Loading...
Logo TinLit
Read Story - Alumni Hati
MENU
About Us  

Di Ruang Istirahat Kantor


"Cindy gimana kelanjutan kamu sama Jefta? " tanya Sitty penasaran.

“Hmm… entahlah. Kadang, aku ngerasa ada rasa suka. Tapi samar. Kadang yakin, kadang ragu,” gumam Cindy pelan.

“Aku rasa kalian cocok. Semoga jadian deh,” kata Sitty tulus.

Popi mendekat. “Eh, kalian dengar gosip gak.. Sumpah receh banget tu gosip, katanya kamu deketin Jefta cuma buat iseng-iseng doang"

Sitty duduk di samping Cindy. “Tapi kamu suka Jefta, kan?”

“Ya… aku pikir iya. Tapi dia gimana ke aku, ya? Dia manis banget. Perhatian. Dia kayak... ya, kayak pacar. Tapi sampai sekarang dia belum pernah nembak aku.”

“Jangan-jangan dia PHP-in kamu,” ujar Popi langsung.

“Iya, Beb. Kamu harus hati-hati. Jangan sampai jatuh terlalu dalam dengan hubungan tanpa status kayak gini,” kata Sitty.

Cindy menghela napas. “Terus aku harus gimana? Kayaknya aku udah jatuh terlalu dalam.”

Popi menatap Cindy tajam. “Mulai sejak kapan Jefta bersikap kayak pacarmu?”

“Semenjak aku balas SMS dia waktu itu.”

“S-SMS yang mana?!” tanya Sitty dan Popi bersamaan.

“Dia bilang, ‘Aku suka kamu’. Dan aku balas, ‘Aku juga suka kamu’. Tapi anehnya, sejak itu dia nggak pernah tanya aku mau jadi pacarnya atau enggak.”

“Lah itu mah udah nembak, Cin!” seru Sitty.

“Tapi dia nggak pernah ajak aku kencan. Pegang tangan sih iya, tatapan manis juga sering. Tapi… ya gitu aja.”

“Dia udah cium kamu?” tanya Popi blak-blakan.

Cindy geleng cepat. “Belum lah! Dia cuma pegang tanganku.”

“Duh, aku juga bingung sama kalian,” kata Sitty. “Atau gini aja, aku tanya langsung ke Jefta, kalian udah jadian atau belum!”

“Setuju! Aku temenin!” sahut Popi.

“Eh, jangan! Jangan bilang apa-apa. Nanti malah kelihatan maksa,” Cindy panik.

“Kalau perlu, kita paksa dia nembak kamu!” kata Sitty bercanda.

“Demi Tuhan, kalau kalian sampai ngomong ke dia, aku nggak mau temenan lagi sama kalian!”

“Oke, oke, fine. Nggak jadi,” kata Sitty sambil mengangkat tangan.


---

Dalam Hati Cindy

Hatiku gelisah. Aku ingin jadi pacarnya. Tapi aku perempuan. Nggak mungkin aku yang harus mulai. Aku ikuti saja alur cerita ini, meski rasanya ganjil. Semua orang terus bertanya hal yang sama setiap hari...


Suara Cindy terdengar jelas dari ruang istirahat kantor.

Steven yang kebetulan hendak masuk, spontan menahan langkahnya. Ia tak bermaksud menguping, tapi ketika mendengar nama "Jefta" disebut berulang kali, ia memilih diam. Matanya menyipit, bibirnya nyengir.

Tentang Jefta.
Tentang hubungan yang menggantung.
Tentang pengakuan cinta yang tak pernah dijemput oleh kejelasan.

“Hmm... kasihan juga sih. Tapi...” gumamnya, muncul ide iseng di kepalanya. Steven tak bodoh—dia tahu hubungan Cindy dan Jefta menggantung. Dan dia juga tahu satu hal: Jefta orangnya lambat gerak. Harus dipancing. Harus diprovokasi.


---
Besoknya, meja Cindy berisi sekotak sarapan dan sticky note.

> "Buat yang suka bingung pagi-pagi. Makan, biar pikirannya tenang. –S"

“Steven?” gumam Cindy lirih. Ia menoleh, melihat Steven sudah duduk di mejanya, sok sibuk mengetik.

Hari berikutnya, ganti sandwich isi tuna dan susu almond. Sticky note-nya berbunyi:

> "Katanya sarapan bisa bantu hindarin cinta yang nanggung. Cobain deh."

Tentu saja Sitty dan Popi langsung heboh.
“Ini dari Ketua, ya? Gila! Kamu pacaran diam-diam, ya?”
“Aduh, gemes banget. Cowok gituan langka loh.”

Cindy tersenyum ... 
Namun, yang juga mendengar semua ini bukan hanya Sitty dan Popi.
Wina pun mendengar. Dan ia tidak tinggal diam.


---

Di pantry, Wina berbisik ke Lila dengan ekspresi serius.

“Lu tahu nggak? Gue dapet info, Cindy itu sekarang tinggal satu apartemen sama Steven.”

“Serius? Bukannya dia deket sama Jefta?”

“Makanya aku binggung kok bisa ada cewek kayak gitu. Sekarang tiap hari sarapan dari Steven. Pulang juga bareng. Katanya udah tinggal serumah, sih.”

Lila mengernyit. “Lo dapet dari siapa?”

“aku liat kok di parkiran, Cindy turun dari mobilnya Steven” jawab Wina santai. Tapi sorot matanya tajam. "Nih beberapa hari lalu aku sempat rekam Cindy turun dari motornya Steven" Sambil memperlihatkan video di handphone nya

Yang tak diketahui banyak orang: Wina menyukai Jefta sejak SMA.
Dan Jefta tahu. Tapi tak pernah menanggapi. Tak pernah membalas.
Kini, melihat Jefta diam-diam dekat dengan Cindy—si cewek baru yang Wina nilai nggak selevel—api lama dalam dirinya menyala.

“Kalau gosip ini cukup kuat, Jefta pasti mikir ulang,” batin Wina.

...

Rahasia, Sarapan, dan Sayang ala Kakak

Cindy membuka pintu ruangan Steven tanpa mengetuk.

Steven yang sedang duduk santai di depan laptop, menoleh cepat. “Wah, tamu VIP.”

Cindy menutup pintu dan menyilangkan tangan di dada. Wajahnya merah karena kesal. “Kita perlu bicara.”

Steven menyandarkan tubuh ke kursi, tetap tenang. “Oke. Tentang apa? Sarapan kelebihan garam?” 

“Bukan lucu!” Cindy memelototinya. “Kak, kenapa kamu tiba-tiba jadi rajin nganterin makanan ke mejaku? Nulis-nulis sticky note segala? Kamu tahu nggak semua orang sekarang mikir kita pacaran?”

Steven pura-pura bingung. “Emang kenapa kalau mereka mikir gitu?”

“kak! Kita ini kakak-adik!” Cindy berbisik keras sambil menatap pintu. “Dan mereka gak boleh tahu soal itu. Kita udah sepakat dari awal, kan?”

Steven tertawa kecil. “Cin, aku cuma ngasih perhatian ala kakak ke adiknya yang lagi bimbang cinta. Salah?”

“Salah kalau kamu bikin aku jadi bahan gosip!” Cindy menghela napas. “Kamu tahu nggak gosip yang tersebar sekarang? Aku disebut tinggal satu rumah sama kamu. Dibilang pacaran diam-diam!”

Steven berdiri dan mendekat, ekspresinya mulai serius. “Dengar ya, Cin. Aku tahu kamu galau soal Jefta. Aku dengar semuanya waktu kamu curhat di ruang istirahat. Dan kupikir, mungkin sedikit ‘gangguan’ dari luar bisa bantu kamu. Sekaligus… bikin Jefta mikir.”

“Bikin mikir atau makin salah paham?” Cindy mengerucutkan bibir.

Steven tersenyum tipis. “Coba tanya dirimu sendiri. Kalau bukan aku, terus siapa? Kita gak bisa ngomong blak-blakan soal hubungan kita sebagai kakak-adik, karena kamu sendiri yang gak mau orang kantor tahu. Jadi ya… aku pakai cara lain. Dan hey, aku juga lumayan keren kan buat ‘pacar palsu’?”

“Kakak!!”

“Cin,” kata Steven pelan. “Aku kakakmu. Aku tahu kamu terlalu keras kepala buat minta tolong. Jadi ya, aku bantu dengan caraku. Emang agak heboh sih. Tapi aku cuma pengen kamu bahagia. Dan kalau si Jefta itu emang punya otak, dia pasti bakal sadar kalau dia bisa kehilangan kamu.”

Cindy diam. Suasana mendadak hening.

Steven menepuk pelan bahu Cindy. “Dan satu lagi—aku bakal terus kasih kamu sarapan, bahkan kalau kamu ngambek. Karena itu bagian dari kontrak kakak-ade favorit.”

Cindy menunduk, senyum kecil terbit di ujung bibir. “Kamu nyebelin.”

“Tapi sayang.”


--

Suasana kantin kantor siang itu ramai seperti biasa. Meja-meja penuh dengan karyawan yang makan sambil bergosip ringan. Tapi satu meja, yang diduduki Cindy, Sitty, dan—tanpa undangan—Wina, mendadak menjadi pusat perhatian.

“Aku cuma pengen tanya langsung,” ucap Wina santai, dengan senyum yang terlihat terlalu manis. “Cindy, bener nggak kamu tuh pacaran sama Steven?”

Cindy yang baru saja menyuap ayam suwir ke mulut, langsung tersedak kecil. “Hah?”

Sitty menatap Wina, terkejut. “Eh, kamu serius nanya gitu?”

“Lho, gosipnya udah kemana-mana loh. Katanya mereka tinggal satu apartemen, terus tiap pagi Kak Steven nganterin sarapan. Ada yang lihat mereka bareng ke minimarket malam-malam. You know, vibes-nya tuh... couple banget.”

Cindy menatap Wina lama, napasnya mulai berat. Sudah cukup hari-harinya terasa sesak karena perhatian Steven yang berlebihan, belum lagi Jefta yang makin menjauh sejak gosip itu muncul.

Akhirnya, dengan suara datar, Cindy menjawab. “Iya. Bener.”

Sitty ternganga. “Cin?!”

“Iya,” ulang Cindy sambil menatap langsung ke mata Wina. “Aku pacaran sama Steven. Kami tinggal sama-sama 1 apartemen. Happy?”

Wina tampak kaget sejenak, lalu cepat-cepat memasang senyum menyindir. “Wah, akhirnya ngaku juga.”

Cindy menyender ke kursinya. “Wina, kamu gak pernah berubah ya dari SMP. Masih suka banget nyebarin gosip setengah matang cuma buat ngacauin hidup orang.”

Wina mengangkat alis. “Aku? Gosip? Aku cuma tanya apa yang banyak orang udah bisik-bisik.”

“Tapi kamu yang mulai bisik-bisik itu,” kata Cindy tajam. “Kamu selalu punya motif, dan aku tahu motif kamu.”

Sitty gelisah, menatap Cindy dan Wina bergantian. “Guys, kita makan siang loh…”

“Gak apa-apa, Sit,” kata Cindy pelan, tapi penuh tekanan. “Biar Wina puas. Dan biar semua tahu—aku dan Steven pacaran. Titik.”

Wina berdiri. “Wah, kalau gitu selamat, ya.” Ia pergi dengan langkah cepat, namun wajahnya tak bisa menyembunyikan kekesalan.

Sitty menunduk. “Cin, kamu serius?”

Cindy menarik napas dalam. “Aku udah capek. Kalau orang lebih suka gosip daripada tanya langsung, ya biar aja.”

Sitty hanya bisa diam, tak berani mengomentari lebih.

Di sudut kantin, di meja paling pojok, Jefta yang sejak tadi duduk diam sambil menyantap makanannya, menatap piring kosongnya dengan ekspresi sulit dijelaskan.

Dia mendengar semuanya.

Lorong kantor sore itu hampir kosong. Hanya ada suara mesin fotokopi dari kejauhan dan langkah kaki sesekali. Cindy baru saja keluar dari pantry, membawa mug berisi kopi yang nyaris dingin.

Langkahnya berhenti ketika Jefta muncul dari ujung lorong.

Mereka saling menatap. Hening. Tapi pandangan Cindy penuh ledakan yang tertahan.

“Boleh bicara sebentar?” tanya Jefta pelan.

Cindy mengangkat dagu. “Kalau kamu mau nanyain soal Steven, mending gak usah.”

