Di Antara Hujan dan Roti Bakar
Hujan turun pelan di kota kecil tempat mereka berbulan madu. Jefta dan Cindy memilih penginapan kayu dengan balkon yang menghadap danau. Hangat lampu kamar berpadu dengan suara rintik hujan di atap.
Cindy melipat baju sambil mengenakan piyama kemeja oversized yang baru dibelinya. Jefta berdiri di dekat dapur kecil, memanggang roti bakar sambil bersenandung lagu-lagu tahun 90-an.
> “Gue kira malam pertama bakal kayak di film—lilin, musik romantis, champagne…”
Cindy tertawa. “Yang kita punya cuma roti bakar dan aroma balsem dari koper Mama.”
Jefta duduk di tepi ranjang, menatap istrinya yang kini tengah menyisir rambut di depan cermin.
> “Cindy…” katanya pelan.
> “Hmm?”
> “Gue deg-degan.”
Cindy mendekat dan duduk di sebelahnya, kepala miring.
> “Kenapa?”
“Karena lo sekarang resmi jadi istri gue. Bukan sekadar teman ngobrol nasi goreng. Gue takut salah.”
> Cindy menatapnya lama. Lalu tersenyum dan menyandarkan kepala di bahunya. “Salah dikit gak apa-apa. Yang penting pelan-pelan, bareng.”
Jefta mencium ubun-ubunnya. “Gue cinta sama lo, Cin.”
> “Gue juga. Gak pernah seserius ini sama cowok sebelumnya.”
“Gue juga gak pernah sepengen ini bikin seseorang bahagia.”
Roti bakar mereka gosong. Tapi tawa mereka pecah malam itu.
Pelan-pelan, lampu kamar dimatikan. Jefta menggenggam tangan Cindy dan berkata,
> “Gue masih deg-degan…”
Cindy membisik, “Aku juga. Tapi kan, kita bisa belajar.”
Dan malam itu bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang dua orang yang saling memilih—dengan gugup, dengan canda, dan cinta yang tumbuh.
Hari-Hari Setelah Iya
Hari pertama setelah malam pertama, Cindy bangun lebih dulu. Ia membuka tirai kamar dan menemukan pemandangan danau yang berkabut. Udara pagi itu dingin, tapi segelas teh panas di tangan dan punggung Jefta yang terbungkus selimut di ranjang membuat semuanya terasa hangat.
> “Bangun, Pak Suami. Sarapan udah disiapin—nasi goreng dari hotel dan telur setengah matang ala Cindy.”
Jefta mengerang. “Lima menit lagi, Bu Istri…”
Tapi kemudian dia membuka satu mata, melihat Cindy berdiri di jendela pakai piyama dan rambut berantakan.
> “Lima menit apaan, lo udah bangunin hormon gue.”
> Cindy melempar bantal. “Gak boleh, kan semalem udah.”
> “Itu bukan berarti jatah cuma semalam kan…” Jefta bangkit dengan senyum menggoda.
Mereka tertawa. Hidup berdua ternyata bukan sekadar peluk dan cium—tapi juga rebutan sabun mandi, belajar membagi selimut, dan berdamai dengan kentut tak sengaja di tengah malam.
---
Naik Perahu, Turun Hati
Di hari ketiga, mereka menyewa perahu kecil untuk mengelilingi danau.
> “Kalau perahu ini bocor, lo selamatin apa dulu?” tanya Cindy sambil memotret pemandangan.
> “Lo lah,” jawab Jefta.
> “Yakin? Gak nyelametin kamera gue yang isinya foto-foto lo waktu tidur ngorok?”
> “Lah itu justru kenapa gue harus selamatin lo dulu, buat ngapus foto-foto itu.”
Perahu bergoyang ringan. Cindy meletakkan kepalanya di bahu Jefta.
> “Kita gini terus ya… bukan sempurna, tapi saling ngerti.”
Jefta mencium pelipisnya. “Kita gak harus sempurna. Kita cukup jadi yang saling tahan kalau satunya nyebelin.”
---
Tiba-Tiba Serius
Malam itu, mereka duduk di balkon, selimut melilit berdua. Tak ada musik. Hanya suara jangkrik dan danau yang tenang.
> “Cin…” suara Jefta serius.
> “Hmm?”
> “Lo mau punya anak berapa?”
Cindy terdiam sebentar. “Dulu pengen dua. Tapi setelah tahu lo bisa masak, kayaknya boleh nambah jadi tiga.”
> Jefta tertawa. “Tiga anak… atau tiga panci makanan?”
> “Dua anak. Satu panci cadangan.”
Mereka tertawa, tapi kemudian diam bersamaan. Lalu Jefta menggenggam tangan Cindy erat.
> “Gue gak tahu apa nanti kita bakal selalu sepakat. Tapi selama lo mau pegang tangan gue kayak gini, gue yakin kita bisa jalanin semuanya.”
> Cindy menjawab dengan pelan, “Selama lo gak nyerah pas gue lagi drama…”
> “Dan lo gak pergi pas gue jadi bego.”
> “Deal.”
---
Pagi harinya mereka pulang. Tapi hati mereka tetap tinggal sedikit di sana—di danau, di roti bakar gosong, di pelukan yang sederhana tapi penuh janji.
Di Antara Hujan dan Roti Bakar
Hujan turun pelan di kota kecil tempat mereka berbulan madu. Jefta dan Cindy memilih penginapan kayu dengan balkon yang menghadap danau. Hangat lampu kamar berpadu dengan suara rintik hujan di atap.
Cindy melipat baju sambil mengenakan piyama kemeja oversized yang baru dibelinya. Jefta berdiri di dekat dapur kecil, memanggang roti bakar sambil bersenandung lagu-lagu tahun 90-an.
> “Gue kira malam pertama bakal kayak di film—lilin, musik romantis, champagne…”
Cindy tertawa. “Yang kita punya cuma roti bakar dan aroma balsem dari koper Mama.”
Jefta duduk di tepi ranjang, menatap istrinya yang kini tengah menyisir rambut di depan cermin.
> “Cindy…” katanya pelan.
> “Hmm?”
> “Gue deg-degan.”
Cindy mendekat dan duduk di sebelahnya, kepala miring.
> “Kenapa?”
“Karena lo sekarang resmi jadi istri gue. Bukan sekadar teman ngobrol nasi goreng. Gue takut salah.”
> Cindy menatapnya lama. Lalu tersenyum dan menyandarkan kepala di bahunya. “Salah dikit gak apa-apa. Yang penting pelan-pelan, bareng.”
Jefta mencium ubun-ubunnya. “Gue cinta sama lo, Cin.”
> “Gue juga. Gak pernah seserius ini sama cowok sebelumnya.”
“Gue juga gak pernah sepengen ini bikin seseorang bahagia.”
Roti bakar mereka gosong. Tapi tawa mereka pecah malam itu.
Pelan-pelan, lampu kamar dimatikan. Jefta menggenggam tangan Cindy dan berkata,
> “Gue masih deg-degan…”
Cindy membisik, “Aku juga. Tapi kan, kita bisa belajar.”
Dan malam itu bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang dua orang yang saling memilih—dengan gugup, dengan canda, dan cinta yang tumbuh.
Hari-Hari Setelah Iya
Hari pertama setelah malam pertama, Cindy bangun lebih dulu. Ia membuka tirai kamar dan menemukan pemandangan danau yang berkabut. Udara pagi itu dingin, tapi segelas teh panas di tangan dan punggung Jefta yang terbungkus selimut di ranjang membuat semuanya terasa hangat.
> “Bangun, Pak Suami. Sarapan udah disiapin—nasi goreng dari hotel dan telur setengah matang ala Cindy.”
Jefta mengerang. “Lima menit lagi, Bu Istri…”
Tapi kemudian dia membuka satu mata, melihat Cindy berdiri di jendela pakai piyama dan rambut berantakan.
> “Lima menit apaan, lo udah bangunin hormon gue.”
> Cindy melempar bantal. “Gak boleh, kan semalem udah.”
> “Itu bukan berarti jatah cuma semalam kan…” Jefta bangkit dengan senyum menggoda.
Mereka tertawa. Hidup berdua ternyata bukan sekadar peluk dan cium—tapi juga rebutan sabun mandi, belajar membagi selimut, dan berdamai dengan kentut tak sengaja di tengah malam.
---
Naik Perahu, Turun Hati
Di hari ketiga, mereka menyewa perahu kecil untuk mengelilingi danau.
> “Kalau perahu ini bocor, lo selamatin apa dulu?” tanya Cindy sambil memotret pemandangan.
> “Lo lah,” jawab Jefta.
> “Yakin? Gak nyelametin kamera gue yang isinya foto-foto lo waktu tidur ngorok?”
> “Lah itu justru kenapa gue harus selamatin lo dulu, buat ngapus foto-foto itu.”
Perahu bergoyang ringan. Cindy meletakkan kepalanya di bahu Jefta.
> “Kita gini terus ya… bukan sempurna, tapi saling ngerti.”
Jefta mencium pelipisnya. “Kita gak harus sempurna. Kita cukup jadi yang saling tahan kalau satunya nyebelin.”
---
Tiba-Tiba Serius
Malam itu, mereka duduk di balkon, selimut melilit berdua. Tak ada musik. Hanya suara jangkrik dan danau yang tenang.
> “Cin…” suara Jefta serius.
> “Hmm?”
> “Lo mau punya anak berapa?”
Cindy terdiam sebentar. “Dulu pengen dua. Tapi setelah tahu lo bisa masak, kayaknya boleh nambah jadi tiga.”
> Jefta tertawa. “Tiga anak… atau tiga panci makanan?”
> “Dua anak. Satu panci cadangan.”
Mereka tertawa, tapi kemudian diam bersamaan. Lalu Jefta menggenggam tangan Cindy erat.
> “Gue gak tahu apa nanti kita bakal selalu sepakat. Tapi selama lo mau pegang tangan gue kayak gini, gue yakin kita bisa jalanin semuanya.”
> Cindy menjawab dengan pelan, “Selama lo gak nyerah pas gue lagi drama…”
> “Dan lo gak pergi pas gue jadi bego.”
> “Deal.”
---
Pagi harinya mereka pulang. Tapi hati mereka tetap tinggal sedikit di sana—di danau, di roti bakar gosong, di pelukan yang sederhana tapi penuh janji.
Beberapa bulan kemudian
Kabar di Pagi yang Cerah
Cindy duduk di depan cermin kamar mandi, tangan gemetar memegang test pack dua garis merah muda yang kini begitu jelas terlihat. Napasnya tercekat, campuran antara tak percaya, bahagia, dan sedikit cemas.
“Ini beneran ya?” gumamnya pelan.
Ia berlari ke kamar, menemui Jefta yang sedang mengenakan kaos dan celana pendek, sambil main game di ponsel.
> “Jef… sini lihat dulu,” suara Cindy bergetar.
Jefta mengangkat kepala, setengah bingung, lalu melihat test pack di tangan istrinya.
> “Dua garis? Artinya…?” Ia berhenti sejenak, lalu wajahnya berubah jadi senyum lebar.
> “Artinya lo mau bikin gue tidur lebih cepat tiap malam, nih!” candanya.
Cindy tertawa, tapi mata mereka berdua sudah berbinar-binar.
---
Reaksi Campur Aduk
Beberapa hari kemudian, Cindy masih merasa mual dan cepat lelah. Jefta panik, tapi pura-pura santai.
> “Lo yakin nggak ini cuma pengaruh nasi goreng yang kemarin? Gue juga mual kalau kebanyakan pedes.”
> Cindy menatapnya tajam, “Jef, ini beneran loh.”
Jefta akhirnya memutuskan untuk menemani Cindy ke dokter kandungan.
Di ruang praktek, dokter tersenyum ramah sambil menunjukkan hasil USG.
> “Selamat, ini janin sehat. Perkiraan usia kandungan sekitar empat minggu.”
Jefta hampir loncat kegirangan. “Kita bakal punya bayi, Cin!”
Cindy tersenyum, tapi juga tersentuh. “Makasih ya, udah selalu ada buat aku.”
---
Janji dan Harapan
Malam itu, di ruang tamu yang remang, Jefta dan Cindy duduk berpelukan.
> “Jef, aku takut.”
