Loading...
Logo TinLit
Read Story - Pulang Selalu Punya Cerita
MENU
About Us  

Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut melalui celah-celah jendela kamar Aluna. Aroma kopi yang diseduh Ibu menguar dari dapur, mengundang kenangan masa kecil yang hangat. Aluna melangkah pelan menuju ruang makan, menemukan Ibu duduk dengan secangkir kopi dan selembar surat di tangannya.

"Selamat pagi, Bu," sapa Aluna sambil mencium pipi Ibu.

"Selamat pagi, Nak," jawab Ibu dengan senyum hangat. "Ada yang ingin Ibu tunjukkan padamu."

Ibu menyerahkan surat yang tampak usang itu kepada Aluna. Kertasnya menguning, namun tulisan tangan Ayah masih terlihat jelas. Aluna membaca dengan hati berdebar.

"Untuk Aluna, anakku tercinta.

Jika kau membaca surat ini, berarti Ayah sudah tidak ada di dunia ini. Tapi ingatlah, cinta Ayah padamu tidak pernah berakhir.

Ayah ingin kau tahu, bahwa setiap langkahmu, setiap impianmu, Ayah selalu mendukungmu, meski dari kejauhan.

Jadilah pribadi yang kuat, penuh kasih, dan jangan pernah lupakan rumah ini, tempat cinta kita bersemi.

Dengan cinta yang abadi,                  
Ayah."

Air mata mengalir di pipi Aluna. Ia memeluk Ibu erat, merasakan kehangatan yang selama ini dirindukannya.

"Terima kasih, Bu, telah menyimpan surat ini," ucap Aluna dengan suara bergetar.

"Ibu tahu, suatu hari kamu akan membutuhkannya," jawab Ibu sambil mengelus rambut Aluna.

Hari itu, Aluna memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan kenangan bersama Ayah. Ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju taman kecil di belakang rumah, tempat Ayah sering mengajaknya bermain saat kecil. Di sana, Aluna duduk di bangku kayu yang mulai lapuk dimakan waktu. Ia memejamkan mata, membiarkan angin sepoi-sepoi membawa kembali suara tawa Ayah, cerita-cerita lucu yang selalu membuatnya tertawa, dan pelukan hangat yang selalu membuatnya merasa aman.

"Aluna, kamu tahu tidak, bintang paling terang di langit itu adalah bintang Ayah," kenang Aluna akan kata-kata Ayah.

Ia membuka mata, menatap langit biru yang cerah. Senyum mengembang di wajahnya, meski air mata masih mengalir.

"Terima kasih, Ayah, telah menjadi bintang terang dalam hidupku," bisik Aluna.

Perjalanan kenangan Aluna berlanjut ke bengkel tua milik Ayah. Meski kini sudah tidak beroperasi, aroma oli dan suara alat-alat masih terasa akrab. Aluna menyentuh meja kerja Ayah, menemukan sebuah kotak kecil berisi foto-foto lama. Salah satu foto menampilkan Ayah muda dengan senyum lebar, memegang sepeda kecil berwarna merah. Di sampingnya, Aluna kecil dengan rambut dikuncir dua, tertawa bahagia.

"Sepeda itu adalah hadiah ulang tahunmu yang kelima," suara Ibu mengejutkan Aluna.

"Ibu ingat saat Ayah menghabiskan malam-malamnya memperbaiki sepeda itu, hanya agar kamu bisa bahagia di hari ulang tahunmu," lanjut Ibu dengan mata berkaca-kaca.

Aluna memeluk Ibu, merasakan betapa dalam cinta Ayah yang selama ini mungkin tak sepenuhnya ia sadari.

Kembali ke rumah, Aluna duduk di kamar lamanya, membuka album foto keluarga. Setiap lembaran membawa cerita, tawa, dan air mata. Ia menyadari, banyak kisah yang belum pernah diceritakan, namun terasa begitu hidup dalam setiap gambar. Malam itu, Aluna menulis diari, mencurahkan perasaannya, mengenang Ayah, dan berjanji untuk selalu menjaga kenangan itu tetap hidup.