Jefta mendekat, suaranya tenang tapi jelas. “Aku cuma pengen tahu... yang tadi kamu bilang di kantin. Beneran?”

Cindy terkekeh pendek. “Oh, sekarang kamu peduli? Setelah berminggu-minggu kita kayak... entah apa?”

“Cin, kamu tahu hubungan kita nggak biasa.”

“Nah, itu dia!” Cindy membentak kecil, nadanya penuh luka. “Hubungan kita itu gak jelas, Jef! Bukan pacar, bukan teman, tapi kamu manis banget ke aku. Kamu bikin aku nunggu sesuatu yang gak pernah kamu bilang.”

Jefta tampak kaget. Ia tak menyangka Cindy akan meledak seperti ini.

“Kenapa kamu marah?” tanya Jefta.

“Karena kamu diem. Kamu hadir, tapi kamu nggak pernah bener-bener hadir. Kamu bikin aku mikir kita punya sesuatu, tapi kamu juga yang bikin aku ragu.”

Jefta mengangguk pelan, menelan ludah. “Aku nggak pernah mainin kamu, Cin. Aku cuma... belum siap.”

“Belum siap? Kita bukan anak kecil lagi, Jefta. Kamu pikir aku gak capek nunggu kamu bilang sesuatu yang pasti? 

“Karena aku takut,” lirih Jefta.

“Takut apa?!”

“Takut ngerusak semuanya. Aku takut kalau hubungan ini gagal, aku kehilangan kamu selamanya.”

Cindy menunduk, lalu menatap Jefta lagi. Matanya berair, tapi nadanya dingin. “Terlambat, Jef. Karena sekarang aku udah kehilangan kamu... tanpa kamu pernah benar-benar kumiliki.”

Lorong kembali sunyi. Hanya napas mereka berdua yang menggantung di udara.

Tanpa menunggu jawaban, Cindy berbalik dan melangkah cepat pergi, meninggalkan Jefta yang berdiri diam di sana, dihantam kebenaran yang selama ini ia hindari.


Ruang smoking area kantor sore itu sepi. Hanya ada satu orang di sana—Jefta. Duduk sendiri dengan rokok yang belum dinyalakan, ia menatap kosong ke depan. Angin sore membuat ujung lengan kemejanya berkibar pelan.

Langkah kaki mendekat.

Steven.

Tanpa permisi, ia duduk di kursi seberang. Tidak bicara, hanya membuka botol air mineral dan meneguk setengahnya. Suasana diam. Lama.

> “Lo gak ngerokok?” tanya Steven akhirnya, melihat rokok di tangan Jefta masih utuh.

> “Lagi gak kepikiran,” sahut Jefta pelan.

Steven mengangguk, lalu bersandar santai. Matanya mengamati Jefta dengan tenang, nyaris seperti membaca isi kepalanya.

> “Lo sama Cindy... kelihatannya lagi tegang, ya?”

Jefta melirik sekilas. “Lo juga denger gosipnya?”

Steven tersenyum samar. “Seluruh kantor denger. Tapi nggak semua tahu cerita sebenarnya.”

> “Terus lo tahu cerita sebenarnya?”

Steven memutar botol di tangannya. “Cukup untuk tahu kalau dia bukan cuma rekan kerja biasa buat lo dan buat gue.”

Jefta terdiam. Tidak membenarkan. Tidak menyangkal.

> “Lo sayang dia?” tanya Steven, to the point.

Jefta terdiam. Dada terasa berat.

> “Aku tanya gini bukan sebagai senior lo di kantor,” lanjut Steven. “Tapi sebagai seseorang yang gak tahan ngeliat Cindy gak seceria dulu. Dia lebih banyak murung sekarang. Aku gak suka. "

> “Aku gak pernah niat nyakitin dia,” kata Jefta, suara serak. “Tapi aku juga gak yakin aku orang yang tepat buat dia.”

Steven mendekatkan tubuhnya ke meja, menatap Jefta lekat-lekat.

> “Lo gak yakin? Atau lo cuma takut kalah?”

Jefta mengernyit. “Maksudnya?”

Steven menyeringai tipis, nada suaranya berubah. Lebih tajam. Lebih menantang.

> “Gue bisa deketin dia kapan aja. Gue bisa jadi tempat dia pulang. Gue bisa jadi alasan dia berhenti nangis. Tapi selama ini gue diem. Gue kasih lo kesempatan.”

> “Kenapa lo ngomong gini sekarang?” tanya Jefta, mulai merasa gelisah.

Steven berdiri perlahan, merapikan jas kerjanya. “Karena gue capek ngeliat Cindy digantung. Kalau lo gak niat, minggir. Gue gak main-main.”

> “Lo suka dia?”

Steven menatap Jefta, dalam dan tanpa keraguan.

> “Gue cinta dia. Dari dulu.”

Jefta menunduk. Rahangnya mengeras.

> “Kalau gitu... kenapa baru sekarang lo tunjukkin?”

> “Karena gue tahu dia milih lo. Tapi sekarang? Sekarang lo gak di tempat yang seharusnya. Dan gue udah cukup sabar.”

Jefta menggenggam rokoknya kuat-kuat, masih belum dinyalakan. Hatinya berdenyut kacau. Di antara rasa bersalah, ketakutan, dan cemburu yang mulai menyelusup.

Steven menatapnya untuk terakhir kali sebelum melangkah pergi.

> “Kalau lo cowok, jangan biarin dia ditarik orang lain cuma karena lo gak berani berdiri buat dia.”

Langkah Steven menjauh. Tapi kata-katanya masih tertinggal di udara, menampar telinga dan hati Jefta dengan telak.


---
🌙 Rooftop kantor, malam itu.

Langit seperti menyimpan rahasia. Jefta berdiri di tepi rooftop, angin malam menerpa wajahnya. Rokok di tangan belum dinyalakan. Dari ketinggian lantai 12 itu, lampu-lampu kota terlihat seperti luka yang menyala.

Ucapan Steven tadi masih bergema di kepalanya. Video dari Wina pun seperti menegaskan bahwa Cindy lebih memilih Steven

> “Kalau lo cowok, jangan biarin dia ditarik orang lain cuma karena lo gak berani berdiri buat dia.”

Jefta menghela napas.

Ia tahu Steven tidak bicara soal diri sendiri. Tapi Jefta bisa membaca arah kalimat itu—Steven tidak akan diam selamanya. Dan Cindy... bukan milik siapa pun. Tapi hatinya bisa direbut siapa saja yang berani.

Masalahnya: apakah Jefta berani?

Ia ingin bilang iya. Tapi setiap kali ia menatap Cindy, bayangan itu muncul lagi—Christian.

Nama yang jarang disebut, tapi masih terasa hidup dalam cara Cindy tertawa… dalam cara Cindy menatap jauh saat melamun. Seolah ada bagian dari hatinya yang belum kembali sejak pria itu pergi.

Dan Jefta tahu, perasaan seperti itu... nggak bisa dikalahkan hanya dengan niat baik.

> “Kalau gue datang sebagai pengganti, dia akan sadar cepat atau lambat.”
“Tapi kalau gue mundur, gue gak akan pernah tahu… apakah dia memang pernah lihat gue lebih dari sekadar rekan kerja.”

"Keputusan mutasi ini sudah tepat"
Jefta meminta kembali ke kantor pusat di Berlin.. 

Yang Pergi Tanpa Menoleh
Seminggu berlalu.

Tak ada sapaan. Tak ada senyum. Jefta menghilang.

Tak ada pesan. Tak ada salam perpisahan.

Yang tertinggal hanyalah sebuah kotak kecil di meja kerja Cindy. Di dalamnya, dua gelang Lucky Couple yang  mereka beli bersama. Yang satu bertuliskan ‘Cindy’, yang satu lagi ‘Jefta’.

Kini, keduanya dipakai Cindy di tangan kanannya

Tak ada pengumuman dari HR. Tak ada perpisahan. Tak ada kabar resmi. Yang ada hanya bisik-bisik—gosip liar yang tumbuh di sela meja pantry, lorong meeting room, dan grup WhatsApp kantor.

> "Kayaknya si Jefta resign deh."

> "Katanya dapet tawaran kerjaan baru di luar kota."

> "gara-gara Cindy tuh, makanya dia kabur"

Cindy duduk sendirian di kantin. Di hadapannya, nasi goreng seafood dingin tak tersentuh. Suara ketawa-ketiwi dari meja sebelah seperti bergema dari dunia lain. Semua yang ada di pikirannya hanya satu: Jefta benar-benar pergi... tanpa satu pun kata.

