Loading...
Logo TinLit
Read Story - 7°49′S 112°0′E: Titik Nol dari Sebuah Awal yang Besar
MENU
About Us  

Langit mendung menggantung di atas kota Kediri ketika Araka turun dari angkutan umum, mengenakan jaket tua yang tak sepenuhnya menahan dingin. Hatinya gelisah, bukan karena udara atau cuaca, tetapi karena bisikan samar yang sudah berhari-hari mengganggunya. Sebuah panggilan halus di kepalanya—tuntunan dari sesuatu yang tak kasat mata, namun terasa mendesak.

"Sinkronisasi lokasi: 84%. Titik resonansi emosional mendekati maksimal. Prioritas: kunjungi lokasi yang dikenali oleh identitas lama."

Suara ORIGIN menggema dalam pikirannya, tenang namun pasti. Sejak fragmen Spiral Helm pertama dan kedua ditemukan, Araka merasa ORIGIN menjadi semakin kuat, seolah daya ingatnya memberi energi baru pada sistem itu. Dan kini, sistem itu menuntunnya ke satu tempat: SMA Negeri 2 Kediri.

Bayu, yang kini menjadi adik seperjalanannya, sedang bersekolah di sana. Tapi bukan itu alasan Araka datang. Ia berdiri mematung di depan gerbang sekolah, tangannya menyentuh pagar besi yang dingin. Saat jari-jarinya menyentuhnya, kilatan ingatan langsung menyambar.

Koridor dengan lampu temaram. Suara tawa. Sebuah kelas dengan meja yang menghadap ke arah barat, tempat senja paling indah. Dan di atas semuanya—atap sekolah yang penuh bintang.

Ia melangkah pelan, izin masuk sudah diurus Bayu melalui guru sejarah mereka, Bu Wati. Hari itu adalah Sabtu, dan sekolah sepi. Namun bagi Araka, tempat ini hidup. Setiap bayang-bayang memanggilnya pulang.

"Resonansi emosional mendekati maksimum. Aktivasi potensi memori jangka panjang."

ORIGIN kembali bicara saat Araka menaiki tangga menuju lantai tiga. Tangannya menyusuri dinding yang terasa familiar. Sebuah pintu tua bertuliskan: Ekstrakurikuler Astronomi menarik perhatiannya. Ia membuka perlahan. Bau kertas tua dan logam karatan menyambut.

Di dalamnya, rak-rak berisi teleskop rusak, sketsa langit, dan catatan pengamatan. Araka mengambil salah satu map lusuh bertuliskan: PROJECT WATCHTOWER (2015–2017). Tangannya gemetar saat membukanya.

Foto-foto tua. Tiga remaja berdiri di atap sekolah. Salah satunya adalah dia—lebih muda, senyumnya sedikit canggung. Di sampingnya, seorang gadis berambut sebahu tersenyum sambil memegang termos. Rana. Namanya langsung menyayat pikirannya.

"Identitas Rana: mitra observasi, keterikatan emosional signifikan. Memori primer terkunci. Sumber pemicu: lokasi observatorium atap."

Araka menutup map itu perlahan dan menatap tangga menuju atap. Langkah kakinya mantap meski hatinya mulai sesak. Setiap anak tangga membawa beban waktu. Dan ketika ia mendorong pintu besi menuju atap, angin sore menyambut dengan kelembutan yang menyesakkan.

Langit terbuka lebar di atasnya. Mega tipis melayang di antara Venus dan Mars yang mulai muncul. Di pojok atap, di balik menara air, sebuah kubah observatorium kecil masih berdiri—retak, berlumut, namun bertahan.

Ia masuk. Teleskop tua masih di sana. Rak berdebu. Di dinding, coretan tangan remaja tertulis dengan spidol: "Bintang bukan untuk ditaklukkan, tapi untuk dimengerti."

Dan di pojok, di bawah kain usang, sebuah jurnal kulit berinisial R.T. menanti. Araka meraihnya, membukanya perlahan. Halaman pertama membuat napasnya tercekat:

"Untuk Araka, yang selalu percaya bahwa waktu bisa dilipat seperti kertas. Kalau kamu membaca ini... berarti kamu kembali."
—Rana.

Araka berjongkok di lantai atap, menggenggam jurnal itu seolah ingin meremas waktu.

"Proyeksi holografik dapat diaktifkan. Fragmen memori emosional tersedia. Aktivasi?"

Araka mengangguk pelan. Cahaya biru memancar dari liontin di dadanya. Dan dari ruang kosong, muncul bayangan holografis seorang gadis, duduk di tempat yang sama dengan termos dan teh hangat di tangan. Suaranya mengalun, bukan dari masa lalu—tapi dari kenangan yang belum selesai.

"Araka, kalau suatu saat kamu lupa... kembalilah ke langit. Karena di sanalah kita pernah berjanji. Bukan untuk menaklukkan waktu. Tapi untuk menjaganya."

Air mata mengalir di pipi Araka. Bintang-bintang mulai bermunculan. Dan ia tahu, ini baru permulaan.

Bayu berlari kecil menaiki tangga ke atap sekolah, napasnya memburu. Ia mendapat pesan dari ORIGIN yang hanya berisi satu kalimat: "Dia telah kembali ke tempat di mana segalanya dimulai." Hatinya langsung tahu—Araka kembali ke atap itu.

Begitu ia membuka pintu besi tua yang berderit, sosok kakaknya telah berdiri membelakangi, menatap langit yang perlahan menggelap. Di tangannya, sebuah jurnal terbuka, dan di sekelilingnya, aura samar biru masih mengambang, seperti debu bintang yang belum mengendap.

"Kak..." suara Bayu lirih, nyaris tak terdengar oleh angin sore.

Araka menoleh perlahan. Ada bekas air mata di pipinya, tapi sorot matanya lebih jernih dari sebelumnya. "Bayu. Aku ingat. Tempat ini... kita pernah mengamatinya bersama. Tapi dulu... bukan kamu yang bersamaku."

Bayu melangkah mendekat, memandangi dinding penuh coretan. Ia sudah sering ke atap ini sebagai bagian dari klub astronomi baru, tapi tidak pernah menyadari bahwa tempat ini dulu adalah milik Araka juga. "Rana... ya?"

Araka mengangguk pelan. "Dia bukan hanya temanku. Dia yang membuatku percaya bahwa langit bukan cuma kumpulan bintang. Tapi arsip. Arsip waktu."

ORIGIN memproyeksikan kembali gambar holografis Rana, kali ini dengan catatan suara baru:

"Araka, kalau kau membaca bagian ini, berarti kemungkinan dunia kita sudah mulai retak. Ingat perhitungan kita soal anomali waktu? Aku menyelipkan koordinatnya di jurnal halaman terakhir. Tapi kau harus berhati-hati. Karena pengamat dari masa depan—mereka juga mengincarnya."

Bayu terdiam. "Jadi... ini bukan hanya tentang ingatan masa lalu, tapi misi yang belum selesai?"

"Ya," jawab Araka. "Dan itu semua... dimulai dari tempat ini. SMA ini bukan hanya tempat belajar. Tapi markas pertama kita. Titik awal Project Watchtower."

Bayu menyentuh teleskop yang berdebu. "Kamu tahu, klub Astronomi sekolah masih hidup. Tapi sekarang cuma belajar teori. Nggak ada yang tahu dulu tempat ini pernah jadi observatorium aktif."

Araka tersenyum tipis. "Sudah waktunya mereka tahu. Tapi lebih dari itu... sudah waktunya aku mengaktifkan ulang apa yang dulu kami sembunyikan."

Ia membuka jurnal ke halaman terakhir. Terselip kertas tipis bergambar peta bintang dan catatan koordinat lokal. Di bawahnya, tulisan tangan: "Ruang di bawah observatorium. Kode akses: 197-XR."

Araka dan Bayu menatap satu sama lain. Mereka tahu apa artinya ini: sebuah tempat tersembunyi, kemungkinan menyimpan teknologi, artefak, atau informasi penting yang ditinggalkan oleh Araka dan Rana—dan mungkin, bisa menjelaskan kenapa anomali waktu mulai muncul di Kediri.

"Ayo," ucap Araka mantap.

Mereka membuka panel lantai di pojok ruangan observatorium, yang tertutup karpet dan papan kayu tua. Di baliknya—tangga menurun ke ruangan gelap yang sudah lama terkunci dari dunia luar.

Dan begitu pintu terbuka, udara dingin dari masa lalu menyambut mereka.

Tangga sempit itu terbuat dari logam berkarat, gemeretaknya menggema di ruang sunyi. Araka menyalakan lampu dari liontin Spiral Helm yang kini menyala lembut, menerangi lorong sempit ke bawah tanah. Langkah mereka mantap, meski suasananya seolah menelan suara.

Di dasar lorong, mereka menemukan pintu baja kecil dengan pemindai numerik. Araka memasukkan kode yang tertulis di jurnal: 197-XR. Lampu hijau menyala. Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan desis udara lama.

Ruangan itu berisi perangkat elektronik tua, panel kontrol, monitor tabung, dan satu terminal utama yang tampaknya mati—hingga Araka mendekat. Tanpa perlu disentuh, terminal menyala. Tulisan tua muncul di layar:

"SELAMAT DATANG KEMBALI, ARAKA."

Bayu melongo. "Ini... sistem lama? Tapi kok bisa tahu namamu?"

"Bukan sistem biasa," jawab Araka pelan. "Ini versi pertama ORIGIN. Yang kami tanam di sistem sekolah, waktu Project Watchtower pertama kali kami rancang."

Layar berganti. Proyeksi holografik menunjukkan peta wilayah Kediri dengan titik-titik bercahaya—anomali waktu. Sebagian sudah aktif. Sebagian lain... berada di tempat yang belum mereka kunjungi.

"Sisa fragmen Spiral Helm ketiga terdeteksi. Lokasi: koordinat 7°49′S 112°0′E — titik nol aktif."

Bayu menyipitkan mata. "Itu... koordinat awal kamu ditemukan, kan? Di sawah waktu kamu bangun pertama kali?"

Araka mengangguk. "Itu bukan kebetulan. Spiral Helm bukan hanya alat—tapi magnet. Dia menarik kita ke titik-titik simpul sejarah. Dan sekarang kita tahu: fragmen ketiga... ada di tempat semuanya bermula."

Tiba-tiba, alarm merah menyala di ruangan.

"Interferensi dimensi terdeteksi. Sinyal musuh masuk ke wilayah SMA 2 Kediri. Perluas radius isolasi temporal."

Araka dan Bayu saling pandang. "Mereka menemukan kita."

Bayu mengepalkan tangan. "Apa yang harus kita lakukan?"

Araka berjalan ke terminal dan menekan tombol holografik. Cahaya biru menyelimuti mereka.

"Kita bawa sistem ini keluar. Kita tak bisa bertahan di tempat lama. Tapi yang lebih penting—kita harus mendahului mereka ke titik nol."

Dan di saat terakhir sebelum keluar, ORIGIN memutar satu arsip audio lama. Suara Rana, dalam format rekaman yang tak pernah diputar sebelumnya:

"Araka... kalau kamu berhasil dengar ini, artinya satu hal: kamu belum terlambat. Tapi waktu kita sempit. Dan musuh kita... bukan cuma dari masa depan. Mereka pernah menjadi bagian dari kita sendiri."

Suara sirine temporal terus bergaung bahkan setelah mereka naik kembali ke observatorium. Bayu menggandeng koper logam kecil berisi inti sistem ORIGIN lama, sementara Araka memindai lingkungan sekitar dengan mata tajam dan liontin yang kini bersinar intens.

Begitu mereka menutup panel lantai, ORIGIN memberikan peringatan terakhir:

"Radius isolasi bertahan untuk 13 menit 26 detik. Evakuasi direkomendasikan segera."

Mereka berlari menyusuri koridor sekolah yang lengang. Setiap jendela dan pintu seperti mengawasi, mencatat langkah mereka dalam kesunyian. Bayu menunjuk ke arah ruang komputer yang sudah lama tak dipakai.

"Kita bisa pakai server lama buat nyimpan cadangan sistem ORIGIN," katanya cepat.

Araka mengangguk dan menghubungkan terminal. Sementara transfer berlangsung, ia menatap langit senja yang mulai berubah warna dari jendela. Di kejauhan, ada suara gemuruh—bukan badai, tapi sesuatu yang melanggar batas dimensi.

"Anomali mendekat. Deteksi entitas non-lokal: kode DN-Δ03."

Bayu menatap Araka. "Itu... mereka?"

"Ya. Para pengamat dari masa depan," jawab Araka tenang, namun sorot matanya menyala. "Mereka dulu bagian dari kami. Dulu percaya. Tapi mereka memilih stabilitas, bukan kebenaran."

Tiba-tiba, lantai bergetar. Sekilas, sosok seperti bayangan transparan muncul di ujung koridor—tinggi, berwajah kabur, membawa perangkat bundar berkilauan.

"Bayu, siapkan perangkat pemutus lintasan waktu," perintah Araka cepat.

Bayu membuka koper kedua dan mengaktifkan satu silinder kecil. Begitu diputar, udara di sekeliling mereka seperti ditarik masuk, menciptakan zona hening total.

"Jalur dimensi tertutup. Anomali tertahan selama 86 detik."

"Cukup untuk kabur," ucap Araka sambil menarik Bayu menuju pintu belakang sekolah.

Begitu mereka keluar, langit malam sepenuhnya terbuka. Tapi bukan langit yang biasa. Konstelasi bergerak perlahan, seolah waktu sendiri bergeser. Venus bercahaya merah, dan di tengah langit, satu bintang baru menyala terang—tanda dimulainya fase ketiga Spiral Helm.

ORIGIN bersuara:

"Fragmen ketiga Spiral Helm aktif. Titik nol menanti."

Araka menatap Bayu. "Ini bukan pelarian. Ini pengaktifan. Mulai malam ini, kita bukan cuma pengamat sejarah. Kita penjaga jalur waktu."

Bayu mengangguk, matanya penuh tekad.