"Ayah, meski kita terpisah oleh dunia, cinta dan kenangan kita akan selalu abadi. Aku akan terus melangkah, membawa semangat dan kasih sayangmu dalam setiap langkahku."

Dengan hati yang lebih ringan, Aluna menatap langit malam dari jendela kamarnya. Bintang-bintang bersinar terang, seolah mengirimkan pesan cinta dari Ayah. Saat malam semakin larut, suasana rumah terasa semakin hening. Hanya suara detakan jam di dinding yang menemani Aluna yang tengah duduk di meja tulis. Ia menatap kembali surat dari Ayah, yang kini telah terlipat rapi dan disimpan di dalam laci kecil. Tapi, rasanya surat itu tak hanya sekadar kertas. Ada kekuatan yang terpendam di dalamnya—kekuatan yang membuat hati Aluna lebih kuat, lebih yakin akan langkah-langkah yang harus ia ambil ke depan. Tangan Aluna bergerak tanpa berpikir, menulis kembali diari yang tadi sempat terhenti. Setiap kata yang ia tulis terasa seperti aliran perasaan yang selama ini terpendam. Ia tahu, meski Ayah sudah tidak ada, kisah-kisah yang tak pernah diceritakan masih terus mengalir dalam dirinya. Ayah telah memberikan warisan yang jauh lebih berharga dari sekadar benda atau materi—Ayah telah memberikan cinta yang tak tergantikan.

"Untuk Ayah, aku ingin bercerita, meski tak pernah sempat mengatakan semua ini sebelumnya. Aku ingin menceritakan tentang diriku, tentang hidupku yang terus berjalan, meskipun tanpa kehadiranmu di setiap langkahku."

Aluna menulis dengan hati-hati, seolah setiap kata adalah kenangan yang harus ia abadikan. Ia menyadari bahwa banyak momen yang tak sempat ia bagi dengan Ayah. Berbagai kejadian, kebahagiaan, dan kesedihan, yang dulunya ia anggap biasa, kini terasa sangat berarti. Ia ingin menceritakan semua ini kepada Ayah, meski hanya lewat tulisan ini, meski hanya dalam hati. "Jalan yang aku pilih, keputusan-keputusan yang kuambil, semuanya terasa lebih berat tanpa bimbinganmu. Tapi aku tahu, kamu selalu ada di sana, dalam setiap doa yang kupanjatkan. Aku tahu, kamu ingin aku kuat, meski terkadang aku merasa rapuh. Aku tahu, kamu ingin aku terus berjalan meski kadang aku merasa lelah. Ayah, terima kasih karena selalu ada dalam hatiku, dalam setiap detak jantungku."

Aluna berhenti sejenak, matanya menerawang. Kenangan-kenangan masa kecil datang menghampiri. Ia teringat bagaimana Ayah selalu menjadi sosok yang tegas, namun lembut. Bagaimana Ayah mengajarkan arti kerja keras, tanggung jawab, dan kesederhanaan. Ayah bukan orang yang banyak bicara, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu penuh makna.

"Tapi aku tahu, Ayah juga punya kisah yang tak pernah diceritakan. Kamu selalu mengajarkanku untuk tidak pernah menyerah, tapi aku tahu di balik itu semua, ada perjuangan yang tak pernah kamu ceritakan padaku. Aku ingin tahu lebih banyak tentang dirimu, tentang masa muda Ayah yang selalu kamu simpan rapat-rapat. Apa yang membuat Ayah menjadi seperti sekarang? Apa yang membuat Ayah begitu kuat?"

Tanya-tanya itu terus bergelayut di hati Aluna. Ia merasa seperti ada ruang kosong yang belum terisi, ruang yang hanya bisa dijelaskan dengan kisah-kisah yang Ayah pendam sendiri. Ia ingin tahu lebih banyak tentang sosok Ayah—tentang perjuangan dan impian-impian yang tak pernah diceritakan. Tentang cinta yang tak tampak, tapi selalu ada dalam setiap tindakan Ayah.

Keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang Ayah semakin mendalam. Aluna merasa seperti ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak pernah ia pahami selama ini. Ayah selalu menjadi sosok yang kuat di mata Aluna, tetapi kini ia menyadari bahwa kekuatan itu tidak datang dengan mudah. Ayah pasti pernah merasa rapuh, pasti pernah merasa takut, namun ia selalu memilih untuk menyembunyikannya demi keluarga, demi anak-anaknya.

Aluna memutuskan untuk berbicara lebih banyak dengan Ibu. Mungkin Ibu bisa menceritakan lebih banyak kisah tentang Ayah yang tidak pernah ia ketahui. Mungkin Ibu tahu hal-hal yang selama ini terlewatkan oleh Aluna. Keesokan harinya, setelah sarapan, Aluna mengajak Ibu duduk di ruang tamu. Mereka berbincang sambil menikmati secangkir teh hangat. Aluna mengajukan pertanyaan yang telah lama ia pendam.

"Bu, bagaimana Ayah waktu muda? Apa yang membuat Ayah bisa begitu kuat? Ada kisah yang Ibu ingat tentang Ayah yang belum pernah aku dengar?"

Ibu tersenyum lembut, lalu matanya menjadi sedikit berkaca-kaca. Ia meletakkan cangkir teh di meja dan mulai bercerita.

"Ayahmu... dia memang tidak banyak bercerita tentang masa lalunya, tapi aku tahu, dia sangat mencintai keluarga kita. Saat masih muda, Ayah banyak berjuang sendirian. Dia kehilangan orang tuanya saat masih sangat muda, dan sejak saat itu, dia belajar untuk mandiri. Namun, meski begitu, dia selalu menjaga orang-orang di sekitarnya. Dia tak pernah ingin terlihat lemah di hadapanmu. Setiap keputusan yang dia buat selalu untuk kebaikanmu, untuk kebahagiaanmu."

Ibu menghela napas, mencoba mengatur kata-kata. "Ayahmu itu orang yang sangat keras kepala, tapi di balik kekerasan itu, ada cinta yang sangat besar. Dia selalu berusaha memberikan yang terbaik, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan dirinya sendiri. Mungkin kamu tak pernah tahu, tapi Ayahmu sangat takut kehilangan orang yang dia cintai. Itu sebabnya, dia selalu berusaha menjaga semuanya tetap utuh."

Aluna mendengarkan dengan seksama. Setiap kata yang keluar dari Ibu seperti membuka jendela baru dalam pikirannya. Ia baru menyadari betapa besar pengorbanan yang Ayah lakukan. Betapa besar cinta yang tersimpan dalam setiap langkah yang Ayah ambil.

"Ayah... Ayah mencintaimu lebih dari apapun," lanjut Ibu, "dan itu tak akan pernah berubah. Bahkan sekarang, meski dia sudah tiada, cinta itu tetap ada. Cinta itu akan selalu ada di dalam dirimu, Nak."

Aluna menundukkan kepala, membiarkan air mata jatuh. Ia merasakan kedamaian yang datang bersama pemahaman baru tentang Ayah. Kini, lebih dari sebelumnya, Aluna merasa dekat dengan Ayah. Cinta Ayah terasa lebih hidup, lebih nyata dalam dirinya.

"Aku tahu, Bu," bisik Aluna. "Aku tahu. Terima kasih, Bu, sudah memberiku kisah ini."

Dengan hati yang lebih lapang, Aluna merasa siap untuk menghadapi hari-hari ke depan. Ia tahu, walau Ayah tidak bisa lagi bersamanya secara fisik, kisah-kisah yang tak pernah diceritakan akan selalu menghidupkan ingatan dan cinta Ayah dalam setiap langkahnya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Lingkaran Ilusi
11393      2964     7     
Romance
Clarissa tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Firza Juniandar akan membawanya pada jalinan kisah yang cukup rumit. Pemuda bermata gelap tersebut berhasil membuatnya tertarik hanya dalam hitungan detik. Tetapi saat ia mulai jatuh cinta, pemuda bernama Brama Juniandar hadir dan menghancurkan semuanya. Brama hadir dengan sikapnya yang kasar dan menyebalkan. Awalnya Clarissa begitu memben...
Golden Cage
549      333     6     
Romance
Kim Yoora, seorang gadis cantik yang merupakan anak bungsu dari pemilik restaurant terkenal di negeri ginseng Korea, baru saja lolos dari kematian yang mengancamnya. Entah keberuntungan atau justru kesialan yang menimpa Yoora setelah di selamatkan oleh seseorang yang menurutnya adalah Psycopath bermulut manis dengan nama Kafa Almi Xavier. Pria itu memang cocok untuk di panggil sebagai Psychopath...
Batagor (Menu tawa hari ini)
474      324     6     
Short Story
Dodong mengajarkan pada kita semua untuk berterus terang dengan cara yang lucu.
KAMUFLASE KAMERA DAN CINTA
761      553     1     
Short Story
lelaki bertubuh besar berjaket hitam menunjukan senyum simpul yang khas .senyum yang membuat jantungku berdegup tak beraturan, dan senyum yang selalu mengingatkanku pada perpisahan di bulan Januari. Konflik antara Mas Pras dan Om Tegar tak kunjung usai ,Kamera lah yang membawa aku dan dia pada satu titik dan kameralah yang membuat kita....
When Flowers Learn to Smile Again
4207      2895     10     
Romance
Di dunia yang menurutnya kejam ini, Jihan hanya punya dirinya sendiri. Dia terjebak pada kelamnya malam, kelamnya hidup, dan kelamnya dunia. Jihan sempat berpikir, jika dunia beserta isinya telah memunggunginya sebab tidak ada satu pun yang peduli padanya. Karena pemikirannya itu, Jihan sampai mengabaikan eksistensi seorang pemuda bernama Natha yang selalu siap menyembuhkan luka terdalamnya. B...
Untuk Reina
28216      4819     30     
Romance
Reina Fillosa dicap sebagai pembawa sial atas kematian orang-orang terdekatnya. Kejadian tak sengaja di toilet sekolah mempertemukan Reina dengan Riga. Seseorang yang meyakinkan Reina bahwa gadis itu bukan pembawa sial. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Riga?
Meet You After Wound
303      257     0     
Romance
"Hesa, lihatlah aku juga."
Memoreset (Sudah Terbit)
4378      1753     2     
Romance
Memoreset adalah sebuah cara agar seluruh ingatan buruk manusia dihilangkan. Melalui Memoreset inilah seorang gadis 15 tahun bernama Nita memberanikan diri untuk kabur dari masa-masa kelamnya, hingga ia tidak sadar melupakan sosok laki-laki bernama Fathir yang menyayanginya. Lalu, setelah sepuluh tahun berlalu dan mereka dipertemukan lagi, apakah yang akan dilakukan keduanya? Akankah Fathir t...
Melting Point
6184      1463     3     
Romance
Archer Aldebaran, contoh pacar ideal di sekolahnya walaupun sebenarnya Archer tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan siapapun. Sikapnya yang ramah membuat hampir seluruh siswi di sekolahnya pernah disapa atau mendapat godaan iseng Archer. Sementara Melody Queenie yang baru memasuki jenjang pendidikan SMA termasuk sebagian kecil yang tidak suka dengan Archer. Hal itu disebabkan oleh hal ...
Premium
Mari Kita Menulis
4337      1167     2     
Non Fiction
Ada banyak di Indonesia Pilih saja yang sekiranya cocok mau indie ataupun mayor Untuk pembayaran royalti dari penerbit ada yang beli putus ada yang sistem royalti 10 atau lebih Kalau royalti 10 itu tandanya dapat persepuluh dari harga buku yang terjual Pembayaran umumnya dilakukan 6 bulan setelah percetakan Kalau untuk penulis baru biasanya posisi tawarnya rendah belum bisa negosiasi karena b...