Loading...
Logo TinLit
Read Story - Loveless
MENU
About Us  

"Sebenernya ...." Kara menggantung kalimatnya dan menatapku dengan pandangan menyipit. "Hubungan lo sama Prince itu apa sih selain tutornya?" 

 

Aku balas menatapnya dengan kening berkerut. "Temen sekelas?"

 

Kara berdecak. Tangannya meraih botol saus sambal. "Itu juga gue tau. Kan kita emang sekelas." Dia membubuhkan banyak saus sambal pada mangkok baksonya. Kuah bakso itu sudah sangat merah dan terlihat pedas. "Sadar nggak lo, kalau Prince itu—" 

 

"Nggak usah ngaco dan berasumsi yang enggak-enggak," potong Meysa. Matanya mengedar entah mencari apa. Namun, detik berikutnya tangannya terangkat tinggi-tinggi dan melambai kepada seseorang. 

 

Saat aku mengikuti arah pandangnya ternyata dia sedang memanggil Regan yang tampak kebingungan mencari tempat duduk. Kantin di jam makan siang memang selalu ramai dan penuh. 

 

Cowok berkulit pucat itu tersenyum lalu melangkah mendekati kami. 

 

"Kita makan siang ditemani si ganteng Regan. Asyik enggak tuh," ucap Meysa seraya menaik turunkan alis. 

 

Kara mengedikkan bahu, sementara aku hanya menggeleng. Regan teman diskusi yang baik dalam hal membahas soal fisika, seenggaknya aku bisa fokus saat mengerjakan soal. Selain itu, aku lebih baik nggak ketemu karena jantungku rawan bermasalah kalau dekat-dekat sama dia.

 

"Boleh aku gabung sama kalian?" tanya Regan begitu cowok itu sampai di hadapan kami. 

 

"Oh jelas boleh dong. Kursi ini masih panjang dan selalu ada buat kamu," sahut Meysa menggeser duduknya. 

 

Sekarang posisi kami, Meysa berada di sebelah Regan, sementara aku berada di hadapan Regan dan Kara di sebelahku. 

 

"Makasih, ya. Kantin rame banget aku tadi bingung nyari tempat." Senyum Regan terbit. Dia lantas mulai mengangkat sumpit. Siang ini cowok itu memesan mie ayam. 

 

"Sore ini Kak Regan isi materi lagi, kan?" tanya Meysa. Bulu matanya yang panjang berkedip genit. 

 

"Iya. Minggu kemarin kamu nggak ikut ya?" 

 

"Iya, Kak. Mamaku sakit jadi nggak ikut. Tapi sore ini akan aku pastikan bisa ikut materi Kak Regan. Kapan lagi, ya kan?"

 

Kara di sampingku berdeham keras. "Gue jadi pengin masuk club fisika. Masih open member nggak?" 

 

"Ma—"

 

"Udah tutup. Lo bisa ikutan tahun depan." Meysa buru-buru memangkas ucapanku yang hendak keluar. 

 

"Ahelah gitu banget lo." Kara mendengus dan memajukan bibir. Lalu kembali menusuk somay pada piringnya. 

 

Meysa nggak ingin mendapat saingan buat dapetin hati Regan. Bisa aja dia. 

 

"Sin, nanti di club aku minta kamu buat bantu aku presentasi mau ya?" 

 

Aku yang hendak memasukkan batagor ke mulut sontak mendongak mendengar pertanyaan itu. Wajah Regan yang bening langsung tertangkap indra mata ini seketika. Dan aku cukup tersentak ketika bibir cowok itu melengkung. 

 

"O-oh, o-oke," sahutku agak tergagap. Bisa-bisanya aku pasang wajah bego begini. Buru-buru aku menunduk, menghindari tatapannya karena jantung di dadaku mendadak berulah. 

 

"Terima kasih." 

 

"Kenapa Kak Regan nggak minta tolong aku aja, sih? Aku dengan senang hati bantuin kok," sambar Meysa sembari mencebikkan bibir. 

 

"Ngarep lo!" sembur Kara. Cewek hitam manis itu menjadikan hal ini ajang balas dendam.

 

"Nggak apa-apa, Sindy aja nanti yang bantuin aku. Soalnya pertemuan kemarin dia yang bantuin. Dan aku merasa cocok," kata Regan tersenyum menatap lembut Kara dan Meysa berganti. 

 

Gila, kenapa wajahku terasa panas mendengar ucapan Regan barusan. Norak banget gue, sumpah.

 

"Tuh denger, Mey!" Lagi-lagi Kara berkata ketus seraya membelalakkan mata. "Sindy dilawan." 

 

Meski nggak tahu maksud ucapan Kara, kenapa rasanya nggak kedengaran enak, ya? Aku putuskan masa bodo dan kembali menusuk batagor. Regan juga tampak nggak peduli dan lanjut menyantap mie ayam. 

 

Namun, ketika hendak memasukkan batagor yang sudah kutusuk dengan garpu ke mulut, seseorang menyambar tanganku. Lalu tiba-tiba batagor itu sudah berpindah ke mulut orang itu. Refleks aku menggeram. Apalagi begitu wajah close up Prince mendadak ada di depanku. 

 

"Batagor lo rasanya lebih enak. Ini buat gue aja, ya." Dan dengan seenaknya dia menarik piring batagor itu. "Geser dong." 

 

Dengan begonya aku malah bergeser dan membiarkan cowok songong itu duduk di sebelahku. Kejadiannya begitu cepat, aku nggak sempat berpikir waras sampai Prince mengambil alih garpu dan piring punyaku. 

 

"Heh! Lo kan bisa pesan sendiri!" hardikku jengkel. 

 

"Gue udah pesen kok. Paling bentar lagi datang." Tanpa rasa bersalah cowok itu terus mengunyah. "Ntar punya gue buat lo aja. Punya lo buat gue," ucapnya tersenyum lebar. 

 

Apa dia nggak malu sikapnya itu menjadi perhatian Kara dan Meysa? Dua cewek itu sempat kaget dan melongo melihat tingkah gila Prince yang suka semena-mena. 

 

"Nah! Tuh! Pesenan gue datang!" seru Prince menunjuk Bams yang bergerak mendekat ke meja kami seraya membawa dua piring. 

 

Nggak lama Bams meletakkan piring ke meja. "Loh kok lo udah makan aja? Ini pesenan lo gimana?" tanya cowok itu bingung. 

 

"Ini buat Sindy." Prince mendorong piring yang seharusnya menjadi miliknya ke depanku. "Nih, lo habisin ya. Biar kenyang." 

 

"Gue sekalian numpang duduk dong. Penuh nih nggak ada tempat. Kakak kelas, lo bisa geser nggak?" tanya Bams merujuk pada Regan. 

 

Cowok se-charming Eun Woo di seberangku tampak terpaksa menggeser tempat duduknya. Aku bisa melihat wajah sebalnya saat menatap Prince yang lahap makan batagor. 

 

"Thank you, Kakak kelas," ucap Bams dengan nada menggoda saat dia berhasil duduk. "Time to eat." 

 

"Lain kali jangan suka menyerobot makanan orang. Heran, dari dulu tingkah kamu nggak berubah," decak Regan terdengar sinis. 

 

Aku yang hendak makan batagor urung dan menggeser tatapan kepada Meysa. Ternyata cewek itu juga melakukan hal sama. Baru pertama kali aku mendengar Regan berkata sinis begitu. Tapi herannya itu diucapkan dengan raut setenang air telaga.

 

"Lo ngomong ke gue?" timpal Prince menunjuk dirinya sendiri. 

 

"Emang di sini ada yang nyerobot makanan selain kamu?" balas Regan. Mata legamnya menyorot Prince. 

 

"Masalah lo apa? Gue juga udah ganti sama yang baru." 

 

"Bukan soal ganti, tapi ini soal etika, adab," sahut Regan, kembali menekuri mangkok mie ayamnya dengan santai.

 

Namun nggak buat Prince. Dia melepas garpu agak kasar dan menatap tajam Regan. Bibirnya yang merah mengerucut.

