Loading...
Logo TinLit
Read Story - Menyulam Kenangan Dirumah Lama
MENU
About Us  

Kalau rumah lama kami bisa bicara, mungkin salah satu bagian yang akan paling cerewet adalah pagarnya. Bukan karena bentuknya istimewa—hanya pagar besi biasa, bercat hijau tua yang mulai mengelupas di sana-sini—tapi karena ia pernah jadi saksi bisu kenakalan, keberanian, ketakutan, dan diam-diam: kebebasan kecil masa kanak-kanak.

Setiap ruas pagarnya mungkin mengingat suara decit sendal jepit yang tergantung, suara napas terengah-engah saat melompat turun, dan bisikan panik, “Sst! Jangan bilang Ibu!”

Ya, pagar itu pernah kami naiki. Berkali-kali. Diam-diam.

Dan dari atas sana, dunia terlihat sedikit lebih luas, dan sedikit lebih bisa dijangkau.

 

Dulu, pagar itu cukup tinggi untuk membuat lutut kami gemetar, tapi cukup rendah untuk tetap dicoba. Aku dan Dira sering saling tantang: siapa yang bisa naik paling cepat, siapa yang bisa duduk di palang tengah tanpa goyah, dan siapa yang bisa melompat ke luar tanpa jatuh terduduk.

“Ayo, siapa takut!” seru Dira, sudah berada di atas, kakinya menggantung dengan wajah penuh kemenangan.

“Aku takut... kalau Ibu lihat,” jawabku sambil menahan napas.

Kami tahu aturan rumah jelas: jangan panjat pagar. Tapi aturan itu terasa seperti tantangan, bukan larangan. Kami ingin tahu bagaimana rasanya berdiri di luar zona aman, walau hanya beberapa sentimeter dari tanah.

Dan anehnya, dari atas pagar itu, suara ayam tetangga terdengar lebih jelas. Jalan depan rumah terasa seperti lintasan balap. Angin lebih kencang. Dan hati kami... entah mengapa, berani sekali.

 

Suatu hari, aku terjatuh dari pagar. Luka kecil di lutut dan telapak tangan yang lecet jadi bukti. Dira panik, matanya membulat seperti kucing tertangkap basah.

“Kamu jangan nangis! Sini aku obatin! Jangan bilang siapa-siapa!”

Tapi air mata tetap tumpah, dan darah menetes cukup deras untuk membuat kami bingung. Akhirnya, kami menyelinap ke dapur. Dira mengambil tisu dan odol—ya, odol. Karena dia pernah dengar dari temannya bahwa luka bisa cepat kering kalau diolesi pasta gigi.

Saat Ibu menemukanku, dia tidak marah duluan. Dia menatap lututku yang berlumur odol dengan ekspresi antara prihatin dan ingin tertawa.

“Lain kali, jatuhnya jangan di tempat yang dilarang,” katanya sambil membersihkan luka dengan betadine.

Dira berdiri di sampingku, menatap lantai. Aku tahu dia merasa bersalah.

Tapi Ibu tidak memperpanjang. Karena mungkin dia tahu: anak-anak tidak belajar dari larangan, tapi dari luka kecil yang mengajarkan batas.

 

Pagar itu juga pernah jadi tempat kami menyaksikan dunia. Kami duduk di palangnya saat sore, menonton sepeda lalu-lalang, anak-anak tetangga bermain layangan, dan suara azan magrib yang terdengar dari masjid kecil di ujung gang.

Di momen seperti itu, pagar bukan lagi penghalang. Ia jadi tempat duduk, menara pengawas, bahkan panggung imajinasi.

“Kalau kita naik ke atap pagar ini terus, kita bisa lihat dunia luar,” kata Dira dengan mimpi besar di matanya.

Aku mengangguk setuju, walau yang bisa kulihat hanya pohon mangga dan jemuran tetangga.

Tapi dari sanalah kami belajar membayangkan. Dan dari bayangan itu, kami merangkai harapan-harapan kecil yang kemudian menjadi langkah pertama keluar dari rumah ini saat dewasa.

