Tulang ayam yang bersih licin itu kulempar ke dalam kotak kosong. Perutku masih belum kenyang, tapi setidaknya cacing-cacing di dalamnya sudah berhenti demo.
“Udah?” tanyaku, melihat Lusia yang sedang menjilati ujung jarinya (lupa kalau dia Ratu yang harusnya pakai serbet).
“Udah,” jawabnya singkat, lalu mengelap tangannya ke celana kargoku.
“Heh! Itu celana gue, Nyonya! Bukan tisu basah!”
“Celana kamu udah kotor. Nambah dikit nggak ngaruh,” katanya santai, lalu bersandar ke dinding bus. “Reman! AC-nya mana?! Panas nih!”
“AC-nya jendela alam, Mbak!” sahut Reman dari depan. Angin malam yang bercampur debu masuk lewat celah ventilasi.
Lusia mendengus kesal. Dia mencoba memejamkan mata, melipat tangan di dada, berusaha tidur dengan posisi duduk tegak ala bangsawan. Tapi bus Si Manis tidak kenal kasta.
GLODAK!
Kepala Lusia terhantuk dinding besi di belakangnya.
“Aduh!” Lusia mengusap belakang kepalanya. “Bus sialan! Dindingnya nyerang aku!”
Dia mencoba tidur lagi.
GLODAK!
Terhantuk lagi.
“Ish!” Lusia menendang lantai. “Nggak bisa tidur! William, cariin bantal!”
“Lo kira ini hotel? Bantalnya lagi dipake Adrian tuh,” aku menunjuk Adrian yang tidur memeluk gulungan karpet berdebu dengan nyenyak.
Lusia menatap karpet itu dengan jijik. “Itu sarang tungau. Aku nggak mau.”
Dia kembali mencoba tidur. Kali ini kepalanya terkulai ke depan, lalu tersentak bangun. Terkulai ke kiri, kepentok bahu Sari (Sari lagi tidur ngorok). Lusia langsung menjauh.
Aku memperhatikan tingkahnya dari samping sambil menahan tawa. Dia persis seperti kucing Persia yang terpaksa tidur di kardus bekas. Akhirnya, karena kasihan (dan karena aku juga butuh tidur tanpa mendengar dia ngomel), aku menggeser dudukku sedikit lebih dekat.
Aku menepuk bahu kiriku.
“Nih.”
Lusia membuka mata sebelah. Menatap bahuku dengan curiga.
“Apa?”
“Pake. Gratis. Nggak ada kutunya.”
“Dih. Keras. Tulang semua,” komentarnya pedas. “Nanti pipi aku sakit.”
“Yaudah, jedotin aja terus kepala lo ke besi itu. Biar amnesia sekalian, jadi gue bebas tugas.”
Lusia terdiam. Dia melirik dinding besi yang keras, lalu melirik bahuku. Kalkulasi untung-rugi sedang terjadi di otak bisnisnya. Akhirnya, dia menghela napas panjang seolah-olah dia baru saja diminta menyumbangkan ginjal.
“Oke. Tapi alasin pake jaket kamu. Aku nggak mau pipi aku kena kemeja flanel kamu yang kasar itu. Nanti iritasi.”
“Banyak mau banget sih, Astaga...”
Aku melepas jaket denimku yang sudah kucel, melipatnya, dan menaruhnya di bahuku sebagai bantalan.
“Udah. Puas?”
Lusia mendekat. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku yang sudah dilapisi jaket. Dia bergerak-gerak sedikit, mencari posisi enak. Rambutnya menggelitik leherku.
“Bau apek,” gumamnya pelan.
“Itu bau parfum lo yang campur keringet, tau.”
“Enak aja. Aku wangi mawar layu. Kamu bau oli.”
“Tidur, Lus. Atau gue turunin di sini biar lo jalan kaki sama Bimo.”
Ancaman itu ampuh. Lusia diam. Perlahan, napasnya mulai teratur. Tubuhnya yang tadi tegang karena menahan gengsi, perlahan rileks dan memberat di bahuku. Lima menit kemudian, dia sudah tertidur pulas. Tangan kanannya, tanpa sadar, melingkar dan memeluk lengan atasku. Erat. Seperti anak kecil memeluk guling kesayangan.
Aku menatap puncak kepalanya. Saat tidur dan diam begini, dia terlihat... tidak menyebalkan. Dia terlihat seperti Lusia yang dulu kulihat di poster teater lima tahun lalu. Cantik, rapuh, dan butuh dijaga.
“Will,” bisik Vina dari seberang. Dia belum tidur, matanya mengawasi kami sambil senyum-senyum jahil.
“Apa?” bisikku balik.
“Lo berdua tuh aneh tau nggak.”
“Kenapa?”
“Berantem mulu kayak kucing anjing. Tapi kalau tidur nempel kayak perangko. Awas lo naksir beneran.”
“Amit-amit,” sangkalku cepat. “Gue Cuma ngejalanin SOP. Menjaga aset agar tidak rusak.”
