Loading...
Logo TinLit
Read Story - Solita Residen
MENU
About Us  

Langit pagi itu mendung dan lembap—seperti ada sesuatu yang tertahan di udara, menunggu pecah. Udara di dalam mobil terasa pengap meski jendelanya terbuka. Di sampingku, Ibu menggenggam tanganku erat, seolah takut aku menghilang. Aku tak pernah merasa setakut ini sebelumnya. Kami sedang dalam perjalanan ke klinik, beberapa hari setelah malam-malam panjang yang membuatku terjaga dan menangis dalam diam, tak tahu harus mengadu pada siapa.

Aku tak tahu kapan semua ini mulai terasa asing. Seperti ada kabut yang perlahan menyelimuti dunia, membuat segalanya menjadi kabur. Awalnya hanya mimpi—mimpi tentang taman yang tak pernah kulihat, tentang suara-suara yang memanggil namaku dari balik kabut. Lalu suara itu menjadi lebih jelas. Sosok itu... Ethan, temanku sejak kecil, mulai datang kembali. Tapi bukan seperti dulu. Ada yang berubah. Suaranya kadang berbeda, tubuhnya kadang samar, dan matanya... seolah tahu terlalu banyak, seperti bisa melihat apa yang aku tak bisa katakan.

"Aku tidak bisa tidur, Bu," suaraku bergetar malam itu, penuh keputusasaan yang tak bisa kuungkapkan lebih jauh.

Ibu duduk di sampingku, meraih tanganku yang dingin. Tangannya hangat, namun tak cukup menenangkan. "Ibu tahu, Nak. Ibu dengar suara tangisanmu. Tubuhmu gemetar tiap malam, dan kamu bicara sendiri... makin sering. Besok, kita ke klinik paman. Kita cari tahu, ya? Bareng-bareng." Ibu berbicara pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri, bukan hanya aku.

Aku menunduk, lalu mengangguk pelan. Dalam hatiku, Ethan berbisik: "Kau tak perlu takut, Bulan. Aku di sini."

***

Keesokan paginya, di ruang tunggu klinik yang terlalu putih, aku duduk merapat ke Ibu. Mainan-mainan anak tertata rapi di sudut ruangan, tapi tak satu pun menarik bagiku. Semuanya terasa hampa. Aku hanya memikirkan Ethan. Ia tak muncul pagi ini. Mungkin marah. Mungkin sedih karena aku mulai ragu. Tapi suara itu selalu ada, bahkan ketika ia tak muncul di hadapanku.

Dr. Laras adalah wanita paruh baya dengan suara lembut dan rambut disanggul rapi. Senyumnya hangat, tapi ada ketegangan di matanya, seolah ia tahu lebih banyak dari yang aku inginkan. Ia mempersilakan kami duduk di sofa kecil, kemudian membuka berkas yang diserahkan oleh Paman—yang juga seorang dokter di rumah sakit rujukan tempat klinik ini berada. Di sana tertulis ringkasan kejadian: perubahan pola tidur, kecemasan malam hari, percakapan dengan sosok tak terlihat, dan mimpi-mimpi berulang.

Ibu, dengan tangan gemetar, menyerahkan tambahan catatan tulisan tangannya. "Dia sering menyebut nama Ethan, Dok. Tapi kami tidak kenal siapa itu Ethan. Di sekolah pun tak ada yang bernama begitu."

Dr. Laras mengangguk pelan setelah membaca. Ia menoleh padaku, senyumnya tetap tak berubah, tapi ada sorot yang berbeda di matanya. "Selamat pagi, Bulan. Aku ingin dengar langsung dari kamu, ya? Ceritakan tentang Ethan."

Aku menatap ke bawah. Bibirku bergetar, kata-kata terasa sulit untuk keluar. "Dia temanku sejak kecil. Kami suka bermain di taman belakang rumah. Dia selalu datang waktu aku takut. Tapi... sekarang dia berbeda. Kadang cuma muncul di mimpi. Kadang... dia berdiri diam di pojok kamarku."

Dr. Laras mencatat, menatapku dengan perhatian. "Apa yang berbeda dari Ethan sekarang?"

Aku menarik lutut lebih dekat. "Dulu dia tertawa. Sekarang dia hanya diam, matanya kosong. Tapi... dia masih menolongku. Waktu aku jatuh di sungai, aku yakin tangannya yang menarikku. Padahal... tidak ada siapa-siapa di sana."

Dr. Laras bertanya lagi dengan tenang, "Kamu bilang dia sudah berubah... apakah kamu tahu kenapa?"

Aku terdiam. Sekilas ingatan tentang kamar rumah sakit muncul, suara mesin yang berdengung, tangisan ibu, wajah Ethan pucat dan kurus, lalu... hilang begitu saja. Tapi aku tidak tahu apakah itu nyata atau hanya mimpi.

"Kadang aku pikir... dia sudah pergi. Tapi dia selalu kembali."

Dr. Laras mengangguk perlahan, mendengarkan dengan seksama. "Apakah Ethan pernah menyakitimu, Rembulan? Atau membuatmu merasa tidak aman?"

Aku menoleh perlahan, terkejut dengan pertanyaan itu. Seperti angin dingin menerpa wajahku. "Tidak," jawabku cepat. "Dia tidak pernah menyakiti aku. Tapi... kadang dia menatapku terlalu lama. Seperti ingin bilang sesuatu. Tapi tidak bisa."

Dr. Laras mencatat lagi. Lalu ia bertanya tentang hari-hariku di sekolah. "Aku sering sendiri. Teman-teman mengejekku. Mereka tertawa saat aku bicara sendiri. Kadang mereka lempar botol. Mereka bilang aku gila. Aku cuma... berharap Ethan datang. Tapi dia tidak pernah muncul di sekolah."

"Bagaimana perasaanmu saat semua itu terjadi?" tanya Dr. Laras, suaranya lebih lembut kali ini.

Aku menatap jendela, merasa seakan ada jurang besar yang memisahkan aku dari dunia luar. "Kosong. Seperti... duniaku patah. Seperti aku menghilang. Kadang aku berharap aku bisa jadi tidak terlihat selamanya."

Dr. Laras meletakkan catatannya dan menatapku dengan penuh perhatian. "Bulan, aku tahu ini sulit. Tapi ada kemungkinan Ethan—dan hal-hal yang kamu dengar—adalah bagian dari halusinasi. Pikiranmu mencoba melindungimu dengan menciptakan sesuatu yang menenangkan."

"Tidak! Ethan nyata!" seruku spontan, hampir tersentak. "Dia bagian dari aku. Kami... kami punya taman rahasia. Dia yang jaga aku. Dia tahu semua yang aku pikirkan. Bahkan sebelum aku sempat bilang."

Ibu menggenggam tanganku lebih erat, tapi hatiku mulai goyah. Jika Ethan adalah bagian dari pikiranku, lalu siapa yang menarikku dari sungai? Siapa yang bicara padaku saat malam turun dan dunia sunyi?

***

Beberapa hari berikutnya, aku mengikuti tes demi tes. Skala halusinasi untuk anak-anak, tes kepribadian, observasi perilaku, permainan kartu, menggambar, sesi bermain dengan anak-anak lain. Di balik kaca satu arah, mereka mengamatiku. Aku menjawab jujur. Kadang menangis. Kadang merasa tubuhku bukan milikku. Kadang mendengar bisikan-bisikan yang berkata: kembalilah... taman itu masih ada... dia menunggu...

Dalam sesi hasil, Dr. Laras duduk lebih tegak dari biasanya. Di hadapanku dan Ibu, ia menjelaskan pelan: "Rembulan, kamu menunjukkan gejala konsisten dari skizofrenia pada anak-anak atau lebih tepatnya: Childhood-onset Schizophrenia yang baru muncul penuh pada masa remajamu. Ini adalah kondisi langka. Gejala awal muncul sebagai distorsi persepsi: halusinasi pendengaran dan visual, delusi relasional, serta keterikatan emosional yang sangat kuat pada satu figur imajiner—dalam hal ini, Ethan."

