lusia menunjuk aku dengan telunjuknya yang lentik. “Dia ini PANGLIMA JIN! Dia bawa linggis bukan buat mukul, tapi buat nyabut nyawa kamu lewat lubang idung!”

Preman itu mundur selangkah, bingung. “Jin?”

“Dan itu!” Lusia menunjuk Adrian yang mengintip ketakutan di rak bawah. “Itu TUYUL peliharaan saya! Emang badannya gede, soalnya kebanyakan makan susu formula! Makanya dia ngumpet di rak popok! Liat mukanya! Muka maling kan?!”

Adrian bingung harus marah atau takut, jadi dia Cuma nyengir kaku. Yang mana justru bikin dia makin kelihatan aneh.

Preman-preman itu saling pandang. Di masa kiamat, logika orang seringkali rusak. Mereka lebih takut kualat daripada dipenjara. Dan akting Lusia... itu level Oscar. Keyakinan di matanya sungguh menakutkan.

“Kami ke sini mau ngambil sesajen!” Lusia mengambil bungkus mie instan (yang tadi dia hina), lalu melemparkannya ke muka si Tato Naga.

PLUK!

“Kalian mau kualat?! Mau saya kutuk jadi undur-undur laut?!” Lusia memelototkan matanya, merapalkan mantra asal-asalan sambil menari-nari aneh dengan tangannya. “HONG WILA HENG... SATE KAMBING... TONGSENG KUDA... PERGI! ATAU SAYA PANGGIL OMBAK BUAT NENGGELEMIN KALIAN SEKARANG JUGA!”

Dia menghentakkan kakinya ke lantai. BRAK!

Kebetulan, saat itu ada gempa susulan kecil. Rak-rak bergetar.

“Bos...” bisik anak buah preman itu, kakinya gemetar hebat. Wajahnya pucat. “Ini orang gila kayaknya... atau beneran... liat matanya, Bos. Serem. Terus tadi ada gempa pas dia nginjek tanah!”

“Jangan macem-macem sama Nyi Roro Kidul, Bos... pamali... baju dia juga ijo tuh (padahal baju Lusia biru donker, tapi mereka buta warna karena takut)...”

Si Bos Preman menelan ludah. Dia menatap Lusia, lalu menatapku (Panglima Jin dengan linggis yang diam patung), lalu menatap Adrian (Tuyul jumbo di tumpukan popok).

“Cabut!” teriak si Bos. “Gila nih cewek! Jangan cari masalah sama setan!”

Mereka mundur perlahan, lalu lari terbirit-birit kembali ke gudang belakang, membanting pintu, dan terdengar suara mereka mengunci pintu dari dalam.

Lusia tetap berdiri tegak dengan pose Ratu, tangan di udara, mata melotot, sampai suara langkah kaki mereka benar-benar hilang.

Satu detik. Dua detik.

Bahunya merosot. Dia langsung lemas seperti boneka tali yang putus. Lututnya goyah. Aku menangkapnya tepat waktu sebelum dia mencium lantai kotor.

“Gila lo...” bisikku takjub, setengah tertawa, setengah tidak percaya. “Ratu Pantai Selatan? Undur-undur? Tongseng Kuda?”

“Itu skrip KTV azab aku tahun 2018,” Lusia nyengir pucat, keringat dingin mengucur deras di dahinya. Tangannya dingin sekali. “Gimana? Bagus nggak improvisasi-nya? Tadi pas gempa pas banget kan timing-nya? Sumpah itu gila banget.”

“Bagus banget. Gue aja hampir percaya lo hantu,” kataku lega, memeluknya sebentar untuk menenangkannya. “Jantung lo detaknya kenceng banget.”

“Ya iyalah! Aku takut mati bego!” bisiknya gemetar. Lalu dia menegakkan badan lagi.

“ADRIAN!” panggil Lusia, suaranya kembali cempreng dan galak. “TUYUL! KELUAR! Bawa belanjaan! Cepetan sebelum mereka sadar kalau mantra aku Cuma menu warung sate!”

Adrian keluar dengan wajah cemberut sambil memeluk sekardus biskuit. “Kenapa gue jadi Tuyul sih? Kenapa bukan Arjuna?”

“Karena lo ngumpet di rak popok, Bego!” sembur Vina yang sudah keluar dari persembunyian sambil membawa plastik obat. “Lagian muka lo emang cocok jadi tuyul!”

“Buruan!” perintahku. “Kita cabut sekarang!”

Kami buru-buru mengangkut barang ke bus seperti sekawanan semut yang panik, melempar karung beras dan kardus mie ke dalam bak truk.

***

Di Dalam Bus, kembali rebahan. Reman tancap gas meninggalkan Rest Area horor itu. Bus berguncang hebat saat melewati polisi tidur, tapi tidak ada yang peduli. Kami tertawa lega. Kami duduk di lantai bak belakang, napas masih ngos-ngosan, membongkar hasil jarahan.

“Lumayan,” kata Ajo sambil nyengir, membuka karung. “Dapet beras dua karung, mie instan (merek murah yang tadi diprotes Lusia), beberapa roti, bumbu dapur, sarden, sama air galon.”

“Dan si Tuyul dapet apa?” tanya Karni, menunjuk Adrian.

Adrian cemberut. “Gue dapet biskuit bayi sama minyak rambut. Lumayan buat ngemil.”

“Dasar tuyul,” ledek Jeno. Satu bus tertawa. Adrian pasrah menerima julukan barunya.

Lusia duduk di sebelahku, menyandarkan punggungnya yang lelah ke dinding besi. Wajahnya masih pucat, tapi senyum puas terukir di bibirnya. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan bungkus cokelat mahal tadi.

Dia mematahkan sepotong, lalu menyodorkannya ke mulutku.

“Nih. Upah jadi Panglima Jin. Makan yang banyak biar saktinya nambah.”

Aku memakan cokelat itu. Manis pahit. Rasanya enak sekali setelah hampir mati konyol.

“Makasih, Nyi Roro Kidul. Akting lo menyelamatkan nyawa kita.”

Lusia menyandarkan kepala di bahuku yang tidak sakit. Dia memejamkan mata.

“Lain kali kalau mau berantem, bilang-bilang. Biar aku siapin skrip yang lebih dramatis. Tadi dialognya agak berantakan.”

“Siap. Tapi jangan bawa-bawa tuyul lagi. Kasian Adrian, tuh liat, dia mojok meratapi nasib sambil makan biskuit bayi.”

Lusia terkikik pelan. Tangan kanannya mencari tanganku di lantai bus.

“Will...”

“Ya?”

“Tangan kamu masih megang linggis. Lepasin dong. Serem. Nanti aku kepentok.”

Aku baru sadar tanganku masih mencengkeram linggis erat-erat karena sisa adrenalin. Ototku kaku. Aku meletakkannya di lantai.

Tangan Lusia langsung menggenggam tanganku yang kotor, kapalan, dan masih sedikit gemetar sisa ketakutan tadi. Jari-jarinya yang halus menyelip di antara jariku yang kasar.

“Tangan Panglima Jin kok kasar,” ledeknya, mengusap punggung tanganku dengan jempolnya. “Pasti jarang pake hand cream.”

“Kebanyakan nyabut nyawa,” jawabku asal.

“Nyabut nyawa apa nyabut rumput?”

“Nyabut uban lo nanti kalau kita udah tua.”

Lusia tersenyum. Senyum yang tulus, tanpa topeng Ratu. Matanya yang lelah menatapku hangat.

“Kalau kita sampe tua... kamu harus tetep ada di sebelah aku ya. Buat nakut-nakutin preman.”

“Gue bakal ada di sebelah lo buat ngetawain lo kalau akting lo jelek.”

“Sialan. Awas ya.”

Lusia memejamkan mata, tidur di bahuku sambil menggenggam tanganku erat.

Di luar, dunia hancur lebur. Matahari mulai terbenam, menyisakan langit oranye yang kelam. Tapi di sini, di dalam bak truk bau apek ini, kami punya cokelat, punya mie instan murah, dan kami baru saja mengalahkan penjahat dengan modal menu sate kambing. Sepertinya kami bakal baik-baik saja. Setidaknya sampai bensin habis lagi.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags