Loading...
Logo TinLit
Read Story - the Last Climbing
MENU
About Us  

“Anda pasang badan, untuk melindungi seseorang, kan? Apakah ini orangnya?” Seorang polisi menyodorkan sebuah foto. Marco tercengang menatap wajah gadis dalam foto itu. Silvi!

“Kami sudah dapat info banyak tentang Silvi. Dia punya dendam pribadi pada Anda, dia pikir Anda telah sengaja membuat kakaknya mengalami kecelakaan saat panjat tebing tiga tahun lalu! Dia mengejar Anda, untuk membunuh Anda!”

Marco menghela napas berat. Sedih, karena pada akhirnya polisi mengetahui semua itu, tentang Tonny, tentang Silvy. Tidak sulit bagi Marco untuk mengetahui bahwa Silvi adalah adik Tonny. Dalam biodata Silvi saat mendaftar jadi anggota Adventure, nama ortu Silvi berikut alamatnya, sama persis dengan nama ortu dan alamat Tonny.

Di hari-hari selanjutnya, Marco merasa Silvi sering berusaha mendekatinya. Namun, ada yang lain dari sorot mata Silvi jika memandanginya. Penuh amarah. Marco mengira, Silvi mungkin tahu bahwa saat Tonny tewas, Marco juga ada di situ. Mungkin itulah penyebab sorot mata Silvi selalu tampak bersinar penuh kebencian, jika menatapnya. Karena itulah Marco berusaha melunakkan hati Silvi, dengan memberi perhatian lebih, layaknya seorang kakak. Karena pasti Silvi sangat kehilangan Tonny, kakak satu-satunya.

Tahun berlalu, dan sorot kebencian itu mulai padam. Silvi terkesan tak lagi menatapnya penuh amarah. Marco merasa Silvi sudah tidak menyimpan dendam lagi. Hingga tibalah hari naas itu, hari kematian Raymond. Tentu saja sejak awal pun Marco sudah punya firasat, racun itu ditujukan untuknya! Allah masih melindungi nyawanya, dengan cara yang tampak sangat sepele, tapi ibarat sebuah miracle. Cuma karena tiba-tiba saja Maryam muncul di depan homebase, menunggu kedatangannya untuk mengobrol, dirinya terhindar dari upaya pembunuhan!

Sejak hari itu, Marco selalu berharap dan berdoa, semoga bukan Silvi pelakunya! Kasihan ibunya Silvi, anaknya cuma dua. Tonny sudah meninggal. Jika Silvi nekad melakukan tindak pidana, apalagi pembunuhan, lalu tertangkap polisi, maka habislah sudah harapan sang ibu. Namun, ternyata hari ini polisi membidik Silvi sebagai tersangka! Jika benar, berarti dendam Silvi tak pernah padam. Marco betul-betul prihatin.

“Beberapa hari lalu kami menangkap seorang penjual senjata api rakitan. Orang itu mengaku pernah menjual senjatanya kepada seorang wanita yang ciri-cirinya seperti Silvi. Saat kami hadapkan dia pada Silvi, dia mengenali Silvi.” Penyidik mengeluarkan sebuah pistol. “Senjata ini dikirimkan tiga minggu lalu kepada polisi, oleh rekan satu kos Silvi. Si pengirim tidak mau bicara, milik siapa, dan di mana senjata ini ditemukan.”

“Kalau boleh tahu, siapa yang mengirim pistol rakitan itu ke kantor polisi?” tanya Marco.

“Seorang wanita.”

“Ya tentu saja seorang wanita, karena rumah kos Silvi itu buat wanita.”

“Maryam.”

“Apa?” Marco tercengang.

“Yang mengirim pistol itu pada polisi adalah Maryam.”

Marco masih terpana oleh ucapan polisi.

“Kami sudah menemukan keterkaitan antara pistol ini, dengan kasus yang menimpa Anda. Kami pikir, pada awalnya Silvi berencana akan menembak Anda. Tapi sebelum terlaksana, Maryam menemukan pistolnya, dan memberikan pistol itu pada polisi. Maka Silvi mencari cara lain untuk balas dendam pada Anda. Dan akhirnya terjadilah tragedi jus alpukat beracun di homebase.”

Batin Marco berucap, “Jadi sudah dua kali ada upaya pembunuhan terhadap diriku? Ya Allah ya Rabb, Engkau yang menyelamatkan aku, lewat tangan bidadari-Mu yang ada di bumi. Ternyata bukan aku yang jadi guardian, tapi Maryam itulah my guardian angel.”

