Loading...
Logo TinLit
Read Story - Semesta Berbicara
MENU
About Us  

“Yup, selesai!” Suci menutup risleting ranselnya, puas. Sebagian barang ia tinggalkan di kamar ini, tak cukup ruang.

“Kenapa kamu nggak di sini aja, Ci?” Widuri masih saja membujuk.

“Aku lagi masa ujian, Nek. Supaya fokus,” Suci tersenyum hambar. Masa Anya lagi susah, aku malah enak-enakan di sini, pikirnya. “Lagipula kontrakan harus dirawat. Masih 6 bulan lagi sewanya.”

Widuri menghela napas. “Yaudah, tapi jangan lupa makan. Kalau Nenek kirim makanan, kamu terima, ya.”

“Iya Nek,” Suci tersenyum. “Nanti sesekali aku menginap di sini lagi deh.”

“Perayaan ulang tahun kantormu nanti, kamu berangkat sama Nenek dari sini aja, ya,” Widuri mengingatkan.

Gadis di depannya tertegun, “Memang kapan, Nek?” Bahkan ia baru tahu kabar ini.

“Dua bulan lagi,” Widuri menginformasikan.

“Bisa kok, Nek,” Suci menjanjikan. Saat itu masa ujiannya sudah selesai.

 

-oOo-

 

Surya melihat laporan yang dibawa suruhannya. Seorang pria yang biasa memakai jaket hoodie.

“Kenapa kamu baru bilang kalau Suci pernah dibawa ke UGD gara-gara Anya?” serunya.

Ya karena reaksi anda pasti begini, pikir pria itu. “Maaf, Pak. Saya khawatir Anda bertindak ekstrim.”

 Surya bangkit dari duduknya. “Ini emang nggak bisa dibiarkan. Kita harus—!”

“Pak,” pria itu memotong pelan, “tolong pikirkan perasaan Suci. Dia pasti punya alasan.”

Surya terdiam, menekan amarahnya. “Benar. Kita tunggu aja langkah dia,” ia kembali duduk. “Saya juga mau pantau kantornya itu. Sebentar lagi anniversary perusahaan RumahWaktu, kan?” ia menyeringai. “Tobi, nanti kamu ikut, kamu awasi Suci dari belakang!” komandonya ke pria di balik hoodie.

Pria itu mengangguk mantap. “Siap, Pak!”

 

-oOo-

 

Waktu bekerja di kantor RumahWaktu sudah selesai, sayangnya hujan mengguyur. Di lobi, Suci menatap tirai air yang tak kunjung reda.

“Kapan berhentinya, ya?” gumamnya.

“Sepertinya nggak dalam waktu dekat, Ci,” Fabian mendekat.

Suci lalu teringat payung di pantry. Ia mengambilnya dan kembali ke lobi, lalu menyodorkannya pada Fabian. “Nih, Pak. Pakai aja!”

Mata hijau pria itu membelalak. “Kamu gimana?”

“Aku masih ada kerjaan, duluan aja,” Suci menenangkan sebelum memasuki lagi gedung kantornya.

Fabian tertunduk. Gadis setulus itu jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah, pikirnya, merasa tersentuh dengan kebaikan Suci.

Fabian tidak langsung pergi. Dari lantai dua, Suci melihatnya masih berdiri di tempat meski sudah memegang payung. Ia turun lagi.

“Kok masih di sini?” herannya.

“Nungguin kamu, yuk bareng pakainya!” ajak Fabian.

Suci tercekat sejenak. Jadi sejak tadi dia menungguku?

Ia menatap langit yang semakin gelap. “Boleh deh.”

Mereka berjalan di bawah  satu payung. Fabian merapat agar Suci tertudung. Suci bisa mendengar degup jantungnya sendiri berkejaran dengan rintik hujan. Derai hujan tampak seperti tirai kristal dari langit, mengiringi langkah keduanya.

Saat Fabian menawarkan masuk ke mobilnya, Suci langsung menolak. “Aku cuma nganter.”

“Ayo cepat, hujan ini loh,” nada Fabian memaksa.