Ibu menatapku seperti baru mengenalku kembali. Matanya sembab, seperti hilang arah. "Tapi dia... dari kecil bisa lihat hal-hal aneh. Saya pikir dia... istimewa. Bisa lihat hal-hal yang orang lain nggak bisa."

Dr. Laras mengangguk dengan sabar. "Itu mungkin. Dan saya tidak akan pernah meniadakan pengalaman Rembulan. Tapi jika persepsi itu menetap, tidak fleksibel, dan mengganggu fungsi harian—sekolah, pertemanan, bahkan tidur—maka itu bukan keistimewaan, melainkan gangguan. Kita menyebutnya gangguan persepsi."

Aku menatap lantai, hati bergetar. Suara Ethan terdengar jauh, seperti dari balik kabut. Jangan percaya mereka... mereka ingin aku menghilang lagi...

Aku menggigit bibir, berusaha menahan air mata. "Apakah... aku akan kehilangan Ethan?" tanyaku lirih, suaraku hampir hilang.

Dr. Laras menatapku lembut, tapi matanya serius. "Kami tidak akan mengambil apa pun darimu, Bulan. Kami hanya ingin membantumu membedakan mana yang berasal dari luar, dan mana yang tercipta di dalam. Bukan untuk menghapus Ethan, tapi untuk membuatmu lebih kuat dari ketakutanmu sendiri."

Ibu mengusap punggungku, menggenggam tanganku lebih erat, menatapku dengan mata yang penuh harap. "Kita jalani ini bersama, ya, Nak. Kamu nggak sendirian. Ibu percaya kamu bisa sembuh, seperti dulu lagi."

Aku mengangguk pelan, meski di dalam, aku merasa sesuatu mulai retak. Aku menatap Ibu, merasa sedikit lega dengan kata-katanya, tapi sesuatu di dalam hatiku mulai menyalakan keraguan. Bagaimana bisa sembuh jika apa yang aku rasakan—apa yang aku jalani bersama Ethan—mungkin hanya imajinasi? Apakah itu semua hanya halusinasi?

Aku terdiam, berusaha mencerna kata-kata Ibu, namun di dalam pikiranku, muncul satu pertanyaan yang mengganggu. Jika semuanya hanya halusinasi, apakah kebahagiaanku bersama Ethan juga palsu? Apakah taman rahasia kami, tawa-tawanya yang dulu menghiburku, semua itu hanya ada dalam pikiranku?

Atau... mungkin justru di sanalah letak kenyataanku yang sesungguhnya?

***

Normal. Kata itu melayang-layang di kepalaku. Bukan penghiburan, tapi vonis. Aku ingin bertanya: apakah menjadi aku berarti tidak normal?

Apakah aku pernah bahagia dengan cara yang nyata, atau apakah kebahagiaan itu juga adalah ilusi yang aku buat untuk menghindari kenyataan yang lebih kelam?

Aku tidak tahu. Yang aku tahu, malam nanti... aku akan memanggil Ethan. Dan berharap, meski samar, ia tetap menjawabku—seperti dulu.

Suara Ethan terdengar samar di balik kabut pikiranku, seolah menjawab keraguan itu. "Jangan khawatir, Bulan. Aku selalu ada. Bahkan jika mereka memisahkan kita, aku akan tetap ada di sini."

Aku menggigit bibir, menahan air mata. Ethan... aku ingin percaya padamu, tapi bagaimana aku bisa yakin jika semuanya bisa saja hanyalah bayangan yang tercipta dari ketakutanku sendiri?

