Loading...
Logo TinLit
Read Story - Loveless
MENU
About Us  

Gue pengin ngobrol banyak sama Selly, tapi sepulang dari sekolah dia tadi sore gue bahkan nggak kuat bangun. Bukan berlebihan, tapi kayaknya darah yang keluar sebanyak itu sedikit berpengaruh, deh. Kalau cuma tekanan darah yang turun kayaknya masih oke. Ketemu Cantika atau Bu Ola juga bisa normal lagi karena mereka seratus persen pasti bikin jengkel dan tekanan darah gue otomatis melonjak. Nah, masalahnya, kalau ternyata hemoglobin atau Hb-nya yang turun gimana? Kejauhan, ya? Gue jadinya geli sendiri bisa berpikir sejauh itu.

Sumpah itu bukan karena gigi gue copot. Udah gue cari-cari soalnya nggak ada, dan pas ngaca juga masih utuh. Itu beneran ... dari lambung? Atau tenggorokan? Nggak tau. Gue beneran nggak mau mikir.

"Kamu ada urusan apa di sekolah? Kok pulangnya malam banget?"

Tiba-tiba suara Ibu terdengar. Kayaknya Selly baru pulang, jadi Ibu langsung tanya.

"Sebentar lagi, kan, PKL, Bu. Aku sama anak-anak ngulang materi yang udah pernah diajarin, biar nanti pas PKL nggak kosong-kosong banget."

Gue membeo kalimat terakhirnya tanpa suara. Udah ketebak. Tapi, gue nggak suka dia bohong sama Ibu. Kita nggak akan ngelarang Selly bergaul sama siapa pun, selama orang itu baik, jadi harusnya dia bisa jujur.

"Cel."

Udah gue bilang rumah ini sesempit itu. Nggak kedap suara lagi. Jadi, kalau misalkan ngobrol, ya udah nggak ada privasi.

"Jangan kecewain Ibu, ya."

Gue diam begitu dengar begitu mendengar ucapan Ibu. Kalimat sederhana, tapi sarat akan permohonan. Sambil bangun pelan-pelan, gue menajamkan pendengaran. Kayaknya kali ini omongan Ibu serius.

"Dulu pas masmu pertama masuk SMK, Ibu berharap banyak sama dia. Apalagi dia bilang kalau kakak kelasnya banyak yang disalurkan ke luar negeri karena berprestasi. Padahal, masmu hampir nggak lanjut karena keungan kita lagi susah banget, tapi dengar itu, Ibu berubah pikiran. Ibu melakukan apa pun biar dia bisa lanjut. Termasuk jual tanah warisan dari kakek kamu."

Ah, iya gue ingat. Dulu, gue emang beneran hampir nggak lanjut sekolah karena keuangan kita lagi seret banget. Tapi, akhirnya Ibu jual tanah warisan Kakek buat biaya masuk dan lain-lain, sedangkan sisanya dipake buat benerin kios.

Kalau ditanya kenapa kok enteng banget jual tanah langsung ada yang mau beli? Karena posisinya di pinggir jalan, dan kalau nggak dijual, Ibu berencana buat bikin kios bubur di sana. Lokasinya cukup strategis, selain dekat sama pusat perbelanjaan, ada beberapa sekolah juga di sekitar. Pokoknya di sana udah enak banget buat jualan.

"Ibu sampai dimusuhin nenekmu sama saudara-saudara Ibu karena jual itu. Tapi, ternyata nggak sesuai ekspektasi. Lagian Ibu juga yang berharap terlalu banyak, padahal sadar kemampuan masmu itu di bawah rata-rata. Nggak balik modal, deh," kata Ibu sambil ketawa.

Baru kali ini gue beneran ngerasa sakit. Pertama, ternyata gue udah merenggut mimpi Ibu. Kedua, gue udah bikin Ibu dimusuhin keluarganya sendiri. Ketiga, gue produk gagal. Gue kecewa bukan sama ucapan Ibu, tapi sama diri sendiri. Kayak ... kok gue bodoh banget, ya, dulu? 

"Jadi, kamu juga jangan kecewain Ibu. Ibu menuruti semua keinginan kamu karena nggak mau kamu merasa minder. Biar kamu semangat sekolahnya dan bisa bikin Ibu sama almarhum Bapak bangga. Jangan seperti masmu."

Selly terdengar mengiakan, sedangkan gue masih syok. Kalau mau membandingkan, hidup gue juga dari dulu nggak gampang. Pas teman-teman gue punya HP, gue baru dikasih kelas XI, itu pun pas gue mulai PKL. Sepatu, tas, sama seragam yang gue pake nggak tiap tahun ganti. Harus tunggu jebol dulu baru bisa minta ganti baru. Seragam Pramuka aja lungsuran dari sepupu gue. Tiap hari juga gue harus milih antara jajan sama pulang naik angkot. Kalau gue mau jajan, berarti pulangnya jalan kaki. Kalau gue mau naik angkot, berarti nggak boleh jajan. Semua pelajaran di luar pelajaran produktif mewajibkan kita beli LKS, tapi Ibu selalu bilang nggak punya uang, jadi gue bisa merangkum isi LKS semalaman demi bisa nyamain pembelajaran gue sama yang lain. 

Jauh banget, kan, sama kehidupan Selly sekarang? Gue nggak iri, tapi rasanya nggak adil aja Ibu membandingkan gue sama dia, sedangkan cara belajar kita aja udah beda. Selly bisa fokus belajar sedangkan gue kepecah karena sambil bantuin Ibu jaga kios setelah pulang sekolah.

"Oh iya, gimana udah ada kabar dari masmu soal atasannya? Diizinin nggak? Dia soalnya nggak keluar kamar dari tadi sore, padahal udah Ibu gedor-gedor. Kayaknya nggak mau diganggu atau direpotin lagi sama Ibu."

Jujur, gue pengin banget jawab omongan Ibu barusan. Apa Ibu nggak bisa berpikir positif atau khawatir sedikit sama gue? Kalau gue pingsan gimana?

"Udah. Tadi pagi Mas chat aku dan minta CV. Pas udah dikirim langsung acc. Aku boleh bantu-bantu di sana, tapi sore aja biar nggak bentrok sama sekolah. Terus pasien sore juga katanya di sana lebih banyak."

"Syukurlah kalau gitu. Sekarang kamu mandi, makan, terus istirahat. Makanannya udah Ibu siapin di meja. Ibu mau tidur cepat soalnya besok harus berangkat pagi-pagi banget."

"Iya, Bu."

Begitu yakin Ibu udah selesai ngobrol, susah payah gue ngambil HP di atas meja, terus kirim chat ke Selly.

Saya

Cel, kalau udah selesai makan langsung ke kamar Mas. Mau ngobrol. Penting.

Nggak ada balasan, tapi cuma selang beberapa menit dia ngetuk pintu kamar gue. Gue bangun, terus buka pintu. 

"Mas kenapa? Sakit?" tanyanya. 

"Nggak. Kenapa emang?"

"Pucat banget, kayak orang sekarat."

Gue berusaha mengalihkan dengan langsung membahas apa yang pengin banget gue bicarakan. "Siapa cowok tadi?"

"Maksud Mas?"

"Cowok yang pulang sekolah sama kamu siapa? Kenapa kamu bohong sama Ibu?"

"Teman." Anak itu menunduk, dan dari tatapannya dia kelihatan nggak yakin. Bisa jadi karena belum dapat status, atau emang nggak mau jujur sama gue.

"Teman tapi main bareng sampe pulang selarut ini?"

"Beneran teman, Mas."

"Cel, Mas kapan, sih, ikut campur sama urusan kamu? Kamu mau apa juga kalau Mas bisa, Mas turutin. Tapi, kenapa kamu bohongin Ibu? Mas nggak melarang kamu main, sama siapa pun, termasuk sama cowok, tapi tolong jujur, jadi kalau ada apa-apa Mas tau kamu di mana dan sama siapa."

Dia kelihatan kaget banget pas gue bilang gitu.

"Mas tau dari mana?"

Nggak mungkin, kan, kalau gue jujur habis dari sekolahnya tadi, dan mergokin Selly boncengan sama cowok. Bukannya takut, dia mungkin malah lebih marah. "Mas butuh jawaban, bukan malah nanya balik."

"Iya nggak gitu lagi."

"Cel, ingat ini, ya. Cowok di sekolahmu itu cuma beberapa orang. Dari kasus teman-teman Mas dulu, satu orang bisa macarin lebih dari dua cewek tanpa ketahuan. Jadi, Mas harap kamu juga lebih hati-hati sama mereka. Kalau bisa, fokus sekolah dulu aja. Ribet kalau harus kepecah karena perasaan."

"Mas aja dulu pacaran pas SMA, terus galau banget pas Kak Alisa meninggal. Aku juga cuma jadiin dia motivasi aja kok biar semangat belajarnya dan ada sedikit hiburan di tengah gempuran berbagai ujian."

Gue menghela napas, sebelum akhirnya kembali bersuara, "Iya. Pintar-pintarnya kamu aja bagi waktu dan jaga diri." Beberapa saat gue diam, sebenarnya ada yang masih pengin gue bilang, tapi ragu. "Hm, ingat ini baik-baik, ya. Sekalinya hancur, kamu kehilangan segalanya. Jadi, jaga diri. Mas nggak bisa dua puluh empat jam di samping kamu, selain karena kamu nggak suka, Mas juga punya kerjaan lain, jadi tolong jangan bikin Ibu kecewa lagi."

Selly cuma diam, nggak mengiakan tapi nggak melawan juga.

"Cel, Bapak pernah bilang apa?"

"Sebaik-baik perempuan adalah dia yang bisa menjaga kehormatannya."

"Ngerti, ya, sekarang maksud omongan Mas? Jangan bohong lagi."

"Iya," sahutnya. "Aku udah boleh pergi?"

"Iya boleh. Makan dulu sebelum tidur biar nyenyak tidurnya."

Dia nggak jawab sama sekali dan langsung memilih kembali ke kamar. Jagain anak gadis itu nggak gampang. Bapak pernah bilang gitu, apalagi pas mereka puber kayak sekarang. Kayak berusaha mempertahankan sebutir telur di pinggir jurang.

Nggak lama setelah keluar, Selly balik lagi tanpa mengetuk pintu.

"Mas."

"Hm?"

"Jangan bilang Ibu."

"Oke, asal kamu mau nepatin janji, Mas bisa jaga rahasia ini."

"Oke. Aku janji nggak akan ngulang."

***

Semalaman gue nggak bisa tidur, kepikiran omongan Ibu. Ditambah Selly bawa-bawa nama Alisa. Isi kepala gue semrawut seperti biasa. Alisa meninggal karena kecelakaan setelah nganterin gue ikut tes dan wawancara kerja di salah satu distributor farmasi. Sedangkan Bapak pergi jauh sebelum itu. 

Waktu Bapak meninggal, Alisa selalu ada. Dia tau gue sedekat apa sama Bapak dan sadar betapa hancurnya gue saat itu. Tapi, pas Alisa ikut pergi, gue nggak punya siapa-siapa lagi selain berusaha nguatin diri sendiri.

Ibu cuma bilang, ‘Dia bukan jodohmu, Mas. Udah sedih-sedihnya. Malu sama Ibu yang udah bertahun-tahun hidup bareng sama Bapak sampai akhirnya ditinggal Bapak. Ibu kuat, masa kamu cowok cengeng begini. Dia bukan orang yang ngasih kamu hidup kayak Ibu.’

Mungkin Ibu benar, dan maksudnya juga baik, tapi Ibu nggak pernah tau sebesar apa peran Alisa di hidup gue sampai gue bisa bertahan sejauh ini.

“Nu, gimana hari ini? Ada yang mau diceritain nggak? Kalau ada yang sakit bilang, ya? Kalau Nunu ada masalah juga bilang, oke? Jangan pernah di simpan-simpan sendiri. Nyimpen terlalu banyak luka nggak akan bikin kaya."

Hal sekecil apa pun selalu berhasil melempar gue ke masa lalu, buat sekadar mengingat atau mengenang semua kebaikan dia. Bahkan, pas gue PKL dan nggak ada duit banget buat makan, dia chat teman gue dan titipin makanan, terus nggak lama dia chat gue.

Alisa

Nu, makanannya di makan, ya. Nunu jangan tersinggung. Aku cuma mau Nunu makan banyak biar lebih semangat PKL-nya. Itu nggak gratis kok, nanti Nunu traktir aku, ya, kalau udah kerja? 😉

Berkali-kali dia melakukan itu dan mengatakan hal yang sama, cuma biar harga diri gue sebagai cowok nggak terluka. Sayangnya, pas gue mau balas budi, dia malah nggak ada.