Akhirnya Suci masuk juga. Fabian melingkarkan payung dan masuk dari sisi lain.

Mereka kini berdua di mobil. Hujan membuat pemandangan di luar jendela sedikit kabur. Dingin, namun hati Suci menghangat, wajahnya apalagi.

“Nanti kamu tunjukin jalannya ya,” kata Fabian santai.

“Ke mana?” raut gadis itu bingung.

“Ke surga,” Fabian tertawa renyah. “Ya ke rumah kamu lah, aku kan belum tahu.”

“Oh oke,” Suci hanya bisa menjawab singkat, disibukkan dengan debaran hatinya sendiri.

 

Sampai kontrakan, Suci mengucap berterima kasih sebelum berlari kecil ke teras. Ia melambaikan tangan, memandani mobil Fabian yang berlalu. Suci melonjak kegirangan begitu pintu kontrakannya tertutup.

 

-oOo-

 

 

Perayaan besar RumahWaktu digelar malam itu. diadakan di sebuah aula besar yang luas tidak jauh dari lokasi perusahaan. Aula mewah, gaun elegan, dan tamu dari berbagai perusahaan termasuk Widuri, undangan VIP.

Gemerlap lampu pesta berkilauan ketika Suci menggandeng Nyonya Widuri memasuki aula. Semua berhenti sejenak, semua mata terpaku takjub ke arah mereka.

Gaun ungu tua yang dipakai keduanya berbeda gaya, namun sama megahnya. Widuri mengenakan gaun sutra berlengan panjang dengan mutton sleeves. Gaun off shoulder Suci berwarna ungu tua dengan gradasi magenta dan toska. 

“Kok aku kayak unicorn, dilihatin begini,” bisik Suci.

“Berarti desainernya berhasil,” Widuri terkekeh.

“Begitu ya?” Suci berusaha memompa kepercayaan dirinya.

 

Di ruang yang sama, Fabian terperangah menyadari kehadiran Suci. Gadis itu tampak berkilau dengan gaun mengembang gemerlapan. Wajah gadis itu dipulas sangat cantik, hingga Fabian tidak bisa mengalihkan pandangannya. Gadis itu bersinar magis, layaknya aurora borealis di langit Antartika.

Suci? Serius itu Suci? ia memfokuskan penglihatannya lagi, hampir tak percaya. Ia baru sadar mengenakan jas berwarna ungu tua, senada dengan gaun Suci. Kebetulan yang menyenangkan.

Fabian mendekat dengan senyum ramah. “Kamu baru datang?”

Suci mengangguk, terkesima sejenak. Tubuh tegap Fabian dibalut  jas berkelas, membuat pria itu seperti perwujudan pangeran dari buku dongeng.

“Sepertinya ungu jadi warna keberuntungan kita,” Fabian tergelak.

“Kebetulan yang manis,” Suci berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. Fabian tergelak.

Selama acara Fabian terus mendampingi Suci. Sementara di kejauhan Tougo menatap gadis itu dengan tatapan takjub, tak percaya melihat teman masa kecilnya tampak berbeda hari ini, begitu anggun dan bersinar.

“Hei! Ceweknya di sini, matanya malah jelalatan,” Anya yang mengenakan gaun halter neck sutra panjang berwarna pearly white berkilauan bersungut-sungut.

“Iya maaf. Cuma nggak nyangka Suci bisa dandan juga,” Tougo menenangkan keterkejutannya.

Sementara Anya memerasa kalah saing dengan Suci. Bukan cuma Tougo dan Fabian, tapi seisi ruangan sempat terpukau melihat penampilan Suci dengan gaunnya yang memesona. Ia kemudian tersenyum licik, teringat sesuatu.

 

Widuri sibuk menyapa para relasi bisnisnya dari perusahaan lain, sementara Suci sedang berbincang dengan Fabian ketika satu tim perwakilan perusahaan lain memasuki tempat acara.