> “Takut apa, Cin?”
> “Takut gagal jadi ibu yang baik. Takut ada apa-apa sama bayi kita.”
Jefta mengusap kepala Cindy lembut. “Aku juga takut, tapi kita jalanin bareng. Lo nggak sendirian.”
Mereka berdua terdiam, membayangkan masa depan penuh tawa dan tangis.
Drama Asam dan Ubi Rebus
Pagi-pagi buta, Jefta terbangun karena bau aneh menyengat dari dapur. Ia menemukan Cindy duduk di lantai dapur sambil mengupas mangga muda dan makan dengan garam, sambil mewek.
> “Cin… lo nangis?”
> “Enggak,” jawab Cindy dengan suara sengau. “Cuma... enak banget.”
Jefta mengedip cepat, bingung. “Jadi lo nangis karena... mangga?”
> “Bukan cuma mangganya, Jef… lo tahu kan perasaan ‘puas banget’ yang cuma bisa dirasain sama ibu hamil? Itu. Aku bersyukur banget mangga ini ada…”
Jefta hanya bisa duduk diam, sambil dalam hati menulis catatan: Stock mangga muda setiap minggu.
---
Uji Nyali di Tengah Malam
Jam 2 pagi, Jefta baru mulai tidur. Tiba-tiba Cindy menepuknya keras.
> “Jef! Aku pengin makan ubi rebus!”
> “Sekarang?”
> “Iya. Yang manis, hangat, dan harus ada kelapanya.”
Jefta terdiam beberapa detik.
> “Kita tinggal di kota, Cin. Ini bukan desa dengan nenek sihir yang nyediain ubi kapan aja…”
> “Yaudah aku beli sendiri, deh!”
Jefta langsung duduk. “Ya ampun, yaudah, gue yang cari!”
Akhirnya, mereka naik motor jam 2:30 pagi mencari tukang gorengan atau penjual bubur yang jualan ubi. Tak dapat juga, mereka pulang, dan Cindy malah ketawa.
> “Ternyata udah nggak pengin. Tapi seru ya jalan-jalan malam.”
Jefta hanya bisa pasrah. “Bayi kita bakal jadi petualang…”
---
Drama Nama Bayi
Saat usia kandungan memasuki bulan keempat, mereka mulai berdiskusi soal nama bayi.
> “Kalau cowok, gue mau namanya Elvano. Keren, kayak pemain bola,” kata Jefta.
> “Kalau cewek? Aku suka ‘Shanaya’. Cantik.”
> “Tapi kalau bayinya mirip lo, namanya ‘Cefreyanti’ aja. Campuran Cindy + Jeffrey.”
> “Jeffrey siapa?!”
> “Gue, dong. Nama keren gue.”
Cindy mencubit pelan. “Yang bener nama lo Jefta.”
> “Ya siapa tahu kita punya dua bayi: Jefta junior dan Cindy junior.”
> “Kalau kita punya anak kembar tiga?”
> “Lo yang gantiin popok semua.”
Drama USG dan “Bayi Buka Kaki”
Cindy dan Jefta duduk di ruang tunggu klinik kandungan. Ini kali pertama mereka akan tahu jenis kelamin bayi.
> “Kalau cewek, aku udah siapin bando warna pink. Kalau cowok… sepatu bola mini!” bisik Jefta semangat.
Saat giliran mereka, Cindy berbaring dan dokter mulai USG. Monitor memperlihatkan sosok mungil yang bergerak aktif.
> “Wah, bayinya aktif banget ya Bu,” kata dokter sambil tersenyum.
> “Dok… bisa lihat jenis kelaminnya?” tanya Cindy tak sabar.
Dokter mengernyit, lalu tertawa kecil.
> “Sebentar ya… Bayinya… eh, buka kaki sekarang.”
Jefta refleks mendekat.
> “Astaga, dia kayak pemain bulutangkis! Siap menerima smash!”
Dokter dan Cindy tertawa.
> “Kelihatan jelas sekarang. Ini… laki-laki ya, Pak, Bu.”
> “Yes!” Jefta mengepalkan tangan, lalu langsung memeluk Cindy. “Kita punya jagoan!”