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Fallin; At The Same Time
3931      1893     0     
Romance
Diadaptasi dari kisah nyata penulis yang dicampur dengan fantasi romansa yang mendebarkan, kisah cinta tak terduga terjalin antara Gavindra Alexander Maurine dan Valerie Anasthasia Clariene. Gavin adalah sosok lelaki yang populer dan outgoing. Dirinya yang memiliki banyak teman dan hobi menjelah malam, sungguh berbanding terbalik dengan Valerie yang pendiam nan perfeksionis. Perbedaan yang merek...
I'il Find You, LOVE
6748      2057     16     
Romance
Seharusnya tidak ada cinta dalam sebuah persahabatan. Dia hanya akan menjadi orang ketiga dan mengubah segalanya menjadi tidak sama.
Tuan Landak dan Nona Kura-Kura
3342      1228     1     
Romance
Frans Putra Mandala, terancam menjadi single seumur hidupnya! Menjadi pria tampan dan mapan tidak menjamin kisah percintaan yang sukses! Frans contohnya, pria itu harus rela ditinggal kabur oleh pengantinnya di hari pernikahannya! Lalu, tiba-tiba muncul seorang bocah polos yang mengatakan bahwa Frans terkena kutukan! Bagaimana Frans yang tidak percaya hal mistis akan mematahkan kutukan it...
Perceraian kontrak
12713      2907     0     
Romance
Ryan Delon seorang Ceo terkaya se-Eropa harus menyamar menjadi satpam demi mendapatkan cinta sejatinya. Akan tetapi, penderitaan itu hanyalah sementara sampai akhirnya ia dipersatukan dengan desainer cantik bernama Calesthane. Mereka menjalani hubungan hingga kejenjang pernikahan, namun hari-hari yang mereka jalani tidak seperti bayangannya. Banyak bebatuan di kehidupan mereka, sampai pada akh...
Dosa Pelangi
721      450     1     
Short Story
"Kita bisa menjadi pelangi di jalan-jalan sempit dan terpencil. Tetapi rumah, sekolah, kantor, dan tempat ibadah hanya mengerti dua warna dan kita telah ditakdirkan untuk menjadi salah satunya."
Pieces of Word
2779      1041     4     
Inspirational
Hanya serangkaian kata yang terhubung karena dibunuh waktu dan kesendirian berkepanjangan. I hope you like it, guys! 😊🤗
Tyaz Gamma
2183      1373     1     
Fantasy
"Sekadar informasi untukmu. Kau ... tidak berada di duniamu," gadis itu berkata datar. Lelaki itu termenung sejenak, merasa kalimat itu familier di telinganya. Dia mengangkat kepala, tampak antusias setelah beberapa ide melesat di kepalanya. "Bagaimana caraku untuk kembali ke duniaku? Aku akan melakukan apa saja," ujarnya bersungguh-sungguh, tidak ada keraguan yang nampak di manik kelabunya...
Sweet Sound of Love
476      314     2     
Romance
"Itu suaramu?" Budi terbelalak tak percaya. Wia membekap mulutnya tak kalah terkejut. "Kamu mendengarnya? Itu isi hatiku!" "Ya sudah, gak usah lebay." "Hei, siapa yang gak khawatir kalau ada orang yang bisa membaca isi hati?" Wia memanyunkan bibirnya. "Bilang saja kalau kamu juga senang." "Eh kok?" "Barusan aku mendengarnya, ap...
Sahabat Selamanya
1266      792     2     
Short Story
cerpen ini bercerita tentang sebuah persahabatan yang tidak ernah ada akhirnya walaupun mereka berpisah jauh
Stuck On You
393      320     0     
Romance
Romance-Teen Fiction Kisah seorang Gadis remaja bernama Adhara atau Yang biasa di panggil Dhara yang harus menerima sakitnya patah hati saat sang kekasih Alvian Memutuskan hubungannya yang sudah berjalan hampir 2 tahun dengan alasan yang sangat Konyol. Namun seiring berjalannya waktu,Adhara perlahan-lahan mulai menghapus nama Alvian dari hatinya walaupun itu susah karena Alvian sudah memb...