Mata Suci terbelalak, begitu pula Anya dan Tougo. Surya melangkah masuk bersama para asistennya, ia mengenakan jas biru tua yang sempurna membalut tubuh tegapnya. Beberapa perwakilan perusahaan lain berebut mengulurkan tangan, Surya menjabatnya satu per satu dengan senyum karismatik.

“Kak Surya kenapa di sini?” bisik Suci, panik.

“Mana aku tahu, kan kamu Adiknya,” Fabian membalas, sama bingungnya.

Surya menghampiri Widuri, lalu mereka bersalaman.

“Ibu Widuri, perkenalkan saya Surya, pimpinan perusahaan Klassiek Corporation. Saya mau berterima kasih, selama ini Ibu sudah menjaga adik saya dengan baik,” Surya menunjuk Suci sambil memanggil gadis itu agar mendekat.

“Astaga, jadi Suci adikmu?” Widuri tak ayal terkejut.

“Iya Bu, tapi memang dia ngeyel anaknya, nggak mau dimanjain katanya,” Surya menceritakan.

Sementara Anya dan Tougo yang melihat gerak-gerik mereka dari jauh, heran.

“Tougo, itu siapa? Kenapa terang-terangan banget tunjukin kedekatan ke Suci? Kalau Sugar Daddy-nya, harusnya malu dong!” Anya menanyakan. Tougo tersentak saat berhasil mengenali wajahnya.

“Astaga, itu abangnya Suci, Kak Surya. Pangling,” Tougo baru sadar.

Anya tercengang, “Apa? Jadi Suci…”

Baru Anya mengetahuinya, Surya telah diminta panitia untuk menuju panggung memberi sambutan. Suci semakin tercekat, begitupun Anya.

Surya berdiri gagah di depan mikrofon. “Terima kasih kepada perusahaan RumahWaktu atas undangannya, dan selamat atas hari jadinya yang ke sepuluh tahun. Saya Surya, pemimpin perusahaan Klassiek Corporation, ingin mengucapkan terima kasih juga, selama ini sudah menjaga Adik perempuan saya dengan baik, Suci!” ia menunjuk Suci yang segera menutup wajahnya malu.

Seluruh aula terdiam, kemudian bisik-bisik terdengar. Mereka tidak menyangka, Suci merupakan Adik pemilik perusahaan sebesar Klassiek.co. Kejadian ini mematahkan isu buruk mengenai gadis itu yang beredar di kantor RumahWaktu.

“Apa-apaan ini? Kok kamu nggak kasih tahu, Suci adik pemilik perusahaan?” Anya memarahi Tougo.

“Mana aku tahu, terakhir ketemu usaha keluarganya masih kecil kok,” Tougo menolak disalahkan.

Anya keluar ruangan itu dengan wajah kesal.

Sementara Suci menutup wajahnya malu. Ia bahkan menutup dirinya dengan bersembunyi di belakang tubuh Fabian. Pria kulit putih itu hanya tersenyum maklum.

“Kakak kamu cuma mau orang-orang menghargai kamu,” pria Amsterdam itu berbisik. “Lagipula bagus juga buat meluruskan rumor buruk tentang kamu.”

“Ya tapi aku malu. Aku nggak mau dapat perlakuan berbeda di kantor,” Suci merengut kesal, masih memegang bagian belakang jas Fabian, bersembunyi dari tatapan orang-orang terhadapnya.

Seorang petugas katering lewat membawa nampan minuman. Fabian sepontan mengambil satu dan menyodorkannya. “Minum dulu supaya tenang.”

Dari sudut mata ia melihat kedatangan Anjar di pintu aula. “Aku samperin Anjar dulu ya,” pamitnya sebelum menjauh.

Suci meneguk habis gelas itu. Dari kejauhan, Anya menyeringai.

 

Beberapa menit kemudian, Suci sempoyongan keluar aula. Ia jatuh duduk di sofa sudut ruangan. Kelopak matanya berat, ia memejamkannya, pasrah.

Sosok pria dengan jaket bertudung mengawasidari jarak aman. Ketika melihat Anya datang membawa lima pria tegap, ia menyalakan kamera.

