Loading...
Logo TinLit
Read Story - CTRL+Z : Menghapus Diri Sendiri
MENU
About Us  

Anak laki-laki dengan seragam putih terdapat bercak cairan berwarna merah dan terkoyak-koyak memperlihatkan keberingasannya pada anak laki-laki lainnya yang kini berada di bawahnya. Ia, Nawasena Adikara, papan nama yang terlihat di seragamnya terus memberikan tinju tidak ada henti, bahkan ketika musuhnya sudah tidak berdaya dengan penuh babak belur.

"Kamu adalah orang yang benar-benar ingin aku habiskan saat ini juga!"

"Sudah berapa kali aku peringatkan, kamu bisa menghinaku, tapi jangan menghina mamaku!" ucap Sen dengan kedua mata yang memancarkan kemarahan. Beriringan dengan tangan kanan yang mengakhiri satu tinju ke wajah laki-laki itu sekali lagi, membuat cairan berwarna merah kembali muncrat mengenai wajahnya.

Sen, perlahan mengamati sosok yang wajahnya bahkan sulit untuk dikenali. Akan tetapi, laki-laki itu belum tiada karena Sen sudah memprediksi, musuhnya harus tetap hidup dan menanggung rasa sakit seperti menuju kematian secara perlahan.

Melihat sosok yang ada dihadapannya, tidak menimbulkan emosi kesedihan, kesenangan ataupun rasa khawatir. Rasanya hampa dan Sen sendiri tidak bisa memahaminya. Ia seperti berada didasar jurang kegelapan yang perlahan, jurang itu menelannya.

Tubuhnya seperti terdorong secara perlahan, seperti ia ingin terjun bebas. Seakan dunia yang sebenarnya ada di dalam sana menyambutnya. Apakah memang seperti itu?

Mama ....

"Tangkap dia!" 

Sen mengerjapkan mata detik itu juga. Suara itu, membuatnya sadar akan bayangan kehampaan yang sering ia rasakan. Seketika, Sen yang masih pada posisinya, duduk di tubuh laki-laki yang sudah terbujur kaku mengamati kedua tangannya yang terdapat bercak cairan merah dan goresan luka.

Mata Sen, sedikit membulat. "Aku ... hampir membunuhnya," ucap Sen yang kemudian dikejutkan dengan kedua tangannya yang diborgol oleh beberapa tim kepolisian yang ternyata sudah ada di sana.

"Atas dugaan pelanggaran hukum yang anda lakukan, anda ditangkap. Anda memiliki hak untuk diam. Apa pun yang anda katakan dapat dan akan digunakan sebagai barang bukti. Kami akan memborgol anda," ucap polisi yang tidak bisa Sen elak. Bahkan ketika secara paksa, ia meninggalkan tempat itu dengan tangan diborgol dan arahan paksa dari polisi.

Untuk kesekian kalinya, Sen berhadapan dengan pihak kepolisian. Hanya saja, ini yang menurutnya cukup parah. Terlebih, hanya ia sendirian di sana dengan posisi telah memberdayakan seseorang. Tentu saja, siapapun yang melihatnya akan berpikiran jika ialah pelakunya.

Sen tidak membantah dan menjawab berdasarkan fakta. Walau ia harus menghadapi kenyataan berada dibalik jeruji dan menunggu keputusan yang akan diberikan untuknya.

Namun, setidaknya. Di tempat dingin dan sunyi ini, Sen merasa sedikit lebih baik. Ia merasa tidak masalah berada di sini. Hanya saja, sosok itu bagi Sen sepertinya tidak senang akan apa yang Sen rasakan.

Terbukti ketika baru dirinya beberapa jam berada di sana, pihak yang katanya bertugas untuk memberikan pembelaan datang dengan membawa jaminan. Bahkan, berhasil membuat pihak kepolisian dan keluarga korban memilih jalan damai dengan jaminan yang telah disepakati.

Alhasil, Sen bebas begitu saja dari jeruji besi itu. Tapi, tidak ada yang ia katakan. Wajah yang terdapat beberapa luka seperti di ujung bibir dan sekitar hidungnya menatap kosong ke depan. Hingga ketika ia berada di bagian luar lapas, ia melihat sosok wanita karismatik dengan menggunakan setelan kemeja dan rok span berwarna merah maroon senada menatap Sen dengan bibirnya yang dipoles merah merona melebar.

Kakinya berbalut stiletto mendekat ke arah Sen. "Anak manis, bagaimana rasanya berada di balik sana? Apa tempat ini bisa membuatmu bisa berpikir lebih logis untuk tidak berbuat nekat ...." Wanita itu, Shinta Barbara hanya bisa menghela napas dengan senyum yang masih lebar melihat Sen yang memilih tidak peduli dan berjalan lebih dulu menuju mobil.

Sen tidak peduli dengan apapun yang dikatakan dan dilakukan wanita yang sudah dinikahi papanya dua tahun yang lalu. Wanita itu, bagi Sen hanyalah wanita yang menginginkan seluruh harta papanya setelah tiada nanti.

