Loading...
Logo TinLit
Read Story - Menyulam Kenangan Dirumah Lama
MENU
About Us  

Setiap rumah punya suara-suara rahasia. Ada yang berupa derit tangga tua, ketukan pelan di kaca jendela, atau suara gorden yang tersapu angin sore. Tapi suara yang paling keras dan membekas di rumah lama kami... adalah suara pintu kamar yang pernah aku banting keras-keras sepuluh tahun lalu. Pintu itu masih berdiri kokoh sampai hari ini, meski warnanya sudah pudar dan sudutnya mulai mengelupas. Engselnya berdecit setiap kali dibuka, seperti menertawakan seseorang yang dulu terlalu keras menutupnya. Aku berdiri di depan pintu itu pagi ini, menatapnya lama. Dan entah kenapa, hatiku ikut terdiam. Seolah aku sedang berdiri di hadapan versi remajaku yang dulu keras kepala, sok tahu, dan sangat mudah marah.

Kala itu, aku masih SMA. Umur 17. Umur di mana segalanya terasa salah. Dunia terasa sempit, orang tua terasa menjengkelkan, dan semua larangan terdengar seperti bentuk pengekangan, padahal hanya bentuk sayang yang salah diterjemahkan oleh ego remaja.

Hari itu, aku pulang dengan wajah kesal. Nilai ujian anjlok, sepatu kotor, dan dompet ketinggalan di kantin. Lalu di rumah, Ibu menegurku karena lupa menjemur handuk basah.

Hanya itu. Tapi aku merasa seluruh dunia menyalahkanku.

“Aku capek, Bu! Kenapa semua harus aku?” bentakku.

Ibu terdiam, berdiri sambil membawa cucian. Tak marah, tak membentak balik. Tapi justru diamnya itu yang membuat aku semakin merasa bersalah. Lalu dengan tenaga penuh, aku masuk kamar dan BRAKK!—pintu itu kututup keras-keras.

Tidak hanya tertutup. Aku membantingnya. Dengan semua amarah yang bahkan aku sendiri tidak tahu dari mana asalnya.

Di balik pintu, aku menangis diam-diam. Tapi tetap tidak keluar untuk minta maaf. Harga diri seorang remaja terlalu tinggi untuk sekadar meminta maaf duluan.

Pagi ini, aku menyentuh gagang pintu itu. Hangat. Seolah masih menyimpan amarah masa lalu yang belum sempat selesai. Kupeluk permukaannya dengan telapak tanganku yang kini lebih dewasa. Dan di dalam hati, aku berkata:

“Maaf ya… pintu. Tapi lebih dari itu, maaf juga untuk Ibu yang mendengarnya.”

Waktu sarapan, aku iseng membahas kejadian itu.

“Bu, Ibu ingat nggak waktu aku banting pintu kamar sepuluh tahun lalu?”

Ibu tertawa kecil sambil membalik tempe di wajan. “Yang mana? Kamu sering, lho.”

Aku tertawa malu. “Tapi yang paling keras.”

“Oh, yang waktu kamu lupa menjemur handuk, terus marah karena aku tegur? Aku ingat.”

“Waktu itu Ibu nggak marah?”

Ibu mengangguk pelan. “Marah. Tapi juga sedih. Karena kamu nggak tahu, pagi itu aku bangun jam empat, nyuci semua seragam kamu biar kering sebelum sekolah.”

Aku terdiam.

Kadang kita terlalu sibuk dengan emosi sendiri, sampai lupa melihat betapa banyak cinta yang tersembunyi di balik teguran.

“Aku minta maaf ya, Bu,” kataku.

Ibu hanya tersenyum. “Sudah lama aku maafkan. Pintu itu juga sudah dimaafkan kok. Cuma, tiap kali dia berderit, aku ingat kamu dulu pernah ngamuk.”

Kami tertawa bersama. Dan pagi itu terasa ringan.