Dan dengan langkah menyatu, mereka berjalan menuju koordinat 7°49′S 112°0′E—menuju titik awal dari sesuatu yang lebih besar dari apa pun yang pernah mereka bayangkan.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Ruang Suara
620      452     1     
Inspirational
Mereka yang merasa diciptakan sempurna, dengan semua kebahagiaan yang menyelimutinya, mengatakan bahwa ‘bahagia itu sederhana’. Se-sederhana apa bahagia itu? Kenapa kalau sederhana aku merasa sulit untuk memilikinya? Apa tak sedikitpun aku pantas menyandang gelar sederhana itu? Suara-suara itu terdengar berisik. Lambat laun memenuhi ruang pikirku seolah tak menyisakan sedikitpun ruang untukk...
The Best Gift
118      112     1     
Inspirational
Tidak ada cinta, tidak ada keluarga yang selalu ada, tidak ada pekerjaan yang pasti, dan juga teman dekat. Nada Naira, gadis 20 tahun yang merasa tidak pernah beruntung dalam hal apapun. Hidupnya hanya dipenuhi dengan tokoh-tokoh fiksi dalam  novel-novel dan drama  kesukaannya. Tak seperti manusia yang lain, hidup Ara sangat monoton seakan tak punya mimpi dan ambisi. Hingga pertemuan dengan ...
Cinderella And The Bad Prince
6394      3764     11     
Romance
Prince merasa hidupnya tidak sebebas dulu sejak kedatangan Sindy ke rumah. Pasalnya, cewek pintar di sekolahnya itu mengemban tugas dari sang mami untuk mengawasi dan memberinya les privat. Dia yang tidak suka belajar pun cari cara agar bisa mengusir Sindy dari rumahnya. Sindy pun sama saja. Dia merasa sial luar biasa karena harus ngemong bocah bertubuh besar yang bangornya nggak ketul...
Spektrum Amalia
2097      1522     1     
Fantasy
Amalia hidup dalam dunia yang sunyi bukan karena ia tak ingin bicara, tapi karena setiap emosi orang lain muncul begitu nyata di matanya : sebagai warna, bentuk, dan kadang suara yang menghantui. Sebagai mahasiswi seni yang hidup dari beasiswa dan kenangan kelabu, Amalia mencoba bertahan. Sampai suatu hari, ia terlibat dalam proyek rahasia kampus yang mengubah cara pandangnya terhadap diri sendi...
Home Was Martatila
3      1     0     
Romance
Sky Sea berjumpa dengan teman barunya dari sekolah terpencil di pedesaan. Ia juga bertemu dengan teman bernama Martatila. Martatila, gadis itu memiliki mata indah berwarna cokelat, mata yang bisa berbicara. Dia tidak suka banyak bicara, tapi darinya Sky Sea dan teman - teman belajar banyak hal. menghabiskan masa remaja di sekolah dengan kenakalan dan hal absurd lainnya. Notes: Cerita ini u...
Je te Vois
3796      2442     0     
Romance
Dow dan Oi sudah berteman sejak mereka dalam kandunganklaim kedua Mom. Jadi tidak mengherankan kalau Oi memutuskan ikut mengadopsi anjing, Teri, yang merupakan teman baik anjing adopsi Dow, Sans. Bukan hanya perihal anjing, dalam segala hal keduanya hampir selalu sama. Mungkin satu-satunya yang berbeda adalah perihal cita-cita dan hobi. Dow menari sejak usia 8 tahun, tapi bercita-cita menjadi ...
Kursus Kilat Jadi Orang Dewasa!
955      522     11     
Humor
Didaftarkan paksa ke Kursus Kilat Jadi Orang Dewasa oleh ayahnya, Kaur Majalengka--si OCD berjiwa sedikit feminim, harus rela digembleng dengan segala keanehan bin ajaib di asrama Kursus Kilat selama 30 hari! Catat, tiga.puluh.hari! Bertemu puding hidup peliharaan Inspektur Kejam, dan Wilona Kaliyara--si gadis berponi sepanjang dagu dengan boneka bermuka jelek sebagai temannya, Kaur menjalani ...
Switch Career, Switch Life
1627      1175     4     
Inspirational
Kadang kamu harus nyasar dulu, baru bisa menemukan diri sendiri. Therra capek banget berusaha bertahan di tahun ketiganya kerja di dunia Teknik yang bukan pilihannya. Dia pun nekat banting setir ke Digital Marketing, walaupun belum direstui orangtuanya. Perjalanan Therra menemukan dirinya sendiri ternyata penuh lika-liku dan hambatan. Tapi, apakah saat impiannya sudah terwujud ia akan baha...
Di Bawah Langit Bumi
6467      3687     87     
Romance
Awal 2000-an. Era pre-medsos. Nama buruk menyebar bukan lewat unggahan tapi lewat mulut ke mulut, dan Bumi tahu betul rasanya jadi legenda yang tak diinginkan. Saat masuk SMA, ia hanya punya satu misi: jangan bikin masalah. Satu janji pada ibunya dan satu-satunya cara agar ia tak dipindahkan lagi, seperti saat SMP dulu, ketika sebuah insiden membuatnya dicap berbahaya. Tapi sekolah barunya...
Langit-Langit Patah
67      58     1     
Romance
Linka tidak pernah bisa melupakan hujan yang mengguyur dirinya lima tahun lalu. Hujan itu merenggut Ren, laki-laki ramah yang rupanya memendam depresinya seorang diri. "Kalau saja dunia ini kiamat, lalu semua orang mati, dan hanya kamu yang tersisa, apa yang akan kamu lakukan?" "Bunuh diri!" Ren tersenyum ketika gerimis menebar aroma patrikor sore. Laki-laki itu mengacak rambut Linka, ...