“Bawa dia ke tempat yang gue suruh,” perintah Anya, “setelah itu terserah kalian!”

Anya kembali berjalan dan masuk ke area acara, seolah tidak terjadi apapun. Sementara pria berhoodie tadi langsung menghajar lima pria tegap itu. Perkelahian tidak terelakkan.

Fabian yang tengah mencari-cari Suci, akhirnya keluar area acara dan menemukan gadis itu di antara pria-pria asing yang tumbang. Suci masih terbaring tenang di sofa, tak tersentuh. Pria berhoodie masih berdiri kokoh di dekatnya meski napasnya terengah-engah.

“Cepat amankan Suci, gue yang tangani ini!” suruhnya.

Fabian mengintip sedikit wajah pria itu. “Tobi?”

Sementara Tobi sibuk menelepon seseorang. “Cepat!” ulangnya.

“Oke!” Fabian segera membopong Suci untuk menuju mobilnya, meski tidak yakin harus melakukan apa.

Perlahan ia menaruh Suci di bangku depan. Sesaat ingatannya tentang Akasia muncul, ketika Akasia mabuk seperti ini. Ia mengusir pikirannya itu sambil duduk di bangku pengemudi untuk menjalankan mobilnya.

Saat menyetir, ia teringat aroma dari gelas yang diberikannya untuk Suci minum. Sial, itu whisky! Ia menyalahkan dirinya sendiri.

Ia membawa Suci ke kontrakan gadis itu, tempat yang sama saat ia mengantar pulang gadis itu di waktu hujan. Mobil berhenti tepat di depannya.

Kuncinya mana, ya? Fabian mencari-cari, ketika ia menyadari di charm bracelet yang dikenakan Suci tergantung benda kecil berbentuk kunci.

Fabian terkekeh. “Cewek aneh!” gumamnya, sebelum membuka dulu pintu rumah kontrakannya lebar-lebar. Setelahnya ia membopong Suci masuk, lalu membaringkan di kasurnya perlahan.

Lalu matanya terpaku. Di meja dekat ranjang, layar laptop Suci menyala… dipenuhi foto dirinya.

Fabian terdiam. Debaran tak biasa merambati dadanya, wajahnya memanas. Tak pernah ada wanita mengaguminya sejauh ini, dan ia tersanjung. Rasa asing menyusup lembut ke hatinya. Bukan gairah membara seperti ketertarikannya pada Akasia dulu, melainkan ketenangan yang nyaman.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (7)
  • juliartidewi

    Adik cowokku lulusan IT. Katanya, gajinya dua puluh juta, tapi aku nggak percaya. Soalnya, ada tante2 yg bilang kalo gaji anaknya yg IT 75 juta.

    Comment on chapter 15. Menunjukkan Taji
  • juliartidewi

    Adik perempuan saya juga lulusan arsitek.

    Comment on chapter 14. Perjalanan
  • juliartidewi

    I just remember when I was in university, I met a Dutch man. I thought he was one of my lecturers in English Language Study Program. I asked him a question. He said, "Aku ki wong Londo."

    Comment on chapter 13. Rumah II
  • papah.al

    Menarik
    Selalu penasaran kedepannya

    Comment on chapter Prolog
  • baba

    Ceritanya mindblowing ya ..

    Comment on chapter 6. Semut pun Bisa Menggigit
  • guardian angel

    Prolognya menarik.

    Comment on chapter Prolog
  • guardian angel

    Mulai seru... hacker perempuan keren bgt!

