Loading...
Logo TinLit
Read Story - the Last Climbing
MENU
About Us  

Windy menghembuskan napas. “Memang baru kepikiran sekarang, kalau kesaksianku itu bisa menolong Bang Marco.”

Maryam saling lirik dengan Nining.

Windy bertanya, “Apakah Mbak Maryam juga ingin Bang Marco bebas?”

“Tentu saja.”

“Aku mau bersaksi, tapi harus ada kesepakatan dengan Mbak Maryam.”

“Kesepakatan apa?”

 “Mbak Maryam akan menjauhi Bang Marco, selamanya.”

“Astaghfirullah… kayaknya kamu salah alamat, Windy. Aku bukan pacar Marco. Aku dan dia cuma berteman.”

“Yang aku tahu, berteman itu biasanya karena sekelas, atau sejurusan dalam studi, atau punya hobi yang sama, ikut organisasi yang sama, sehingga bahan obrolan juga bisa nyambung. Sedangkan antara Mbak Maryam dengan Bang Marco, apa yang kalian obrolkan? Yang jelas bukan mata kuliah, bukan organisasi, terus apa? Urusan hati, kan? Ah sudahlah, Mbak Maryam, berhentilah berpura-pura nggak tahu kalau sebetulnya selama ini Bang Marco memang suka sama Mbak Maryam! Kalau dia nggak suka, dia bakal menghindar, seperti saat dia menghindari obrolan dengan cewek lain, kalau sudah nyerempet urusan pribadi.”

Maryam menggeleng. “Itu cuma perkiraan kalian saja! Yang sebetulnya… Marco cuma kasihan sama aku, karena aku dari keluarga nggak mampu. Aku nekad kuliah di Universitas Taruma, karena yayasan yang menaungi kampus kita menawarkan beasiswa.”

Maryam terdiam, ingat saat dirinya tamat SMA dan bertekad untuk kuliah. Bapaknya menjual satu-satunya mobil angkot miliknya, supaya bisa membayar uang kuliah Maryam di tahun pertama. Hingga kemudian bapaknya itu mencari uang dengan mengemudikan angkot orang lain, dengan sistem setoran.

Saat itu belum ada kepastian Maryam bakal dapat beasiswa, karena ternyata cukup banyak kandidat calon penerima beasiswa. Maryam bingung tentang kelanjutan kuliahnya, karena bapaknya mengeluh, biaya kuliah mahal, tidak ada lagi barang berharga yang bisa dijual, kecuali rumah. Namun ibunya tetap menguatkan hati Maryam untuk terus kuliah. Ibunya Maryam buka warung nasi, dia sering memberi uang, walau tidak banyak, tapi itulah tanda dukungan dari ibunya.

Maryam tidak ingin orang tuanya berkorban lebih banyak lagi. Jika beasiswa tak didapat, Maryam bertekad kuliah sambil kerja. Dia mendatangi beberapa pemilik usaha di sekitar kampus. Ada pemilik usaha laundry yang mau menerimanya bekerja di malam hari, kerja menyetrika baju.

Laundry itu tutup pukul 10 malam, Maryam bekerja di situ dari pukul setengah delapan malam, hingga tutup toko. Memang Maryam hanya bisa bekerja di malam hari, karena dari pagi hingga sore disibukkan oleh kuliah. Kalaupun ada waktu kosong di siang hari, selama beberapa jam, Maryam menggunakan waktu kosong itu untuk mengerjakan tugas kuliah. Di hari Minggu, dan hari libur nasional, laundry itu tetap buka. Maryam bisa bekerja sejak pagi hingga malam.

Pemilik laundry paham dengan kesulitan biaya yang banyak dialami mahasiswa. Namun dia juga tidak bisa membayar Maryam sesuai upah standar, karena jam kerja Maryam hanya sedikit. Dia membayar karyawannya seminggu sekali. Maryam hanya menerima sedikit uang, namun dia bersyukur. Uang itu ditabungnya untuk biaya kuliah. Jika nanti dia gagal dapat beasiswa, berarti dirinya akan lanjut bekerja di laundry itu.

Ketika masuk semester III, beasiswa itu berhasil diperoleh Maryam, hingga kini. Orang tuanya tak perlu pusing lagi memikirkan pembayaran uang kuliah dan biaya hidup Maryam selama di Bandung. Maryam juga tidak perlu lagi bekerja di laundry. Semua kesusahan itu telah berlalu.

Maryam melanjutkan bicara pada Windy. “Beasiswa yang kuperoleh itu untuk uang semester, biaya makan, dan bayar kos. Sedangkan kuliah itu kan, butuh buku, alat tulis, baju, sepatu, tas. Semua itu masih bisa kuatasi, dengan cara menyisihkan uang makan. Tapi aku juga butuh laptop, dan harganya mahal. Makanya aku jualan peyek. Marco kasihan padaku, dia sering memborong daganganku.”

