Loading...
Logo TinLit
Read Story - Solita Residen
MENU
About Us  

Ketika aku membuka mata, ruangan terasa terapung di antara lampu kuning temaram dan bayangan pohon flamboyan yang memantul di dinding. Suara detak jam tua bergema di ruangan, menandai setiap detik dalam kesunyian yang menyesakkan. Cahaya senja menari di dinding, membelah bayangan panjang yang menunggu untuk disibak.

Tubuhku terbaring di sebuah ranjang antik, selimut tebal melindungi sampai lututku. Otot-otot leherku terasa kaku, dan pikiranku tercekat di antara ingatan yang terguncang. Di sampingku, seorang wanita tua duduk, rambut peraknya disanggul rapi, pipinya keriput menandai garis hidup yang panjang. Ia menatapku lembut, mata hijaunya—seperti daun pinus yang basah—penuh pemahaman.

Dia menggendongku dari kamar kecil Ethan setelah menemukan aku pingsan—tanganku masih menggenggam mainan kayu berinisial “E”.

“Kamu sudah bangun, Nak? Aku menemukanmu tergeletak sendirian di rumah tua itu, jadi aku membawamu ke sini. Ini rumahku,” jelasnya dengan lembut.

“Kamu anak itu, ya? Yang dulu selalu bareng Ethan...” katanya pelan, terlalu pelan hingga hampir tenggelam di antara ocehan serangga. Tangannya terampil menuangkan teh jahe dan menyodorkannya dengan gerakan lambat, hati-hati.

Jantungku melonjak. Aku mencoba menjawab, tapi kata-kataku terjebak di kerongkongan. Nafasku mulai tersengal, tubuhku menggigil tanpa sebab yang jelas. Kesadaranku masih samar, dan ketakutan mulai menyusup. Mainan kayu di genggamanku bergeser, tapi aku tidak bisa melepaskannya — seolah benda itu satu-satunya jangkar yang membuatku tetap di dunia nyata.

Aku menunduk, kepala berdenyut.

"Tidak mungkin... Ethan itu hanya imajinasiku. Ethan tidak nyata. Aku pernah didiagnosis skizofrenia karena dia. Semua orang bilang dia tidak nyata," suaraku pecah, panik. "Dia cuma imajinasiku... dia cuma... dia cuma..."

Tanganku yang menggenggam cangkir teh gemetar hebat, lalu tanpa sengaja menjatuhkannya ke lantai. Bunyi pecahannya menggema seperti suara peluru. Napasku makin cepat, peluh dingin mengalir di pelipis. Aku ingin berteriak, namun mulutku membeku. Mainan kayu di tanganku mencengkeram begitu kuat hingga kukuku menekan telapak, meninggalkan bekas merah.

Tubuhku mulai bergetar hebat. Nafasku putus-putus, pandanganku mulai kabur, seakan ruangan ini melengkung, berputar perlahan. Dinding terasa mendekat. Suara jam tua menggema semakin keras, menusuk. Aku memejamkan mata, menutup telinga, berusaha melawan suara-suara yang mulai bermunculan lagi.

Ibu Rita buru-buru mendekat. Ia meraih kedua tanganku yang gemetar, memelukku erat seperti seorang ibu memeluk anaknya yang ketakutan.

"Sstt... tarik napas, Nak. Tarik napas pelan... seperti ini... ya, begitu. Dengarkan Ibu... Ini bukan salahmu. Kamu aman di sini." bisiknya sambil mengusap tengkuk dan punggungku dengan gerakan lembut dan mantap. Aromanya seperti melati tua dan kayu manis.

Tangannya menyentuh pundakku, ringan tapi penuh keyakinan. Ia menyelimuti tubuhku lebih erat, lalu merengkuh kepala dan membiarkanku bersandar di bahunya. Aku menangis tanpa suara.

