Loading...
Logo TinLit
Read Story - the Last Climbing
MENU
About Us  

Marco terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Sudah dua malam dia tidur beralaskan matras, sendirian dalam sebuah ruangan sempit yang dikunci dari luar. Ruangan itu tidak ada jeruji besi. Marco mengira ruangan kecil itu pada awalnya bukan ruang tahanan, mungkin ruang tidur buat orang yang jaga kantor, tapi sekarang Marco ditempatkan di situ, dan merasa diperlakukan seperti tahanan.

“Mungkinkah aku sudah berstatus tahanan?” pikir Marco.

Suasana hening, cuma sesekali terdengar suara dengkur. Pasti sudah lewat tengah malam, pikir Marco sambil menyandarkan kepalanya ke tembok. Sayup-sayup dia mendengar suara musik. Marco mengira musik itu dari radio, mungkin radio 2 band milik tahanan, atau milik polisi yang jaga. Dalam sepi malam, suara musik berikut lirik lagunya terdengar cukup jelas meskipun pelan. Lagu nasyid, Obat Hati.

Obat hati ada lima perkaranya,

Yang pertama baca Quran dan maknanya,

Yang kedua shalat malam dirikanlah,

Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh,

Yang keempat perbanyaklah berpuasa,

Yang kelima dzikir malam perpanjanglah.

Salah satunya siapa bisa menjalani,

Moga-moga Allah Taala mencukupi.

 

“Astaghfirullah….” Marco menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Air matanya menyeruak. Dia sudah sering mendengar lagu itu, karena lagu itu pernah sangat populer. Namun kali ini hatinya bergetar. Benaknya seperti ada yang menuntun, untuk mengingat dan menghitung, apa saja yang sudah dilakukannya selama ini?

Yang pertama baca Alqur'an. Sebetulnya Marco sudah khatam waktu kelas V SD, tapi setelah itu jarang sekali dia membuka lagi kitab suci itu, apalagi mencari maknanya dalam tafsir. Kan, sudah khatam, begitu jawabnya, kalau mamanya menyuruh baca Alqur'an, terutama saat bulan Ramadan.

Yang kedua salat malam. Pasti maksudnya tahajud, pikir Marco. Boro-boro tahajud, salat lima waktu saja kadang nggak komplit dijalaninya! Salat subuh sering kesiangan. Salat zuhur, ashar dan maghrib memang rutin dilakoninya. Beres maghrib, biasanya dia makan malam, lalu nonton acara TV atau main sosmed, main game… kalau ada tugas kuliah, dikerjakannya setelah bosan nonton. Setelah lewat tengah malam, baru ingat belum salat isya. Kalau lagi eling, dia ambil air wudu lalu salat. Kalau sedang malas, biasanya Marco langsung tidur. Itu kalau sedang di rumah.

Lain lagi jika sedang dalam perjalanan ke daerah lain, atau lagi naik gunung atau manjat tebing. Hampir semua salat lima waktu, bablas tidak dilakoni. Alasannya bisa bermacam-macam, misalnya capek, nggak ada air bersih buat wudu (mau tayamum lupa lagi caranya), badan kotor dan keringatan… pokoknya beragam alasan.

Obat hati yang ketiga adalah berkumpul dengan orang shaleh. Dengan siapa dirinya berkumpul selama ini? Lebih sering dengan sesama pendaki gunung. Memang ada juga anak gunung yang cukup rajin salat dan puasa, tapi mungkin belum cukup untuk dikatakan shaleh. Satu-satunya orang yang dinilainya shaleh, yang dekat dengannya, mungkin cuma Maryam.

Seringkali Marco pulang ke homebase saat pagi hari, dari kegiatan naik gunung. Dia sering melihat Maryam yang baru selesai beraktivitas di masjid kampus. Bisa dipastikan sejak waktu subuh Maryam sudah berdiam di masjid kampus, untuk salat subuh berjamaah, dan menyimak ceramah dari ustaz.

Jika mereka berpapasan, biasanya Maryam bertanya, “Marco, sudah salat subuh, belum?”

Biasanya jawaban Marco adalah, “Entar.”

Entah sekarang, setelah omongan keras dan pedas itu, apakah Maryam masih mau menerimanya sebagai teman?