Sore harinya, aku masuk ke kamar itu lagi. Duduk di ranjang lama, memandang ke sekeliling. Di balik pintu, masih ada bekas goresan kecil akibat bantingan dulu. Lucu ya, luka kecil itu lebih abadi daripada marahnya sendiri. Aku jadi ingat Dira, yang juga pernah membanting pintu itu. Bedanya, dia banting pintu sambil menangis karena Ayah tidak mengizinkannya pergi ke acara perpisahan malam.

“Cuma karena ada cowoknya,” kata Ayah waktu itu. Padahal menurut Dira, justru cowoknya batal datang karena takut sama Ayah.

Dulu kami menganggap pintu itu sebagai pelampiasan. Tapi kini aku melihatnya sebagai saksi. Saksi bisu pertengkaran yang tak pernah tuntas. Tapi juga saksi diam dari pertumbuhan kami dari remaja penuh ledakan, menjadi anak-anak yang akhirnya belajar minta maaf.

Aku membuka pintu perlahan. Deritannya masih sama. Bunyi khas yang entah mengapa sekarang terdengar seperti sapaan hangat.

“Selamat datang kembali,” seakan ia berkata.

Aku tidak membantingnya. Kali ini, kututup dengan hati-hati. Dengan tangan yang lebih dewasa. Dengan emosi yang lebih tenang. Karena kini aku tahu: pintu tidak hanya dibuat untuk dibuka dan ditutup. Tapi juga untuk menjadi batas antara emosi dan keheningan, antara konflik dan ketenangan.

Malam harinya, aku dan Dira berbincang di kamar.

“Eh, kamu inget nggak, kita berdua pernah adu banting pintu?” tanyaku.

Dira tertawa, “Iya. Tapi aku paling keras deh. Sampai Ayah bilang, ‘Kalau pintu rusak, kamu yang ganti’.”

“Terus kamu bilang, ‘Oke, aku tabung dari uang jajan.’ Tapi akhirnya minta tambahan juga, kan?”

Kami tertawa. Tapi di balik tawa itu, ada rasa haru. Karena kini, kami tahu... semua drama remaja itu bukanlah akhir dari dunia. Tapi bagian dari proses menjadi manusia. Besoknya, sebelum kembali ke kota, aku berdiri sekali lagi di depan pintu itu. Kali ini, aku letakkan sebuah kertas kecil di sisi dalamnya. Tertempel dengan selotip bening. Isinya:

Untuk pintu yang pernah dibanting:

Terima kasih sudah bertahan.

Terima kasih sudah tidak patah.

Terima kasih sudah menjadi batas yang akhirnya membuatku tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara.

Salam,

Anak yang kini belajar membuka pintu dengan tenang.

Lalu kututup pintu itu pelan, dan melangkah keluar kamar. Tidak dengan amarah. Tapi dengan hati yang telah belajar memaafkan baik pada orang lain, maupun diri sendiri.

Refleksi: Kita pernah membanting pintu karena merasa tak dimengerti. Tapi seiring waktu, kita sadar: yang paling perlu dimengerti adalah hati kita sendiri. Dan pintu yang dulu jadi pelampiasan kini jadi saksi dari proses tumbuh dan pulih.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • juliartidewi

    Mengingatkanku pada kebaikan2 ortu setelah selama ini hanya mengingat kejelekan2 mereka aja.

    Comment on chapter Bab 15: Boneka Tanpa Mata
Similar Tags
Train to Heaven
2352      1211     2     
Fantasy
Bagaimana jika kereta yang kamu naiki mengalami kecelakaan dan kamu terlempar di kereta misterius yang berbeda dari sebelumnya? Kasih pulang ke daerah asalnya setelah lulus menjadi Sarjana di Bandung. Di perjalanan, ternyata kereta yang dia naiki mengalami kecelakaan dan dia di gerbong 1 mengalami dampak yang parah. Saat bangun, ia mendapati dirinya berpindah tempat di kereta yang tidak ia ken...
Surat untuk Tahun 2001
8083      3896     2     
Romance
Seorang anak perempuan pertama bernama Salli, bermaksud ingin mengubah masa depan yang terjadi pada keluarganya. Untuk itu ia berupaya mengirimkan surat-surat menembus waktu menuju masa lalu melalui sebuah kotak pos merah. Sesuai rumor yang ia dengar surat-surat itu akan menuju tahun yang diinginkan pengirim surat. Isi surat berisi tentang perjalanan hidup dan harapannya. Salli tak meng...
Alumni Hati
3997      1830     0     
Romance
SINOPSIS Alumni Hati: Suatu Saat Bisa Reuni Kembali Alumni Hati adalah kisah tentang cinta yang pernah tumbuh, tapi tak sempat mekar. Tentang hubungan yang berani dimulai, namun terlalu takut untuk diberi nama. Waktu berjalan, jarak meluas, dan rahasia-rahasia yang dahulu dikubur kini mulai terangkat satu per satu. Di balik pekerjaan, tanggung jawab, dan dunia profesional yang kaku, ada g...
SERUMAH BERSAMA MERTUA
518      414     0     
Romance
Pernikahan impian Maya dengan Ardi baru memasuki usia tiga bulan saat sang mertua ikut tinggal bersamanya dengan alasan paling tak masuk akal Keindahan keluarganya hancur seketika drama konflik penuh duka sering ia rasakan sejak itu Mampukah Maya mempertahankan rumah tangganya atau malah melepaskannya?
Bullying
598      376     4     
Inspirational
Bullying ... kata ini bukan lagi sesuatu yang asing di telinga kita. Setiap orang berusaha menghindari kata-kata ini. Tapi tahukah kalian, hampir seluruh anak pernah mengalami bullying, bahkan lebih miris itu dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Aurel Ferdiansyah, adalah seorang gadis yang cantik dan pintar. Itu yang tampak diluaran. Namun, di dalamnya ia adalah gadis rapuh yang terhempas angi...
Artemis
40      15     0     
Romance
"Dia udah rusak dari rahim!" Empati Artemis sudah mati karena trauma sejak kecil. Namun, saudara laki-laki tiri sekaligus teman sekelasnya--Patra--meminta bantuan Artemis. Apollo, kakak kandung Artemis, melecehkan Patra di rumahnya sendiri. Artemis meminta Tashi, pacar Apollo yang sudah menyelesaikan program pertukaran pelajarnya di Den Haag, untuk pulang supaya Patra bisa terbebas dari...
Aku dan Saya
424      263     1     
Inspirational
Aku dan Saya dalam mencari jati diri,dalam kelabilan Aku yang mengidolakan Saya yang sudah dewasa.
For Cello
3396      1252     3     
Romance
Adiba jatuh cinta pada seseorang yang hanya mampu ia gapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang ia sanggup menikmati bayangan dan tidak pernah bisa ia miliki. Seseorang yang hadir bagai bintang jatuh, sekelebat kemudian menghilang, sebelum tangannya sanggup untuk menggapainya. "Cello, nggak usah bimbang. Cukup kamu terus bersama dia, dan biarkan aku tetap seperti ini. Di sampingmu!&qu...
P.E.R.M.A.T.A
2096      1073     2     
Romance
P.E.R.M.A.T.A ( pertemuan yang hanya semata ) Tulisan ini menceritakan tentang seseorang yang mendapatkan cinta sejatinya namun ketika ia sedang dalam kebahagiaan kekasihnya pergi meninggalkan dia untuk selamanya dan meninggalkan semua kenangan yang dia dan wanita itu pernah ukir bersama salah satunya buku ini .
Hati dan Perasaan
2276      1440     8     
Short Story
Apakah hati itu?, tempat segenap perasaan mengendap didalamnya? Lantas mengapa kita begitu peduli, walau setiap hari kita mengaku menyakiti hati dan perasaan yang lain?