Suatu waktu gue pernah nanya, harus dengan cara apa gue membalas semua kebaikan dia? Dia cuma jawab pengin disayang, karena dia nggak ngerasain itu dari orang tuanya. Terserah mau disayang sebagai adik atau pacar. Dia nggak keberatan sama sekali, yang penting sama gue katanya. Kalau Alisa atau Bapak masih ada, mungkin nggak akan seberat ini rasanya.

Kondisi gue udah jauh lebih baik dari kemarin, cuma emang lemas parah. Untungnya hari ini gue masuk siang, jadi aman banget buat istirahat. Sayangnya, rumah beneran jauh dari kata tenang. Tiba-tiba banget Ibu teriak-teriak. Gue yang kaget refleks keluar kamar karena takut terjadi apa-apa. 

"Kenapa, Bu?" tanya gue.

"Kamu lihat dompet Ibu nggak, Mas? Dompet Ibu nggak ada. KTP, uang, semua ada di sana."

Gua geleng-geleng karena emang nggak tau. Dari kemarin sore aja gue nggak keluar kamar.

"Kamu kok malah geleng doang, nggak ngasih solusi sama sekali. Bukan kamu, kan, yang ambil?"

Lah, kenapa jadi gue yang salah?

"Aku beneran nggak lihat, Bu. Dari kemarin juga aku nggak keluar kamar karena sakit perut." Gue akhirnya jujur, daripada jadi tertuduh.

"Terus ke mana dong? Ibu nggak seceroboh itu sampai ngilangin uang sedompet-dompetnya."

Gue juga nggak sedurhaka itu nyuri uang orang tua. "Coba tanya Icel, siapa tau Icel lihat, Bu. Dompetnya nggak jatuh di kios atau pas Ibu perjalanan ke kios, kan?"

"Icel lagi sekolah. Dia bisa ngerasa dituduh kalau tiba-tiba Ibu nanya soal dompet."

Aneh banget, tapi Ibu juga nanya sama gue, nuduh malah. Kenapa pas gue minta Ibu menanyakan hal yang sama ke Selly, Ibu malah marah dan takut Selly ngerasa dituduh.

"Ya udah, aku aja yang nanya. Barangkali Icel beneran lihat, Bu, terus disimpan di mana gitu."

"Ibu bilang nggak usah, ya, nggak usah! Awas kalau kamu berani nyakitin anak gadis Ibu. Biarin dia fokus sama sekolahnya. Jangan ganggu dia sama hal-hal sepele kayak gini. Kamu udah cukup menyusahkan dari dulu, jadi biarin Icel cuma fokus sama dirinya dan pendidikannya. Ibu butuh seseorang buat dibanggakan, biar nggak ngerasa gagal-gagal banget jadi orang tua."

Demi Tuhan, hati gue kayak dilempar dari lantai tujuh, terus pas udah jatuh ke bawah diinjak lagi sampe nggak berbentuk. Apa gue seburuk itu di mata Ibu?

"Malah bengong. Kamu, tuh, lama-lama kelihatan banget bodohnya tahu nggak. Bukannya bantu cariin malah planga-plongo gitu. Uang Ibu semua di situ. Kamu makan juga dari uang itu. Kalau nggak bisa ngasih lebih, minimal bantu cari yang hilang. Tau terima kasih, tuh, penting lho, Mas. Jangan bikin Ibu mikir kalau melahirkan kamu itu sebuah kesalahan."

Apa Ibu nggak ngerasa ucapannya keterlaluan? Gue berusaha bantu nyari lagi, dari satu titik ke titik lain, tapi ucapan Ibu terus terngiang di telinga. 

Jangan bikin Ibu mikir kalau melahirkan kamu itu sebuah kesalahan.

Jangan bikin Ibu mikir kalau melahirkan kamu itu sebuah kesalahan.

Berkali-kali, sampai gue nggak tahan lagi. Gue setengah berlari ke kamar mandi, dan memuntahkan isi lambung gue di sana.

"Dasar lemah."

Gue masih dengar ucapan Ibu, dan itu berhasil menambah sensasi sakitnya. Tubuh gue terbungkuk semakin dalam, membiarkan cairan merah itu terus keluar. Boleh nggak, sih, gue ngerasa capek? 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 4
Submit A Comment
Comments (36)
  • serelan

    Sell... itu masmu loh.. org² nginjak harga dirinya.. kamu yg keluarga pun sama aja.. memperparah rasa sakitnya.. bukannya saling mendukung dan menguatkan malah kya gitu..

