Loading...
Logo TinLit
Read Story - Loveless
MENU
About Us  

Apa yang harus dilakukan setelah putus?

Jinan mengetikkan pertanyaan itu di layar ponsel dengan harapan mendapatkan ide baru yang tidak biasa. Dia sudah berulang kali menjadi saksi Sohee diputuskan oleh banyak gadis dan telah menjadi satu-satunya orang yang tahu apa yang dilakukan sahabatnya itu setelah dicampakkan.

Namun ketika dia kini mengalaminya, dia butuh bantuan. Dia tidak mungkin bertanya pada Sohee karena dia sudah bisa mengasumsikan bahwa sahabatnya itu akan mendukung Yoora. Paling tidak dia pasti akan mendorongnya untuk bertemu Yoora.

Semuanya sudah selesai, sudah waktunya memulai hidup baru.

Tapi—Jinan mulai gamang. Hubungannya dengan Yoora tidak sama dengan hubungan Sohee dengan gadis-gadis yang mencampakkan dan ditinggalkannya. Itu jelas berbeda. Ini bukan hubungan satu malam. Dia punya banyak momen bersama Yoora. Semuanya sangat manis. Lalu bagaimana dia memutuskan hal sepenting itu hanya dalam semalam?

“Nggak, nggak. Ini bukan keputusan semalam. Aku jelas tidak mendukung pengkhianatan dengan alasan apapun.”

Wow! Jinan baru saja merasakan sensasi lonjakan yang membuatnya bersemangat. Benar. Hidup harus terus berjalan meski dunia di bawah kakimu sedang carut-marut.

Dia kembali melirik ponsel untuk mengecek saran yang telah diringkas untuknya. Dia menemukan beberapa saran yang tidak sulit, yakni bergaul dengan teman atau orang baru.

“Ini kan sudah,” ujarnya seraya melirik pada seorang gadis yang tengah tertidur di kursinya. “Ya, walaupun dia sangat dingin.”

“Mencoba balikan?” Jinan menepuk kening. Dia mengumpat pelan. Baru saja dia berkelakar untuk tidak menganpuni perbuatan tidak menyenangkan yang dia terima, mengapa malah diberi saran yang akan membuatnya seperti orang yang sedang menjilat ludahnya sendiri?

“Melakukan hal bodoh?” Jinan kembali bergumam. Hal bodoh seperti apa? Apakah memaksa orang asing untuk mengajaknya berjalan-jalan bukan hal bodoh?

“Oke, anggap saja sudah dilakukan.”

Jinan menggulir layar ponselnya dan menemukan saran lainnya.

“Mendedikasikan waktu luang untuk mencari pengalaman baru.” Tak lama keningnya berkerut. Ya ampun, semua saran-saran yang dia baca benar-benar klasik. Tidak ada hal yang menantang yang belum pernah dicobanya.

“Bergaul dengan teman atau orang baru. Mendedikasikan waktu luang untuk pengalaman baru, semua orang memang harus melakukan semua itu, walaupun tidak sedang putus hubungan.”

Kini dia menjadi heran, mengapa banyak orang yang tergila-gila dengan AI bodoh ini.

Akhirnya Jinan menutup ponselnya. Menyerah pada saran-saran dari milis-milis daring. Dia akan melakukan apapun yang ada di depannya, tanpa rencana, tanpa perhitungan. Apapun yang ada di depannya, akan dia lakukan tanpa keluhan sedikitpun. Kecuali, bertemu dengan Yoora. Dia akan melewatkan bagian itu demi apapun.

Tak lama setelah dikembalikan ponselnya ke saku, bus berhenti di rest area. Setelah supir memberitahukan bahwa mereka akan berhenti sekitar 30 menit, satu persatu penumpang menghambur ke luar untuk mencari tempat ternyamannya sendiri.

Sama seperti yang lain, Jinan turun untuk membeli camilan dan makanan yang bisa mengganjal perutnya. Dia juga berharap bisa makan siang lebih awal jika resto-resto di area situ tidak memiliki antrean yang panjang. Perutnya keroncongan. Dia baru ingat bahwa belum makan apapun sejak pagi tadi.

Setelah berkeliling mini market, Jinan sudah mengantongi berbagai camilan dan nasi siap saji yang akan disantapnya sebagai makan siang. Ketika mengantre di kasir, dia bertemu satu kelompok mahasiswa yang asyik mengobrol.

