Loading...
Logo TinLit
Read Story - Solita Residen
MENU
About Us  

Aku tak tahu bagaimana caranya aku sampai di sini—di dalam kenangan yang bukan sepenuhnya milikku.

Semua terasa nyata, tapi tak dapat kusentuh. Seperti berjalan di dalam air yang tidak membasahi kulit. Dunia ini lembut, bisu, dan memutar satu adegan: sungai kecil yang menjadi saksi masa kecilku.

Tapi kali ini, aku bukan diriku sendiri.

Aku... melihat sebagai dia.

Sebagai wanita itu.

Aku berdiri di tepi sungai yang asing namun akrab. Airnya jernih, batu-batunya membentuk lintasan kecil di mana lumut tumbuh tipis. Burung-burung berkicau, langit memutih oleh cahaya pagi yang lembut.

Di seberang sungai, dua anak bermain—aku sendiri, dan Ethan kecil.

Aku tahu ini bukan mimpi. Ini kenangan. Bukan sepenuhnya milikku, tapi aku bisa merasakan hangatnya air, tawa Ethan, bahkan bau tanah basah yang terseret angin.

Tiba-tiba, suasana berubah. Langit meredup.

Ethan kecil menunjuk ke arah sela batu besar yang menjorok ke sungai, tempat kami dulu menemukan kalung giok itu. Kami berdua berjongkok, menggali di antara lumut dan kerikil, dan...

Kalung itu muncul—bersinar samar, seperti menunggu ditemukan.

Tapi kali ini, aku melihat sesuatu yang tak pernah kusadari sebelumnya:

Tangan putih pucat, nyaris tak terlihat di bawah arus sungai, menjulur pelan, lalu menghilang begitu kalung itu terangkat.

Dan kemudian… peristiwa itu mulai terulang.

Air tiba-tiba meluap. Deras, dingin, dan datang tanpa peringatan. Aku kecil terpeleset, tubuhku terbawa arus, terseret ke bagian sungai yang lebih dalam. Aku berteriak. Ethan memanggil namaku panik, lalu lari ke arah pelayan.

Aku kecil berusaha menggapai apa pun—batu, ranting, apa saja. Tapi tiba-tiba…

Ada tangan lain.

Bukan Ethan.

Seorang anak laki-laki—mirip Ethan, tapi bukan dia. Matanya sedikit lebih gelap, dan ekspresi wajahnya… aneh. Tenang, tapi penuh kekhawatiran. Ia tak bicara, hanya memandang, lalu menjulurkan tangan.

Ia berusaha menarikku. Tapi tangannya tak bisa menyentuh kulitku. Dunia kami berbeda.

Ia lalu menoleh. Melihat ke arah pemuda yang sedang memancing di hulu sungai.

Dan ia berteriak.

“Tolong dia!”

Pemuda itu tersentak. Seperti baru sadar ada suara. Ia menoleh, panik, lalu melihat tubuh kecilku yang nyaris tak terlihat di antara pusaran arus. Ia melemparkan tongkat bambu ke sungai, dan entah bagaimana—tanganku berhasil menggenggamnya.

Bukan karena aku melihat bambu itu. Tapi karena tangan anak laki-laki itu membimbingku.

Tubuhku terseret ke tepian. Nafasku berat. Pemuda itu menepuk-nepuk punggungku, berusaha mengeluarkan air yang sempat kutelan. Lalu dengan sigap menggendong tubuh basahku ke klinik.

***

Aku—masih dalam tubuh wanita itu—melangkah ke tepi sungai. Langkah-langkahku tidak mengusik rumput, tidak meninggalkan jejak. Tapi ada kehadiran di sana. Ada waktu yang membeku di antara bebatuan.

“Kalung itu,” bisiknya lirih di telingaku, “seharusnya kujadikan jimat untuk anakku. Tapi hari itu... aku kehilangan kesempatan. Aku kehilangan semuanya.”

Aku menggenggam liontin giok yang kini tergantung di leherku. Batu itu berdenyut perlahan, seperti merespons ingatan yang baru saja dibuka kembali.