 

"Tahu apa lo soal etika dan adab? Ingatan lo udah karatan, ya? Siapa yang suka nyerobot sebenarnya di sini?" 

 

Saat itu juga aku mencium hawa yang nggak baik. Sepertinya Kara dan Meysa pun merasakan hal sama, wajah mereka mendadak gusar. 

 

"Semua di meja ini juga lihat kalau kamu tadi menyerobot piring Sindy." 

 

"Emang kenapa kalau gue nyerobot piring Sindy? Masalah buat lo? Yang punya aja nggak apa-apa kenapa lo sok komen?" 

 

Aku kembali melirik Meysa. Dia memberi kode yang artinya aku harus melakukan sesuatu. Kara juga mencolek pinggangku. Dan ketika aku menoleh padanya, dagunya bergerak-gerak. 

 

"Oh ya? Coba dong kamu tanya Sindy, apa dia baik-baik aja kamu perlakukan seenaknya begitu?" 

 

"Lo—"

 

"Prince! Cukup." Aku berdiri dan meraih piring. Sebelah tanganku mencekal lengannya. "Kita pindah, jangan duduk di sini," ucapku dengan nada tegas. Aku nggak mau ada keributan dan menjadi pusat perhatian penghuni kantin.

 

Untungnya Prince menurut. Dia mengambil piring seraya berdecak, lalu keluar dari meja disusul aku. Kebetulan ada meja kosong dengan posisi jauh dari meja kami sebelumnya. 

 

"Lo apaan sih?" Aku berdecak sebal sembari duduk di kursi panjang. Prince menyusul duduk di depanku kemudian. 

 

"Apaan gimana? Murid baru itu yang nyebelin kok." 

 

"Ya karena sikap lo nyebelin juga."

 

Prince tersenyum miring. "Kenapa bukan lo yang protes tadi? Lo sengaja cari perhatian sama cowok itu ya, biar dibela? Dasar cewek." 

 

Andai aku memiliki temperamen seburuk cowok itu, mungkin sudah kutumpahkan piring batagor ini ke atas kepalanya.

 

Aku memilih mengabaikan dan lanjut makan. Sebentar lagi istirahat siang berakhir. Aku nggak mau beresiko terlambat cuma ngurusin tuan muda arogan ini. 

 

"Makannya pelan-pelan ntar keselek."

 

"Nggak us—uhuk!" 

 

Sial, aku keselek beneran. Tenggorokanku rasanya panas, dan untuk beberapa saat seperti kehilangan napas. Tanganku bergerak hendak menggapai sesuatu, tapi yang aku temui hanya udara kosong.

 

"Astaga, gue bilang juga apa." Prince berdiri dan menepuk-nepuk punggungku beberapa kali. Dia lantas beranjak ke showcase yang kebetulan dekat dengan meja kami. Nggak lama cowok itu menyodorkan minuman dingin dalam kemasan yang tutupnya sudah dia buka. 

 

"Minum dulu."

 

Tanpa banyak bicara lagi, aku segera meraih botol air itu dan meminumnya begitu batuk ini mereda. 

 

"Lain kali kalau mau ngomel dan lagi makan. Telen dulu tuh makanannya." 

 

Aku meliriknya sebal. Siapa juga yang bikin gue keselek begini? 

 

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (36)
  • nazladinaditya

    aduh, siapapun gigit cantika tolong 😭 aku pernah bgt punya temen kerja begitu, pengen jambak:(

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • serelan

    Sumpah udh gedeg banget sama atasannya. Sikapnya kya org yg gak berpendidikan mentang² punya power. Maen tuduh, rendahin org, nginjek² org mulu tanpa nyari tau dulu kenyataannya. Klo tau ternyata si Jelek -males banget manggil Cantika- yg lagi² bikin kesalahan yakin sikapnya gak sama dgn sikap dia k Wisnu mentang² dia cewek cantik😡 lagian tu cewek gak becus knp masih d pertahanin mulu sih d situ, gak guna cuma bikin masalah bisanya. Tapi malah jadi kesayangan heran😑

    Comment on chapter Chapter 8 - Lebih dari hancur
  • serelan

    Nu Wisnuuu semoga jalan untuk menemukan kebahagian dalam hidupmu dimudahkan ya jalannya

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • serelan

    Buat atasannya Wisnu jangan mentang² berpendidikan tinggi, berprofesi sebagai seorang dokter anda bisa merendahkan orang lain ya.. yang gak punya etika itu anda hey coba ngaca... ada kaca kan d rumah??
    Buat si Cantika yang sifatnya gak mencerminkan namanya anda d kantor polisi ya? Gara² apa kah? Jangan balik lg ya klo bisaaaa

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • serelan

    Khawatirnya si ibu cuma karena mikirin masa depan si Selly mulu, takut banget klo mas Wisnu d pecat. Padahal jelas² tau mas Wisnu lg sakit tapi nyuruh buru² kerja jgn sampe d pecat. Semangat pula nyiapin bekal dan jadi tiba² perhatian cuma karena mas Wisnu bilang mau nyari kerja part time. Biar dapet tambahan duit buat si Selly ya bu ya😑.

    Comment on chapter Chapter 7 - Sisi baik dan kebahagiaan yang Tuhan janjikan
  • nazladinaditya

    baru baca bab 3, speechless si.. cantika kata gue lo asu 😭🙏🏻 maaf kasar tp kamu kayak babi, kamu tau gak? semoga panjang umur cantika, sampe kiamat

    Comment on chapter Chapter 3 - Dorongan atau peringatan?
  • serelan

    Curiga Selly yg ngambil dompet ibunya terus uangnya d pake CO Shopee, karena takut ketauan belanja sesuatu makanya pulang dulu buat ambil paketnya... Atasannya mas Wisnu cunihin ya sepertinya😂 ke cewe² aja baik, ke cowo² galak bener... gak adakah org yg bener² baik di sekitaran Wisnu? Ngenes banget idupnya..

    Comment on chapter Chapter 6 - K25.4
  • nazladinaditya

    siapa yang menyakitimuu wahai authoorrr 😭😭 tolong musnahkan ibu itu, singkirkan dia dari wisnu jebal

    Comment on chapter Chapter 5 - Pergi sulit, bertahan sakit
  • serelan

    Kesel banget sama ibunya. Selalu banding²in. Negative thinking terus lagi sama Wisnu. Awas aja klo ternyata anak yg d bangga²kan selama ini justru malah anak yg durhaka yg gak tau diri, rusak gara² cara didik yg gak bener.

    Comment on chapter Chapter 5 - Pergi sulit, bertahan sakit
  • serelan

    Nu, udh parah itu Nu🥺
    Nu, coba bilang aja dulu sama atasan klo si Selly mau coba bantu² biar liat gimana kakaknya diperlakukan di tempat kerjanya. Biar bisa mikir tu anak kakaknya nyari duit susah payah.

    Comment on chapter Chapter 4 - Namanya juga hidup
Similar Tags
Is it Your Diary?
618      529     0     
Romance
Kehidupan terus berjalan meski perpisahan datang yang entah untuk saling menemukan atau justru saling menghilang. Selalu ada alasan mengapa dua insan dipertemukan. Begitulah Khandra pikir, ia selalu jalan ke depan tanpa melihat betapa luas masa lalu nya yang belum selesai. Sampai akhirnya, Khandra balik ke sekolah lamanya sebagai mahasiswa PPL. Seketika ingatan lama itu mampir di kepala. Tanpa s...
Warisan Tak Ternilai
1385      744     0     
Humor
Seorang wanita masih perawan, berusia seperempat abad yang selalu merasa aneh dengan tangan dan kakinya karena kerap kali memecahkan piring dan gelas di rumah. Saat dia merenung, tiba-tiba teringat bahwa di dalam lingkungan kerja anggota tubuhnya bisa berbuat bijak. Apakah ini sebuah kutukan?
TITANICNYA CINTA KITA
0      0     0     
Romance
Ketika kapal membawa harapan dan cinta mereka karam di tengah lautan, apakah cinta itu juga akan tenggelam? Arka dan Nara, sepasang kekasih yang telah menjalani tiga tahun penuh warna bersama, akhirnya siap melangkah ke jenjang yang lebih serius. Namun, jarak memisahkan mereka saat Arka harus merantau membawa impian dan uang panai demi masa depan mereka. Perjalanan yang seharusnya menjadi a...
Sebelah Hati
4888      2528     0     
Romance
Sudah bertahun-tahun Kanaya memendam perasaan pada Praja. Sejak masih berseragam biru-putih, hingga kini, yah sudah terlalu lama berkubang dengan penantian yang tak tentu. Kini saat Praja tiba-tiba muncul, membutuhkan bantuan Kanaya, akankah Kanaya kembali membuka hatinya yang sudah babak belur oleh perasaan bertepuk sebelah tangannya pada Praja?
Ragu Mengaku atau Kita Sama-Sama Penuh Luka
4      3     0     
True Story
Ada cerita yang dibagi itu artinya diantara kita sering terjadi percakapan panjang, Lip? Disebut kebetulan tapi kita selalu bertemu dengan merancanakannya, Auw? Kita saling memberi nama baru, ingat tidak saat di atas pohon mangga? mendengar kata "pohon mangga" kita tertawa. Memanjat, duduk, mengunyah mangga sambil menikmati angin pagi, sore, atau malam, dasar pencuri. Kalau pemiliknya datang ka...
Langkah Pulang
2178      1394     7     
Inspirational
Karina terbiasa menyenangkan semua orangkecuali dirinya sendiri. Terkurung dalam ambisi keluarga dan bayang-bayang masa lalu, ia terjatuh dalam cinta yang salah dan kehilangan arah. Saat semuanya runtuh, ia memilih pergi bukan untuk lari, tapi untuk mencari. Di kota yang asing, dengan hati yang rapuh, Karina menemukan cahaya. Bukan dari orang lain, tapi dari dalam dirinya sendiri. Dan dari Tuh...
Fragmen Tanpa Titik
114      105     0     
Inspirational
"Kita tidak perlu menjadi masterpiece cukup menjadi fragmen yang bermakna" Shia menganggap dirinya seperti fragmen - tidak utuh dan penuh kekurangan, meski ia berusaha tampak sempurna di mata orang lain. Sebagai anak pertama, perempuan, ia selalu ingin menonjolkan diri bahwa ia baik-baik saja dalam segala kondisi, bahwa ia bisa melakukan segalanya sendiri tanpa bantuan siapa pun, bahwa ia bis...
10 Reasons Why
2997      1451     0     
Romance
Bagi Keira, Andre adalah sahabat sekaligus pahlawannya. Di titik terendahnya, hanya Andrelah yang setia menemani di sampingnya. Wajar jika benih-benih cinta itu mulai muncul. Sayang, ada orang lain yang sudah mengisi hati Andre. Cowok itu pun tak pernah menganggap Keira lebih dari sekadar sahabat. Hingga suatu hari datanglah Gavin, cowok usil bin aneh yang penuh dengan kejutan. Gavin selalu pu...
Chrisola
1404      887     3     
Romance
Ola dan piala. Sebenarnya sudah tidak asing. Tapi untuk kali ini mungkin akan sedikit berbeda. Piala umum Olimpiade Sains Nasional bidang Matematika. Piala pertama yang diraih sekolah. Sebenarnya dari awal Viola terpilih mewakili SMA Nusa Cendekia, warga sekolah sudah dibuat geger duluan. Pasalnya, ia berhasil menyingkirkan seorang Etma. "Semua karena Papa!" Ola mencuci tangannya lalu membasuh...
Behind Friendship
5169      1591     9     
Romance
Lo harus siap kalau rasa sahabat ini bermetamorfosis jadi cinta. "Kalau gue cinta sama lo? Gue salah? Mencintai seseorang itu kan hak masing masing orang. Termasuk gue yang sekarang cinta sama lo," Tiga cowok most wanted dan dua cewek receh yang tergabung dalam sebuah squad bernama Squad Delight. Sudah menjadi hal biasa jika kakak kelas atau teman seangkatannya meminta nomor pon...