    Comment on chapter Chapter 14 - Memindahkan sakitnya
  • serelan

    Si Cantika mulutnya harus d sekolahin. Bener² gak ada akhlak tu org. Hidupnya aja belum tentu bener sok²an ngurusin hidup org lain.. Pikirin baik² ya Sell apa yg dibilangin mas mu. Jangan ngeyel terus akhirnya nyesel..

    Comment on chapter Chapter 13 - Teman bicara
  • serelan

    Ngenes banget sih Nuuu...
    Lagi sakit aja berobatnya sendiri gak ada anggota keluarga yang bisa d andalkan... La, baik² ya ama Nunu. Di tempat kerja cuma kamu yg bisa dia andalkan, yg bisa jagain dia dari semua makhluk laknat yg ada d sana..

    Comment on chapter Chapter 12 - Serius
  • serelan

    Wisnu berusaha keras buat jaga adiknya, gak mau sesuatu yang buruk terjadi. Tapi semua yang dilakukan Wisnu selalu disalah artikan mulu sama ibu & adiknya. Pikirannya negative mulu sama Wisnu. Padahal yg keluarganya kan Wisnu ya? Tapi lebih percaya org yang baru dikenal yg belum tau sifatnya seperti apa²nya..

    Comment on chapter Chapter 11 - Kebaikan atau sogokan? Kebaikan atau kesepakatan?
  • serelan

    Kesel banget sama ibunya..
    Anakmu lagi sakit loh itu.. malah dikatain pemalas.. gak ada peka²nya sama sekali kah sama kondisi anak sendiri? Apa jangan² Nu Wisnu anak pungut😭 parah banget soalnya sikapnya ke Wisnu. Tidak mencerminkan sikap seorang ibu terhadap anaknya..

    Comment on chapter Chapter 10 - Takut
  • alin

    Singkirin aja itu ibu dan icel, makin lama makin nyebelin. Kesel sama ibunya dan Selly disini. Kasian Wisnu. Yang kuat ya, Kak Nu🥺 hug Wisnu🥺🫂

    Comment on chapter Chapter 10 - Takut
  • nazladinaditya

    lo udah sesakit itu aja masih kepikiran nyokap dan adek lo yaa, nu. anak baik :((

    Comment on chapter Chapter 9 - Gelap dan hening lebih lama
  • serelan

    Wisnu nya udh kya gitu awas aja tu kluarganya klo masih gak ada yg peduli juga, keterlaluan banget sih..

    Comment on chapter Chapter 9 - Gelap dan hening lebih lama
  • serelan

    Nu, kamu tuh hebat banget asli. Saat berada dalam kondisi terburuk pun masih sempat aja mikirin tanggung jawab, mikirin ibu & adik mu. Tapi, orang² yg kamu pikirin, yang berusaha kamu jaga bahkan gak pernah mikirin kamu sama sekali. Minimal nanya gitu kondisi kamu aja nggak. Yang mereka peduliin cuma uang aja. Apalagi si Selly noh sampe bohongin ibu, nyuri uang ibu, mana di pake buat sesuatu yg gak baik pula. Mana katanya ntar klo udh ada uang lagi bakal di pake beliin yg lebih bagus lebih mahal. Mau nyari uang dimana dia? Nyuri lagi?

