Loading...
Logo TinLit
Read Story - Psikiater-psikiater di Dunia Skizofrenia
MENU
About Us  

 

 

Lala sudah keluar dari rumah sakit khusus dan dijemput oleh kedua orang tuanya. Ia sudah mandi karena petugas selalu membentaknya untuk mandi saat rawat inap. Ia sudah mengganti piama merah mudanya dengan kaos kuning dan celana jeans biru. 

 

Kini, Lala dalam masa pemulihan. Mama Papa mengajaknya ke gereja setiap hari Minggu. Mereka menyuruh Lala mendekatkan diri kepada Tuhan. Mereka menilai Lala kurang iman karena penyakit mentalnya. Hal itu bertolak belakang dengan apa yang pernah seorang psikiater katakan bahwa terdapat kelainan di otak Lala.

 

Lala tidak betah hanya duduk diam di salah satu bangku kayu cokelat panjang gereja yang diletakkan berjajar di antara bangku-bangku lainnya. Ia gelisah. Sebenarnya, ia ingin jalan-jalan, tetapi Mama Papa melarangnya. Akhirnya, kata Lala, "Aku ingin ke kamar mandi."

 

"Baiklah, tapi jangan lama-lama," ujar Mama.

 

"Cepat kembali ke sini! Kalau tidak, bangkumu akan kami berikan kepada orang lain," ancam Papa.

 

Lala tidak begitu memedulikannya karena ia memang benar-benar ingin buang air kecil. Ia tidak berbohong karena ia selalu merasa bersalah setiap kali melakukannya. Ia jadi tidak suka berbohong.

 

Namun, sekembalinya dari toilet, matanya tertarik pada papan pengumuman yang berdiri tegak di samping toilet. Ia melihat-lihat sejenak dan menemukan iklan retret di papan itu. Ia mengambil kertas dan bolpoin dari daIam tasnya dan mencatatnya. Ia memutuskan untuk mengikutinya. Ia minta izin kepada Mama Papa sepulang gereja. Mama Papa mengizinkan.

 

Lala ikut retret di hari Senin dan akan selesai di hari Rabu. Jadi, orang tuanya akan menjemputnya di hari Rabu siang.

 

Lala memasukkan beberapa potong pakaian dan celana ke dalam tas kopor merahnya. Tak lupa dimasukkannya peralatan mandi dan handuk. Mama mengingatkannya, "Sudah bawa pakaian dalam dan pakaian tidur juga?"

 

"Oh, iya." Lala segera memasukkan beberapa potong pakaian dalam dan sepotong pakaian tidur dari dalam lemari ke dalam tas kopor. Ia sengaja tidak membawa skin care karena saat itu ia belum terbiasa memakai skin care.

 

Kini, Lala sudah siap berangkat ke tempat retret. Orang tuanya mengantar sampai ke Kaliurang, tempat di mana retret diselenggarakan. Mereka mewanti-wantinya, "Ingat, La, kamu jangan sampai kumat. Nanti beritanya tersiar ke mana-mana. Apakah kamu tidak malu?"

 

Lala hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang tidak mau kambuh, tetapi kekambuhan itu bukan atas kehendaknya. Sekuat apa pun ia menolaknya, kekambuhan yang lalu itu memang kambuh sendiri. Bisiknya, "Apakah kali ini aku akan mampu mencegah kekambuhanku? Oh, Tuhan, tolonglah aku!"

 

Segera pikiran Lala teralihkan karena di tempat retret ini, Lala bertemu dengan teman-teman baru. Ia menyimpan nomor telepon genggam mereka di telepon genggamnya sendiri. Ia memang baru saja dibelikan telepon genggam oleh orang tuanya. Saat itu adalah saat awal di mana telepon genggam mulai marak.

 

Ada dua orang teman yang lantas menjadi sahabat Lala. Yang pertama bernama Nana dan yang kedua bernama Didi.

 

Nana adalah seorang gadis yang ceria dengan potongan rambut lurus sebahu. Ia mengikuti ke mana pun Lala pergi. Bahkan, saat Lala hendak ke kamar mandi, ia ikut mengantar Lala ke kamar mandi. Ia mengikuti Lala masuk ke ruangan-ruangan di tempat retret itu.

 

Terdapat ruangan dengan kursi-kursi dan meja-meja yang ditumpuk. Lala keluar diikuti Nana. Mereka memasuki ruangan di sebelahnya. Kali ini, ruangannya dipenuhi gambar-gambar orang kudus.

 

Lala dan Nana keluar dari ruangan itu dan memasuki ruangan ketiga. Rupanya, ruangan ini adalah ruangan perpustakaan. Banyak buku yang diletakkan berjajar di sebuah rak. Lala memutuskan untuk membolak-balik sebuah buku. Nana ikut-ikutan.

 

Lala dan Nana keluar ruangan dan duduk-duduk di pinggir sebuah kolam yang banyak ikan koinya. Lala berkata, “Aku bisa berenang, lho!”