Vina tertawa pelan. “Halah. Aset kok dipeluk.”
“Diem lo. Tidur.”
Aku menyandarkan kepalaku sendiri ke atas kepala Lusia. Hangat. Meskipun mulutnya pedas, meskipun dia ribet setengah mati, harus kuakui... bahu ini terasa pas buat dia.
Tiba-tiba Lusia mengigau pelan.
”Kopi... jangan lupa gula arennya dipisah...”
Aku tersenyum tipis, memejamkan mata.
“Iya, Nyonya. Besok gue cariin gula aren di tengah hutan.”
Bus Si Manis terus melaju menembus malam, membawa kami menjauh dari kota yang runtuh, menuju ketidakpastian. Tapi malam ini, di tengah guncangan dan bau apek, setidaknya Ratu Drama ini sudah berhenti berteriak.
***
Cahaya matahari pagi menembus celah-celah terpal bus, menusuk mataku. Bus sudah berhenti entah berapa jam yang lalu, bagaimanapun supir harus tidur untuk perjalanan aman. Suasana terasa hening, kecuali suara dengkuran Jeno yang nadanya seperti knalpot motor racing.
Aku mencoba bergerak, tapi bahu kiriku mati rasa. Berat. Aku menoleh. Lusia masih tertidur pulas di bahuku. Tangannya mencengkeram kemejaku, kakinya menindih kaki ku dan yang paling parah di sudut bibirnya yang indah itu, ada sungai kecil yang mengalir.
Dia ngiler. Membasahi jaketku.
“Nyonya...” bisikku, menggoyangkan bahu. “Bangun. Banjir.”
Lusia melenguh pelan, mengusap wajahnya ke jaketku (makin menyebarkan ‘banjir’ itu), lalu membuka mata. Dia mengerjap, menatapku bingung. Kesadaran perlahan masuk ke otaknya. Dia sadar dia tidur menempel padaku seperti koala.
Dia langsung melenting menjauh. Sret!
“Dih! Kamu ngapain deket-deket?!” tuduhnya, merapikan rambut singanya dengan panik.
“Lo yang nempel, Nyonya. Liat tuh jaket gue. Basah.” Aku menunjuk noda basah di bahu jaket. “Lo ngiler. Bau naga lagi.”
Wajah Lusia memerah padam. Dia mengelap sudut bibirnya dengan punggung tangan.
“Sembarangan! Itu bukan iler! Itu... itu essence wajah! Kelembapan alami kulit!”
“Serah lo deh. Essence kok baunya kayak ayam bakar basi.”
Lusia mau memukulku, tapi tiba-tiba wajahnya berubah. Dia meringis, memegangi perut bagian bawahnya. Kakinya disilangkan rapat-rapat.
“Kenapa?” tanyaku. “Kram?”
“Bukan...” suaranya kecil, gengsinya mulai runtuh. “Kebelet.”
“Kebelet apa? Makan?”
“Pipis, bego!” desisnya, melirik kiri-kanan takut kru lain denger. “Aku mau ke toilet. Sekarang. Toilet VIP kalau ada.”
Aku tertawa hambar. “Lihat keluar, Tuan Putri.” Aku menyingkap terpal bus. Pemandangan di luar bukan rest area dengan toilet bersih. Kami di antara tebing dan hutan pinus.
“Mana toiletnya?” tanya Lusia horor.
Aku menunjuk semak-semak rimbun di pinggir hutan.
“Tuh. Toilet Open Air. Pemandangan alam, sirkulasi udara bagus.”
“GILA?!” Lusia melotot. “Aku nggak mau pipis di situ! Nanti diintip monyet! Nanti ada ulet bulu! Nanti ada paparazi!”
“Paparazi udah mati ketimpa gedung, Lus. Pilihan lo Cuma dua: Pipis di situ, atau ngompol di celana dalam Balenciaga lo yang mahal itu.”
Lusia menahan napas. Mukanya makin merah. Dia menggigit bibir, kakinya bergerak-gerak gelisah. Pertahanan dirinya di ambang batas.
“Temenin,” cicitnya pelan.
“Hah? Apa? Nggak denger.” (Aku sengaja).
“TEMENIN!” bisiknya galak sambil mencubit lenganku. “Jagain! Awas kalau kamu ngintip! Aku colok mata kamu pake ranting!”
Kami turun dari bus. Udara pagi dingin menusuk tulang. Aku membawa selembar kain sarung kucel (punya Ajo) untuk menutupi Lusia. Kami berjalan menembus semak-semak basah. Lusia jalan jinjit-jinjit sambil jijik.
“Ih... becek... ih... ada jaring laba-laba...”
“Udah di sini aja,” kataku, berhenti di balik pohon besar yang agak tertutup. “Buruan.”
“Balik badan!” perintah Lusia.
“Iya, bawel.” Aku membalikkan badan, lalu membentangkan sarung di punggungku lebar-lebar untuk menutupi pandangan dari arah jalan raya. “Udah ketutup sarung nih. Aman.”