> “Dia pasti kayak kamu—suka drama dan mangga,” goda Cindy.
> “Nggak, kayak kamu—keras kepala dan bikin bapaknya keliling cari ubi jam 2 pagi.”
---
Sepatu, Sandal, dan Suami Penyayang
Suatu sore, Cindy duduk di tepi ranjang sambil menatap sepatunya yang tergeletak di lantai.
> “Jef… bisa tolong pakein sepatu nggak?”
Jefta datang sambil membawa sandal jepit.
> “Gimana kalau pakai sandal aja? Lebih gampang.”
> “Tapi aku mau keliatan kece. Sepatu yang itu, Jef…”
Jefta jongkok, berusaha keras menyelipkan kaki Cindy ke dalam sepatu sneakers warna putih.
> “Kayak masukin semangka ke dalam kantong belanja mini…”
> “Aku denger itu!”
> “Tapi semangka tercantik yang pernah gue lihat.”
Setelah berhasil masuk, Cindy berdiri dan Jefta langsung mengelus perutnya.
> “Nak, kamu tahu nggak… karena kamu, ibu jadi diva, dan ayah jadi asisten pribadi.”
> “Kalau kamu lahir, gantian ya, kamu yang pijitin ayah.”
> “Hei!” Cindy memukul pelan lengan Jefta.
> “Eh… bercanda. Tapi serius sih.”
Ngidam Piring Lain dan Bau Jalan Basah
Cindy mulai masuk trimester ketiga. Semakin hari, permintaannya makin aneh dan bikin Jefta garuk-garuk kepala tiap malam.
Suatu malam, mereka makan malam bareng. Cindy mendadak berhenti makan dan menatap piring Jefta.
> “Jef… bisa tukeran piring nggak?”
> “Lho, ini makanannya sama, Cin.”
> “Tapi... punyamu kelihatan lebih bahagia. Lihat tuh, nasinya kayak lebih niat ditaruh.”
> “Ciiin… nasi nggak punya emosi.”
> “Jef…”
Akhirnya mereka tukeran piring. Dan benar saja, setelah itu Cindy makan dengan semangat.
---
Suatu pagi, Cindy bangun sambil mengendus-endus udara.
> “Kamu cium nggak sih? Harumnyaaaa…”
> “Apa? Kamu nyalain diffuser?”
> “Enggak, itu bau jalan yang abis disiram air! Bawa aku ke jalan gang kecil yang suka dilewatin motor itu, ya? Sekarang!”
> “Cin… ini jam enam pagi…”
> “Tapi aku butuh itu, Jef. Kayak… sangat butuh.”
Jefta menghela napas, lalu lima menit kemudian mereka sudah berdiri di ujung gang sambil Cindy menghirup bau aspal basah dengan wajah damai.
> “Hmmm… wangi surga.”
---
Si Kecil Datang, Si Ayah Panik
Tengah malam, Cindy membangunkan Jefta.
> “Jef… air ketubanku pecah.”
> “Hah? Pecah? Dimana?! Siapa yang pecahin?!”
> “Kamu serius nanya gitu sekarang?!”
Jefta langsung loncat dari tempat tidur, salah ambil celana, salah pakai baju. Bahkan sempat ambil kunci mobil dan… remote TV.
> “Bawa aku ke rumah sakit, bukan nyetel Netflix!”
> “Iya, iya! Astaga. Napas dulu. Napas. Siapa yang panik sekarang? Aku? Kamu?”
Di perjalanan, Cindy mulai kontraksi makin kuat.
> “Jef, kalau nanti aku teriak, jangan panik ya…”
> “Aku udah panik bahkan sebelum kamu teriak.”
Sesampainya di rumah sakit, proses melahirkan berlangsung penuh peluh, tangis, dan akhirnya—tangisan pertama si bayi pecah mengisi ruangan.
Perawat menyerahkan bayi mungil itu ke Cindy. Tangannya kecil, wajahnya merah, tapi senyumnya seperti milik Jefta.
> “Halo, jagoan kecil…” bisik Cindy sambil menangis.
> “Hai, calon striker timnas…” tambah Jefta, suaranya gemetar tapi bahagia.
The End...
choujie