“Nak, aku tahu rasanya bingung. Aku tahu kamu merasa semuanya salah. Aku paham, setelah semua yang terjadi padamu, mustahil kamu akan baik-baik saja. Sekarang istirahatlah. Kau boleh percaya atau tidak, tapi Ethan benar-benar ada. Rumah itu... menyimpan lebih banyak daripada yang terlihat.”

"Tapi kamu tidak sendiri. Ethan ada. Aku tahu dia ada. Aku yang dulu mengasuhnya, Nak. Aku melihat kalian bermain. Aku mendengar tawa kalian. Kamu tidak gila... "

Ibu Rita membaringkanku, menarik selimut hingga ke dagu, lalu mengusap lembut pucuk kepalaku. Sebelum pintu benar-benar tertutup, ia melirik ke arahku dengan senyum teduh yang membingungkan. Meninggalkanku dengan semua pertanyaan yang tak bisa kuungkapkan.

***

Malam di rumah Ibu Rita terasa panjang. Denting jam dinding tua mengisi kesunyian, bergema di antara bayang-bayang ingatan yang kini berusaha keluar dari kegelapan. Mainan kayu di genggamanku belum juga terlepas, dan wajah anak laki-laki itu, Ethan, terasa semakin familier, meski tetap seperti teka-teki yang belum utuh.

Saat akhirnya aku tertidur, mimpi datang seperti gelombang pasang.

Dalam mimpiku, aku kembali menjadi anak kecil. Aku berlari di antara padang ilalang, cahaya sore keemasan membasahi kulitku. Di kejauhan, terdengar suara tawa—milikku dan Ethan. Kami menyusun lingkaran bunga liar menjadi kebun kecil rahasia di balik lereng bukit. Dunia kami kecil, hangat, dan tak tersentuh waktu.

Namun mimpi itu berubah dengan cepat. Langit mendung, warna ilalang memudar, udara menjadi berat. Aku menyaksikan diriku terjatuh ke sungai, terbawa arus deras seperti yang pernah aku alami dulu. Tapi kali ini, aku bisa melihat Ethan berdiri di tepian, memandangku dengan panik, berteriak, berusaha menjangkauku meski tubuhnya seperti ditahan sesuatu tak kasatmata. Ia menangis, memanggil namaku, namun seolah tak bisa maju.

Di sisi lain penglihatanku, Ethan lain terlihat tak bergerak. Matanya dingin. Tidak ada tangis atau kepanikan. Ia hanya berdiri di sana, menyaksikanku tenggelam, seolah memilih untuk tidak menolong. Aku mencoba memanggil namanya, tapi suaraku tenggelam dalam derasnya arus. Ethan tetap diam, lalu perlahan berbalik pergi, meninggalkanku dalam ketakutan.

Dalam kebingungan aku berlari mengikutinya hingga ke rumah tua—versi lamanya, yang lebih suram dan dingin. Lorong-lorongnya panjang, gelap, dan sepi. Di ujung lorong, aku melihat seorang anak berdiri.

Ethan.

Tapi dia mengenakan pakaian yang berbeda—baju putih, celana pendek abu-abu seperti anak sekolah tahun 80-an. Rambutnya rapi, tapi matanya... hampa. Dia membanting mobil mainan ke lantai, pecah. Kemudian mengambil bingkai foto dan melemparkannya ke tembok. Pecah. Ia terus menghancurkan benda-benda di sekitarnya. Aku memanggilnya, tapi ia tidak menjawab. Wajahnya gelap, gerakannya kasar.

Tiba-tiba, dari sisi lain ruangan muncul Ethan lain—dengan wajah yang sama, tapi tubuh lebih hangat. Dia menatapku dengan mata penuh cemas. “Jangan dekat-dekat dia... itu bukan aku,” katanya. “Itu sisa... ingatan yang dikurung rumah ini. Aku... aku dulu juga takut padanya.”

Anak yang marah itu menatapku, tersenyum bengkok, lalu berbisik pelan,
"Kamu yang membuatnya pergi..." sebelum menghilang bersama gelap yang melahap ruang.