Polisi penyidik bertanya pada Marco. “Apakah sejak awal Anda sudah mengira, kalau Silvi yang menaruh racun itu?”

“Tidak.” bantah Marco.

“Seharusnya sejak awal Anda bicara apa adanya, tentang orang-orang yang mungkin ingin balas dendam pada Anda.”

“Saya tidak tahu pemikiran orang lain tentang diri saya.”

“Anda masih berusaha membelanya? Apakah Anda menyukainya?”

“Menyukai siapa?”

“Silvi.”

“Saya menyayanginya, sebagai adik dari sahabat saya yang sudah meninggal.”

“Saking sayangnya, hingga membuat Anda tak peduli harus masuk tahanan, untuk melindungi dia?”

“Tentu saja tidak begitu. Saya masuk tahanan, karena polisi juga yang tiba-tiba membawa saya ke sini. Cuma karena katanya dalam bagasi motor saya ada sisa-sisa arsenik! Yang saya tahu, saya pernah beli racun tikus untuk sawah kakek saya di Soreang, dan saat itu saya simpan di bagasi motor! Mungkin plastik pembungkusnya sedikit bocor, jadi ada tumpahan serbuk di bagasi motor. Saya tidak tahu kalau dalam racun tikus itu terkandung arsenik?!”

Polisi hari itu membebaskan Marco dari tahanan. Namun untuk menahan Silvi sebagai pelaku pembunuhan dengan racun, belum dapat dilakukan karena belum cukup bukti. Penggeledahan terhadap kamar kos dan barang-barang milik Silvi, tidak membuahkan hasil, tak ada sisa arsenik.

Maryam dan ibu pemilik kos datang ke markas polisi, saat sudah 24 jam Silvi berada di situ. Ketika melihat kedua wanita itu masuk ke ruang penyidik, Silvi langsung menghampiri dan memeluk Maryam, sambil histeris.

“Bukan aku, Mbak! Bukan aku pelakunya!” Lantas dia memegang tangan ibu kosnya. “Silvi nggak melakukan semua yang dituduhkan itu, Bu.”

“Aku dan Ibu kos datang karena dipanggil buat bersaksi.” bisik Maryam. “tenanglah, tuduhan pada kamu cuma menyimpan senjata api illegal, bukan kasus kematian Raymond.”

“Terus aku harus gimana, Mbak?”

Maryam lantas menyuruh Silvi menjauh darinya. Silvi nurut, dia duduk di sebuah kursi yang terletak di pojokan, menunggu nasib.

Maryam duduk di hadapan penyidik.

“Anda yang menyerahkan pistol ini, kan?” tanya penyidik.

“Ya.” jawab Maryam.

“Menurut si penjual, pistol ini dibeli oleh Silvi.”

“Saya tidak tahu.”

“Anda menemukan pistol ini di antara barang-barang milik Silvi!”

“Saya menemukan pistol itu tergeletak di tempat sampah, di belakang kampus. Saya tidak tahu milik siapa pistol itu. Tapi karena itu benda berbahaya, makanya saya ambil dan saya serahkan pada polisi.” Maryam bersikeras pada keterangan awal.

“Tapi Anda pernah melihat pistol ini ada di kamar Silvi?”

“Tidak. Pertama kali saya melihat, pistol itu sudah ada di tempat sampah!”

“Buat apa Anda mendekati tempat sampah?”

“Buat membuang sampah, bukankah itu fungsi tempat sampah?”

Polisi masih memberi beberapa pertanyaan lagi, tapi Maryam tetap kukuh pada keterangannya. Akhirnya polisi menghentikan pemeriksaan. Maryam dan ibu kos boleh pulang, Silvi juga. Tak ada bukti dan saksi yang pernah melihat Silvi menyimpan pistol itu, sehingga Silvi tidak bisa ditahan atas kepemilikan senjata api illegal. Sedangkan mengenai pengakuan si penjual pistol, telah dibantah oleh Silvi. Tidak ada bukti tertulis, yang menyatakan bahwa Silvi pernah membeli pistol darinya.

***

Marco memarkir motor. Saat itu hari pertama dia kembali ke kampus setelah keluar dari tahanan polisi. Beberapa orang meliriknya dengan sorot mata yang terasa menuduh. Marco tidak peduli, dia teringat nadzarnya. Pandangannya menjelajahi masjid kampus, sambil berpikir, apa yang bisa dilakukannya untuk masjid itu? Dengan teropong yang barusan diambil dari homebase, Marco menatap bagian atas menara masjid, yang tingginya 25 meter.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags