Loading...
Logo TinLit
Read Story - Menyulam Kenangan Dirumah Lama
MENU
About Us  

Pagi itu, aku duduk di anak tangga teras rumah lama dengan tangan kosong. Tidak membawa sapu, tidak membawa alat bersih-bersih, tidak membawa apa pun selain diriku sendiri yang tak utuh tapi sudah cukup berani kembali ke tempat ini.

Matahari menyentuh ubin tua dengan pelan. Udara belum panas, dan angin pagi membawa aroma tanah basah serta suara ayam tetangga yang belum berubah sejak aku SD.

Rumah ini belum sepenuhnya bangkit, tapi juga belum sepenuhnya mati.

Sama seperti kenangan.

Aku pernah berpikir, kenangan itu harus disembuhkan. Harus diurai, dibersihkan, lalu ditata seperti rak piring di dapur yang dibereskan sebelum Lebaran. Tapi semakin sering aku mencoba, semakin kusadari: tidak semua kenangan bisa disembuhkan. Dan tidak semua perlu.

Beberapa kenangan memang dibiarkan mengendap. Seperti kopi di dasar gelas hitam, pahit, tapi tetap membuat kita ingin menyeruput sisa rasanya.

Seperti rumah ini.

 

Saat masuk ke ruang tengah, aku melihat lukisan dinding yang dulu digantung oleh Ayah gambar pemandangan gunung dan sawah, dengan warna yang mulai pudar. Kaca piguranya retak, tapi tidak sampai pecah.

Aku tersenyum kecil.

Waktu Ayah menggantung lukisan itu, Ibu protes, katanya warnanya terlalu tua. Tapi Ayah bilang, “Warnanya seperti rumah ini. Tua, tapi tenang.” Dulu aku tak paham. Tapi kini, kalimat itu kembali menyentuh sesuatu yang dalam di dada.

Karena rumah ini, dan kenangan-kenangan di dalamnya, memang sudah tua. Tapi tidak semua yang tua harus dibuang. Ada yang hanya butuh dimengerti.

Di kamar Ibu, aku duduk di sisi ranjang dan membuka laci kecilnya. Isinya sederhana: bedak tabur merek lama, sisir kayu, dan kotak plastik berisi surat-surat tak terkirim.

Satu per satu kubaca.

Surat untuk Ayah setelah beliau meninggal. Surat untuk kami, anak-anaknya, saat Ibu merasa gagal jadi orang tua. Bahkan ada surat untuk dirinya sendiri: tulisan pelan, sedikit bergetar, dengan isi yang begitu menyayat:

“Ma, kamu sudah cukup.
Kamu boleh lelah.
Dan tidak apa-apa kalau tidak semua luka sembuh.
Karena beberapa hal memang hanya bisa dijalani,
bukan diselesaikan.”

Aku menutup surat itu dan memeluknya sejenak. Seolah bisa memeluk Ibu melalui baris-baris kalimat yang beliau tulis sendiri dengan hati yang mungkin rapuh, tapi tetap penuh cinta.

 

Dira datang setengah jam kemudian. Dia duduk di sampingku, matanya langsung tertumbuk pada surat-surat itu.

“Kenangan yang tidak disembuhkan?” katanya sambil membuka satu amplop kecil.

Aku mengangguk. “Ibu juga tahu itu. Dan aku baru paham sekarang.”

“Kenangan itu kayak luka gores kecil di lutut,” katanya pelan. “Kadang sembuh sendiri. Kadang nggak. Tapi kita tetap bisa jalan. Bisa ketawa. Bisa hidup.”

Kami terdiam. Memandangi surat-surat itu seperti orang yang akhirnya berani menengok kembali isi hati sendiri.

Banyak dari kita diajari untuk selalu sembuh. Untuk selalu move on. Untuk mengubur masa lalu dengan cepat. Padahal, tidak semua luka bisa hilang. Dan tidak semua harus.

Beberapa luka justru membuat kita manusia. Membuat kita berhenti menuntut sempurna.

Rumah ini mengajarkan itu semua. Lewat pintunya yang berat dibuka. Lewat tangganya yang berderit. Lewat dindingnya yang mulai berjamur.

Rumah ini tidak sempurna, tapi tidak pernah gagal jadi rumah.

Sama seperti kenangan.

 

Kami menaruh surat-surat itu kembali ke dalam kotak. Tapi tidak lagi sebagai beban. Kami menutupnya dengan rasa hormat. Karena tahu, bahwa surat-surat itu tidak pernah harus dikirim. Cukup ditulis, cukup dibiarkan hadir, cukup dipahami.

Begitu juga dengan kenangan. Cukup dikenang. Tidak selalu harus dibenahi.

Kadang kita cuma perlu duduk, membuka kotak lama, dan berkata dalam hati, “Aku belum sembuh, tapi aku baik-baik saja.”

 

Sebelum pergi, kami duduk sebentar di ruang tamu. Di sebelah jendela, sinar matahari menyelusup halus ke ubin yang menguning. Dira menaruh kepalanya di bahuku. Aku menyender ke dinding yang catnya sudah retak.

Dan kami tidak bicara apa-apa. Karena hari itu, diam justru terasa paling jujur.

Sampai akhirnya, aku berkata pelan, “Rumah ini, seperti hati kita, nggak perlu sembuh total untuk tetap layak ditinggali.”

Dira mengangguk. “Dan kenangan, biarlah tinggal. Biar mereka tetap hidup. Biar kita tetap manusia.”

 

Hari itu, kami keluar dari rumah lama tanpa mengunci pintunya rapat-rapat. Biarkan saja ada angin yang masuk. Biarkan suara masa lalu tetap bisa keluar-masuk.