Pasti dia tersinggung, pikir Marco. Namun, saat itu Marco merasa harus menyuruh Maryam pergi. Kalau Maryam bolak-balik datang menjenguk, bisa-bisa penyidik kembali mencurigai Maryam terlibat dalam urusan kematian Raymond. Satu-satunya cara membuat Maryam pergi dan tidak kembali lagi menjenguknya, adalah dengan mengatakan perbedaan status sosial di antara mereka. Itu bakal bikin siapa pun tersinggung. Akhirnya Marco cuma bisa mijit-mijit kepalanya yang terasa migrain. Lalu dia teringat lagi pada lanjutan lagu Obat Hati.

Yang keempat, perbanyaklah berpuasa. Pasti maksudnya puasa sunat. Puasa sunat yang biasa dijalaninya cuma puasa sehari menjelang Idul Qurban. Kalau puasa wajib, Marco selalu tamat sejak kelas III SD. Akan tetapi, apakah puasanya itu benar-benar khusuk, dalam artian bukan sekadar menahan lapar dan haus saja? Entah. Karena saat puasa wajib pun, mulutnya masih rajin mengabsen nama-nama hewan, kalau sedang memaki-maki orang lain. Terkadang makian itu dilontarkannya untuk hal yang sangat sepele, misalnya karena motornya disalip oleh kendaraan lain.

Yang kelima, zikir malam. Ini mah boro-boro banget deh! Nggak pernah!

Jadi, apa saja yang sudah dilakukannya, untuk mengobati hati yang saat ini begitu putus asa? Tidak ada! Marco merasa malu, tak berarti, bahkan mungkin dirinya jauh lebih buruk daripada tiga orang tahanan yang sempat bertemu dengannya di ruang penyidik.

Saat Marco masih berada di ruang penyidik, Marco melihat tiga orang sedang diinterogasi. Dengar-dengar dari omongan polisi, Salah satunya ditahan atas tuduhan jadi bandar togel, dan yang dua orang lagi adalah pencuri cabai. Maksudnya kedua orang itu membajak truk yang berisi ratusan karung cabai.

Marco berpikir. “Mereka itu berbuat kriminal, mungkin karena kepepet kebutuhan ekonomi.”

Marco melihat dirinya sendiri, datang dari keluarga yang berlimpah harta dan kasih sayang dari orang tua, kakek, nenek, oma dan opa yang di Belanda sana. Karena mamanya wanita berdarah Sunda Belanda. Didikan moral dan agama sudah ditanamkan sedini mungkin. Untuk pendidikan formal, orang tuanya sanggup keluar uang banyak, asal anak-anaknya jadi orang yang terpelajar. Kedua kakaknya lulusan perguruan tinggi di luar negeri. Adiknya saat ini juga sedang kuliah di luar negeri. Cuma Marco yang memilih kuliah di dalam negeri.

“Ya Allah, jika yang kualami saat ini adalah hukuman dari-Mu, hamba ikhlas!” gumam Marco. “Tapi jika Engkau izinkan hamba keluar dari tempat ini, hamba berjanji, akan memberikan sesuatu untuk rumah-Mu, untuk masjid-Mu…. “ Marco berpikir, apa yang akan diberikannya? Uang? Tapi… sebagian besar uangnya adalah pemberian orang tuanya, bukan hasil jerih payahnya. Yang akan diberikannya pada masjid, haruslah berasal dari upayanya sendiri. Tenaga, keringat….

Marco terbangun saat azan subuh berkumandang. Polisi membuka pintu sel, memberi kesempatan kepada tahanan yang mau melaksanakan salat subuh, untuk antri ke kamar mandi. Salat dilaksanakan di dalam ruang tahanan masing-masing.

Menjelang siang, seorang bintara polisi membawa Marco menuju ruangan penyidik di Satuan Reskrim.

Penyidik, Inspektur Ekky Wahyudi bicara, “Kemarin ada seseorang yang bersaksi, melihat rekannya memasukkan serbuk ke dalam gelas berisi jus alpukat yang sudah ditaruh di homebase oleh pedagang bakso itu.” 

Marco tengadah menatap beberapa polisi yang juga sedang menatapnya.

“Kesaksian itu masih kami selidiki kebenarannya. Cuma … apakah tidak terbersit dalam pikiran Anda, bahwa sebetulnya target pembunuhan itu adalah Anda sendiri?”

Marco menunduk lagi, tak mau bicara, khawatir ini jebakan baru dari polisi.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags