Loading...
Logo TinLit
Read Story - Pulang Selalu Punya Cerita
MENU
About Us  

Di sebuah sore yang tenang, angin meniup pelan tirai jendela rumah. Bau kayu, kopi, dan sedikit aroma kue pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan bercampur jadi satu. Suara burung gereja terdengar dari pohon jambu di samping rumah. Dan untuk sesaat, waktu terasa diam. Seolah dunia ingin memberi ruang bagi kenangan untuk muncul kembali—satu per satu. Aku duduk di ruang tamu. Di pangkuanku, sebuah album foto tua yang sampulnya mulai terkelupas. Sudut-sudutnya lusuh, dan lem di beberapa bagian tak lagi kuat menahan potret masa lalu.

Di halaman pertama, ada foto rumah kami dua puluh tahun lalu. Dindingnya masih papan, halamannya masih tanah merah. Di situ, ada Ibu, Bapak, dan dua anak kecil yang berdiri dengan senyum belum genap tumbuh gigi.

Itu aku. Dan Damar.

Dulu kami tinggal di rumah kecil di tepi kampung. Sekarang rumah itu sudah direnovasi. Tapi rasa yang tumbuh di dalamnya tetap sama: hangat, kadang riuh, dan seringkali penuh tawa yang dibungkus lelah.

Tapi... sore itu, aku tahu. Bahwa waktu tak akan selamanya sama. Dan pulang, tidak selalu berarti kembali ke tempat yang kita kenal.

Satu minggu lalu, Pak Yanto—tetangga lama kami—pulang ke kampung setelah 15 tahun merantau di Kalimantan. Tapi bukan untuk liburan, bukan untuk reuni, bukan untuk mengobati rindu. Ia pulang karena istrinya meninggal. Pak Yanto datang dengan wajah tua yang lebih tua dari usia aslinya. Langkahnya berat, matanya bengkak, dan senyumnya... tidak ada. Ia tidak membawa koper, hanya sebuah tas kecil dan dompet usang yang digenggam erat seakan di dalamnya ada satu-satunya yang masih bisa ia pertahankan. Ia duduk di beranda rumah kosong. Rumah yang dulu ditinggalnya waktu anak-anaknya masih kecil, dan istrinya masih rajin menjemur selimut di pagar depan.

Tetangga menyambut. Tapi ia lebih banyak diam. Hanya satu kalimat yang ia ucapkan setelah sekian lama:

“Pulang nggak selalu bikin tenang.”

Aku mendengarnya sambil mengantar teh manis hangat. Dan kalimat itu menetap di pikiranku sampai sore ini. Aku pernah berpikir bahwa pulang adalah solusi dari semua lelah. Bahwa dengan pulang, semua luka akan sembuh, semua tanya akan terjawab, dan semua yang hilang akan kembali. Tapi ternyata... tidak selalu. Kadang kita pulang ke rumah yang sudah tak lagi utuh. Kadang kita pulang tapi orang yang ingin kita temui sudah tiada. Kadang kita pulang, tapi diri kita sendiri yang dulu... sudah tidak bisa ditemukan lagi.

Seperti Pak Yanto. Ia datang ke rumah yang kini hanya berisi gema. Istri yang dulu menanti di pintu, kini hanya tinggal bingkai foto di ruang tengah. Anak-anaknya sudah punya rumah sendiri. Dan ia... hanya duduk di kursi rotan yang pernah dibuatnya sendiri, memandang sepi yang mengendap di dinding rumah.

“Saya kira kalau saya balik, semuanya bisa saya perbaiki,” katanya pelan suatu malam saat duduk di warung kopi depan gang.

“Tapi ternyata saya terlalu lama pergi. Ada yang nggak bisa saya kejar lagi.”

Kata-katanya seperti cermin. Menyentuh hati, sekaligus bikin takut. Apakah kita semua sedang pelan-pelan menjauh dari rumah yang sebenarnya?

Beberapa hari setelahnya, aku memberanikan diri bertanya pada Ibu.

“Bu, menurut Ibu... pulang itu apa, sih?”

Ibu, yang sedang melipat baju sambil duduk di lantai, hanya tersenyum.

“Pulang itu... bukan tempat, tapi rasa. Bisa saja kamu nggak pulang ke rumah ini, tapi hatimu tetap pulang ke kami.”

Aku diam. Menimbang kalimat itu.

“Kadang kita merasa pulang itu harus kembali ke rumah, ke kampung, ke halaman lama. Padahal bisa jadi pulang justru ke diri sendiri. Ke versi kamu yang dulu bahagia, ke tujuan awal yang kamu lupa,” lanjut Ibu. “Dan kadang... pulang juga berarti melepaskan. Menerima bahwa yang dulu ada, sekarang sudah nggak bisa dipeluk lagi. Tapi kita tetap bisa menyimpan hangatnya.”

Tiga hari kemudian, Pak Yanto pamit kembali ke Kalimantan. Kali ini, ia membawa abu jenazah istrinya. Bukan untuk disimpan, tapi untuk ditaburkan di sungai belakang rumah mereka. Tempat istrinya dulu suka mencuci sambil bersenandung kecil.

“Saya mau dia pulang ke tempat yang dia suka,” ujarnya singkat.

Sore itu, kami ikut mengantar. Hanya beberapa tetangga dekat. Sungai kecil itu tenang, pepohonan melambai pelan, dan airnya mengalir seperti biasa—seperti tidak ada yang berubah. Tapi hati kami, terutama Pak Yanto, jelas tidak sama.

Ia melempar abu itu pelan ke aliran sungai. Tidak banyak kata-kata. Hanya mata yang sembab dan tangan yang bergetar. Dan di saat itu, aku belajar satu hal: Bahwa pulang tidak selalu harus kembali secara fisik. Kadang pulang hanyalah tentang menyelesaikan. Tentang merelakan. Tentang menerima bahwa beberapa hal memang hanya singgah sebentar.

Beberapa minggu setelah kepergian Pak Yanto, aku duduk di ruang tengah sambil menatap tumpukan foto. Lalu aku menemukan satu foto lama: foto Ibu duduk di sepeda butut warna biru, dengan aku kecil duduk di boncengan, memeluk erat dari belakang.Itu hari pertama aku masuk sekolah dasar. Aku terdiam lama melihatnya. Saat itu, aku tidak tahu apa-apa soal hidup. Tidak tahu tentang kehilangan, tentang perpisahan, tentang waktu yang diam-diam mencuri banyak hal. Yang aku tahu, selama ada Ibu, rumah, dan sore yang hangat—semuanya baik-baik saja.

Dan sekarang... aku paham. Bahwa perasaan aman itu adalah rumah. Dan selama aku bisa menjaga itu—untuk diri sendiri dan orang-orang yang kucintai—aku selalu bisa pulang. Meskipun tidak ke rumah yang dulu. Meskipun tidak ke tempat yang sama. Tapi aku bisa pulang ke rasa yang sama.

Pulang tak selalu berarti kembali.

Terkadang, justru saat kita pergi jauh, kita baru benar-benar bisa pulang. Pulang ke tujuan yang kita lupakan. Pulang ke nilai-nilai yang sempat kita anggap remeh. Pulang ke hati yang dulu kita abaikan. Dan ada kalanya, kita harus menerima bahwa tak semua tempat bisa kita datangi kembali. Tak semua orang bisa kita temui lagi. Tapi kita bisa menyimpan mereka dalam diri, dalam doa, dalam cerita yang kita teruskan.

Seperti yang Ibu ajarkan: pulang bukan hanya tentang pintu rumah yang terbuka, tapi juga tentang hati yang tidak menutup.

Sore ini, angin kembali berhembus pelan. Tirai jendela bergoyang pelan seperti melambai pada seseorang yang jauh. Aku menutup album foto perlahan, dan meletakkannya kembali di rak. Di sampingnya ada buku harian Ibu yang dulu sempat kutemukan, dengan tulisan kecil di halaman depan:

“Jangan takut jauh, selama kamu tahu jalan pulang. Dan kalau pun jalan itu hilang, jadilah seseorang yang membuat rumah baru—dengan cinta yang sama.”

Aku menarik napas pelan. Hati ini... terasa lebih penuh. Dan di saat itu, aku tahu.

Bahwa aku telah pulang.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Run Away
9177      2503     4     
Romance
Berawal dari Tara yang tidak sengaja melukai tetangga baru yang tinggal di seberang rumahnya, tepat beberapa jam setelah kedatangannya ke Indonesia. Seorang anak remaja laki-laki seusia dengannya. Wajah blesteran campuran Indonesia-Inggris yang membuatnya kaget dan kesal secara bersamaan. Tara dengan sifatnya yang terkesan cuek, berusaha menepis jauh-jauh Dave, si tetangga, yang menurutnya pen...
Matchmaker's Scenario
1699      1000     0     
Romance
Bagi Naraya, sekarang sudah bukan zamannya menjodohkan idola lewat cerita fiksi penggemar. Gadis itu ingin sepasang idolanya benar-benar jatuh cinta dan pacaran di dunia nyata. Ia berniat mewujudkan keinginan itu dengan cara ... menjadi penulis skenario drama. Tatkala ia terpilih menjadi penulis skenario drama musim panas, ia bekerja dengan membawa misi terselubungnya. Selanjutnya, berhasilkah...
Sweet Like Bubble Gum
5491      3074     2     
Romance
Selama ini Sora tahu Rai bermain kucing-kucingan dengannya. Dengan Sora sebagai si pengejar dan Rai yang bersembunyi. Alasan Rai yang menjauh dan bersembunyi darinya adalah teka-teki yang harus segera dia pecahkan. Mendekati Rai adalah misinya agar Rai membuka mulut dan memberikan alasan mengapa bersembunyi dan menjauhinya. Rai begitu percaya diri bahwa dirinya tak akan pernah tertangkap oleh ...
Five Spinach Agent
0      0     0     
Science Fiction
Mantan pencopet junior dari pasar ikan, gak menjamin bahwa Paramitha akan hidup sengsara kan? Kalau Emak gak mungut tuh bocah jawabannya ya … bakal jadi gelandangan. Di keluarga ini, fenotipe parentalnya jauh berbeda dari anaknya, kalau dibilang unik sih enggak juga, mungkin chaos adalah padanan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi keluarga kecil-kecilannya Emak, Babeh dan kedua anak ...
Potongan kertas
1209      688     3     
Fan Fiction
"Apa sih perasaan ha?!" "Banyak lah. Perasaan terhadap diri sendiri, terhadap orang tua, terhadap orang, termasuk terhadap lo Nayya." Sejak saat itu, Dhala tidak pernah dan tidak ingin membuka hati untuk siapapun. Katanya sih, susah muve on, hha, memang, gegayaan sekali dia seperti anak muda. Memang anak muda, lebih tepatnya remaja yang terus dikejar untuk dewasa, tanpa adanya perhatian or...
She Is Falling in Love
575      371     1     
Romance
Irene membenci lelaki yang mengelus kepalanya, memanggil nama depannya, ataupun menatapnya tapat di mata. Namun Irene lebih membenci lelaki yang mencium kelopak matanya ketika ia menangis. Namun, ketika Senan yang melakukannya, Irene tak tahu harus melarang Senan atau menyuruhnya melakukan hal itu lagi. Karena sialnya, Irene justru senang Senan melakukan hal itu padanya.
Only One
4493      2964     13     
Romance
Hidup di dunia ini tidaklah mudah. Pasti banyak luka yang harus dirasakan. Karena, setiap jalan berliku saat dilewati. Rasa sakit, kecewa, dan duka dialami Auretta. Ia sadar, hidup itu memang tidaklah mudah. Terlebih, ia harus berusaha kuat. Karena, hanya itu yang bisa dilakukan untuk menutupi segala hal yang ada dalam dirinya. Terkadang, ia merasa seperti memakai topeng. Namun, mungkin itu s...
The Story of Fairro
3348      1563     3     
Horror
Ini kisah tentang Fairro, seorang pemuda yang putus asa mencari jati dirinya, siapa atau apa sebenarnya dirinya? Dengan segala kekuatan supranaturalnya, kertergantungannya pada darah yang membuatnya menjadi seperti vampire dan dengan segala kematian - kematian yang disebabkan oleh dirinya, dan Anggra saudara kembar gaibnya...Ya gaib...Karena Anggra hanya bisa berwujud nyata pada setiap pukul dua ...
Meja Makan dan Piring Kaca
67449      13858     53     
Inspirational
Keluarga adalah mereka yang selalu ada untukmu di saat suka dan duka. Sedarah atau tidak sedarah, serupa atau tidak serupa. Keluarga pasti akan melebur di satu meja makan dalam kehangatan yang disebut kebersamaan.
Bukan Bidadari Impian
186      155     2     
Romance
Mengisahkan tentang wanita bernama Farhana—putri dari seorang penjual nasi rames, yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya, dengan putra Kiai Furqon. Pria itu biasa di panggil dengan sebutan Gus. Farhana, wanita yang berparas biasa saja itu, terlalu baik. Hingga Gus Furqon tidak mempunyai alasan untuk meninggalkannya. Namun, siapa sangka? Perhatian Gus Furqon selama ini ternyata karena a...