 

“Jangan berenang di situ, ya?” celetuk seorang cowok yang sedang lewat di dekat mereka sembari menunjuk kolam itu.

 

Sahabat Lala yang kedua yang bernama Didi, bertemu dengan Lala saat Lala tidak mempunyai pasangan. Maklum, retret ini adalah retret untuk mencari jodoh seiman. Nana sudah dipasangkan dengan seseorang, sementara Lala hanya sendirian karena jumlah peserta yang ganjil.

 

Beberapa saat kemudian, ketika Lala sedang termenung sendirian di bangku beton di area retret yang menghadap keluar, datanglah Didi di tengah hujan sambil menudungkan jaket di atas kepalanya.

 

“Maafkan, aku! Aku terlambat. Aku Didi.” Didi menyalami Lala.

 

“Lala,” sahut Lala. Mereka berdua pun duduk-duduk di bangku beton sambil berbincang-bincang.

 

“Aku tahu kamu sakit.” Ucapan Didi mengejutkan Lala.

 

“Lho, kok kamu bisa tahu?” tanya Lala.

 

“Aku ini indigo,” jelas Didi.

 

“Aku mau cerita,” pinta Lala.

 

“Silahkan!” Didi mempersilahkan Lala bercerita terlebih dahulu.

 

“Kita tidak perlu kuatir dapat jodoh yang lebih tua karena zaman telah modern. Sekarang, nenek-nenek bisa hamil dengan metode penyuburan, tetapi hanya bisa dilakukan di negara maju sana.” Lala teringat kepada buku kedokteran berbahasa Inggris yang pernah dibacanya.

 

“Terima kasih pemberitahuannya. Aku punya nasehat untukmu,” kata Didi.

 

“Apa?” tanya Lala.

 

“Kamu kalau sakit jangan berkecil hati. Bukan berarti Tuhan tidak sayang padamu. Kamu hanya sedang dicobai sama seperti Ayub di Kitab Suci yang dicobai untuk membuktikan kemurnian imannya kepada Tuhan,” ujar Didi.

 

Tanpa sengaja, seseorang duduk di kursi sebelah Lala dan Didi. Rupanya, seorang perempuan hamil. Kandungannya seperti berusia tiga bulan. Lala mengenalinya sebagai salah satu anggota panitia.

 

“Maaf, aku tidak sengaja mendengarkan kalian,” kata perempuan itu.

 

“Tidak apa-apa, Mbak,” kata Didi.

 

“Tidak. Sebaiknya, aku pergi saja.” Perempuan berambut bergelombang sebahu itu tersenyum dan berdiri meninggalkan mereka.

 

Penyakit Lala mulai kambuh lagi. Ia mengeluh kepada Didi, "Sakit."

 

"Aku tahu rasanya jadi kamu seperti apa," terang Didi.

 

Lala merasa sedikit lega. Selama ini, ia mengira bahwa hanya ia yang bisa merasakan rasa sakit itu. Bahkan, ia tidak yakin jika Tuhan tahu karena tidak ada yang kasihan kepadanya kalau ia sakit. Ia juga merasa bahwa Tuhan juga tidak kasihan kepadanya karena Ia tidak segera menyembuhkan penyakitnya. Ternyata, Tuhan mengirimkan orang yang juga bisa mengetahui apa yang dirasakannya dan maklum kepadanya.

 

Di hadapan Lala dan Didi, terdapat dua gelas teh manis hangat. Barusan, seorang panitia mengantarkannya kepada mereka. Mereka menyeruputnya pelan-pelan. Setelah selesai, Didi menawarkan, “Maukah kubawakan gelas kosongnya ke dapur?”

 

“Boleh. Bantuanmu terlihat kecil, tapi sangat berarti bagiku,” puji Lala. Maka, Didi bangkit dari duduknya dan membawa gelas-gelas kosong itu ke dapur. Sementara itu, Lala memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena hari sudah gelap.

 

Ternyata, pikiran Lala yang tidak fokus menyebabkannya salah berbelok. Seharusnya, ia berbelok sekitar satu blok lagi. Sekarang, ia malah berbelok begitu saja sehingga ia masuk ke asrama cowok. Ia keluar lagi, berharap Didi tidak mengetahuinya, dan cepat-cepat menuju blok berikutnya. Ia takut dicap gila, setidaknya oleh Didi.  

 

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Bittersweet Memories
208      193     1     
Mystery
Sejak kecil, Aksa selalu berbagi segalanya dengan Arka. Tawa, rahasia, bahkan bisikan di benaknya. Hanya Aksa yang bisa melihat dan merasakan kehadirannya yang begitu nyata. Arka adalah kembarannya yang tak kasatmata, sahabat sekaligus bayangan yang selalu mengikuti. Namun, realitas Aksa mulai retak. Ingatan-ingatan kabur, tindakan-tindakan di luar kendali, dan mimpi-mimpi aneh yang terasa lebih...
Finding the Star
4321      2733     9     
Inspirational
"Kamu sangat berharga. Kamu istimewa. Hanya saja, mungkin kamu belum menyadarinya." --- Nilam tak pernah bisa menolak permintaan orang lain, apalagi yang butuh bantuan. Ia percaya kalau hidupnya akan tenang jika menuruti semua orang dan tak membuat orang lain marah. Namun, untuk pertama kali, ia ingin menolak ajakan Naura, sahabatnya, untuk ikut OSIS. Ia terlalu malu dan tak bisa bergaul ...
Sendiri diantara kita
6509      2527     5     
Inspirational
Sendiri di Antara Kita Arien tak pernah benar-benar pergi. Tapi suatu hari, ia bangun dan tak lagi mengingat siapa yang pernah memanggilnya sahabat. Sebelum itu, mereka berlima adalah lingkaran kecil yang sempurna atau setidaknya terlihat begitu dari luar. Di antara canda, luka kecil disimpan. Di balik tawa, ada satu yang mulai merasa sendiri. Lalu satu kejadian mengubah segalanya. Seke...
Hamufield
37937      6960     13     
Fantasy
Kim Junsu: seorang pecundang, tidak memiliki teman, dan membenci hidupnya di dunia 'nyata', diam-diam memiliki kehidupan di dalam mimpinya setiap malam; di mana Junsu berubah menjadi seorang yang populer dan memiliki kehidupan yang sempurna. Shim Changmin adalah satu-satunya yang membuat kehidupan Junsu di dunia nyata berangsur membaik, tetapi Changmin juga yang membuat kehidupannya di dunia ...
Nuraga Kika
69      65     0     
Inspirational
Seorang idola sekolah menembak fangirlnya. Tazkia awalnya tidak ingin melibatkan diri dengan kasus semacam itu. Namun, karena fangirl kali ini adalah Trika—sahabatnya, dan si idola adalah Harsa—orang dari masa lalunya, Tazkia merasa harus menyelamatkan Trika. Dalam usaha penyelamatan itu, Tazkia menemukan fakta tentang luka-luka yang ditelan Harsa, yang salah satunya adalah karena dia. Taz...
Manuskrip Tanda Tanya
6849      2323     1     
Romance
Setelah berhasil menerbitkan karya terbaru dari Bara Adiguna yang melejit di pasaran, Katya merasa dirinya berada di atas angin; kebanggaan tersendiri yang mampu membawa kesuksesan seorang pengarang melalui karya yang diasuh sedemikian rupa agar menjadi sempurna. Sayangnya, rasa gembira itu mendadak berubah menjadi serba salah ketika Bu Maya menugaskan Katya untuk mengurus tulisan pengarang t...
Fidelia
4111      2159     1     
Fantasy
Bukan meditasi, bukan pula puasa tujuh hari tujuh malam. Diperlukan sesuatu yang sederhana tapi langka untuk bisa melihat mereka, yaitu: sebentuk kecil kejujuran. Mereka bertiga adalah seorang bocah botak tanpa mata, sesosok peri yang memegang buku bersampul bulu di tangannya, dan seorang pria dengan terompet. Awalnya Ashira tak tahu mengapa dia harus bertemu dengan mereka. Banyak kesialan menimp...
Yang Tertinggal dari Rika
9389      3892     11     
Mystery
YANG TERTINGGAL DARI RIKA Dulu, Rika tahu caranya bersuara. Ia tahu bagaimana menyampaikan isi hatinya. Tapi semuanya perlahan pudar sejak kehilangan sosok paling penting dalam hidupnya. Dalam waktu singkat, rumah yang dulu terasa hangat berubah jadi tempat yang membuatnya mengecil, diam, dan terlalu banyak mengalah. Kini, di usianya yang seharusnya menjadi masa pencarian jati diri, Rika ju...
Hei, Mr. Cold!
572      445     0     
Romance
"Kau harus menikah denganku karena aku sudah menidurimu!" Dalam semalam dunia Karra berubah! Wanita yang terkenal di dunia bisnis karena kesuksesannya itu tak percaya dengan apa yang dilakukannya dalam semalam. Alexanderrusli Dulton, pimpinan mafia yang terkenal dengan bisnis gelap dan juga beberapa perusahaan ternama itu jelas-jelas menjebaknya! Lelaki yang semalam menerima penolakan ata...
Trust Me
170      154     0     
Fantasy
Percayalah... Suatu hari nanti kita pasti akan menemukan jalan keluar.. Percayalah... Bahwa kita semua mampu untuk melewatinya... Percayalah... Bahwa suatu hari nanti ada keajaiban dalam hidup yang mungkin belum kita sadari... Percayalah... Bahwa di antara sekian luasnya kegelapan, pasti akan ada secercah cahaya yang muncul, menyelamatkan kita dari semua mimpi buruk ini... Aku, ka...