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
sulit melupakanmu
433      236     0     
True Story
ini cerita tentang saya yang menyesal karena telah menyia nyiakan orang yang sangat cinta dan sayang kepada saya,dia adalah mantan saya
Perahu Jumpa
1030      737     0     
Inspirational
Jevan hanya memiliki satu impian dalam hidupnya, yaitu membawa sang ayah kembali menghidupkan masa-masa bahagia dengan berlayar, memancing, dan berbahagia sambil menikmati angin laut yang menenangkan. Jevan bahkan tidak memikirkan apapun untuk hatinya sendiri karena baginya, ayahnya adalah yang penting. Sampai pada suatu hari, sebuah kabar dari kampung halaman mengacaukan segala upayanya. Kea...
Langkah yang Tak Diizinkan
749      626     0     
Inspirational
Katanya dunia itu luas. Tapi kenapa aku tak pernah diberi izin untuk melangkah? Sena hidup di rumah yang katanya penuh cinta, tapi nyatanya dipenuhi batas. Ia perempuan, kata ibunya, itu alasan cukup untuk dilarang bermimpi terlalu tinggi. Tapi bagaimana kalau mimpinya justru satu-satunya cara agar ia bisa bernapas? Ia tak punya uang. Tak punya restu. Tapi diam-diam, ia melangkah. Dari k...
Atraksi Manusia
1726      1101     7     
Inspirational
Apakah semua orang mendapatkan peran yang mereka inginkan? atau apakah mereka hanya menjalani peran dengan hati yang hampa?. Kehidupan adalah panggung pertunjukan, tempat narasi yang sudah di tetapkan, menjalani nya suka dan duka. Tak akan ada yang tahu bagaimana cerita ini berlanjut, namun hal yang utama adalah jangan sampai berakhir. Perjalanan Anne menemukan jati diri nya dengan menghidupk...
Ilona : My Spotted Skin
2678      1718     3     
Romance
Kecantikan menjadi satu-satunya hal yang bisa Ilona banggakan. Tapi, wajah cantik dan kulit mulusnya hancur karena psoriasis. Penyakit autoimun itu membuat tubuh dan wajahnya dipenuhi sisik putih yang gatal dan menjijikkan. Dalam waktu singkat, hidup Ilona kacau. Karirnya sebagai artis berantakan. Orang-orang yang dia cintai menjauh. Jumlah pembencinya meningkat tajam. Lalu, apa lagi yang h...
H : HATI SEMUA MAKHLUK MILIK ALLAH
117      104     0     
Romance
Rasa suka dan cinta adalah fitrah setiap manusia.Perasaan itu tidak salah.namun,ia akan salah jika kau biarkan rasa itu tumbuh sesukanya dan memetiknya sebelum kuncupnya mekar. Jadi,pesanku adalah kubur saja rasa itu dalam-dalam.Biarkan hanya Kau dan Allah yang tau.Maka,Kau akan temukan betapa indah skenario Allah.Perasaan yang Kau simpan itu bisa jadi telah merekah indah saat sabarmu Kau luaska...
Aku yang Setenang ini Riuhnya dikepala
112      102     1     
True Story
Jadi Diri Sendiri Itu Capek, Tapi Lucu
18662      6943     7     
Humor
Jadi Diri Sendiri Itu Capek, Tapi Lucu Buku ini adalah pelukan hangat sekaligus lelucon internal untuk semua orang yang pernah duduk di pojok kamar, nanya ke diri sendiri: Aku ini siapa, sih? atau lebih parah: Kenapa aku begini banget ya? Lewat 47 bab pendek yang renyah tapi penuh makna, buku ini mengajak kamu untuk tertawa di tengah overthinking, menghela napas saat hidup rasanya terlalu pad...
May I be Happy?
4314      2139     0     
Inspirational
Mencari arti kebahagian dalam kehidupan yang serba tidak pasti, itulah kehidupan yang dijalani oleh Maya. Maya merupakan seseorang yang pemalu, selalu berada didalam zona nyamannya, takut untuk mengambil keputusan, karena dia merasa keluarganya sendiri tidak menaruh kepercayaan kepada dirinya sejak kecil. Hal itu membuat Maya tumbuh menjadi seperti itu, dia tersiksa memiliki sifat itu sedangka...
Wabi Sabi
2589      1909     2     
Fantasy
Seorang Asisten Dewi, shinigami, siluman rubah, dan kucing luar biasa—mereka terjebak dalam wabi sabi; batas dunia orang hidup dan mati. Sebuah batas yang mengajarkan jika keindahan tidak butuh kesempurnaan untuk tumbuh.