    Comment on chapter Chapter 9 - Gelap dan hening lebih lama
  • nazladinaditya

    wisnuuu:( u deserve a better world, really. lo sabar banget aslian. hug wisnuu🤍🥺

    Comment on chapter Chapter 8 - Lebih dari hancur
Similar Tags
Behind The Spotlight
6759      3735     622     
Inspirational
Meskipun memiliki suara indah warisan dari almarhum sang ayah, Alan tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penyanyi, apalagi center dalam sebuah pertunjukan. Drum adalah dunianya karena sejak kecil Alan dan drum tak terpisahkan. Dalam setiap hentak pun dentumannya, dia menumpahkan semua perasaan yang tak dapat disuarakan. Dilibatkan dalam sebuah penciptaan mahakarya tanpa terlihat jelas pun ...
Cinta di Ujung Batas Negara
8      5     0     
Romance
Di antara batas dua negara, lahirlah cinta yang tak pernah diberi izin-namun juga tak bisa dicegah. Alam, nelayan muda dari Sebatik, Indonesia, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sepasang mata dari seberang. Siti Dzakyrah, pelajar Malaysia dari Tawau, hadir bagai cahaya kecil di tengah perbatasan yang penuh bayang. Mereka tak bertemu di tempat mewah, tak pula dalam pertemu...
Renata Keyla
7334      1880     3     
Romance
[ON GOING] "Lo gak percaya sama gue?" "Kenapa gue harus percaya sama lo kalo lo cuma bisa omong kosong kaya gini! Gue benci sama lo, Vin!" "Lo benci gue?" "Iya, kenapa? Marah?!" "Lo bakalan nyesel udah ngomong kaya gitu ke gue, Natt." "Haruskah gue nyesel? Setelah lihat kelakuan asli lo yang kaya gini? Yang bisanya cuma ng...
Heavenly Project
2040      1477     5     
Inspirational
Sakha dan Reina, dua remaja yang tau seperti apa rasanya kehilangan dan ditinggalkan. Kehilangan orang yang dikasihi membuat Sakha paham bahwa ia harus menjaga setiap puing kenangan indah dengan baik. Sementara Reina, ditinggal setiap orang yang menurutnya berhaga, membuat ia mengerti bahwa tidak seharusnya ia menjaga setiap hal dengan baik. Dua orang yang rumit dan saling menyakiti satu sama...
FAMILY? Apakah ini yang dimaksud keluarga, eyang?
663      512     2     
Inspirational
Kehidupan bahagia Fira di kota runtuh akibat kebangkrutan, membawanya ke rumah kuno Eyang di desa. Berpisah dari orang tua yang merantau dan menghadapi lingkungan baru yang asing, Fira mencari jawaban tentang arti "family" yang dulu terasa pasti. Dalam kehangatan Eyang dan persahabatan tulus dari Anas, Fira menemukan secercah harapan. Namun, kerinduan dan ketidakpastian terus menghantuinya, mendo...
Diary of Rana
727      603     1     
Fan Fiction
“Broken home isn’t broken kids.” Kalimat itulah yang akhirnya mengubah hidup Nara, seorang remaja SMA yang tumbuh di tengah kehancuran rumah tangga orang tuanya. Tiap malam, ia harus mendengar teriakan dan pecahan benda-benda di dalam rumah yang dulu terasa hangat. Tak ada tempat aman selain sebuah buku diary yang ia jadikan tempat untuk melarikan segala rasa: kecewa, takut, marah. Hidu...
Lorong Unggulan
108      96     0     
Romance
SMA Garuda memiliki beberapa siswa istimewa. Pertama, Ziva Kania yang berhasil menjadi juara umum Olimpiade Sains Nasional bidang Biologi pertama di sekolahnya. Kedua, ada Salsa Safira, anak tunggal dari keluarga dokter "pure blood" yang selalu meraih peringkat pertama sejak sekolah dasar hingga saat ini. Ketiga, Anya Lestari, siswi yang mudah insecure dan berasal dari SMP yang sama dengan Ziv...
Promise
678      398     7     
Romance
Bercerita tentang Keyrania Regina. Cewek kelas duabelas yang baru saja putus dengan pacarnya. Namun semuanya tak sesuai harapannya. Ia diputus disaat kencan dan tanpa alasan yang jelas. Dan setelah itu, saat libur sekolah telah selesai, ia otomatis akan bertemu mantannya karena mereka satu sekolah. Dan parahnya mantannya itu malah tetap perhatian disaat Key berusaha move on. Pernah ada n...
Mari Collab tanpa Jatuh Hati
5689      2391     2     
Romance
Saat seluruh kegiatan terbatas karena adanya virus yang menyebar bernama Covid-19, dari situlah ide-ide kreatif muncul ke permukaan. Ini sebenarnya kisah dua kubu pertemanan yang menjalin hubungan bisnis, namun terjebak dalam sebuah rasa yang dimunculkan oleh hati. Lalu, mampukah mereka tetap mempertahankan ikatan kolaborasi mereka? Ataukah justru lebih mementingkan percintaan?
When I Was Young
10621      2863     11     
Fantasy
Dua karakter yang terpisah tidak seharusnya bertemu dan bersatu. Ini seperti membuka kotak pandora. Semakin banyak yang kau tahu, rasa sakit akan menghujanimu. ***** April baru saja melupakan cinta pertamanya ketika seorang sahabat membimbingnya pada Dana, teman barunya. Entah mengapa, setelah itu ia merasa pernah sangat mengenal Dana. ...