"Sen, Papamu masih berada di kantor. Tapi, Papamu berpesan agar kamu tetap di rumah hari ini. Sampai Papamu datang dan ingin mengajakmu berbicara penting," ucap Shinta di belakang sana dengan suara agak berteriak, tapi nyatanya berhasil membuat Sen menghentikan langkahnya.

Terlepas dari semua yang ia lakukan untuk bertahap hidup, mendengar perkataan ibu tirinya itu, membuat Sen berpikir hidupnya akan berakhir saat itu juga.

Ma, apa aku akan benar-benar menemuimu dalam waktu dekat ini?

 

***

 

Sen berdiri dengan kepala tertunduk saat seorang pria yang mulai memasuki umur setengah abad melemparinya berkas. Tatapan Sen kosong, tapi ia bisa merasakan aura kemarahan dan kekesalan dari sosok papanya itu, Aksa Adikara.

"Lihat perbuatanmu! Kamu dikeluarkan dari sekolah! Secara tidak terhormat! Kamu pikir kamu siapa bisa berbuat semaumu?" ucap Aksa yang terlihat menahan kemarahannya ketika terdapat Shinta yang berusaha menenangkan suaminya.

"Tenangkan dirimu. Jangan sampai kamu berbuat di luar batas pada anakmu sendiri--"

"Shinta, kali ini, kamu jangan terus berpihak padanya. Anak tidak tahu diuntung ini bahkan—"

"Aku tahu kamu ingin terlihat seperti Mama yang baik di depan Papa, tapi tolong berhentilah. Jangan sok peduli padaku, karena aku tahu sebenarnya kamu hanya berpura-pura. Kamu adalah ular berbisa yang menunggu waktu untuk menghancurkan kami semua!" potong Sen lantang dengan tatapan tajam menusuk ke arah wanita yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Sen!" suara Aksa meninggi, tapi Sen terlihat tidak ingin berhenti.

"Aku tidak akan diam, Pa! Dari dulu aku diam, dan lihat hasilnya! Semua orang sok suci, termasuk orang yang selalu kusebut Papa!"

Namun, perkataan Sen membuatnya mendapatkan tamparan keras begitu cepat dipipinya, menghentikan napas Sen beberapa saat. Kepalanya terhempas ke samping, dan luka di sudut bibirnya kembali terbuka, meneteskan cairan segar. Pipi kirinya memerah dengan jelas. Namun mata Sen, merah bukan karena air mata melainkan karena kemarahan yang mendidih dan kepedihan yang terus mengendap.

"Dasar anak kurang ajar!" Aksa meraung, meraih kerah baju Sen dan menariknya ke depan. Pukulan kedua mendarat di rahang Sen, membuat tubuh remaja itu terhuyung. Ia mencoba bertahan, tapi tenaganya kalah jauh.

"Papa …," bisik Sen pelan, bukan sebagai permohonan, tapi sebagai konfirmasi. Sosok yang dulu ia panggil dengan penuh hormat itu, kini benar-benar menunjukkan siapa dirinya. Bukan pahlawan ataupun pelindung. Melainkan, iblis dalam balutan jas terhormat.

"Saya menyesal punya anak seperti kamu! Saya sangat menyesal!" bentak Aksa, lalu mendorong tubuh Sen begitu saja hingga ia terhempas ke lantai marmer yang dingin dan keras.

"Aksa, tolong … cukup! Jangan begini, tolong hentikan!" Suara Shinta terdengar sangat panik. Perlahan ia mencoba mendekat. Tapi Aksa hanya melotot ke arahnya dan mengangkat tangan, membuat Shinta mundur ketakutan.

Aksa kemudian berbalik dan menatap Shinta yang berdiri membeku melihat kondisi Sen. Walaupun Shinta adalah mama tiri Sen, sebelum Shinta bekerja sebagai sekretaris dan tangan kanan Aksa selama ini.

"Shinta, siapkan berkas kepindahannya. Malam ini juga. Anak tidak tahu diri ini harus keluar dari rumah ini. Saya tak mau melihat wajahnya lagi."

Sen tetap tergeletak di lantai, sudut bibirnya tak berhenti mengeluarkan cairan, napasnya berat, tapi tatapannya tidak padam. Di balik luka, ada kobaran bara yang menyala. Ia tidak akan hancur di tempat ini. 