 

Waktu kami beranjak remaja, pagar itu berubah fungsi. Tak lagi dipanjat, tapi jadi tempat bersandar saat menunggu jemputan, atau tempat melongok diam-diam kalau ada suara klakson di luar.

Aku pernah menyandarkan sepeda di situ sambil pura-pura main ponsel saat menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Dira juga pernah berdiri lama di depan pagar, menatap jalan yang perlahan gelap, entah menanti siapa.

Lucunya, pagar tetap diam. Ia tidak bertanya siapa yang ditunggu, atau mengapa ada air mata jatuh saat tak ada yang datang. Ia hanya berdiri. Dan kadang, kita butuh benda seperti itu—yang tidak menuntut penjelasan, tapi tetap setia menemani.

 

Suatu malam, aku pulang larut setelah bertemu teman lama. Semua orang sudah tidur. Tapi pagar itu menyambutku seperti biasa: dingin, kokoh, dan tenang. Aku membuka gerbangnya pelan, takut menimbulkan suara berisik.

Saat menutupnya kembali, aku berhenti sebentar. Meletakkan telapak tangan di besi tuanya yang mulai berkarat.

“Maaf ya, dulu aku sering naik kamu diam-diam,” bisikku pelan.

Tentu, pagar tidak menjawab. Tapi angin malam berhembus lembut, seperti ucapan maaf yang diterima tanpa syarat.

Dan malam itu, aku tahu: pagar ini tidak hanya menjaga rumah, tapi juga menjaga kenangan.

 

Beberapa hari yang lalu, saat aku kembali ke rumah lama, aku melihat pagar itu lagi. Warnanya sudah semakin pudar. Ada lumut sedikit di bagian bawah. Tapi bentuknya tetap. Ia berdiri seolah berkata, “Kalian boleh pergi sejauh mungkin, tapi aku akan tetap di sini.”

Aku berjalan mendekat, menyentuh ujungnya. Kali ini tidak untuk memanjat, tapi untuk mengucapkan terima kasih.

“Kau bukan sekadar pagar. Kau pernah jadi tempat mimpi kecil dilambungkan, dan pelajaran besar dijatuhkan.”

“Kau diam, tapi tak pernah hampa.”

Aku menuliskan satu kalimat kecil di kertas sobekan buku, lalu menempelkannya di sisi dalam gerbang:

"Untuk pagar yang pernah jadi menara: terima kasih karena telah diam-diam mengizinkan kami naik, dan tidak pernah mengadukan kami pada dunia."

 

Refleksi:

Kadang, kita butuh memanjat sesuatu untuk tahu seberapa jauh dunia bisa dilihat. Dan saat kita jatuh, kita belajar bahwa batas bukan untuk ditakuti—tapi dihargai. Pagar itu pernah kami panjat diam-diam, bukan karena ingin melanggar, tapi karena kami sedang belajar melihat dunia dari sudut yang berbeda. Dan dari atas sana, untuk pertama kalinya, kami merasa... bebas.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • juliartidewi

    Mengingatkanku pada kebaikan2 ortu setelah selama ini hanya mengingat kejelekan2 mereka aja.

    Comment on chapter Bab 15: Boneka Tanpa Mata
Similar Tags
Bifurkasi Rasa
190      163     0     
Romance
Bifurkasi Rasa Tentang rasa yang terbagi dua Tentang luka yang pilu Tentang senyum penyembuh Dan Tentang rasa sesal yang tak akan pernah bisa mengembalikan waktu seperti sedia kala Aku tahu, menyesal tak akan pernah mengubah waktu. Namun biarlah rasa sesal ini tetap ada, agar aku bisa merasakan kehadiranmu yang telah pergi. --Nara "Kalau suatu saat ada yang bisa mencintai kamu sedal...
Liontin Semanggi
4994      3124     4     
Inspirational
Binar dan Ersa sama-sama cowok most wanted di sekolah. Mereka terkenal selain karena good looking, juga karena persaingan prestasi merebutkan ranking 1 paralel. Binar itu ramah meski hidupnya tidak mudah. Ersa itu dingin, hatinya dipenuhi dengki pada Binar. Sampai Ersa tidak sengaja melihat kalung dengan liontin Semanggi yang dipakai oleh Binar, sama persis dengan miliknya. Sejak saat...
PENTAS
1510      937     0     
Romance
Genang baru saja divonis kanker lalu bertemu Alia, anak dokter spesialis kanker. Genang ketua ekskul seni peran dan Alia sangat ingin mengenal dunia seni peran. Mereka bertemu persis seperti yang Aliando katakan, "Yang ada diantara pertemuan perempuan dan laki-laki adalah rencana Tuhan".
Faith Sisters
4157      2212     4     
Inspirational
Kehilangan Tumbuh Percaya Faith Sisters berisi dua belas cerpen yang mengiringi sepasang muslimah kembar Erica dan Elysa menuju kedewasaan Mereka memulai hijrah dari titik yang berbeda tapi sebagaimana setiap orang yang mengaku beriman mereka pasti mendapatkan ujian Kisahkisah yang relatable bagi muslimah muda tentang cinta prinsip hidup dan persahabatan
Kesempatan
22733      4649     5     
Romance
Bagi Emilia, Alvaro adalah segalanya. Kekasih yang sangat memahaminya, yang ingin ia buat bahagia. Bagi Alvaro, Emilia adalah pasangan terbaiknya. Cewek itu hangat dan tak pernah menghakiminya. Lantas, bagaimana jika kehadiran orang baru dan berbagai peristiwa merenggangkan hubungan mereka? Masih adakah kesempatan bagi keduanya untuk tetap bersama?
Merayakan Apa Adanya
2144      1636     8     
Inspirational
Raya, si kurus yang pintar menyanyi, merasa lebih nyaman menyembunyikan kelebihannya. Padahal suaranya tak kalah keren dari penyanyi remaja jaman sekarang. Tuntutan demi tuntutan hidup terus mendorong dan memojokannya. Hingga dia berpikir, masih ada waktukah untuk dia merayakan sesuatu? Dengan menyanyi tanpa interupsi, sederhana dan apa adanya.
Who are You?
1572      763     9     
Science Fiction
Menjadi mahasiswa di Fakultas Kesehatan? Terdengar keren, tapi bagaimana jadinya jika tiba-tiba tanpa proses, pengetahuan, dan pengalaman, orang awam menangani kasus-kasus medis?
Bisikan yang Hilang
161      144     3     
Romance
Di sebuah sudut Malioboro yang ramai tapi hangat, Bentala Niyala penulis yang lebih suka bersembunyi di balik nama pena tak sengaja bertemu lagi dengan Radinka, sosok asing yang belakangan justru terasa akrab. Dari obrolan ringan yang berlanjut ke diskusi tentang trauma, buku, dan teknologi, muncul benang-benang halus yang mulai menyulam hubungan di antara mereka. Ditemani Arka, teman Radinka yan...
LUKA
3880      1528     4     
Romance
Aku menangis bersama rembulan digelapnya bumi yang menawan. Aku mengadu kepada Tuhan perihal garis hidup yang tak pernah sejalan dengan keinginan. Meratapi kekasihku yang merentangkan tangan kepada takdir yang siap merenggut kehidupan. Aku kehilangannya. Aku kehilangan kehidupanku. Berseteru dengan waktu karena kakiku kian tak berdaya dalam menopangnya. Takdir memang senang mempermain...
INTERTWINE (Voglio Conoscerti) PART 2
4024      1432     2     
Romance
Vella Amerta—masih terperangkap dengan teka-teki surat tanpa nama yang selalu dikirim padanya. Sementara itu sebuah event antar sekolah membuatnya harus beradu akting dengan Yoshinaga Febriyan. Tanpa diduga, kehadiran sosok Irene seolah menjadi titik terang kesalahpahaman satu tahun lalu. Siapa sangka, sebuah pesta yang diadakan di Cherry&Bakery, justru telah mempertemukan Vella dengan so...