Wanita itu berdiri di sisiku, gaunnya melambai tertiup angin tak kasatmata. Matanya basah, tapi senyumnya lembut.

“Terima kasih... telah melihat dia.”
“Kebanyakan orang hanya mencari cahaya. Tapi kau... kau tak takut pada bayangan.”

Lalu, perlahan, dunia kenangan itu mulai memudar.

Sungai memucat.

Angin berhenti.

Wanita itu menyentuh dahiku, seperti seorang ibu memberkati anaknya sebelum tidur. Dan sebelum semuanya menjadi gelap, aku mendengar suaranya sekali lagi:

“Temukan kuncinya... dan bawa dia pulang.”

Lalu dunia kenangan kembali bergetar.

Gambaran sungai memudar. Cahaya giok membias. Waktu meremas dirinya keluar dari pusaran memori, dan aku terbangun dengan napas tersengal di atas kasur.

Tanganku masih menggenggam kalung giok. Dan di balik tirai kamarku, suara kecil terdengar lagi.

“Orang yang membawaku ke sini memanggilku… Mari,” bisiknya.

***

Pagi datang dengan langit yang kelabu. Rumah Pakde Raka masih sepi. Ibu belum pulang dari rumah sakit, dan anak-anak masih tertidur di kamar. Di luar, daun randu berjatuhan pelan satu per satu. Sunyi. Tapi pikiranku berisik.

Aku duduk di lantai ruang tengah, memandangi kalung giok yang masih menggantung di leherku. Kilau emeraldnya tidak sekuat tadi malam, tapi aku tahu—energi di dalamnya belum benar-benar padam.

Semua terasa seperti serpihan yang belum selesai kusatukan. Tapi satu nama terus berputar di benakku: Mari.

Dan tiba-tiba, aku teringat sesuatu.

***

Aku membuka koper besar yang kubawa dari Temanggung, yang kini diletakkan di pojok ruang tamu. Di bawah tumpukan map plastik dan fotokopi artikel lama, kutemukan satu bundel berisi dokumen hasil penyelidikan awal kami—aku, Lintang, dan Dira. Kami menyebutnya "fase penelusuran awal tentang Ethan", sebelum semuanya menjadi terlalu personal.

Kertas-kertas itu sudah mulai menguning, ujungnya lecek. Beberapa berkas sudah lama tak kusentuh. Tapi saat kubuka satu folder berlabel "Jejak Riwayat Non-Resmi", aku langsung melihat nama itu.

Dalam catatan liburan keluarga Van der Maes di Cisarua, disebutkan bahwa:

“seorang pelayan bernama Mari kerap mendampingi Daniel saat masa pemulihan.”

Daniel. Anak yang selamat dari kecelakaan. Anak yang disebut punya “donor internal”. Anak yang harusnya satu-satunya.

Tapi tidak mungkin semuanya sesederhana itu.

Dan kemudian aku menemukan satu halaman yang dipindai Dira dari memo internal rumah sakit keluarga.

Hanya sebagian yang terbaca—scannernya terlalu tua, kertas aslinya lembap dan rusak. Tapi kalimat-kalimat yang muncul seperti pecahan ledakan kecil di dadaku:

“Subjek paling menjanjikan menunjukkan stabilitas emosi saat dipisahkan dari donor utama.”

“...protokol pendampingan spiritual telah dicoba melalui unit eksternal: caregiver 'M'...”

“Anak donor biologis harus tetap tidak dicatat secara sipil. Statusnya hanya tersimpan dalam lini eksklusif arsip rumah tangga.”

Tangan dan tengkukku mulai dingin. Tapi aku terus mencari.

***

Di dalam kotak arsip linen rumah sakit—yang dulu ditemukan Lintang saat ia tanpa sengaja menyortir logistik donasi lama dari rumah keluarga Van der Maes—terselip satu benda yang waktu itu kami anggap tidak penting:

Pakaian bayi kecil berwarna abu-abu, bersih tapi lusuh. Ukuran yang sama dengan milik Daniel. Dan di bagian labelnya tertulis:
“Objek Cadangan #04.”

Kami dulu mengira itu hanya sandi logistik. Tapi sekarang aku punya hipotesis baru: mereka memberi nomor pada anak-anak.

Dan #04… bisa jadi anak yang wajahnya masih kabur dalam mimpiku.

Anak yang wajahnya mirip Ethan, tapi tak pernah dipanggil namanya.

***

Aku menyandarkan tubuh ke kursi kayu tua, jantungku berdegup tak teratur. Kupikir dulu ini semua hanya misteri supranatural. Tapi ternyata, ada tangan manusia yang ikut membentuknya. Dengan eksperimen. Dengan sistem. Dengan penghilangan.

Dan Pakde Raka...

Aku kembali membuka salah satu album foto lawas—yang halaman-halamannya sudah pernah kulihat. Tapi kali ini aku melihatnya dengan mata berbeda. Di foto KKN tahun 1981 itu, Pakde duduk di bangku plastik, memegang alat tensimeter. Di sebelahnya, seorang wanita muda berambut hitam gelombang, dengan kulit legam dan sorot mata yang tajam.

Di lehernya... kalung giok.

Aku menatap lama. Lalu membalik foto itu.

Ada tulisan tangan samar dengan tinta spidol tua:

“KKN – Klinik Cisarua. Dosen: Dr. Rachman. Koordinator lapangan: Raka.
Subjek pendampingan: Mari (non-lokal, klasifikasi suksesor).”

Suksesor.

Aku membacanya berkali-kali.

Mereka tak pernah menulisnya sebagai pelayan. Mari bukan sekadar pengasuh. Ia adalah bagian dari program, mungkin eksperimen, atau... penyelamatan. Tapi entah menyelamatkan siapa.

Daniel?

Atau anak keempat yang tak pernah tercatat?

Atau... dirinya sendiri?

Dan jika Mari adalah bagian dari program itu—lalu menghilang begitu saja—mungkin ia bukan hanya korban. Tapi saksi. Atau lebih dari itu... ibu dari kebenaran yang selama ini disembunyikan.

***

Di luar, angin mulai berembus pelan.

Aku menatap kalung itu.

Lalu menghela napas, dan berbisik pada diri sendiri:

“Kalau aku tidak mencari beliau... siapa lagi?”

Aku menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya mengetik pesan kepada Dr. Sora.

“Dok, saya Rembulan. Boleh minta waktu sebentar? Ada hal penting yang ingin saya tanyakan langsung.”

Kupikir beliau akan lama membalas. Tapi tak sampai lima menit, layar ponsel menyala. Balasannya singkat:

“Bisa. Datang ke ruang praktik besok jam 10 pagi, ya.”

Aku menggenggam ponsel itu lebih erat dari seharusnya.

Ada banyak pertanyaan yang ingin kulemparkan saat ini juga. Tapi aku tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk menyampaikannya lewat teks. Aku ingin menatap matanya ketika kutanya: siapa sebenarnya anak itu?

Di luar, matahari sudah mulai turun ke barat. Suara serangga mulai mengambil alih halaman rumah, dan bayangan pohon randu memanjang ke lantai seperti tirai masa lalu yang belum ditutup.

Besok, mungkin aku akan mendapat jawaban.

Tapi malam ini, aku harus berani menghadapi yang belum selesai.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Bunga Hortensia
2449      677     0     
Mystery
Nathaniel adalah laki-laki penyendiri. Ia lebih suka aroma buku di perpustakaan ketimbang teman perempuan di sekolahnya. Tapi suatu waktu, ada gadis aneh masuk ke dalam lingkarannya yang tenang itu. Gadis yang sulit dikendalikan, memaksanya ini dan itu, maniak misteri dan teka-teki, yang menurut Nate itu tidak penting. Namun kemudian, ketika mereka sudah bisa menerima satu sama lain dan mulai m...
Sweet Seventeen
6775      3654     4     
Romance
Karianna Grizelle, mantan artis cilik yang jadi selebgram dengan followers jutaan di usia 17 tahun. Karianna harus menyeimbangkan antara sekolah dan karier. Di satu sisi, Anna ingin melewati masa remaja seperti remaja normal lainnya, tapi sang ibu sekaligus manajernya terus menyuruhnya bekerja agar bisa menjadi aktris ternama. Untung ada Ansel, sahabat sejak kecil yang selalu menemani dan membuat...
Catatan Takdirku
4039      2078     6     
Humor
Seorang pemuda yang menjaladi hidupnya dengan santai, terlalu santai. Mengira semuanya akan baik-baik saja, ia mengambil keputusan sembarangan, tanpa pertimbangan dan rencana. sampai suatu hari dirinya terbangun di masa depan ketika dia sudah dewasa. Ternyata masa depan yang ia kira akan baik-baik saja hanya dengan menjalaninya berbeda jauh dari dugaannya. Ia terbangun sebegai pengamen. Dan i...
Lepas SKS
548      473     0     
Inspirational
Kadang, yang buat kita lelah bukan hidup tapi standar orang lain. Julie, beauty & fashion influencer yang selalu tampil flawless, tiba-tiba viral karena video mabuk yang bahkan dia sendiri tidak ingat pernah terjadi. Dalam hitungan jam, hidupnya ambruk: kontrak kerja putus, pacar menghilang, dan yang paling menyakitkan Skor Kredit Sosial (SKS) miliknya anjlok. Dari apartemen mewah ke flat ...
Dalam Satu Ruang
478      396     2     
Inspirational
Dalam Satu Ruang kita akan mengikuti cerita Kalila—Seorang gadis SMA yang ditugaskan oleh guru BKnya untuk menjalankan suatu program. Bersama ketiga temannya, Kalila akan melalui suka duka selama menjadi konselor sebaya dan juga kejadian-kejadian yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Langit Tak Selalu Biru
243      212     4     
Inspirational
Biru dan Senja adalah kembar identik yang tidak bisa dibedakan, hanya keluarga yang tahu kalau Biru memiliki tanda lahir seperti awan berwarna kecoklatan di pipi kanannya, sedangkan Senja hanya memiliki tahi lalat kecil di pipi dekat hidung. Suatu ketika Senja meminta Biru untuk menutupi tanda lahirnya dan bertukar posisi menjadi dirinya. Biru tidak tahu kalau permintaan Senja adalah permintaan...
Da Capo al Fine
1236      954     5     
Romance
Bagaimana jika kau bisa mengulang waktu? Maukah kau mengulangi kehidupanmu dari awal? Atau kau lebih memilih tetap pada akhir yang tragis? Meski itu berarti kematian orang yang kau sayangi? Da Capo al Fine = Dari awal sampai akhir
Perjalanan Tanpa Peta
209      187     1     
Inspirational
Abayomi, aktif di sosial media dengan kata-kata mutiaranya dan memiliki cukup banyak penggemar. Setelah lulus sekolah, Abayomi tak mampu menentukan pilihan hidupnya, dia kehilangan arah. Hingga sebuah event menggiurkan, berlalu lalang di sosial medianya. Abayomi tertarik dan pergi ke luar kota untuk mengikutinya. Akan tetapi, ekspektasinya tak mampu menampung realita. Ada berbagai macam k...
Jadi Diri Sendiri Itu Capek, Tapi Lucu
14819      5525     7     
Humor
Jadi Diri Sendiri Itu Capek, Tapi Lucu Buku ini adalah pelukan hangat sekaligus lelucon internal untuk semua orang yang pernah duduk di pojok kamar, nanya ke diri sendiri: Aku ini siapa, sih? atau lebih parah: Kenapa aku begini banget ya? Lewat 47 bab pendek yang renyah tapi penuh makna, buku ini mengajak kamu untuk tertawa di tengah overthinking, menghela napas saat hidup rasanya terlalu pad...
FaraDigma
7417      2791     1     
Romance
Digma, atlet taekwondo terbaik di sekolah, siap menghadapi segala risiko untuk membalas dendam sahabatnya. Dia rela menjadi korban bully Gery dan gengnya-dicaci maki, dihina, bahkan dipukuli di depan umum-semata-mata untuk mengumpulkan bukti kejahatan mereka. Namun, misi Digma berubah total saat Fara, gadis pemalu yang juga Ketua Patroli Keamanan Sekolah, tiba-tiba membela dia. Kekacauan tak terh...