Akan tetapi, kesadaran benar-benar direnggut detik itu juga. Bahkan jika bisa, ia berharap Tuhan mengabulkan doanya untuk bisa menemui mamanya.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Smitten Ghost
664      531     3     
Romance
Revel benci dirinya sendiri. Dia dikutuk sepanjang hidupnya karena memiliki penglihatan yang membuatnya bisa melihat hal-hal tak kasatmata. Hal itu membuatnya lebih sering menyindiri dan menjadi pribadi yang anti-sosial. Satu hari, Revel bertemu dengan arwah cewek yang centil, berisik, dan cerewet bernama Joy yang membuat hidup Revel jungkir-balik.
VampArtis United
8012      4582     3     
Fantasy
[Fantasi-Komedi-Absurd] Kalian harus baca ini, karena ini berbeda... Saat orang-orang bilang "kerja itu capek", mereka belum pernah jadi vampir yang alergi darah, hidup di kota besar, dan harus mengurus artis manusia yang tiap hari bikin stres karena ngambek soal lighting. Aku Jenni. Vampir. Bukan yang seram, bukan yang seksi, bukan yang bisa berubah jadi kelelawar. Aku alergi darah. B...
GEANDRA
1338      1045     1     
Romance
Gean, remaja 17 tahun yang tengah memperjuangkan tiga cinta dalam hidupnya. Cinta sang papa yang hilang karena hadirnya wanita ketiga dalam keluarganya. Cinta seorang anak Kiayi tempatnya mencari jati diri. Dan cinta Ilahi yang selama ini dia cari. Dalam masa perjuangan itu, ia harus mendapat beragam tekanan dan gangguan dari orang-orang yang membencinya. Apakah Gean berhasil mencapai tuj...
My Private Driver Is My Ex
1797      1292     10     
Romance
Neyra Amelia Dirgantara adalah seorang gadis cantik dengan mata Belo dan rambut pendek sebahu, serta paras cantiknya bak boneka jepang. Neyra adalah siswi pintar di kelas 12 IPA 1 dengan julukan si wanita bermulut pedas. Wanita yang seperti singa betina itu dulunya adalah mantan Bagas yaitu ketua geng motor God riders, berandal-berandal yang paling sadis pada geng lawannya. Setelahnya neyra di...
Atraksi Manusia
1272      861     7     
Inspirational
Apakah semua orang mendapatkan peran yang mereka inginkan? atau apakah mereka hanya menjalani peran dengan hati yang hampa?. Kehidupan adalah panggung pertunjukan, tempat narasi yang sudah di tetapkan, menjalani nya suka dan duka. Tak akan ada yang tahu bagaimana cerita ini berlanjut, namun hal yang utama adalah jangan sampai berakhir. Perjalanan Anne menemukan jati diri nya dengan menghidupk...
Only One
4065      2785     13     
Romance
Hidup di dunia ini tidaklah mudah. Pasti banyak luka yang harus dirasakan. Karena, setiap jalan berliku saat dilewati. Rasa sakit, kecewa, dan duka dialami Auretta. Ia sadar, hidup itu memang tidaklah mudah. Terlebih, ia harus berusaha kuat. Karena, hanya itu yang bisa dilakukan untuk menutupi segala hal yang ada dalam dirinya. Terkadang, ia merasa seperti memakai topeng. Namun, mungkin itu s...
Taruhan
145      128     0     
Humor
Sasha tahu dia malas. Tapi siapa sangka, sebuah taruhan konyol membuatnya ingin menembus PTN impian—sesuatu yang bahkan tak pernah masuk daftar mimpinya. Riko terbiasa hidup dalam kekacauan. Label “bad boy madesu” melekat padanya. Tapi saat cewek malas penuh tekad itu menantangnya, Riko justru tergoda untuk berubah—bukan demi siapa-siapa, tapi demi membuktikan bahwa hidupnya belum tama...
Lovebolisme
709      626     2     
Romance
Ketika cinta terdegradasi, kemudian disintesis, lalu bertransformasi. Seperti proses metabolik kompleks yang lahir dari luka, penyembuhan, dan perubahan. Alanin Juwita, salah seorang yang merasakan proses degradasi cintanya menjadi luka dan trauma. Persepsinya mengenai cinta berubah. Layaknya reaksi eksoterm yang bernilai negatif, membuang energi. Namun ketika ia bertemu dengan Argon, membuat Al...
DocDetec
2543      1420     1     
Mystery
Bagi Arin Tarim, hidup hanya memiliki satu tujuan: menjadi seorang dokter. Identitas dirinya sepenuhnya terpaku pada mimpi itu. Namun, sebuah tragedi menghancurkan harapannya, membuatnya harus menerima kenyataan pahit bahwa cita-citanya tak lagi mungkin terwujud. Dunia Arin terasa runtuh, dan sebagai akibatnya, ia mengundurkan diri dari klub biologi dua minggu sebelum pameran penting penelitian y...
JUST RIGHT
340      281     0     
Romance
"Eh, itu mamah bapak ada di rumah, ada gue di sini, Rano juga nggak kemana-mana. Coba lo... jelasin ke gue satu alasan aja, kenapa lo nggak pernah mau cerita ke seenggaknya salah satu dari kita? Nggak, nggak, bukan tentang mbak di KRL yang nyanggul rambutnya pakai sumpit, atau anak kecil yang lututnya diplester gambar Labubu... tapi cerita tentang lo." Raden bilang gue itu kayak kupu-kupu, p...