Dari pembicaraan yang berhasil dia curi dengar—meski dengan keterbatasan bahasa, Jinan tahu bahwa sekelompok orang di depannya sedang menuju tempat yang sama.

“Maaf, apakah  kalian tadi di bus yang itu?” Jinan menunjuk bus yang dia tumpangi di luar.

Ketika semua orang memandang ke arah yang ditunjuk Jinan, salah satu dari 6 orang itu malah menunjuk Jinan seolah dia mengenalinya. “Bukankah kau yang duduk di sebelahku tadi?”

**

 

“Aku nggak punya obat untuk keluhan kamu ini,” kata dr. Indira ketika pertama kali Kayra menanyakan mengapa dia tidak diberikan resep obat.

Sependek pengetahuannya, ketika seseorang pergi ke ahli psikologi, dia akan diberikan sejumlah obat. Namun berbeda dengan Kayra, pada pertemuan pertama dia sama sekali tidak diberikan resep. Dia pun bertanya-tanya dan baru menyampaikan rasa penasarannya itu pada hari kedua sesi konselingnya.

“Kamu nggak butuh obat, Kay. Kamu cuma butuh pendampingan.”

Dalam sebuah ruang terang itu, kuku-kuku ibu jarinya mencakar-cakar kulit jari telunjuknya. Saat itu dia sedang menenangkan kedua kaki yang sesekali bergerak-gerak. Kalimat terakhir dr. Indira membawa sedikit tekanan baginya.

“Aku akan mendampingimu,” katanya dengan wajah tersungging.

Kayra berangsur-angsur merasa tenang. Kedua kakinya sudah berhenti bergoyang, begitu pula dengan cakaran-cakaran di jari-jarinya.

“Kamu siap untuk terapi hari ini?” tanya dr. Indira seraya beranjak dari kursi kebesarannya.

Dia berjalan perlahan, menuju satu ruangan yang begitu dibuka tirainya, yang terlihat  hanyalah kursi dan sofa panjang di dalamnya. Mengambil sebuah rekap medis, dr. Indira menyuruh Kayra duduk dan melepaskan benda-benda berat yang menempel pada dirinya.

Setelah meletakkan tas selempang dan kardigan, Kayra menumpukan seluruh tubuhnya di kursi panjang itu. Dia hanya diam dan menunggu intruksi berikutnya. Sebetulnya, dia agak gugup, namun dia sudah bertekad untuk menyembunyikannya. Dia lupa kapan terakhir kali berinteraksi sebegini lama dengan orang asing. Meskipun sekarang dr. Indira menjadi konselornya, dia masih belum bisa menyatakan bahwa dirinya dekat dengan dr. Indira.

dr. Indira kini sudah selesai mencoret-coret catatannya. Dia mengerling pada Kayra dengan catatan yang sudah berada di pangkuannya.

“Baiklah Kayra, kita mulai ya. Sekarang pejamkan mata kamu,”

Kayra membelengu indera penglihatan dan menajamkan indera pendengarannya. Dalam diam, dia terus mengikuti setiap detail perintah dr. Indira.

“…buang seluruh pikiran yang menganggu dan tenangkan seluruh tubuh kamu. Percayakan semuanya di sofa panjang ini.”

“Tarik napas sedalam-dalamnya, buang secara perlahan. Sekali lagi ya. tarik napas yang dalam, embuskan perlahan, pikirkan bahwa kamu saat ini sedang bersiap-siap  tidur.”

dr. Indira memerhatikan kedua tangan Kayra yang semula bersidekap di atas perut, berangsur-angsur mengendur. Dia memerhatikan otot-otot daun telinga Kayra yang kini sudah terlihat mengendur. dr. Indira siap melanjutkan sesi terapi ini.

“Sekarang bayangin kamu lagi ada di satu tempat yang baru. Bayangin tempat apapun itu asalkan kamu suka.”

Suara dr. Indira yang kian lembut berhasil membawa Kayra keluar dari kegelapan. Tempat di sekitarnya kini berangsur-angsur memancarkan cahaya, ada suara ombak yang menyambar. Dia melihat kedua kakinya terjejal dalam kumpulan pasir putih. Ketika wajahnya terangkat, angin mulai menerpa wajah dan menerbangkan anak-anak rambutnya secara intens.  

“Tiba-tiba seseorang menghampirimu. Kamu tidak mengenalinya. Namun dia tersenyum dan menyapamu. Kamu membalasnya. Kalian mulai mengobrol. Dia menceritakan tentang dirinya, begitupun denganmu. Kalian saling mengobrol, membicarakan hal-hal yang menarik. Kemudian tiba-tiba senja mulai turun dan kalian harus berpisah. Dia sudah pergi, kamu sudah jauh.”

Ada tarikan napas yang dalam setelah dr. Indira menyebutkan intruksinya barusan.

“Dalam perjalanan pulang, kamu memikirkan orang itu. Kesan pertamamu terhadapnya. Mengingat ekspresinya ketika mendengarkanmu. Apakah pertemuan itu membuatmu nyaman? Kamu pun bertanya-tanya, apakah kamu ingin bertemu dengannya atau malah sebaliknya.”

Sekarang, tarik napas yang dalam kembali, dan buka mata pelan-pelan.

Ketika kedua matanya terbuka, pemandangan pertama yang tertangkap retinanya adalah sebuah tempat asing dengan bus-bus berjajar di bawah langit biru. Kayra menegakkan punggungnya, meluruskan kedua kaki dan mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya. Kini dua sudah benar-benar terbangun dari tidurnya.

Bus yang dia kendarai sedang berhenti di rest area. Sebagian penumpang tampak masih di tempat duduknya, dan sebagian lagi mungkin sudah pergi ke satu tempat di sekitar situ. Kayra mengecek ponselnya, dia sudah tertidur selama 2 jam. Masih tersisa 5 jam lagi sebelum sampai ke tempat tujuannya. Saat ini dia tidak tahu sudah berapa lama bus berhenti. Untuk itu dia menahan diri untuk turun. Dia tidak ingin tertinggal jika saja ternyata bus sudah waktunya melanjutkan perjalanan. Dia mengambil jurnal di dalam ransel dan mencoret-coret dengan apapun yang terlintas di dalam pikirannya.

Kayra berhenti menggerakkan penanya ketika mendengar suara-suara yang saling bersahutan. Dia mendongak, memandang ke luar jendela. Segerombolan orang yang saling mengobrol penuh antusiasme telah membekukan tatapannya. Dia terpaku, mengecek satu persatu anggota dari grup muda-mudi itu. Kayra menebak usia postur-postur tinggi dan gaya berpakaian grup yang berisi 8 orang itu. Ada 5 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Wajah oriental kesemuanya membuat Kayra menebak-nebak asal setiap orang. Kayra semakin yakin darimana asal mereka ketika seseorang berbicara dengan sangat lancar.

Tapi ada satu orang yang membuat kening Kayra berkerut. Dia mengenali laki-laki yang sedang bercerita dengan bahasa yang sedikit terbata, namun ekspresi wajahnya membuat anggota yang lain mengerti dan merespon dengan gelak tawa.

Kayra termenung. Darimana rasa percaya diri itu datang? Di tengah-tengah orang asing, bagaimana dia bisa sebegitu ekspresifnya? Bagaimana dia bisa seramah itu? Kenapa dia tidak punya rasa takut? Kayra juga ingin menjadi seberani itu. Tapi perasaan yang selalu hinggap hanyalah rasa takut.

Kayra menutup dan mengembalikan jurnalnya ke dalam ransel. Dia kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada, bersandar pada kaca jendela, dan kembali memejamkan kedua matanya.

**

 

Tidur Kayra terusik oleh bunyi mesin bus yang sedang bersiap melanjutkan perjalanan. Dia membuka kedua mata dan melihat semua orang sudah duduk di tempat-nya masing-masing. Tak lama Kayra mendengar suara bercakap-cakap. Suara yang masuk ke telinganya cukup familiar. Ketika dia menoleh ke samping, wanita muda yang semula duduk di sebelahnya telah berganti dengan seorang pria yang ternyata—Jinan.

Kayra jelas terkejut bukan main. Dia seperti sedang dihadapkan pada satu peristiwa yang sebenarnya sedang dia hindari.

Berbeda dengan Kayra, Jinan malah tersenyum girang dan langsung memberitahukan situasi yang sebenarnya pada Kayra.

“Hi, akhirnya kau bangun. Maaf jika suara kami sangat mengganggu. Kau tahu, aku tadi bertukar tempat duduk dengannya. Mereka teman, dan mereka terpisah karena dia membeli tiket setelah kita. Jadi bukan ide yang buruk untuk membuat mereka duduk di satu section, kau tidak keberatan, kan aku di sini.”