Aku menjerit tanpa suara. Ruangan berputar cepat. Mainan kayu melayang di udara, pintu terbuka dan tertutup sendiri. Segalanya kabur, dan sebelum semuanya runtuh, suara Ibu Rita menggema samar dalam pikiranku, seperti gema dari dunia nyata.

***

Aku terbangun dengan peluh membasahi pelipis. Nafasku terengah, dan dadaku dicekam rasa kehilangan yang menyakitkan. Air mata mengalir tanpa izin. Tubuhku gemetar.

Potongan mimpi itu terasa... terlalu nyata. Terlalu familier.

“Aku pernah ke rumah itu... aku pernah melihat dia. Dua versi Ethan. Dua sisi dari sesuatu...” bisikku pada diriku sendiri. Mainan kayu di tanganku masih utuh, tapi kini terasa berat seperti batu nisan.

Aku mulai sadar: potongan-potongan itu bukan hanya mimpi.

Mereka adalah ingatan rumah tua itu. Rumah yang menyimpan ingatan lebih banyak daripada manusia yang pernah tinggal di dalamnya. Dan aku... bagian dari mereka.

Kini, saat malam perlahan surut dan suara burung pertama mulai bersenandung dari kejauhan, aku tahu satu hal dengan pasti: aku harus menemukan kebenaran tentang Ethan. Tentang rumah itu. Tentang diriku sendiri. Karena mungkin, di balik semua kehilangan ini, masih ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang menunggu untuk ditemukan.

***

Hari berikutnya, Ibu Rita mengajakku kembali ke rumah tua itu. Kami berjalan menyusuri halaman belakang rumah besar itu. Aku berhenti melangkah saat melihat pohon flamboyan besar yang bunganya mulai berguguran. Pohon itu masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya, hanya sedikit lebih besar. Ada bangku yang terbuat dari batu di bawahnya.

Aku duduk membatu di bangku batu itu. Udara pagi pegunungan begitu segar, tapi rasanya seperti tak bisa menembus dadaku yang sesak. Pohon flamboyan di atas kepalaku menggugurkan kelopak merah-oranye, menari pelan sebelum jatuh ke tanah, seolah ikut meratapi kebingungan yang menggumpal di dalam benakku. Jemariku masih memegang mainan kayu itu—huruf “E” yang terasa begitu ringan, namun menggenggamnya seakan menyeretku ke dasar kenangan yang tak pernah kuizinkan muncul kembali.

Ethan.

Namanya menggema di kepalaku, berkali-kali, seperti gema suara di lorong yang panjang dan gelap. Aku menggumamkan namanya dengan bibir nyaris tak terbuka, mencoba mendengarnya keluar dari diriku, mencoba merasakan apakah ada sesuatu yang nyata dari bunyi itu. Tapi tetap saja, rasanya seperti menyebut nama yang bukan milik siapa-siapa. Dan itu membuatku ketakutan.

Apakah dia nyata?

Aku dulu yakin tidak. Dunia meyakinkanku bahwa ia hanya figmen imajinasiku, manifestasi dari trauma atau kebutuhan akan sosok teman yang tak pernah kupunya. Sejak remaja, aku diajari bahwa Ethan adalah halusinasi. Diajari bahwa berbicara dengannya adalah penyakit. Diajari bahwa melihatnya—merasa kehadirannya—adalah bentuk kegilaan.

Tapi sekarang?

Sesuatu dalam diriku mulai runtuh. Bukan hanya karena aku terbangun di rumah seorang perempuan asing yang tahu siapa aku. Bukan hanya karena ia mengenali Ethan, dan berbicara tentangnya seolah ia adalah anak sungguhan yang pernah hidup. Tapi karena mimpi itu.

Mimpi yang terlalu nyata.

Aku merasakan sungai itu. Dingin airnya. Gemuruh arusnya. Rasa tenggelam yang menyesakkan. Dan matanya—mata Ethan—penuh cemas, penuh duka, saat aku hanyut, tak bisa menjangkaunya. Bagaimana mungkin aku mengingat hal seperti itu jika itu hanya imajinasi? Bagaimana bisa aku merasakan kehilangan begitu dalam terhadap sesuatu yang tak pernah benar-benar ada?

Aku memejamkan mata, berharap semua ini hanya ilusi lain. Tapi semakin aku menolak, semakin kuat ingatan itu mencengkeram. Kenangan datang dalam pecahan kaca: tajam, menyakitkan, memantulkan wajah diriku yang dulu.

Aku melihat anak kecil itu lagi. Aku—berlari di padang ilalang, tertawa tanpa beban, membuat mahkota dari bunga liar. Di sampingku, selalu ada Ethan. Sosok kecil berambut cokelat kusut, wajahnya selalu menengadah ke langit seolah mencari sesuatu yang lebih dari dunia ini. Kami membuat kebun rahasia di balik bukit, menciptakan dunia sendiri, jauh dari pandangan orang dewasa yang menakutkan.

Tapi aku juga ingat saat semua berubah.

Aku ingat ejekan itu. Julukan "anak aneh." Aku ingat tatapan takut dari orang-orang, seolah aku membawa kutukan hanya karena aku sering terlihat bicara sendiri. Dan kemudian hari itu... hari saat aku berdiri di pasar, memanggil Ethan di tengah keramaian. Aku berteriak, memohon, menjerit seperti orang kerasukan. Aku masih ingat ibu menamparku, menutup mulutku sambil menangis, meminta maaf kepada semua orang. Lalu gelap. Rumah sakit. Dokter. Diagnosis.

Skizofrenia.

Kata itu menjadi label yang mengubah segalanya. Mereka bilang semua yang kulihat, kudengar, kurasakan—semuanya bohong. Ethan adalah sakitku. Dan aku, gadis yang dicap gila.

Aku mulai percaya. Karena lebih mudah begitu. Lebih mudah berpura-pura sembuh daripada terus hidup dalam perang antara yang nyata dan tidak nyata. Obat-obatan membantu membungkam suara Ethan. Terapi mengajarkanku bagaimana menyangkal kenangan itu. Dan lambat laun, aku berhenti mencarinya.

Sampai hari ini.

Sampai aku melihat wajah Ibu Rita yang mengenal namaku. Sampai aku mendengar suaranya menyebut Ethan tanpa ragu. Sampai mimpi itu membuka luka lama yang selama ini terkubur di balik pil-pil pahit.

Aku menggeleng perlahan, mencoba menyatukan kembali kepingan logika. Tapi tidak ada logika dalam semua ini. Hanya perasaan aneh yang mengendap, seperti kabut yang menolak menguap. Aku merasa seperti orang yang baru keluar dari gua, silau oleh cahaya kebenaran yang terlalu terang.

Aku pun mencoba mencari pegangan. Membuka ponselku, menyusuri akun-akun media sosial teman-teman lamaku. Mengetik dengan jari gemetar, "Kalian ingat nggak sama Ethan? Anak yang dulu tinggal di atas bukit, yang sering main sama aku?"

Balasannya datang, satu per satu, dan tiap jawaban menusuk lebih dalam dari sebelumnya.

"Nggak, Bulan. Dulu kamu sering main sendiri."

"Ethan? Maksudmu yang katanya sakit-sakitan itu? Tapi aku nggak pernah lihat langsung sih."

"Ibumu emang suka bilang kamu punya temen khayalan waktu kecil, namanya Ethan ya? Aku kira cuma main-main."

Jawaban-jawaban itu seperti palu menghantam dinding rapuh yang baru saja mulai kubangun. Aku menggigit bibir, menahan air mata yang mulai menggenang. Aku ingin marah. Ingin berteriak bahwa mereka salah. Tapi siapa yang bisa kubela? Ethan? Atau diriku yang sudah terlanjur kehilangan batas antara nyata dan khayal?

Tanganku mengusap wajah, peluh dingin menyelimuti tengkuk. Aku merasa seperti kapal tanpa jangkar. Diombang-ambingkan antara dunia yang mengaku rasional dan perasaan dalam diriku yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Dan di tengah badai itu, satu hal yang paling menakutkan bukanlah kenyataan bahwa Ethan mungkin tidak nyata.

Yang paling menakutkan adalah kemungkinan bahwa... aku telah melupakan siapa aku sebenarnya.

Selama ini aku hidup sesuai naskah yang ditulis orang lain—dokter, guru, masyarakat, bahkan ibuku. Aku menghapus bagian diriku yang dianggap rusak. Tapi kini, aku bertanya-tanya: mungkin yang rusak bukan aku, melainkan dunia yang tak pernah bersedia percaya.

Aku menoleh ke dalam rumah. Ibu Rita sedang menyapu lantai teras, rambut peraknya berkibar tertiup angin. Wajahnya tenang, seperti perempuan yang tahu banyak tapi memilih diam.

Aku ingin bertanya padanya lebih banyak. Tentang Ethan. Tentang rumah itu. Tentang siapa aku sebenarnya. Tapi sebagian dari diriku takut—takut akan kebenaran yang mungkin ia simpan.

Atau mungkin, aku hanya takut karena untuk pertama kalinya, aku mulai percaya.

Percaya bahwa dunia ini tidak hanya terdiri dari apa yang bisa dilihat mata.

Percaya bahwa Ethan mungkin nyata, bukan karena orang lain mengakuinya, tapi karena aku mengingatnya.

Dan ingatan itu... terlalu nyata untuk diabaikan.

Tapi fakta bahwa namanya tidak pernah tercatat di dokumen mana pun tetap membuatku ragu. Dan mengapa Ibu Rita tidak pernah membelaku jika dia tahu kami pernah bermain bersama?

Aku menarik napas panjang. Langit mulai berubah warna, cahaya matahari menembus celah daun flamboyan, memantulkan semburat keemasan di bangku batu tempat aku duduk.

Di dada ini, perasaan kehilangan masih menyesakkan. Tapi untuk pertama kalinya, ada juga harapan kecil yang tumbuh. Bahwa mungkin aku belum terlambat. Bahwa mungkin, Ethan masih di luar sana, entah dalam bentuk apa.

Menunggu.

Menunggu aku benar-benar bangun, bukan hanya dari tidur... tapi dari lupa.