Maryam menyeka air matanya yang turun membasahi pipi. “Aku nggak pernah berharap punya hubungan pribadi dengan Marco. Aku harus tahu diri, kalau kami nggak sederajat! Mana mungkin, Pak Ardian Wiratama yang pengusaha kaya, mengizinkan anaknya berhubungan akrab dengan aku, anak seorang sopir angkot.” 

Windy terdiam sejenak, lantas berujar pelan, “Bang Marco itu orang yang keras, tidak gampang menyerah, tidak mempan diancam sama siapapun. Seandainya dia memang suka pada seorang wanita, sementara orang tuanya kurang setuju pada pilihannya, aku yakin Bang Marco akan memperjuangkan wanita itu supaya bisa diterima oleh keluarganya. Orang tuanya pun tidak akan bisa melarangnya. Kecuali kalau ….”

“Kecuali kalau apa?” Nining yang bertanya.

“Begini Mbak… pengacaraku dapat info, kalau Bang Marco ditekan untuk tidak menyangkal dan tidak meminta penangguhan penahanan. Jika BAP-nya sudah kelar, dia harus menandatanganinya tanpa banyak bicara. Dia harus menghadapi pengadilan. Kalaupun pada akhirnya pengadilan menyatakan dia nggak bersalah, tapi… itu berarti dia sudah menjalani proses penahanan yang cukup lama, bisa berbulan-bulan!” ujar Windy.

“Siapa yang menekan dia?” Maryam heran.

“Pengacara keluarga Raymond sudah mengorek info pada hampir semua anggota Adventure, salah satunya info tentang siapa orang yang punya pengaruh besar terhadap Marco. Hampir semua anak Adventure menjawab, orang itu adalah Mbak Maryam.”

Maryam geleng-geleng kepala, “Bukan, nggak mungkin aku, kalian salah!”

“Barusan Mbak tanya, siapa yang menekan Bang Marco? Sebetulnya bukan seperti itu pertanyaannya, tapi… siapa yang dipertaruhkan, untuk bisa menekan dia?” Windy menatap Maryam. “Yang dipertaruhkan adalah dirimu!”

Maryam kembali menggeleng, “Nggak mungkin….”

“Selama ditahan, Bang Marco diam saja kan? Tak ada penyangkalan, bahkan orang tuanya tidak bisa mengeluarkan dia dari tahanan untuk penangguhan. Kenapa? Karena keluarga Raymond dan penyidik menekannya, akan mengajukan tersangka kedua dalam kasus pembunuhan Raymond. Tersangka itu adalah Mbak Maryam, dengan tuduhan membantu pembunuhan!”

Windy lanjut bicara, “Bang Marco bersedia menanggung semuanya seorang diri, asalkan Mbak Maryam tidak diusik. Bang Marco tidak ingin Mbak Maryam diajukan sebagai saksi, sekali pun hal itu bisa membebaskan dirinya!”

“Kenapa?” suara Maryam tersendat oleh tangis yang menyeruak.

“Karena Mbak Maryam sedang bikin skripsi, begitu katanya.”

Maryam menutup wajahnya dengan jilbab, berusaha menahan tangis, tapi isakannya terdengar juga. Tidak pernah terbersit dalam benaknya, seperti itulah yang sesungguhnya terjadi. Kenyataan itu bahkan terasa berpuluh kali lipat lebih pedih, daripada omongan pedas Marco tempo hari.

Windy bertutur lagi, “Ibaratnya saat ini Bang Marco dalam kondisi terpojok karena tuduhan sebagai pelaku pembunuhan. Mbak Maryam bisa bersaksi membebaskan Bang Marco, tapi Bang Marco malah bilang kalau Mbak Maryam itu harus fokus bikin skripsi, jadi biarkan saja Maryam, jangan dibawa-bawa dalam kasus ini. Begitu katanya. Astaga, aku baru nemu cowok yang begitu perhatian sama cewek. Mbak, kamu bikin iri banyak cewek di kampus.”

Maryam tak tahu harus bicara apa, dia bingung dengan situasi itu.

“Kalau nanti Bang Marco sudah bebas, lalu kembali mendatangi Mbak Maryam dengan alasan apapun, please, tolak dia! Bilang saja, kalau Mbak Maryam lebih memilih sesama aktivis dakwah untuk jadi calon suami, atau Mbak ngaku sudah punya calon di kampung, atau apa sajalah… pokoknya bikin dia merasa nggak bisa berharap apa-apa lagi dari Mbak Maryam. Hanya dengan cara itu, Bang Marco akan berhenti memikirkan Mbak Maryam. Lambat laun dia akan berpaling pada yang lain. Mbak harus memberi kesempatan pada cewek lain.”

Windy menatap wajah Maryam. “Kalau Mbak Maryam berjanji akan melakukan semua itu, barulah aku akan datang ke kantor polisi untuk bersaksi.”

“Baiklah.” jawab Maryam.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags