LATIHAN basket tiap sore jadi pas tiap-tiap anggota per-tim nya. Tiga-tiga. Keunggulan tim Dwipa naik karna ditambah dengan Tyas yang tidak salah ngomong dia mengaku-ngaku anak ekskul basket di sekolahnya yang sebelumnya.
Tapi setidaknya kemampuan Hannah, Arien dan Laras bertambah. Skornya hanya selisih satu sekarang. 18-20 untuk tim Arien dan tim Dwipa. Dengan durasi per-babaknya lebih lama.
"Jangan sungkan merebut bola, Arien! " Hannah meneriakkan itu berkali-kali pada Arien. Sebal melihat Arien yang tidak merebut bola dari tangan lawan. Padahal lawannya sudah didepan hidungnya
Arien mengangkat bahu. Dia memang bukan tipikal pembunuh. Tapi siapapun jangan pernah ragu mencoba menyerang Arien. Dengan senang hati Arien pasti akan melayani
"Istirahat dulu yuk" Dwipa menghentikan dribbling-nya. Menyeka pelipis nya yang dibanjiri keringat. Menuju teras. Membuat yang lain batal bersiap-siap menghadapi aksi Dwipa. Mengikuti Dwipa duduk di teras.
"Ternyata kalian emang sesuka itu sama basket, sampai se-effort itu juga latihan tiap sorenya ya" Tyas mengangguk-nganggukkan kepalanya. Meletakkan botol minumnya. Dia sudah berhasil membuat kesimpulan tentang tim basket yang mengatakan namanya ABAS. Yang beberapa hari terakhir ini bermain dengannya
"Ya iya dong. Sama cowok yang nggak jelas hubungannya dengan kita aja se-effort itu. Apalagi ke hobi yang jekas-jelas hubungan kita dengannya sudah seperti jantung dalam sebuah badan" Hannah, dia yang membuat kata-kata itu. Membuat teman-temannya segera bersorak "Aseeekkk!! " Padanya. Sepakat dengan kata-kata Hannah
"Ngomong-ngomong, rumahmu dimana Tyas?, kayak gampang banget minta izin pulang telat gitu? " Dwipa bertanya basa-basi
"Nggak jauh-jauh dari sini sih. Paling lima belas menit-an kalo motoran atau naik mobil" Tyas menjawab. Memandang langit yang sudah tak terik lagi.
"Kamu sendiri dimana, Dip? " Tyas balik bertanya
"Di perumahan sini. Hannah, Jasmine, Arien juga disini. Beda blok doang sama si Arien"
Tyas menganggukan kepalanya lagi "kalau Laras? "
"Nah, kalo Laras lumayan sih. Tapi nggak jauh-jauh amat. Paling sepuluh menit-an lah kalo motoran ya kan Ras? , dari rumah lo kesekolah segitu kan? " Jasmine yang menjawab. Menoleh pada Laras
Laras mengangguk. Membenarkan jawaban Jasmine. Sebulan ini ABAS sudah dua kali main ke rumahnya. Bawa dua motor, motor Arien dan Dwipa. Kecil-kecil begitu mereka sudah bisa naik motor dan punya motor sendiri. Kebetulan rumah Laras dekat dengan court basket. Mereka biasa main disitu. Latihan basket sepuluh menit padahal mainnya dua jam. Sisanya main random. Pernah juga dua jam itu cuma diem-dieman atau berisik sendiri sama ponsel Masing-masing
"Minggu ini mau main di rumah Laras lagi nggak? " Hannah yang bertanya kali ini
Laras menggeleng "jangan rumah aku terus dong! Risi ngeliat mas-masku caper gitu."
"Lah, siapa lagi atuh yang deket rumahnya sama court atau gor gitu? " Dwipa menolak bantahan Laras
"Si Arien bukan nya deket court komplek, heh? "
Arien menggeleng "kejauhan, Ras. Dari rumahku masuk lagi ke blok B3, deket sawah-sawah lagi"
"Bayangin aja kayak lagi di sekolah. Kan di sekolah juga lapangan nya dekat sawah"
"Gue pikir juga jangan disitu deh Ras. Rawa-rawa blok B3 angker katanya mah" Hannah setuju dengan Arien
"Untung si Arien di B2 depan" Dwipa nyeletuk
Arien mengangguk. Ibu Ayahnya orang yang selektif kalau memilih sesuatu. Apalagi tempat tinggal. B2 depan sepi, karna isinya cuma orang-orang tertentu--karna harga-harga rumahnya setinggi langit.
Perumahan yang dihuni Arien dan kawan-kawan nya merupakan salah satu perumahan elit di kota hujan. Rumah paling murah disana pun harganya bisa lebih dari 40 juta-an. Biasanya berada paling depan dari pintu masuk komplek atau paling belakang dekat rawa-rawa seperti di blok B2 yang disebut-sebut tadi.
"Mending dirumah Laras lagi. Gue juga pengen seblak yang deket rumah Laras itu. Siapa itu nama ibu-ibunya, Ras? " Jasmine nyengir. Menoleh para Laras
"Bu Tini" Dwipa yang menjawab. Dia juga membeli seblak yang sama dengan Jasmine saat bermain kerumah Laras beberapa waktu yang lalu
"Haaa, iya. Bu Tini. Mantep banget pedesnya. Tapi ntar gue pengen nyoba seblak seafoodnya. Enak nggak Ras? "
Laras terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Dasar emang lu, Min. Kalo ada makanan enak baru semangat" Hannah meledek Jasmine. Tertawa
"Yeeee, emang lu nggak Han? " Jasmine balas ledek. Lalu ikut tertawa
Begitulah mereka. Selalu bergurau berlebihan. Bahkan dengan hal-hal yang nyakitin hati kalau orang lain yang bilang. Tapi entah kenapa kalau yang bilang itu sesama geng ABAS B aja, malah bikin ketawa.
Laras mendengus. Dia malah suara. 4-1. Tyas abstain. Ikut aja. Katanya
" Jadi main nggak nih besok minggu? " Hannah mengulangi pertanyaannya
Dwipa, Arien, Tyas, Laras dan Jasmine mengangguk--Jasmine yang paling semangat.
"Nanti janjian aja ya dimana gitu. Kita ketemuan disitu" Tyas memberi usul
"Boleh. Dirumah yang paling deket sama pintu komplek. " Dwipa menyahut. Menunjuk Arien
Arien menggeleng "jangan. Rumahku maduk lagi dari B1 masuk terus ke B2. Kejauhan, kasihan Tyas"
"Mending didepan minimarket depan perumahan. Janjian jam sembilan ya. Gue bawa motor sendiri" Jasmine yang memberi usul kali ini
"Naaah, boleh tuh usulan Jasmine. Tumben pinter ngusul begitu" Hannah nyeletuk. Nyengir
Jasmine melotot "enak aja. Elu kalik yang jarang mikir! "
Hannah mengibaskan tangan. Tidak menanggapi lagi "jadi fix nih janjian didepan? Tyas dianter apa motoran? "
"Entar naik ojek"
"Oke, fix ya"
Kelima temannya mengangguk. Sepuluh menit setelah percakapan itu mereka membubarkan diri. Pulang kerumah masing-masing
Mereka sempat bertemu dengan Mamanya Laras. Hannah membicarakan rencana mereka bermain dirumah Laras minggu ini
Mama nya Laras mengangguk, kemudian bertanya-tanya beberapa hal untuk hati minggu nanti. Mulai dari mau ngapain di rumah Laras sampai menanyakan ingin makan siang dengan apa. Mama Laras memang juaranya masak, catering sekolah pun pesan ke Mama Laras
Arien dibuat hanya bisa tersenyum masam-mesem melihat Mama Laras asyik 'mewawancarai' Tyas yang baru nampak didepan batang hidungnya. Tyas senang hati memperkenalkan diri. Mana Laras antusias mendengarkan
Melihat hal itu Arien sampai berpikir, seru sekali sepertinya kalau punya Ibu seperti Mama Laras yang dekat dan ramah dengan Anak-anak. Sering bertemu, mengobrol dan bercanda. Tidak seperti ibunya yang super sibuk
Arien menggeleng, dasar pemikiran aneh. Sesibuk-sibuknya orang tua nggak ada yang sampai ngelupain anaknya lah. Mungkin dia tidak tau bagaimana cara Ibu Ayahnya menyayangi nya selain dengan memberikan fasilitas sandang pangan papan dan sekolah yang terbaik untuknya. Dan terpenting, pasti selalu ada sisipan doa yang terbaik untuk anaknya pada doa setiap sujudnya
Lagi pula kalau Arien punya orangtua seperti Mamanya Laras dia sudah risi duluan. Dia tidak suka diwawancarai ngalor-ngidul begitu. Arien memang betul-betul plek-ketiplek ibu ayahnya. Pendiam dan tidak suka diwawancarai . Betul-betul keluarga introvert akut
***
Kejutan. Malam ini keluarganya sudah berkumpul pukul delapan malam. Menyantap makan malam yang sempat Ibu masak. Sayur bayam dan telur ceplok. Ibu ayahnya sudah pulang dari jam enam sore tadi. Pulang bersama dengan mobil yang biasa Ayah pakai
Suara sendok besi dan piring kaca yabg beradu menjadi latar makan malam mereka.
Dua puluh menit selesai. Walaupun seperti singkat saja itu tetap menjadi momen langka. Setidaknya sekali dalam dua minggu.
Ibu mencuci peralatan makan, dibantu anak gadisnya.
"Ehem.. " Ali, dia yang berdehem. Memecah lenggang
"Ayah, ibu. Ali terpilih menjadi peserta jambore pramuka se-provinsi" Dia menarik secarik kertas dari kantong celana nya
"Wah! Coba lihat! " Yang bersemangat Reno. Dia yang semangat menerima kertas undang berstempel lambang pramuka dan logo sekolah tempat Ali belajar
"Ayah sudah bayar lunas uang kegiatan belajar mengajarmu ya"
Begitu saja komentar Ayah. Lalu kembali menatap ponselnya.
Ali mengangguk. Tidak apa, dia hanya berniat menyampaikan. Tidak lebih tidak kurang
Ibu selesai mencuci piring. Mengusap kedua tangannya dengan daster hijaunya. Hendak keluar dari dapur. Diikuti Ayah yang siap beranjak dari kursi makan
"Eh ibu, Ayah" Arien menghentikan gerakan Ayah ibunya yang hendak keluar dari dapur
"Eh, besok hari Minggu Arien mau main ke rumah Laras boleh? " Bertanya begitu kedua orangtuanya menoleh
"Laras teman mu yang punya nama Raden Roro itu juga? " Ibu balik bertanya. Ibu kenal dengan keluarga Laras. Tertarik berkenalan ketika mamanya Laras memperkenalkan diri saat bertemu pertama kali ketika rapat KBM orangtua. Itu benar-benar pertama kali Ibu Arien kenal dengan wali murid yang lain
Arien mengangguk
"Boleh, tapi jangan sampe malam ya. Kamu malamnya kan les pencak silat" Ayah yang menjawab. Menyela ibu yang siap mbuka mulut lagi
"Terimakasih Ayah ibu"
Kedua orang tuanya itu mengangguk. Keluar dari dapur. Hendak ke ruang tengah. Ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan di gadget mereka
Menyisakan ketiga anaknya yang segera kekuar dari dapur juga begitu memastikan dapur sudah rapih
alkays_honglii










Katanya Karos Publisher, "Nggak boleh ada kata ulang lebih dari satu di dalam satu kalimat. Contoh: anak-anak laki-laki. Saya pernah mengedit naskah2 bareng mereka (Karos Publisher). Saran saya: beberapa anak laki-laki, sepuluh (atau terserah berapa jumlahnya) anak laki-laki, atau mungkin Kakak (kata Paramedia Publisher, "Semuanya dipanggil Kakak aja kalo nggak tau umurnya.") punya alternatif lain yang lebih baik. Naskah2 yg dulu masuk ke Karos Publisher cukup banyak juga, termasuk naskah saya, yang kami edit bareng2, tapi naskah saya termasuk yg ditolak.
Comment on chapter Epilog