Kata ganti ‘kita’ ini membuat Kayra tidak nyaman. Lagipula, jika dia mengatakan dia keberatan apakah Jinan akan bertukar tempat duduk kembali? Akhirnya Kayra mencoba memahami. Dia menarik napas dalam dan bergumam dengan bahasa yang tak akan dimengerti Jinan dan yang lainnya.

“Memangnya kalau aku keberatan kau akan pindah lagi?”

“Kau bilang apa?” respon Jinan mendekatkan telinganya pada Kayra karena mesin bus yang kencang itu meredam suara Kayra.

“That’s okay,” ujar Kayra menegakkan posisi duduk dan berpaling ke sisi sebelahnya..

Jinan mengangguk-angguk. Dia kemudian melanjutkan obrolan sejenak dengan para mahasiswa yang menjadi kenalannya itu. Tak lama, Jinan baru ingat bahwa dia harus menambahkan informasi penting ini kepada Kayra.

“Kau tahu, ada kabar baik. Mereka juga ingin pergi ke gunung fuji,” Jinan memberitahukan berita itu dengan harapan Kayra bisa lebih antusias lagi.

Bertemu orang baru dan melakukan perjalanan bersama orang asing—yang kini lebih dari satu orang, tentu akan menjadi pengalaman yang sangat menarik. Setidaknya, Jinan sudah melakukan apa yang internet sarankan untuk orang yang baru putus.

Kabar baik bagimu itu membuatku tidak senang.

“Oh, ya. Silakan jika kau ingin bersama mereka. Tidak perlu sungkan. Aku bisa sendirian,” katanya tanpa melihat ke arah Jinan sama sekali.

Kening Jinan berkerut. Rupanya Kayra tidak bisa menangkap apa yang dia sampaikan.

“Bukan itu maksudku. Kita bisa bersama mereka. Kita punya teman. Lebih dari satu. Bukankah itu menyenangkan?”

Kayra hanya diam. Dia tidak merasa berita itu adalah berita yang bagus untuknya.

“Penginapan yang mereka pesan juga persis di penginapan yang kaupesan. What a coincidence?!

Kayra menyembunyikan rasa terkejutnya dengan menggigit bibir bawahnya.

Kerutan di dahi Jinan semakin dalam ketika tidak mendapat respon sesuai yang dia harapkan dari Kayra. Dia bertanya-tanya dalam hati, mengapa Kayra begitu pendiam, bahkan tidak bisa merespon berita baik ini dengan semangat. Alih-alih membalas antusiasme-nya, Kayra malah merapatkan jaketnya lalu mengambil tirai jendela dan menutupi seluruh wajahnya dengan tirai itu.

“Kayra, kau kenapa?”

“Aku mengantuk.”

Jinan mengangguk-angguk, berusaha mengerti bahwa orang mengantuk tidak akan memberikan frekuensi kegembiraan yang sama. Maka Jinan melanjutkan perbincangannya dengan enam mahasiswa yang akan menjadi relasi barunya selama mengunjungi kawasan Gunung Fuji.

**

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (36)
  • raninurh

    sering terjadi :)

    Comment on chapter Chapter 3 - Dorongan atau peringatan?
  • raninurh

    selly lu tobat kata gua tuh nanti kakak lu jadi ubi baru nyesel

    Comment on chapter Chapter 2 - Menyentuh batasnya
  • raninurh

    semnagat anak pertama kuat kuat pundaknya

    Comment on chapter Chapter 1 - Mati sejak lama
  • serelan

    Toxic semua orang² di sekitaran Wisnu ini... keluarganya, lingkungan kerjanya... hebat banget Wisnu bisa tahan...gendok asli pengen banget banting semuanya satu²..

    Comment on chapter Chapter 3 - Dorongan atau peringatan?
  • serelan

    Capek banget liat hidupnya Wisnu... ditekan sana sini, di tempat kerja, bahkan sama keluarganya juga. Padahal sumber penghasilan keluarga banyaknya dari dia harusnya diperlakukan lebih baik lah sama keluarganya. Hidup tuh sesuai kemampuannya aja gak sih harusnya. Jangan selalu pengen maksain buat terlihat wah klo memang blm mampu. Kesel banget sama Selly.

    Comment on chapter Chapter 2 - Menyentuh batasnya
  • serelan

    Bantu jadi tulang punggung sih wajar² aja.. tapi gak harus kya gitu juga sikap ibunya.. agak keterlaluan sih itu.. dikasih pengertian demi kebaikan malah d katain durhaka dikiranya gak mau bantuin ibunya lagi.. ntar pergi nyeselll..

    Comment on chapter Chapter 1 - Mati sejak lama
Similar Tags
Bintang Biru
3334      1267     1     
Romance
Bolehkah aku bertanya? Begini, akan ku ceritakan sedikit kisahku pada kalian. Namaku, Akira Bintang Aulia, ada satu orang spesial yang memanggilku dengan panggilan berbeda dengan orang kebanyakan. Dia Biru, ia memanggilku dengan panggilan Bintang disaat semua orang memanggilku dengan sebutan Akira. Biru teman masa kecilku. Saat itu kami bahagia dan selalu bersama sampai ia pergi ke Negara Gingsen...
Unexpectedly Survived
759      641     0     
Inspirational
Namaku Echa, kependekan dari Namira Eccanthya. Kurang lebih 14 tahun lalu, aku divonis mengidap mental illness, tapi masih samar, karena dulu usiaku masih terlalu kecil untuk menerima itu semua, baru saja dinyatakan lulus SD dan sedang semangat-semangatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Karenanya, psikiater pun ngga menyarankan ortu untuk ngasih tau semuanya ke aku secara gamblang. ...
You Are The Reason
2505      1109     8     
Fan Fiction
Bagiku, dia tak lebih dari seorang gadis dengan penampilan mencolok dan haus akan reputasi. Dia akan melakukan apapun demi membuat namanya melambung tinggi. Dan aku, aku adalah orang paling menderita yang ditugaskan untuk membuat dokumenter tentang dirinya. Dia selalu ingin terlihat cantik dan tampil sempurna dihadapan orang-orang. Dan aku harus membuat semua itu menjadi kenyataan. Belum lagi...
Negaraku Hancur, Hatiku Pecah, Tapi Aku Masih Bisa Memasak Nasi Goreng
3684      1537     1     
Romance
Ketika Arya menginjakkan kaki di Tokyo, niat awalnya hanya melarikan diri sebentar dari kehidupannya di Indonesia. Ia tak menyangka pelariannya berubah jadi pengasingan permanen. Sendirian, lapar, dan nyaris ilegal. Hidupnya berubah saat ia bertemu Sakura, gadis pendiam di taman bunga yang ternyata menyimpan luka dan mimpi yang tak kalah rumit. Dalam bahasa yang tak sepenuhnya mereka kuasai, k...
Deep End
229      203     0     
Inspirational
"Kamu bukan teka-teki yang harus dipecahkan, tapi cerita yang terus ditulis."
Renjana
625      474     2     
Romance
Paramitha Nareswari yakin hubungan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun dengan penuh kepercayaan akan berakhir indah. Selayaknya yang telah ia korbankan, ia berharap agar semesta membalasnya serupa pula. Namun bagaimana jika takdir tidak berkata demikian? "Jika bukan masaku bersamamu, aku harap masanya adalah milikmu."
Love Warning
1457      720     3     
Romance
Pacar1/pa·car/ n teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih. Meskipun tercantum dalam KBBI, nyatanya kata itu tidak pernah tertulis di Kamus Besar Bahasa Tasha. Dia tidak tahu kenapa hal itu seperti wajib dimiliki oleh para remaja. But, the more she looks at him, the more she's annoyed every time. Untungnya, dia bukan tipe cewek yang mudah baper alias...
Kata Kamu
1218      709     3     
Romance
Ini tentang kamu, dan apa yang ada di dalam kepalamu
Aku yang Setenang ini Riuhnya dikepala
106      96     1     
True Story
Rumah Tanpa Dede
369      261     2     
Inspirational
Kata teteh, Bapak dan Mama bertengkar karena Dede, padahal Dede cuman bilang: "Mah, kata Bapak juga kalau Bi Hesti jadi Mama keduanya dede, biaya pengobatan dede dibayarin Bi Hesti sampe dede bisa jalan lagi, Mah." Esya---penyintas penyakit langka Spina Bifida, hanya ingin bisa berjalan tanpa bantuan kruk, tapi ekonomi yang miskin membuat mimpi itu terasa mustahil. Saat harapan berwujud...