    Comment on chapter 1. Kekecewaan Menghentak
Similar Tags
Premium
Sepasang Mata di Balik Sakura (Complete)
15759      2595     0     
Romance
Dosakah Aku... Jika aku menyukai seorang lelaki yang tak seiman denganku? Dosakah Aku... Jika aku mencintai seorang lelaki yang bahkan tak pernah mengenal-Mu? Jika benar ini dosa... Mengapa? Engkau izinkan mata ini bertemu dengannya Mengapa? Engkau izinkan jantung ini menderu dengan kerasnya Mengapa? Engkau izinkan darah ini mengalir dengan kencangnya Mengapa? Kau biarkan cinta ini da...
Ketika Kita Berdua
41350      7171     38     
Romance
Raya, seorang penulis yang telah puluhan kali ditolak naskahnya oleh penerbit, tiba-tiba mendapat tawaran menulis buku dengan tenggat waktu 3 bulan dari penerbit baru yang dipimpin oleh Aldo, dengan syarat dirinya harus fokus pada proyek ini dan tinggal sementara di mess kantor penerbitan. Dia harus meninggalkan bisnis miliknya dan melupakan perasaannya pada Radit yang ketahuan bermesraan dengan ...
Loading 98%
691      434     4     
Romance
Alex : He's Mine
2741      1133     6     
Romance
Kisah pemuda tampan, cerdas, goodboy, disiplin bertemu dengan adik kelas, tepatnya siswi baru yang pecicilan, manja, pemaksa, cerdas, dan cantik.
My Doctor My Soulmate
196      177     1     
Romance
Fazillah Humaira seorang perawat yang bekerja disalah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan. Fazillah atau akrab disapa Zilla merupakan seorang anak dari Kyai di Pondok Pesantren yang ada di Purwakarta. Zilla bertugas diruang operasi dan mengharuskan dirinya bertemu oleh salah satu dokter tampan yang ia kagumi. Sayangnya dokter tersebut sudah memiliki calon. Berhasilkan Fazillah menaklukkan...
LUCID DREAM
640      467     2     
Short Story
aku mengalami lucid dream, pada saat aku tidur dengan keadaan tidak sadar tapi aku sadar ketika aku sudah berada di dunia alam sadar atau di dunia mimpi. aku bertemu orang yang tidak dikenal, aku menyebutnya dia itu orang misterius karena dia sering hadir di tempat aku berada (di dalam mimpi bukan di luar nyata nya)
ALUSI
10473      2764     3     
Romance
Banyak orang memberikan identitas "bodoh" pada orang-orang yang rela tidak dicintai balik oleh orang yang mereka cintai. Jika seperti itu adanya lalu, identitas macam apa yang cocok untuk seseorang seperti Nhaya yang tidak hanya rela tidak dicintai, tetapi juga harus berjuang menghidupi orang yang ia cintai? Goblok? Idiot?! Gila?! Pada nyatanya ada banyak alur aneh tentang cinta yang t...
Katakan saja!!
221      205     1     
Short Story
Gadis yg menyukai seorang lelaki namun tidak berani mengungkapkan perasaan ny karna dia laki-laki yg sangat lah disukai oleh banyak wanita.namun tak disangka laki-laki ini juga menyukai gadis in karna dia sangat lah berbeda dengan gadis yg selama ini di kenal Hari hari mereka jalani dengan canggung. Dan akhirnya laki laki ini mengungkap kan isi hatinya pada gadis ituu. Bagaimana kisah ny ayo ba...
The Snow That Slowly Melts
6278      3119     6     
Romance
Musim salju selalu membuat Minhyuk melarikan diri ke negara tropis. Ingatan-ingatan buruk di musim salju 5 tahun yang lalu, membuatnya tidak nyaman di musim salju. Sudah 5 tahun berlalu, Minhyuk selalu sendirian pergi ke negara tropis sambil menunggu musim salju di Korea selesai. Setidaknya itu yang selalu ia lakukan, sampai tahun ini secara kebetulan dia mengenal seorang dokter fellow yang b...
ISTRI DADAKAN
835      555     3     
Romance
Orang sering bertanya, kapan aku akan menikah. kujawab "Sudah." Kupikir ini selesai saat orangtuaku ingin tahu bagaimana sih bentuk isteriku itu. Kujawab "Iya, nanti Mam," aku kelimpungan sendiri. ditanya sejak kapan kujawab saja setahun yang lalu. Eh gak tahunya KTP dimintain sebagai tanda bukti. Kubilang saja masih proses. Sialnya lagi karena aku belum menikah ayah mengaju...