“Jangan nengok! Awas ya!”
Terdengar suara resleting celana diturunkan (Lusia pakai jumpsuit di balik gaunnya yang robek). Lalu suara gemericik air.
Suasana canggung level dewa.
Aku berdiri membelakangi bosku yang sedang pipis di hutan, memegang sarung kayak pagar ayu.
“Lama banget,” komentarku.
“Diem! Susah tau jongkok pake heels satu, bot satu!” omelnya. “Dan jangan ajak ngobrol! Konsentrasi aku buyar!”
“Emang pipis butuh konsentrasi kayak ujian nasional?”
“Butuh! Ini masalah martabat!”
Hening lagi. Hanya suara alam.
“Will...” panggilnya tiba-tiba.
“Apa lagi? Udah kelar?”
“Tisunya mana?”
Aku tepuk jidat. Lupa.
“Nggak bawa.”
“WILLIAM!” jeritnya tertahan. “Terus aku... aku... pake apa?!”
“Pake daun lah! Tuh banyak daun talas!”
“Gatel! Aku nggak mau pantatku gatel!”
“Ya terus mau gimana? Pake tangan gue? Ogah!”
“Jorok! Ih sumpah kamu asisten paling nggak berguna sedunia!” Lusia terdengar mau nangis. “Cariin apa kek! Kertas! Atau sobek baju kamu!”
Aku menghela napas panjang. Aku melihat kemeja flanelku. Bagian lengan kirinya sudah agak sobek kena paku bus.
KREEK.
Aku merobek lengan kemejaku sendiri.
Aku menyodorkan kain flanel itu ke belakang punggungku tanpa menoleh.
“Nih. Lengan baju gue. Puas?”
Tangan Lusia menyambar kain itu.
“Kasar bahannya. Tapi yaudahlah daripada daun.”
“Udah bagus gue korbanin baju! Harusnya bilang makasih!”
“Makasih, Asisten Bodoh.”
Setelah ritual selesai, Lusia keluar dari balik pohon sambil membenarkan gaunnya. Wajahnya segar tapi masih cemberut.
Dia menatapku yang sekarang kemejanya buntung sebelah.
“Baju kamu jelek banget,” komentarnya.
“Gara-gara siapa?”
“Gara-gara kamu lupa bawa tisu. Kesalahan manajemen.”
Lusia berjalan mendahuluiku kembali ke bus. Tapi baru tiga langkah, dia berhenti. Dia melihat jalanan yang menanjak dan berlumpur.
Dia menoleh padaku, lalu menatap punggungku.
“Apa?” tanyaku waspada.
“Gendong,” katanya singkat.
“Kaki lo kan masih ada, Nyonya.”
“Sepatu kamu berat, William! Kakiku lecet! Dan itu lumpur! Sepatu bot kamu bolong, nanti lumpurnya masuk!”
“Terus lo mau gue yang nginjek lumpur gitu?”
“Iya. Kamu kan offroad friendly. Kulit badak.” Lusia merentangkan tangan. “Ayo gendong. Kalau aku lecet, nanti jalanku pincang. Kalau pincang, kita makin lambat. Kamu mau kita mati di sini?”
Logika Ratu Drama memang tak terbantahkan. Aku berjongkok dengan kesal. “Naik. Awas lo berat.”
Lusia melompat ke punggungku. Dia melingkarkan tangannya di leherku.
“Jalan, Kuda,” perintahnya.
“Gue asisten, bukan kuda!”
“Sama aja. Sama-sama ditunggangi beban hidup.”
Aku berjalan menanjak kembali ke bus sambil menggendongnya. Di telingaku, Lusia berbisik pelan, hampir tak terdengar.
“Baju kamu wangi.”
“Hah?”
“Wangi deterjen murah. Tapi... lumayan lah. Nggak bau sampah banget.”
Aku tersenyum tipis.
“Itu pujian atau hinaan?”
“Anggep aja pujian. Biar kamu seneng.”
Dia menyandarkan pipinya di bahuku (sisi yang bajunya sudah dia robek tadi, jadi pipinya nempel langsung ke kulit bahuku). Kulitnya dingin. Kulitku hangat.
“Will.”
“Ya?”
“Jangan bilang siapa-siapa aku pipis di semak.”
“Tenang. Rahasia negara.”
“Awas kalau bocor. Aku potong lidah kamu.”
“Galak amat.”
Kami sampai di bus. Kru lain sudah bangun dan sedang memanaskan air. Mereka melihatku menggendong Lusia.
“Ciee... pagi-pagi udah gendong-gendongan,” ledek Vina.
“Diem!” sergah Lusia, minta turun. “William tadi maksa! Katanya dia lagi latihan beban!”
Aku Cuma memutar bola mata.
“Iya. Latihan ngangkat dosa.”
Lusia menginjak kakiku (yang pakai sepatu bot pinjeman) sebelum masuk ke dalam bus dengan dagu diangkat tinggi. Tapi aku lihat dia tersenyum kecil.
silvius