Dan kali ini, aku tak ingin memejamkan mata lagi.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
The Unbreakable Love
179      163     0     
Inspirational
Ribuan purnama sudah terlewati dengan banyak perasaan yang lebih berwarna gelap. Dunia berwarna sangat kontras dengan pemandangan di balik kacamataku. Aneh. Satu kalimat yang lebih sering terdengar di telinga ini. Pada akhirnya seringkali lebih sering mengecat jiwa dengan warna berbeda sesuai dengan 'besok akan bertemu siapa'. Di titik tidak lagi tahu warna asli diri, apakah warna hijau atau ...
Switch Career, Switch Life
1489      1083     4     
Inspirational
Kadang kamu harus nyasar dulu, baru bisa menemukan diri sendiri. Therra capek banget berusaha bertahan di tahun ketiganya kerja di dunia Teknik yang bukan pilihannya. Dia pun nekat banting setir ke Digital Marketing, walaupun belum direstui orangtuanya. Perjalanan Therra menemukan dirinya sendiri ternyata penuh lika-liku dan hambatan. Tapi, apakah saat impiannya sudah terwujud ia akan baha...
FAMILY? Apakah ini yang dimaksud keluarga, eyang?
617      476     2     
Inspirational
Kehidupan bahagia Fira di kota runtuh akibat kebangkrutan, membawanya ke rumah kuno Eyang di desa. Berpisah dari orang tua yang merantau dan menghadapi lingkungan baru yang asing, Fira mencari jawaban tentang arti "family" yang dulu terasa pasti. Dalam kehangatan Eyang dan persahabatan tulus dari Anas, Fira menemukan secercah harapan. Namun, kerinduan dan ketidakpastian terus menghantuinya, mendo...
Resonantia
1341      919     1     
Horror
Empat anak yang ‘terbuang’ dalam masyarakat di sekolah ini disatukan dalam satu kamar. Keempatnya memiliki masalah mereka masing-masing yang membuat mereka tersisih dan diabaikan. Di dalam kamar itu, keempatnya saling berbagi pengalaman satu sama lain, mencoba untuk memahami makna hidup, hingga mereka menemukan apa yang mereka cari. Taka, sang anak indigo yang hidupnya hanya dipenuhi dengan ...
Kertas Remuk
552      474     0     
Non Fiction
Tata bukan perempuan istimewa. Tata nya manusia biasa yang banyak salah dalam langkah dan tindakannya. Tata hanya perempuan berjiwa rapuh yang seringkali digoda oleh bencana. Dia bernama Tata, yang tidak ingin diperjelas siapa nama lengkapnya. Dia hanya ingin kehidupan yang seimbang dan selaras sebagaimana mestinya. Tata bukan tak mampu untuk melangkah lebih maju, namun alur cerita itulah yang me...
Pasal 17: Tentang Kita
224      130     1     
Mystery
Kadang, yang membuat manusia kehilangan arah bukanlah lingkungan, melainkan pertanyaan yang tidak terjawab sebagai alasan bertindak. Dan fase itu dimulai saat memasuki usia remaja, fase penuh pembangkangan menuju kedewasaan. Sama seperti Lian, dalam perjalanannya ia menyadari bahwa jawaban tak selalu datang dari orang lain. Lalu apa yang membuatnya bertahan? Lian, remaja mantan narapidana....
Rania: Melebur Trauma, Menyambut Bahagia
524      372     0     
Inspirational
Rania tumbuh dalam bayang-bayang seorang ayah yang otoriter, yang membatasi langkahnya hingga ia tak pernah benar-benar mengenal apa itu cinta. Trauma masa kecil membuatnya menjadi pribadi yang cemas, takut mengambil keputusan, dan merasa tidak layak untuk dicintai. Baginya, pernikahan hanyalah sebuah mimpi yang terlalu mewah untuk diraih. Hingga suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Raihan...
Menjadi Aku
1675      1171     1     
Inspirational
Masa SMA tak pernah benar-benar ramah bagi mereka yang berbeda. Ejekan adalah makanan harian. Pandangan merendahkan jadi teman akrab. Tapi dunia tak pernah tahu, di balik tawa yang dipaksakan dan diam yang panjang, ada luka yang belum sembuh. Tiga sahabat ini tak sedang mencari pujian. Mereka hanya ingin satu halmenjadi aku, tanpa takut, tanpa malu. Namun untuk berdiri sebagai diri sendi...
Loveless
26591      12012     616     
Inspirational
Menjadi anak pertama bukanlah pilihan. Namun, menjadi tulang punggung keluarga merupakan sebuah keharusan. Itulah yang terjadi pada Reinanda Wisnu Dhananjaya. Dia harus bertanggung jawab atas ibu dan adiknya setelah sang ayah tiada. Wisnu tidak hanya dituntut untuk menjadi laki-laki dewasa, tetapi anak yang selalu mengalah, dan kakak yang wajib mengikuti semua keinginan adiknya. Pada awalnya, ...
Selaras Yang Bertepi
3264      1370     0     
Romance
"Kita sengaja dipisahkan oleh waktu, tapi aku takut bilang rindu" Selaras yang bertepi, bermula pada persahabatan Rendra dan Elin. Masa remaja yang berlalu dengan tawa bersembunyi dibalik rasa, saling memperhatikan satu sama lain. Hingga salah satu dari mereka mulai jatuh cinta, Rendra berhasil menyembunyikan perasaan ini diam-diam. Sedangkan Elin jatuh cinta sama orang lain, mengagumi dalam ...