Karena rumah ini tidak untuk ditinggalkan sepenuhnya. Dan kenangan tidak harus dilupakan agar hidup bisa terus berjalan.

Kadang, berdamai itu bukan tentang melupakan, tapi tentang berdiri di tempat yang sama, lalu melihat luka yang sama… dengan mata yang berbeda.

Mata yang kini tidak lagi ingin mengusir masa lalu, tapi mengajaknya duduk sebentar, menyeruput teh hangat, dan berkata:

“Kamu boleh tinggal. Aku sudah siap.”

 

Refleksi:

Tidak semua kenangan harus sembuh. Beberapa kenangan hanya perlu diterima.
Diizinkan duduk diam di sudut hati, tanpa harus dirapikan, tanpa harus dimaknai ulang. Karena manusia tidak diciptakan untuk sempurna. Tapi untuk mengingat. Untuk tumbuh meski berdarah. Untuk mencintai meski pernah ditinggalkan.

Dan untuk pulang ke rumah lama, meski hatinya sudah retak di banyak tempat. Tapi tetap utuh di satu sisi: sisi yang menyambut kita pulang, tanpa syarat.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • juliartidewi

    Mengingatkanku pada kebaikan2 ortu setelah selama ini hanya mengingat kejelekan2 mereka aja.

    Comment on chapter Bab 15: Boneka Tanpa Mata
Similar Tags
Kenangan Masa Muda
7862      2380     3     
Romance
Semua berawal dari keluh kesal Romi si guru kesenian tentang perilaku anak jaman sekarang kepada kedua rekan sejawatnya. Curhatan itu berakhir candaan membuat mereka terbahak, mengundang perhatian Yuni, guru senior di SMA mereka mengajar yang juga guru mereka saat masih SMA dulu. Yuni mengeluarkan buku kenangan berisi foto muda mereka, memaksa mengenang masa muda mereka untuk membandingkan ti...
Neighbours.
3779      1438     3     
Romance
Leslie dan Noah merupakan dua orang yang sangat berbeda. Dua orang yang saling membenci satu sama lain, tetapi mereka harus tinggal berdekatan. Namun nyatanya, takdir memutuskan hal yang lain dan lebih indah.
Catatan Takdirku
3818      2004     6     
Humor
Seorang pemuda yang menjaladi hidupnya dengan santai, terlalu santai. Mengira semuanya akan baik-baik saja, ia mengambil keputusan sembarangan, tanpa pertimbangan dan rencana. sampai suatu hari dirinya terbangun di masa depan ketika dia sudah dewasa. Ternyata masa depan yang ia kira akan baik-baik saja hanya dengan menjalaninya berbeda jauh dari dugaannya. Ia terbangun sebegai pengamen. Dan i...
Merayakan Apa Adanya
2148      1638     8     
Inspirational
Raya, si kurus yang pintar menyanyi, merasa lebih nyaman menyembunyikan kelebihannya. Padahal suaranya tak kalah keren dari penyanyi remaja jaman sekarang. Tuntutan demi tuntutan hidup terus mendorong dan memojokannya. Hingga dia berpikir, masih ada waktukah untuk dia merayakan sesuatu? Dengan menyanyi tanpa interupsi, sederhana dan apa adanya.
Be My Girlfriend?
20143      4579     1     
Fan Fiction
DO KYUNGSOO FANFICTION Untuk kamu, Walaupun kita hidup di dunia yang berbeda, Walaupun kita tinggal di negara yang berbeda, Walaupun kau hanya seorang fans dan aku idolamu, Aku akan tetap mencintaimu. - DKS "Two people don't have to be together right now, In a month, Or in a year. If those two people are meant to be, Then they will be together, Somehow at sometime in life&q...
Transmigrasi ke raga bumil
627      439     2     
Fantasy
Azela Jovanka adalah seorang gadis SMA yang tiba-tiba mengalami kejadian di luar nalar yaitu mengalami perpindahan jiwa dan menempati tubuh seorang Wanita hamil.
SERUMAH BERSAMA MERTUA
518      414     0     
Romance
Pernikahan impian Maya dengan Ardi baru memasuki usia tiga bulan saat sang mertua ikut tinggal bersamanya dengan alasan paling tak masuk akal Keindahan keluarganya hancur seketika drama konflik penuh duka sering ia rasakan sejak itu Mampukah Maya mempertahankan rumah tangganya atau malah melepaskannya?
Reality Record
3714      1562     0     
Fantasy
Surga dan neraka hanyalah kebohongan yang diciptakan manusia terdahulu. Mereka tahu betul bahwa setelah manusia meninggal, jiwanya tidak akan pergi kemana-mana. Hanya menetap di dunia ini selamanya. Namun, kebohongan tersebut membuat manusia berharap dan memiliki sebuah tujuan hidup yang baik maupun buruk. Erno bukanlah salah satu dari mereka. Erno mengetahui kebenaran mengenai tujuan akhir ma...
One-room Couples
1268      649     1     
Romance
"Aku tidak suka dengan kehadiranmu disini. Enyahlah!" Kata cowok itu dalam tatapan dingin ke arah Eri. Eri mengerjap sebentar. Pasalnya asrama kuliahnya tinggal dekat sama universitas favorit Eri. Pak satpam tadi memberikan kuncinya dan berakhir disini. "Cih, aku biarkan kamu dengan syaratku" Eri membalikkan badan lalu mematung di tempat. Tangan besar menggapai tubuh Eri lay...
C L U E L E S S
851      632     5     
Short Story
Clueless about your talent? Well you are not alone!